
Salah satu anak buah Bao Long melaporkan hal penangkapan semua anak buahnya.
"B*ngsat!! Hans, kau benar-benar membuat ku marah!" Seru Bao Long dengan kesal.
Di dalam toko kue, Hans yang masih menikmati kopinya sambil melihat bagaimana anak buahnya membawa pergi anak buah Bao Long tersenyum.
"Apa mobilnya sudah siap?" Ucap Hans.
"Sudah bos, b0m sudah di jinakan dan di singkirkan." Alan.
"Baiklah, kita kembali sekarang. Aku yakin saat ini Bao Long pasti sangat marah."
Hans berjalan menuju kasir, sebelum membayar Hans membeli beberapa kotak kue untuk di bawa pulang.
"Bos, kenapa kau membeli begitu banyak kue?"
"Adik-adik perempuan mu sangat menyukai kue, jadi aku belikan untuk mereka."
Alan mengangguk, tidak hanya di negara N saja. Hans juga memanjakan anak buah perempuan di negara C.
Walaupun Hans membuat peraturan yang begitu ketat, dan mengajari para anak buah perempuan yang di angkat dari jalanan dengan begitu keras, namun Hans juga memperlakukan mereka seperti keluarganya sendiri.
Setelah membayar semuanya, Hans, Alan dan anak buahnya yang lain kembali ke rumah.
Mereka menaiki mobil yang berbeda, dan dengan cepat Hans melajukan mobilnya. Sementara Alan dan anak buah Hans yang lain mengikutinya di belakang.
Dan benar saja sesampainya di rumah, semua anak buah perempuannya sangat menyukai kue yang Hans bawa untuk mereka.
Di ruang keluarga yang begitu besar, hampir semua anggota perempuan duduk disana menikmati kue itu. Bahkan bukan hanya anggota perempuan, anao buah Hans yang laki-laki juga ikut menikmati kue itu.
"Kak Hans, apa besok aku boleh ikut?" Tanya Lily, salah seorang anak buah Hans.
"Ada apa?"
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin ikut saja dengan kak Hans."
"Iya, tidak apa-apa. Kua bisa ikut."
"Kalau aku?" Tanya anak buah Hans yang lainnya.
"Kau masih harus berlatih m3nembak dan berkuda. Jadi lain kali saja kau ikut."
Di ruangan itu mereka semua terlihat seperti satu keluarga besar yang berkumpul menjadi satu. Tidak terlihat seperti adanya status bos dan anak buah.
"Baiklah, kalian nikmati kue itu dan jangan berebut. Aku akan melakukan sesuatu."
"Baik kak."
"Siap bos."
Ucap semua anak buah Hans secara bersamaan.
Hans melirik kearah Joe dan Alan.
Kedua anak buahnya mengangguk dan mengikuti kemana Hans pergi.
"Bagaimana dia?" Tanya Hans ketika mereka berada di taman belakang.
"Nona muda Adaline memang sudah sampai disini kemarin, bos." Ucap Alan.
"Berapa orang?"
"Aku lihat ada 4 orang, termasuk dengan Carlos."
"Joe, atur beberapa anak buah untuk mengamatinya dari jauh. Aku yakin Bao Long tidak akan tinggal diam." Ucap Hans.
"Kenapa kita tidak membawanya kesini saja bos?"
"Tidak, aku tidak mau dia tahu rumah ini."
Jeo hanya mengangguk.
"Setelah semuanya selesai, aku akan kembali ke rumah." Ucap Hans lagi.
"Baik bos, kami mengerti." Ucap Alan.
Rumah yang di maksud oleh Hans adalah rumahnya ketika kakaknya masih hidup. Itu juga merupakan rumah peninggalan kedua orang tuanya.
Dia mungkin jarang kembali ke negara C dimana dia lahir dan tumbuh. Walau begitu, rumahnya yang dulu selalu terawat, bahkan terlihat jauh lebih baik.
Iru karena Hans meminta Joe dan Rio untuk merawat rumah itu dengan baik.
Hans tidak mau satu-satunya peninggalan orang tuanya hancur karena tidak dirawat dengan baik. Bagaimanapun di sanalah dia lahir dan hidup, sampai akhirnya dia kehilangan kakaknya. Satu-satunya anggota keluarga yang tersisa.
...----------------...
Esoknya, peringatan kematian Wang Luan tiba. Anak buah Hans sudah bersiap untuk membuat Adaline dan Carlos tidak bisa datang ke makam Dave.
Sementara itu, Hans dan beberapa anak buahnya sudah siap untuk berangkat.
Hans menuruni tangga, dia melihat beberapa anak buahnya telah siap menunggunya.
"Kalian sudah siap?" Tanya Hans.
"Sudah bos."
"Sudah kak."
Hans mengangguk, "Baiklah, kita berangkat sekarang."
Hans berjalan terlebih dahulu di depan, sementara anak buahnya mengikutinya di belakang .
Dengan setelan berwarna hitam, Hans masuk kedalam mobil yang sudah siap untuk mengantarnya ke sebuah pemakaman umum yang berada di salah satu kota di negara C itu.
...----------------...
Sementara itu di hotel, Adaline dan Carlos yang tidak tahu apa-apa, telah bersiap untuk keluar.
Namun sebelum mereka berangkat Carlos meminta Adaline untuk menikmati sarapannya terlebih dahulu. Karena Carlos tentu tidak mau terjadi sesuatu pada nona mudanya, jadi dia harus memastikan kesehatan Adaline sendiri.
Seorang pelayan masuk kedalam kamar hotel dan membawa beberapa makanan yang berada diatas troli yang dia bawa.
Pelayan itu meletakan makanan ke atas meja, lengkap dengan peralatan makannya.
"Sialahkan tuan, nona." Ucap pelayan itu pada Adaline dan Carlos.
"Terima kasih." Ucap Adaline.
Adaline dan Carlos lalu menikmati makanan itu dengan tenang, tetapi mereka tidak menyadari jika makanan itu mengandung obat.
Tidak lama setelah mereka makan, Adaline n dan Carlos pun tidak sadarkan diri di sana.
Dan di luar kamar hotel Adaline, dua orang anak buah Hans sudah berjaga agar tidak ada orang yang masuk kedalam kamar itu.