
Sementara itu 12 orang yang tersisa menyerbu ke dalam vila dimana Adaline berada.
Saat pertama kali masuk, mereka terbatuk dan merasa pernafasan mereka sangat sesak, begitu juga dengan indra penciuman milik anjiing yang mereka bawa.
"S*alan! Carlos, kau ternyata merencanakan semuanya sejauh ini." Ucap salah satu orang yang masuk ke dalam vila.
Mereka lalu membuka beberapa jendela yang ada di vila itu, agar baau menyengat dari obat nyamuk keluar.
"Bawa anjiing-anjiing itu masuk, untuk mencari sesuatu yang mencurigakan." Ucap orang itu lagi.
"Bos, mereka tidak bisa melakukannya."
"Apa?"
Ketua dari mereka melihat kondisi anjiingnya, matanya menatap nanaar dan tangannya mengepal.
Door!
Suara letupan dari pist0l sangat keras di telinga mereka.
"Apa kau belum menemukannya?" Seru Hans dari atas mobilnya.
Kedua mata orang yang ada di dalam vila itu terbuka lebar, ini di luar rencananya. Karena dia pikir Hans tidak akan mengetahui dimana Adaline berada, sebab mereka sendiri harus mencarinya selama beberapa hari.
"Hans." Ucap orang itu.
"Habisi mereka semua!" Perintah Hans pada anak buahnya.
Dengan satu gerakan, anak buah Hans menembaki semua musuhnya yang ada di depan vila.
5 menit kemudian, Hans turun dari mobil dan berjalan mendekati vila.
Dia tahu musuhnya itu belum mati, dan benar saja saat dia mendekat kakinya di tarik oleh musuhnya.
"Aku kira kau sudah berubah, tapi ternyata tetap sama seperti dua tahun lalu." Ucap Hans mengejek pada orang itu.
"B*ngsat!"
Orang itu segera berdiri dan melayangkan tinjunya, namun Hans berhasil menghindar, mereka terus beradu kekuatan di dalam vila.
30 menit kemudian Hans melihat musuhnya sudah tersungkur, sementara dirinya memiliki beberapa lebam di wajahnya, dan juga pakaian yang dia kenakan terdapat noda merah.
Alan berjalan mendekati Hans dan berbisik padanya.
"Apa!" Seru Hans.
Kedua mata Hans menatap tajam pada musuhnya yang sudah tersungkur itu. Dengan cepat Hans berjalan mendekati musuhnya itu, dan melayangkan beberapa tinju pada kepalanya.
Alan menarik tubuh Hans yang sedang hilang kendali, dia tahu Hans sangat marah setelah mendengar kabar yang dia bisikan padanya tadi.
Setelah berhasil menarik tubuh Hans dari atas tubuh musuhnya, Alan menyuruh bawahannya untuk membawa musuhnya itu pergi.
"Bawa dia ke markas. Jika ada Joe disana, berikan saja padanya." Ucap Alan pada bawahannya.
"Baik ketua."
Alan melihat Hans terduduk dilantai. Kabar yang di bisikan oleh Alan membuatnya sangat terkejut.
"Bagaimana bisa, dia adalah orang yang kuat. Bagaimana bisa?Bukankah aku sudah menyuruh kalian untuk melindunginya?" Ucap Hans.
"Bos....."
"Sekarang dimana dia?"
"Kami sudah membawanya ke rumah, dan Rio sedang memeriksanya. Tetapi kondisinya..."
"Aku mengerti, sekarang kita cari lemati yang ada di ruang keluarga, dan membuka pintu ruang bawah tanah itu."
Hans dan Alan berjalan menuju ruang keluarga, mereka mencari lemari yang di maksud oleh Carlos.
Setelah menemukan lemari itu, Hans menggeser satu persatu barang-barang yang ada di dalam lemari itu.
Kraaaaaak
Sebuah pintu rahasia terbuka, dan seperti yang sudah Carlos beritahukan, Adaline ada di dalam ruang bawah tanah.
