
30 menit kemudian Adaline keluar dari kamarnya dan pergi keruang makan. Disana sudah ada Alan yang sedang menikmati sarapannya.
"Selamat pagi Alan." Ucap Adaline.
"Selamat pagi."
Adaline duduk lalu mengambil satu sandwich buah yang ada di atas meja.
Alan melihat Adaline dengan seksama, mencoba meneliti apakah ada yang berbeda dari diri Adaline pagi ini.
"Kau... Kau kenapa, Alan? Apa ada yang salah denganku?" Ucap Adaline.
Alan menggeleng.
"Lalu?"
"Apa tadi malam bos tidur di kamar anda, nona Adaline?"
Adaline yang tengah memakan sandwich tersedak mendengar pertanyaan Alan, Alan yang melihat itu langsung memberikan Adaline air miunum.
"Anda baik-baik saja?" Tanya Alan setelah Adaline selesai minum.
Adaline mengangguk.
"Saya hanya bertanya, kenapa anda sepertinya sangat terkejut?"be Alan lagi.
Adaline belum sempat menjawab pertanyaan Alan, tetapi dia sudah melihat Hans berjalan ke arah mereka berdua.
"Apa kau sudah selesai sarapan?" Ucap Hans pada Alan.
Alan menoleh, "Selamat pagi bos, aku baru menyelesaikannya."
"Em, keluarkan mobil. Hari ini aku akan keluar."
"Keluar?"
"Iya, jangan banyak bertanya lagi. Cepat lakukan."
"Baik bos."
Alan lalu pergi keluar untuk melakukan apa yang Hans perintahkan. Dan sekarang hanya tinggal Hans dan Adaline di ruang makan.
Hans menarik kursi lalu duduk, tetapi dia tidak menatap Adaline sama sekali.
Jantung Adaline tiba-tiba berdetak kencang seperti akan melompak keluar, mengingat apa yang terjadi tadi pagi. Dia melihat Hans mengambil sepotong roti lalu mengolesi roti itu dengan selai kacang.
Merasa dirinya terus di perhatikan, Hans menghentikan apa yang tengah dia lakukan lalu menatap Adaline.
Deg
Deg
Deg
Suara jantung Adaline semakin kencang saat kedua mata Hans bertemu dengan kedua matanya.
"Makan sarapanmu, jangan terlalu banyak berpikir." Ucap Hans.
Hans mulai memasukkan roti kedalam mulut dan mengunyahnya.
Dan hanya melihat cara Hans makan, Adaline seperti orang yang sedang tersihir.
"Sangat tampan." Gumam Adaline.
Hans yang mendengar gumaman itu, melihat ke arah Adaline.
Adaline yang tidak berani menatap Hans lagi, karena tatapan Hans yang tajam itu menunduk dan memakan sandwich nya dengan pelan.
Selesai sarapan Hans berdiri, dia melihat Adaline masih memakan sandwich nya dengan sangat pelan. Lalu dia mempunyai ide untuk mengg0da Adaline.
Hans mendekat dengan pelan pada Adaline, lalu membungkukkan tubuhnya dan berbisik pada Adaline.
"Aku memang tampan. Kau tidak perlu menatap ku sscara sembunyi-sembunyi."
Adaline yang mendengar bisikan Hans dan merasakan udara dari mulut Hans langsung menoleh, dan...
Cup
Bibir mereka tidak sengaja saling menempel. Dan kedua mata Adaline seketika membulat, namun dia tidak menjauhkan wajahnya dari Hans. Sementara Hans sendiri terlihat sangat tenang.
Beberapa detik kemudian Hans berdiri tegak dan berjalan menjauh dari Adaline. Tetapi hanya beberapa langkah Hans berhenti lalu menoleh.
"Aku anggap itu adalah ucapan terima kasih darimu." Ucap Hans.
Hans kembali berjalan keluar setelah mengatakan hal itu.
Mendengar ucapan Hans, wajah Adaline menjadi merah, dan jantungnya berdetak dengan lebih cepat.
"Apa yang terjadi barusan? Apa...apa kita berciuman? Tidak, tidak."
Adaline menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan cepat. Dia benar-benar seperti orang yang tidak bisa berpikir pagi ini. Karena saat dia bangun tadi, dia melihat dirinya tidur sambil memeluk tubuh Hans, dan baru saja dia tidak sengaja mencium bibir Hans.
"Bagaimana ini? Aku akan merasa canggung saat bertemu dengannya lagi nanti." Gumam Adaline.
Adaline tidak bisa berpikir dengan tenang. Rasa malu, takut dan berdebar semua jadi satu sekarang. Dia tidak tahu harus bagaimana dia akan bersikap saat bertemu dengan Hans lagi, karena dia takut jika Hans akan berpikir dirinya sedang menggoda Hans.
Sementara di dalam mobil, Hans menyentuh bibirnya dan mengingat kejadian di ruang makan tadi.
Hans memegang kemudi dengan erat karena merasa kesal dengan hal tadi, dia kesal pada dirinya sendiri yang sudah mulai tidak bisa tenang jika bersama dengan Adaline.
Dengan cepat Hans melajukan mobilnya, untuk menghilangkan rasa kesalnya itu.
...----------------...
