
Hans membawa Adaline masuk ke dalam ruang bawah tanah yang ada di dalam club* itu.
Seketika Adaline langsung menggenggam tangan Hans lebih kuat, karena dia merasa takut di ruang bawah tanah itu.
"Apa kau takut, mau keluar?" Ucap Hans.
"Tidak, aku ingin melihat ada siapa orang disana."
"Baiklah, jika begitu jangan lepaskan tangan ku."
Adaline mengangguk, "Iya."
Hans kembali membawa Adaline untuk masuk lebih dalam, dan mereka melihat ada 3 anak buah Hans yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Bos." Ucap Ellen.
Hans mengangguk, "Bagaimana dia?"
"Dia masih hidup bos."
"Bagus, aku tidak ingin dia menemui ajaalnya dengan cepat."
"Iya bos."
Ellena dan kedua anak buah Hans yang lain menatap Adaline, sebab tidak biasanya Hans membawa orang lain, terlebih seorang wanita ke dalam ruang bawah tanah itu.
"Bos, dia?" Ucap Roy.
"Dia ingin bertemu dengan orang yang ada di dalam, kau bisa membuka pintu dan menyalakan lampu di dalam."
"Baik bos."
Roy berjalam dan membuka pintu ruangan dimana laki-laki itu berada, dan juga menyalakan lampu yang ada di dalam ruangan itu.
Setelah itu Roy kembali keluar, "Silahkan bos."
Hans mengangguk, lalu menatap Adaline yang berada di sampingnya.
"Kau yakin ingin melihatnya?" Ucap Hans.
"Iya, aku ingin melihat orang yang kau rahasiakan itu."
"Baiklah, kita masuk sekarang."
Adaline mengangguk.
Hans berjalan terlebih dulu di depan, dan dengan menggenggam tangan Hans, Adaline mengikutinya dari belakang.
Setelah masuk dan melihat orang yang ada di dalam, kedua mata Adaline terbuka lebar melihat seseorang yang sudah tak berdaya dengan banyak luka pada tubuhnya.
"Ha... Hans, siapa dia?" Ucap Adaline.
"Lihatlah baik-baik, kau akan tahu siapa dia."
"Kepala dia menunduk, aku tidak bisa melihat wajahnya."
Hans mengangguk, "Roy, bantu aku menegakan kepala orang ini."
"Baik bos."
Roy masuk ke dalam dan berjalan mendekati oeang itu, lalu mengangkat kepalanya.
Adaline mundur beberapa langkah, saat melihat wajah laki-laki yang tergeletak itu. Beberapa kali dia menggelengkan kepalanya.
"Dia... Dia..."
Adaline menatap Hans dengan tidak percaya, dan dia segera keluar dari ruangan itu lalu berlari meninggalkan ruang bawah tanah.
"Adaline!" Ucap Hans.
Adaline tidak peduli dengan panggilan Hans padanya, dia terua berlari sambil menutupi bibirnya. Air matanya mengalir dengam deras.
"Jadi.... Jadi selama ini Hans sudah mengetahuinya, tetapi dia... Dia berpura-pura seolah tidak tahu."
Hans mencoba mengejar kemana Adaline pergi, namun dia tidak melihay sosok wanitabga itu.
"S*al! Kemana dia pergi? Harusnya aku tidak membawanya kesini." Ucap Hans dengan kesal.
Sementara itu di balik sebuah dinding, Adaline berjongkok sambil menangis.
"Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan?" Ucap Adaline.
Adaline memeluk kedua lututnya, karena dia benar-benar tidak tahubharus bagaimana. Dia bingung harus pergi kemana saat ini, sebab dia sangat merasa bersalah pada Hans. Meskipun sebenarnya itu bukanlah karena kesalahannya.
Tubuh wanita itu gemetar karena menangis, dia terlihat seperti seorang anak kecil yang di tinggalkan oleh ibunya.
Tap tap tap
"Apa yang kau lakukan disini?"
Suara laki-laki yang sangat Adaline kenal terdengar, dengan perlahan Adaline mengangkat kepalanya dan melihat Hans sudah berada di depannya.
Hans menyeka air mata Adaline, lalu menyelipkan rambut yang jatuh di depan wajah cantik itu.