Alan melihat Adaline tertidur dengan pulas, dia lalu memberinya obat bius agar saat di bawa, Adaline tidak memberontak.
****
Sore harinya, ketika bangun Adaline yang sudah berada di dalam kamar milik Hans hanya bisa diam, dan mengamati tempat dirinya berada sekarang.
Dan ketika Alan masuk, dia baru tahu dimana dia saat ini, lalu mulai hari itu Adaline terus bertanya dimana Carlos, tapi tak seorang pun menjawabnya, termasuk Hans.
"Sebenarnya dimana Carlos berada, kenapa semua orang tidak ada yang mau memberitahu ku?" Gumam Adaline.
Dan ketika Adaline bertanya-tanya, dia melihat Rio berjalan dengan cepat bersama seorang dokter lagi, yang tidak lain anak buah Hans yang lainnya.
"Kemana dia akan pergi, dan kenapa dia bersama dengan seorang dokter?" Ucap Adaline.
Adaline yang ingin tahu, segera mengejar dan menghadang Rio juga dokter itu.
"Tunggu! Aku ingin bertanya dimana Carlos." Ucap Adaline saat berada di depan Rio.
"Nona Wilson."
"Katakan padaku, dimana Carlos?"
Rio diam, dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Adaline Wilson."
Adaline, Rio dan dokter menoleh, mereka melihat Hans berjalan ke arah mereka.
"Apa yang kau lakukan?" Ucap Hans pada Adaline.
"Aku ingin bertanya dimana Carlos, aku ingin betemu dengannya."
"Kau akan mengetahuinya nanti, biarkan Rio dan dokter itu pergi."
"Tidak, aku tidak mau. Aku ingin bertemu dengan Carlos."
"Adaline Wilson!"
Rio dan dokter itu menatap Hans, lalu mengangguk memberi kode jika mereka harus pergi.
"Pergilah." Ucap Hans pada Rio dan dokter itu.
"Jangn pergi! Kalian belum memberitahu ku dimana Carlos." Ucap Adaline.
"Aku akan memberitahu mu nanti." Ucap Hans.
Rio dan dokter itu yang tidak memiliki banyak waktu segera pergi meninggalkan Hans dan Adaline.
"Tunggu!" Seru Adaline.
Hans yang melihat Adaline akan mengejar Rio, segera menarik dan memeluknya dari belakang.
"Lepaskan aku Hans, lepaskan! Aku ingin bertemu dengan Carlos." Teriak Adaline.
Adaline terus memberontak dalam pelukan Hans. Dan Hans yang penuh memar, hanya bisa menahan rasa sakit saat Adaline memukuli memukuli lengannya.
"Aku mohon, lepaskan aku Hans! Lepas!" Ucap Adaline lagi.
Hans tetap tidak melepaskan pelukannya, bahkan dia memeluk Adaline lebih erat.
Saat Rio sudah tidak lagi terlihat, tubuh Adaline meleemas dan setelah itu tubuhnya gemetar dalam pelukan Hans.
"Aku akan membawamu menemui Carlos ketika sudah saatnya. Jadi tolong jangan seperti ini." Ucap Hans pelan.
Adaline diam, tidak menanggapi ucapan Hans.
Hans yang tidak mendapatkan jawaban melepaskan pelukannya, dan membalikan tubuh Adaline. Dia menatap Adaline yang sudah terdiam seperti patung.
Dengan pelan Hans mengangkat tubuh Adaline dan membawanya kembali ke dalam kamar.
Hans membaringkan tubuh Adaline di atas ranjang dengan hati-hati, dengan menahan rasa sakit di punggungnya.
"Istirahatlah, besok aku akan membawamu bertemu dengan Carlos. Jika kau menurut padaku." Ucap Hans.
Kembali, Hans tidak mendapat tanggapan dari Adaline.
