ADALINE (My Young Lady)

ADALINE (My Young Lady)
Part 28



Di pemakaman, Hans sudah berdiri dengan tegap menatap sebuah batu nisan dimana tertulis nama kakaknya, di atas nama kakaknya terpasang sebuah foto kecil.


Hans terus menatap batu nisan itu, tangannya mengepal kuat, menahan semua perasaan yang ada di dalam dirinya.


"Kakak." Suara lembut dari belakang menyadarkan Hans.


Sebuah tangan mungil menyentuh tangannya yang mengepal dengan kuat.


"Kakak, katakan sesuatu. Bukankah kakak merindukan kakak Dave?"


Hans manatap gadis kecil itu dengan hangat. Ya, hanya dengan beberapa patah kata dari bibir kecil Clara bisa membuat tangan Hans terbuka. Dan dia tersenyum pada Clara.


Hans kembali menatap batu nisan kakaknya, lalu meletakkan seikat bunga kesukaan kakak dan ibunya di atas makam itu dan beberapa kali memberi hormat pada makam kakaknya, Dave.


Alan memberikan sebuah gelas kaca kecil dan sebotol kecil arak beras.


Hans menuangkan arak itu kedalam gelas, lalu meletakkan gelas itu disamping bunga yang dia letakkan tadi.


"Kakak, apakah ini yang kau inginkan? Kenapa aku harus bertemu dan berhubungan dengan orang-orang yang telah membuat mu meninggalkan ku? Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau pikiran."


Kedua mata Hans merah menahan semua perasaan yang dia pendam. Rasa kecewa, marah dan rindu semua bercampur menjadi satu saat ini.


Semua orang yang menemani Hans diam, tidak seorangpun mengeluarkan suara.


Setelah berdoa dan memberi hormat kepada Dave. Hans dan yang lainnya meninggalkan area pemakaman itu.


"Kakak Hans." Ucap Clara.


Hans menoleh dan menatap Clara.


"Aku lelah." Ucap gadis kecil itu lagi


Hans tersenyum lalu menggendong tubuh kecil Clara tanpa mengatakan apapun.


"Jangan bersedih, aku akan menemani kakak Hans." Ucap Clara dengan polosnya.


Hans hanya mengangguk dan tersenyum.


Selama perjalanan pulang Hans hanya diam, dan Clara yang masih dalam gendongan Hans memeluknya dengan erat.


"Apa kau ingin membeli sesuatu?" Tanya Hans pada Clara.


Clara menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mau apa-apa. Hanya ingin menemani kakak."


Hans tertegun mendengar itu, mungkin karena sudah sering melihat Hans termenung sendirian setelah pergi dari makam kakaknya, membuat Clara jadi mengerti.


"Aku tidak apa-apa." Ucap Hans.


"Ya aku tahu. Karena kakak adalah orang yang kuat dan hebat."


Hans tersenyum.


"Alan, kau beli beberapa makanan dan minuman. Hari ini kita akan berkumpul." Ucap Hans.


"Baik bos."


Semua anak buah Hans tersenyum senang, mereka akan berkumpul yang artinya semua pelatihan akan di liburkan.


Ya, walau hanya sehari itu sudah cukup bagi mereka, karena mereka sangat jarang bisa berkumpul bersama dengan Hans.


Tiga mobil berwarna hitam melaju dengan cepat setelah keluar dari area parkir pemakaman.


Mobil yang di naiki Alan berbelok untuk membeli makanan dan minuman yang Hans perintahkan, sementara dua mobil lainnya melaju kembali menuju rumah.


...----------------...


Di kamar h0tel, Carlos yang baru saja bangun belum menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Dia melihat nona mudanya yang masih tidur di sofa, lalu dia melihat jam tangannya.


Kedua matanya membulat, "Jam 1 siang."


Carlos bergegas mendekati Adaline untuk membangunkannya.


"Nona muda bangun, tolong bangun nona muda." Ucap Carlos.


Carlos terus mencoba membangun Adaline yang masih tidur dengan lelap.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku tertidur di meja makan dan nona muda..."


Carlos menatap makanan yang masih tersisa diatas meja. Dia berjalan dengan cepat lalu mengambil makanan itu lalu mengendusnya.


"Aneh sekali, tidak ada bau obat. Tetapi bagaimana bisa aku dan nona muda tertidur setelah memakan sarapan kami?"


Carlos lalu menghubungi anak buahnya untuk datang ke kamar h0tel itu.


Tidak lama anak buah Carlos sudah sampai didepan kamar. Tidak ada yang aneh disana, karena kedua anak buah Hans sudah pergi meninggalkan kamar itu 10 menit sebelum Carlos bangun.


