ADALINE (My Young Lady)

ADALINE (My Young Lady)
Part 67 [End]



Setelah para anak buah Hans mengenal Adaline, mereka benar-benar melindunginya seperti melindungi Hans.


Hari ini Clara mengajak Adaline untuk ikut bersamanya melihat Nana berlatih memanah sambil menaiki kuda. Dia juga menceritakan apa yang dia tahu tentang Nana, seperti seorang adik yang sedang bercerita kepada kakaknya sendiri.


"Apa kau suka es krim?" Tanya Adaline.


Clara mengangguk dengan cepat, "Iya aku sangat suka."


"Aku pernah belajar membuat es krim, kau mau aku buatkan?"


"Tentu saja, tapi aku tidak boleh makan es krim terlalu banyak oleh kak Hans."


Adaline mengusap kepala Clara, dia tahu Hans melakukan itu demi kebaikan Clara. Bagaimana pun dia masih seorang anak-anak yang harus di lindungi dan sayangi.


"Kalau begitu, bagaimana dengan kue kering?" Ucap Adaline.


"Kakak juga bisa menbuat kue kering?"


"Iya, tapi aku tidak yakin dengan rasanya."


"Kita bisa mencobanya. Aku akan meminta kak Joe untuk membeli semua bahan-bahannya."


"Hahaha, baiklah. Kalau begitu kita akan menbuat kue kering nanti."


Clara tersenyum lebar mendengar ucapan Adaline.


Adaline dan Clara yang sejak tadi duduk di tempat berlatih, akhirnya melihat Nana keluar dengan menunggangi kuda yang cukup besar berwarna coklat.


Di punggung Nana ada anak panah yang akan dia arahkan pada papan target yang sudah di persiapan.


"Dia terlihat sangat mempesona." Ucap Adaline.


"Benarkan? Kak Nana adalah kakak perempuan ku yang terbaik."


"Iya, kau benar."


"Dan kakak adalah kakak ipar ku yang terbaik."


Wajah Adaline seketika merona mendengar ucapan Clara, yang belum pernah dia katakan.


Di dalam tempat berlatih, mereka melihat Nana yang dengan sangat serius membidik papan target, dan berulang kali memanah sambil tetap menaiki kuda yang berlari.


40 menit kemudian, Joe membawa papan target yang di jadikan bahan latihan Nana tadi.


"Total nilai 95, ada 12 anak panah, yang lain adalah 85." Ucap Joe.


Nana tampak tidak begitu puas dengan hasil yang dia dapatkan. Setidaknya dia ingin semua nilainya adalah 95.


"Kau sudah melakukan yang terbaik." Ucap Adaline.


Nana hanya mengangguk tanpa ekspresi.


Adaline melihat beberapa kuda yang sedang di keluarkan oleh anak buah Hans.


"Ayo temani aku berkuda." Ucap Adaline pada Clara.


"Kakak, kau bisa berkuda?"


"Tentu saja. Ayo."


"Ayo! Kak Nana ayo."


Nana mengangguk dan mengikuti kemana Clara dan Adaline pergi.


Mereka bertiga menaiki kuda dan berkeliling. Meski mereka hanya berkeliling di sekitar halaman belakang rumah yang cukup luas, namun itu sedikit bisa menghibur Nana.


Hans yang melihat Adaline sangat senang bermain dengan Nana dan Clara merasa lega.


Tidak ada yang menyangka, jika dua perempuan yang tidak pernah mau dekat dengan orang lain, akan begitu akrab dengan Adaline yang baru mereka kenal.


"Sepertinya mereka akan membuatmu merasa kesepian di siang hari, bos." Ucap Rio.


Hans menatap Rio yang ada di sampingnya, "Itu tidak mungkin."


"Tentu saja mungkin bos, sekarang saja sudah tiga hari kau tidak bisa berduaan dengan nona Adaline. Benarkan?"


Hans diam, jika di pikirkan lagi. Apa yang Rio katakan memang benar.


Rio melihat bosnya yang tengah berpikir, lalu dia pun tertawa karena akhirnya bisa membuat bosnya merasa cemas, kepada dua perempuan yang sudah merebut waktu siangnya dengan Adaline.


"Diamlah, panggil mereka kembali. Dan kau,a ajak Clara bermain seperti biasanya."


"Apa aku juga harus mengajak nona Adaline bermain di dalam lab, bos?"