"...... Hans."
Hans mengangguk, dan tanpa berkata apapun dia memeluk tubuh wanitanya itu.
"Maaf, maafkan aku. Aku... Aku...."
"Aku sudah mengetahui semuanya, maaf karena aku tidak bisa melindungi mu dengan baik." Ucap Hans.
Adaline tidak menjawab, dia menangis dalam pelukan Hans lebih keras. Dan Hans hanya bisa membiarkannya seperti itu.
Satu jam kemudian, mereka sudah kembali ke mansion.
Adaline yang tertidur di dalam mobil setelah menangis, di gendong oleh Hans masuk ke dalam mansion.
"Bos, apakah nona Adaline tidak apa-apa?" Ucap Alan.
"Iya, dia tidak apa-apa."
Hans berjalan masuk menuju kamarnya, untuk membaringkan Adaline yang tidur.
"Tidurlah dengan nyenyak. Aku tahu kau pasti sudah sangat kesulitan akhir-akhir ini." Ucap Hans setelah membaringkan Adaline di atas ranjangnya.
Setelah menyelimuti Adaline, Hans berjalan keluar dari kamarnya.
"Alan." Ucap Hans.
"Iya bos."
"Bereskan dia besok."
"Siap bos."
Hans yang sudah tidak ingin lagi melihat orang yang telah meleecehkan Adaline, memutuskan untuk mengakhiri hidup orang itu. Karena bagi Hans, dia sudah membuat kehidupannya terusik dan membuat gubungannya dengan Adaline seperti orang asing selama beberapa waktu.
Alan berjalan keluar mansion, dia membawa satu anak buah Hans untuk ikut bersama dengannya.
"Kali ini, aku tidak akan membiarkan siapapun melukaimu lagi." Ucap Hans pelan.
Kedua tangannya mengepal keras saat dia mengingat perkataan Steven sebelum Hans menyiksanya. Perkataan yang selalu membuatnya ingin menghukum Steven hingga tidak bisa lagi bernafas.
Dengan menahan emosinya, Hans berjalan ke ruang latihan. Dia akan melampiaskan kemarahannya dengan melesatkan beberapa peluuru di dalam ruang latihan itu.
"Ada apa dengan bos, sepertinya dia terlihat sedang marah dengan seseorang." Ucap salah satu anak buah Hans yang melihat Hans berjalan dengan cepat.
"Tidak tahu, akhir-akhir ini emosi bos sepertinya sedang tidak baik." Ucap anak buah Hans yang lain.
"Biarkan saja, nanti setelah semuanya membaik. Bos akan seperti biasa lagi."
"Benar."
Anak buah Hans kembali berlatih.
Hans yang berada di dalam ruang latihan telah siap dengan pist0l yanh ada di tangannya, dan tengah membidik papan manusia yang ada di depannya.
Dor!
Dor!
Dor!
Suara tembakan yang cukup keras menggema di dalam ruang latihan yang tertutup oleh kaca anti peluru itu.
3 lubang pada kepala dan dada papan itu berlubang, setelah Hans melesatkan ketiga peluuru dari pist0l yang ada di tangannya.
"Bos memang hebat, dalam jarak 5 meter dia bisa menembak tepat pada sasaran, dan jika itu manusia pasti sudah mati di tempat." Ucap anak buah Hans yang berada di dalam ruang latihan.
Di mata Hans, papan itu adalah Steven. Dan dengan emosinya Hans menembakan beberapa peluru tadi, seolah dia tengah menembak Steven.
"Apa yang terjadi pada bos? Kenapa dia menembak dengan seperti itu?" Ucap Joe.
"Sepertinya perasaan kak Hans sedang tidak baik." Ucap Nana yang berada di samping Joe.
Joe mengangguk, dia memang pernah melihat Hans seperti itu. Tetapi hari ini Hans terlihat jauh lebih seram dari sebelumnya.
"Biarkan saja, jika kita mengganggu kak Hans pasti akan marah. Dan bisa jadi, kepala kita yang akan menjadi pengganti papan target itu." Ucap Nana lagi seraya pergi.
Joe membulatkan kedua matanya, lalu berjalam mengikuti Nana.