Carlos membuka pintu setelah mendengar beberapa kali ketukan.


"Ketua." Ucap dua orang yang ada di depan pintu bersamaan.


"Masuklah."


Kedua orang itu masuk dan menutup kembali pintu kamar.


"Ada apa ketua?"


"Apa kalian melihat ada orang yang datang kemari tadi pagi?"


Kedua anak buah Carlos saling bertatapan.


"Tidak ketua."


"Lalu apa kalian melihat ada yang aneh dengan orang yang membawa sarapan tadi pagi ke kamar ini?"


"Tidak ada ketua, karena saya lihat orang itu juga memberikan sarapan untuk kamar lainnya."


Carlos terdiam.


"Ada apa ketua?"


"Tidak, pagi tadi harusnya aku dan nona muda pergi ke makam Dave untuk memperingati hari kematiannya. Tapi setelah sarapan aku dan nona muda tertidur. Bahkan sampai sekarang nona muda belum bangun."


Carlos melihat ke arah Adaline yang masih terlelap di atas sofa.


"Tapi memang tidak ada yang aneh ketua, saat kami datang pun tidak melihat orang yang mencurigakan."


"Hmm baiklah, kalian bisa kembali."


"Baik ketua."


Setelah kedua anak buahnya keluar, Carlos menatap lekat makanan yang masih ada di meja.


Carlos berpikir jika ini pasti ada hubungannya dengan orang yang tidak mau Adaline dan dirinya datang ke pemakaman Dave.


"Apa ini perbuatan Hans?" Gumam Carlos.


Dia ingat beberapa hari sebelum mereka datang ke negara N, jika semua barang-barang yang akan di gunakan untuk memperingati hari kematian Dave di hancurkan oleh seseorang.


"Apa mereka satu orang yang sama? Jika benar seperti itu, apa mungkin Hans? Karena hanya dia dan anak buahnya yang tahu kalau nona muda akan memperingati hari kematian Dave."


Carlos terus berpikir siapa orang yang sudah berbuat hal tersebut padanya dan juga pada Adaline. Seperti sangat tidak menginginkan mereka datang ke makam Dave.


****


Sore harinya, Adaline yang telah bangun memutuskan untuk datang ke pemakaman Dave, dan dia tidak lagi mempertanyakan orang yang sudah membuat dirinya dan Carlos tertidur.


Adaline melangkah memasuki area pemakaman, dia berjalan sambil membawa seikat bunga di tangannya .


Tepat di depannya saat ini sebuah makam yang lengkap dengan bunga, gelas kecil dan sebotol arak menghiasi.


Setelah melihat makam itu, Adaline tahu jika semua itu adalah perbuatan Hans, tidak akan ada orang lain yang akan melakukan itu selain dia. Selain itu tidak ada orang lain yang tahu jika hari ini adalah hari peringatan kematian Dave.


Adaline berlutut dan meletakkan bunga yang dia bawa, menyatukan kedua telapak tangannya lalu mulai berdoa.


"Kak Dave, maafkan aku karena apa yang sudah aku perbuat. Berbahagialah, kak Dave."


Carlos yang berdiri di belakang Adaline menundukkan kepalanya ikut berdoa untuk Dave.


Selesai berdoa Adaline menatap lekat makam yang ada didepannya.


"Bagaimana kabar kak Dave disana? Aku merindukan saat kita mengobrol bersama." Ucap Adaline


Adaline lalu menatap botol aarak di depan batu nisan Dave.


"Aku tidak tahu jika kak Dave menyukai araak, jadi aku tidak pernah membawakan itu untukmu. Tapi aku senang karena dia (Hans) membawakannya." Ucap Adaline lagi.


Mata Adaline mulai merah, entah karena dia tahu kalau yang menghancurkan semua barang-barang untuk memperingati hari kematian Dave adalah Hans, atau karena dia merasa begitu bersalah pada Dave, sebab sampai saat ini dia belum bisa menepati janjinya untuk melindungi Hans.


"Apa yang harus aku lakukan kak Dave? Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi Hans."


Carlos yang melihat Adaline menyeka air matanya hanya bisa diam.


"Lihatlah Dave, lihat bagaimana adikmu membuat nona muda menangis lagi. Dia masih saja belum bisa memaafkan non muda."


Setelah beberapa saat Adaline dan Carlos pergi meninggalkan makam Dave.


Tapi tepat di depan mobil yang mereka bawa, ada beberapa orang yang tidak mereka kenal berdiri seolah tengah menunggu kedatangan mereka.