"Rio!"


"Hahaha, baiklah aku mengerti bos."


Rio segera pergi sambil masih menertawakan Hans yang termakan oleh ucapannya.


15 menit kemudian Adaline dan Clara masuk ke dalam rumah.


"Uwaaaahhh sejuknya di dalam!" Seru Clara.


Adaline yang meouhat itu hanya menggelengkan kepalanya, dan tersenyum melihat Clara yang langsung berbaring di atas sofa.


"Dimana Hans?" Tanya Adaline pada Rio yang berada disana.


"Mungkin ada di kamarnya."


Adaline mengangguk, "Clara, aku akan ke kamar. Kau istirahatlah."


Clara mengangguk mengerti.


Adaline lalu berjalan menuju kamar Hans yang berada di lantai dua.


Ceklek


Adaline masuk kedalam kamar dan menutup kembali pintu kamar.


"Aaaghh!!"


Adaline berteriak, karena terkejut saat tubuhnya tiba-tiba di peluk dari belakang.


"Hans! Kau mengejutkanku." Ucap Adaline.


Hans memeluk dan menenggelamkan wajahnya pada bahu Adaline.


"Hans?"vs Adaline lagi.


"Diamlah, aku sangat merindukan mu."


Adaline menyentuh tangan Hans dan mengusapnya lembut, "Bukankah setiap hari kita bertemu?"


"Iya, tapi sudah tiga hari ini kau sibuk bermain dengan Clara dan Nana."


Adaline tertawa mendengar ucapan Hans yang menurutnya sangat lucu.


"Hans, aku hanya menemani mereka. Kita juga kadang bersama." Ucap Adaline.


Hans diam, karena saat ini dia tidak ingin mengatakan apapun.


"Jangan katakan kalau kau cemburu dengan Nana dan Clara?" Ucap Adaline mencoba menebak.


Hans tetap diam, tetapi dia memper-erat pelukannya.


"Baiklah hentikan, aku akan menemanimu sekarang." Ucap Adaline.


"Sungguh?"


"Iya, aku cukup lelah hari ini. Aku ingin berendam sekarang."


Tanpa menunggu lagi, Hans mengangkat dan menggendong Adaline ke kamar mandi.


Adaline tertawa karena ternyata Hans bisa seperti ini padanya.


"Kau ini sangat kekanakan, Hans." Ucap Adaline.


Hans tidak peduli dengan apa yang Adaline katakan. Dan terus berjalan ke kamar mandi lalu mendudukan Adaline di atas westafel, setelah itu Hans mengunci kedua mata Adaline.


Adaline membalas tatapan itu dengan lembut, seolah dia tidak ingin jika orang yang berada di depannya hilang dari pandangannya.


"Aku siapkan airnya, kau bukalah bajumu." Ucap Hans.


Adaline mengangguk.


Sementara Hans menyiapkan air hangat untuk mereka berendam, Adaline melepaskan semua yang pada dirinya.


"Baiklah, airnya sudah....."


Hans terdiam, saat ini di depannya berdiri orang yang dia cintai tanpa memakai sehelai benang pun.


Jangkun Hans naik turun melihat tubuh putih dan sexyy milik Adaline. Meski sudah sering dia melihat tubuh itu di atas ranjangnya, tetapi seolah tidak pernah bisa membuat Hans untuk tidak terpesona dan tergoda olehnya.


"Hans." Ucap Adaline.


"Apa kau sedang mengg0da ku, sayang?"


Adaline tersenyum.


Hans berjalan mendekati Adaline dan langsung menguluum bibir tipis yang menjadi candu itu.


Bibir mereka saling m*lumaat dan lidah mereka saling bermain sampai terdengar suara merdu dari bibir keduanya.


Hans menggendong tubuh Adaline dan mer*mas bongkahan sintal milik Adaline yang begitu keenyal.


"Emmm.."


D*sahaan tak tertahan akhirnya keluar dari bibir Adaline.


"Sepertinya kita akan berendam cukup lama, sayang." Ucap Hans setelah dia melepaskan ciumannya.


"Bukankah itu yang kau mau?"


Hans tertawa, mereka lalu melanjutkan ciuman mereka berdua dengan gaiirah yang semakin tinggi.


Setelah mereka menghabiskan waktu yang cukup lama di dalam kamar mandi, akhirnya mereka keluar dengan Hans menggendong Adaline yang kelelahan.