Hans mengangguk lalu keluar dari kamar itu, dan berjalan menuju kamar tamu yang berada tidak jauh dari kamarnya itu.
"Alan, bawa kotak obat dan bantu aku." Ucap Hans.
"Baik bos."
Alan lalu pergi untuk mengambil kotak obat dan masuk ke dalam kamar tamu.
Di dalam kamar, Alan melihat Hans sudah melepaskan pakaiannya dan duduk di atas ranjang.
"Aku akan mengoleskan obatnya bos." Ucap Alan.
"Lakukan saja."
Alan mengangguk dan mulai mengobati punggung Hans.
Ada beberapa luka robek disana. Bagi Hans itu sudah biasa, dan itu terbukti karena ada beberapa bekas luka lama yang sudah terukir di punggung Hans.
Selesai mengobati, Alan menatap punggung Hans sejenak.
"Ada apa?" Ucap Hans.
"Bos, jika Carlos tidak selamat. Apakah bos akan menggantikan Carlos nanti?"
Hans diam.
"Bos."
"Kau tidak perlu tahu."
"Maaf bos, aku pernah mendengar perkataan Carlos pada bos, jika bos sebenarnya orang yang terpilih oleh keluarga Wilson, bukan kakak bos, waktu itu."
Hans tidak menanggapi apa yang Alan katakan.
"Kalau begitu bos istirahat dulu, aku akan keluar."
Alan keluar membawa kotak obat dari kamar tamu.
Sementara itu Hans memikirkan apa yang Alan katakan. Dia memang yang seharusnya menjadi pengawal Adaline dulu.
Jika saja saat itu Dave tidak menggantikannya, mungkin sampai sekarang Dave masih hidup dan hal ini tidak terjadi.
...----------------...
Esok harinya Hans masuk kedalam kamar, dia melihat Adaline masih tidur dengan tubuh yang di tutupi oleh selimut.
Dengan pelan Hans berjalan mendekati ranjang, lalu duduk di samping wanita itu.
Merasakan ada gerakan di belakangnya, Adaline terbangun dan menoleh.
"Kau sudah bangun?" Ucap Hans.
Adaline tidak menjawab, justru dia kembali memalingkan wajahnya saat tahu orang yang ada di belakangnya adalah Hans, dan memeluk guling dengan erat.
Adaline terlihat begitu menggemaskan, tetapi Hans tahu ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal seperti itu.
"Bangun dan mandilah. Setelah sarapan aku akan membawamu menemui Carlos."by Hans.
"Sungguh?" Ucap Adaline dengan cepat.
Hans tertegun melihat sikap Adaline yang begitu peduli pada Carlos.
"Iya, jadi cepatlah bangun." Ucap Hans.
Hans berdiri lalu melangkah pergi.
"Hans." Ucap Adaline.
Hans berhenti lalu berbalik. Mata mereka bertemu satu sama lain sejenak.
"Apa... Apa Carlos baik-baik saja?" Ucap Adaline lagi.
"Kau akan tahu sendiri nanti."
"Dia pernah berkata padaku agar aku menjaga diri, karena dia tahu dia tidak bisa selalu melindungi ku."
"Maka kau harus mendengarkan Carlos."
"Hans, apa dia juga akan pergi seperti kak Dave? Mereka semua pergi karena aku."
Adaline menekuk kakinya, lalu memeluknya seolah dia sedang memeluk dirinya sendiri. Wajahnya terlihat begitu sendu, dan kedua matanya memerah.
Memang kematian tidak bisa di hindari, terlebih menjadi seorang pengawal berani mati seperti mereka, yang kapan saja akan mati demi melindungi tuannya.
Begitu juga dengan Dave dan Carlos, yang rela mati demi melindungi Adaline.
"Berhenti berpikir yang tidak-tidak. Kali ini orang yang menginginkan mu bukan dari keluarga Wilson, tapi mereka adalah musuh-musuhku yang ingin menculikmu, lalu menjadikanmu sandra agar aku menyerah." Ucap Hans.