Malam harinya, Hans pulang dalam keadaan mabuk. Di bantu oleh Alan, Hans berjalan naik kelantai dua.
Adaline yang akan mengambil air minum di dapur, melihat Alan yang sedang kesulitan membawa tubuh Hans yang cukup tinggi dan berat itu.
Dengan cepat Adaline berjalan mendekati Alan untuk membantu Alan membawa Hans ke kamarnya.
"Apa yang terjadi dengan Hans?" Tanya Adaline.
"Hari ini bos bertemu dengan temannya dan minum-minum bersama."
"Apa dia sering melakukannya?"
"Tidak, jika di ingat ini adalah ketiga kali dalam dua bulan terakhir."
Adaline mengangguk.
"Sudah, cepat bantu dulu bawa bos ke kamarnya." Ucap Alan lagi.
Mereka berdua lalu membawa tubuh Hans ke dalam kamar. Dan mereka membaringkan tubuh hans di atas ranjang yang cukup besar.
Alan melepaskan sepatu Hans dan menyalakan AC yang ada di dalam kamar Hans.
"Kau istirahatlah. Aku yang akan membersihkan wajah Hans." Ucap Adaline.
"Baik kalau begitu, terima kasih nona Adaline."
Setelah Alan keluar, Adaline pergi ke kamar mandi dan kembali dengan handuk kecil yang sudah di basahi.
Adaline duduk disamping Hans lalu dengan pelan mengelap wajah Hans.
"Kenapa kau minum sampai seperti ini?" Gumam Adaline sambil menatap Hans.
Selesai mengelap wajah Hans, Adaline berdiri. Karena dia akan membersihkan handuk kecil yang di pakai untuk membersihkan wajah Hans tadi.
Baru satu langkah kakinya melangkah, dia merasakan tangannya di genggam oleh seseorang.
Adaline terkejut dan menoleh, belum sempat Adaline berbicara tubuhnya di tarik dengan kuat oleh Hans.
Karena tidak seimbang Adaline jatuh di atas tubuh Hans yang langsung dipeluk oleh Hans.
Jantung Adaline berdetak sangat cepat dan kencang. Sebab saat ini wajah mereka sangat dekat, bahkan Adaline bisa merasakan nafas Hans yang berhembus.
"Ha...Hans." Ucap Adaline.
Adaline mencoba melepaskan diri dari pelukan Hans, tapi tidak berhasil.
Merasakan pergerakan di atas tubuhnya, Hans lalu menggulingkan Adaline dan sekarang tubuh Hans berada di atas tubuh Adaline.
Kedua mata Hans dan Adaline bertemu, mereka saling menatap satu sama lain. Dan perlahan wajah Hans mulai mendekat, tangan Hans terulur lalu menyentuh pipi putih Adaline.
"Kenapa kau sangat menyebalkan?" Ucap Hans pelan.
Adaline yang tidak mengerti apa yang telah Hans katakan hanya bisa diam, dan menatap kedua mata Hans yang seolah mengunci dirinya.
"Adaline, hari ini kau sudah m*ngg0daku. Jadi aku akan menghukummu." Ucap Hans lagi.
Kedua mata Adaline membulat mendengar perkataan Hans yang terdengar menakutkan itu.
"Ha... Hans, apa...apa yang kau katakan?" Ucap Adaline.
Hans tidak menjawab, dia lalu berdiri dengan bertumpu pada kedua lututnya.
Dalam cahaya yang tidak begitu terang, Adaline melihat Hans tengah melakukan sesuatu pada pakaiannya, satu persatu kain yang tadi lengkap pada Hans satu persatu jatuh di atas lantai.
"Ha.... Hans, apa... Apa yang kau..."
Hans memotong ucapan Adaline dengan tatapan yang tajam. Lalu kedua tangannya memegang tangan Adaline.
"Adaline." Ucap Hans dengan suara yang begitu lembut.
"Hans lepaskan aku...Kau, kau m4buk."
Hans me*ngecup leher Adaline, "Aku tidak m4buk Adaline, aku... Aku menginginkan mu, kau adalah milikku."
Mendengar ucapan itu, Adaline tidak tahu harus bagaimana. Hans berkata jika tidak m4buk, tapi cara bicara dia seperti orang yang berbeda.
Hans mencium bibir Adaline, lalu m*lum4tnya bibir itu dengan lembut. Memberikan gigitan pelan pada bibir yang akan berbicara itu.
Adaline yang tidak bisa me*nahan apa yang di lakukan oleh Hans, membalas lum4tan Hans dan mereka pun saling m*nghis4p dan m*lum4t.
Tangan Hans mulai masuk dan m*rem4s salah satu buah mel0n yang Adaline miliki, dan itu membuat sang pemilik men9era*ng tertahan.
Jari Hans juga bermain dengan biji mel0n yang ada di atas buah mel0n itu, membuat Adaline melepaskan ciuman mereka dan m*ndes4h dengan keras.
Hans yang mendengar suara indah Adaline tersenyum senang, dia lalu menyingkirkan kain yang menghalangi pandangannya pada dua buah mel0n yang tadi dia mainkan tadi.
Dan malam itu, kembali Hans menikmati hal yang pernah dia rasakan dengan Adaline.
(jangan banyak-banyaklah, nanti banyak bintang dan banyak yang traveling 😂😂)