Dengan hati-hati Hans mendudukan adal di atas ranjang.


"Bagaimana kalau minggu depan kita menikah?" Ucap Hans.


"Kau... Apakah kau sedang bercanda dengan ku?"


Hans mengusap pipi Adaline dengan lembut, "Aku tidak sedang tidak bercanda atau main-main sayang, kita sudah melewati banyak hal bersama. Dan aku ingin selalu bersamamu."


Adaline menatap Hans lekat, dan air matanya mengalir begitu saja.


Hans yang melihat itu, menyeka air mata Adaline dan memeluknya.


"Aku tahu, jika aku selalu membuatmu terluka dan menangis. Tetapi aku mohon, beri aku kesempatan untuk membayar semuanya. Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan, selain berpisah denganmu."


"B0doh, untuk apa aku meminta itu darimu."


Adaline membalas pelukan Hans, tangisan haru mengirinya karena pada akhirnya mereka akan bersama setelah melewati hari-hari penuh rasa sakit, kecewa dan tawa bahagia.


...----------------...


Satu minggu kemudian, Hans berdiri di depan cermin besar dengan mengenakan setelan tuxedo berwarna putih, dan dia terlihat begitu tampan dan sangat berkarisma.


Di tangannya ada sebuah kotak merah yang sudah dia siapkan sangat lama untuk hari ini.


Dan di ruangan lain, Adaline dengan setelan gaun pengantin indah berwarna putih, tengah berdiri di depan. Menatap dieinya yang telah di rias begitu cantik.


Adaline berulang kali menarik nafas dalam dan mengeluarkannya, dia mencoba untuk menenangkan dirinya agar tidak gugup saat menemui Hans nanti.


Tok tok tok


Clara masuk kedalam ruangan setelah beberapa kali mengetuk pintu, dia terlihat begitu bahagia dengan senyum lebar yang terus menghiasi wajahnya.


"Kakak ipar, semuanya sudah menunggu kakak." Ucap Clara dengan suara nyaringnya.


"Apakah sudah waktunya?"


"Em." Clara mengangguk.


Adaline menatap Clara, saat ini jantungnya berdetak sangat cepat.


Clara meraih tangan Adaline dan menemaninya keluar untuk menemui semua orang.


Di luar ruangan, Adaline melihat begitu banyak orang yang menatapnya yang tengah berjalan dengan Clara .


Dan tepat saat dia berada di depan gerbang bunga, dia melihat Hans tengah berdiri di ujung sana menunggunya, untuk berdiri di sisinya dengan tersenyum.


Kelopak bunga berterbangan saat Adaline berjalan menuju Hans.


"Jantungku tidak ingin tenang, justru semakin berdetak dengan cepat."


Kedua mata sepasang kekasih itu terus saling memandang, seolah tidak ada satu orang pun disana selain mereka berdua.


Tangan Hans terulur saat Adaline berada di depannya.


Adaline menerima uluran tangan Hans, dan mereka melangkah bersama naik ke altar.


Di saksikan oleh semua tamu undangan, Hans dan Adaline mengucapkan sumpah dan janji suci mereka berdua di atas altar pernikahan itu.


Setelah itu, suara riuh tepuk tangan menyambut pasangan yang baru saja meresmikan pernikahan mereka.


Hans dengan bahagia meraih tangan Adaline dan menyematkan cincin yang sudah dia siapkan secara khusus, pada wanita yang sangat dia cintai.


"Aku mencintaimu Adaline." Ucap Hans dengan penuh cinta.


Adaline meraih tangan Hans dan dia juga menyematkan cincin pernikahan mereka pada jari Hans.


"Aku juga mencintaimu, Hans Edward." Ucap Adaline dengan senyum bahagia.


Hans menarik pinggang Adaline dan mencium bibirnya dengan lembut.


"Waaaaahhh mereka berciuman!" Ucap salah satu tamu undangan.


"Benar-benar sangat romantis." Ucap yang lain.


"Mereka berdua sangat serasi."


Semua bertepuk tangan dan mengucapkan selamat kepada Hans dan Adaline.


Akhirnya setelah melewati jalan yang tidak mudah, dan di penuhi dengan rasa sakit karena salah paham. Dua orang yang saling mencintai itu bersama, mengikat janji dan sumpah suci pernikahan untuk hidup bersama selamanya.


..._____----- END -----_____...