ADALINE (My Young Lady)

ADALINE (My Young Lady)
Part 50



Sore ini Hans tiba-tiba mengajak Adaline keluar, karena dia merasa sangat bosan sebab akhir-akhir ini dia bekerja di rumah.


Hans mengendarai mobilnya menuju sebuah mall besar. Sebelumnya dia tidak pernah mempunyai pasangan, jadi dia ingin mengajak Adaline kesana.


Bisa di katakan ini adalah kencan pertama bagi mereka berdua yang sudah lama sendirian.


"Hans, kenapa kita kesini? Aku.."


"Tidak apa-apa, tidak akan ada yang melukai mu. Ayo!"


Hans menggandeng tangan Adaline masuk kedalam mall itu. Dan mereka baru berjalan beberapa langkah ke dalam mall, tetapi mereka telah menjadi pusat perhatian.


Tentu saja mereka menjadi pusat perhatian, mereka berdua terlihat sangat tampan dan cantik, membuat wanita yang mereka lewati terpesona.Terlebih Hans yang menggandeng tangan Adaline. Sungguh pasangan yang sangat serasi.


"Apakah ini pasangan dari kerajaan?"Ucap salah satu pengunjung mall pelan.


"Benarkah? Wah mereka terlihat sangat serasi."


"Oh Tuhan, wanita itu cantik sekali. Aku merasa iri padanya."


Suara bisikan orang-orang yang melihat Hans dan Adaline tidak sengaja terdengar oleh telinga Adaline, dan wajahnya merona seketika, Adaline tidak berani melihat ke depan. Dia menunduk dan hanya mengikuti kemana Hans membawanya.


Hans membawa Adaline masuk kedalam sebuah toko baju.


"Bawakan baju untuknya." Ucap Hans tanpa basa basi kepada pelayan toko.


"Baik tuan."


Dua orang pelayan toko itu langsung mencarikan baju untuk Adaline.


"Hans, pakaian ku sudah banyak. Aku...."


"Tidak apa-apa."


10 menit kemudian dua pelayan toko tadi datang dengan membawa dua baris baju yang akan Adaline coba.


"Kau coba baju-baju itu." Ucap Hans.


"Hans, bukankah ini terlalu banyak?"


"Tidak, kau coba dulu. Aku akan memilih baju mana yang cocok untuk mu."


"Hans."


"Lakukan sayang."


Kedua mata Adaline terbuka lebar, dan wajahnya semakin memerah, dan sudah di pastikan seperti udang rebus saat ini karena panggilan sayang dari mulut Hans.


Para pelayan toko hanya senyum-senyum mendengar Hans memanggil sayang pada Adaline dengan cukup jelas.


"Cepat coba, atau kau ingin aku membantumu?" Ucap Hans lagi.


"Tidak, tidak. Aku akan mencobanya sendiri."


Adaline berlari ke arah ruang ganti dengan membawa baju yang dia ambil secara asal karena malu.


Hans hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Adaline yang menurutnya menggemaskan itu.


Setelah mencoba baju-baju yang di bawa dua pelayan toko, Hans membeli beberapa baju yang menurut dia sangat bagus di pakai oleh Adaline.


Hans kemudian membawa Adaline ke toko sepatu dan juga membawanya ke toko kue, karena Hans tahu jika Adaline menyukai cake dan kue kering.


"Kau sudah lelah?" Tanya Hans ketika mereka berada di dalam mobil.


Adaline mengangguk "Aku sangat mengantuk."


"Tidurlah, aku akan membangunkanmu jika sudah sampai."


"Emm, iya."


Adaline mulai memejamkan matanya dan tertidur di kursi mobil, sementara Hans menurunkan kecepatan mobilnya.


Wajah Adaline sangat tenang saat tertidur, seperti seorang bayi yang tidur dengan sangat pulas.


...----------------...


Sementara itu, di sebuah ruangan, beberapa orang anggota keluarga Adaline sedang berkumpul untuk merencanakan sesuatu.


Berita tentang kematian Carlos sudah terdengar oleh mereka, dan mereka berpikir jika Adaline tidak lagi mempunyai seseorang untuk membantu dan melindunginya.


Beberapa paman dan bibi Adaline yang masih menginginkan rumah kediaman lama. Mereka tidak rela jika rumah itu akan di lelangkan dan sebagian uangnya akan Adaline gunakan untuk membangun panti asuhan dan panti jompo.


"Ayah Adaline hanyalah orang luar yang di ambil entah dari mana oleh kakak pertama. Dan Adaline benar-benar sudah berpikir jika dia adalah kepala keluarga Wilson yang sebenarnya, hanya karena kakek telah menunjuknya." Ucap salah satu bibi Adaline.


"Benar, rumah itu adalah rumah yang kakek tinggalkan untuk kita. Dia tidak berhak untuk melelangkan rumah itu untuk membangun panti yang tidak berguna." Ucap bibi yang lain.


Kali ini mereka ingin membuat Adaline menyerahkan rumah kediaman lama kepada mereka. Walaupun mereka sudah mendapatkan warisan masing-masing, tetapi bagi mereka yang serakah itu tidak akan pernah cukup.


"Baiklah, aku mengenal seorang ketua di dunia bawah. Kita akan meminta bantuanya untuk membuat Adaline menuruti permintaan kita." Ucap salah satu oaman Adaline.


"Iya, atur saja. Aku tidak percaya jika Adaline akan lolos setelah Carlos tidak lagi dengannya."


Kematian Carlos membuat mereka mendapatkan kesempatan untuk mencelakai Adaline lagi.


Saat Carlos masih hidup saja mereka berani, apalagi sekarang saat mereka tahu jika Carlos sudah mati.


"Kematian Carlos membawa keberuntungan untuk kita." Ucap salah satu bibi Adaline lagi.


"Benar. Aku justru ingin dia mati sebelum Adaline menggantikan ayah."


"Tidak apa-apa, kita akan membuat dia membayar atas apa yang sudah kita rasakan selama ini."


Tatapan mata mereka sangat terlihat di penuhi oleh kebencian dan dendam pada Adaline.


Tetapi mereka tidak tahu jika sekarang Adaline di lindungi oleh orang yang jauh lebih hebat dari Carlos, bahkan mungkin bukan lawan yang pantas untuk ketua mafia yang akan membantu mereka.


...----------------...


Saat ini semua anak buah Hans sudah mengetahui hubungan Hans dan Adaline, karena ketika mereka pulang dari jalan-jalan Hans menggendong Adaline dan membawanya ke dalam kamar Hans, bukan ke dalam kamar tamu.


Hans adalah orang yang dingin dan kejam, dia tidak akan pernah membiarkan orang lain untuk masuk ke dalam kamarnya, apalagi sampai tidur disana.


Pagi ini Adaline bangun dan terkejut, karena mendapati dirinya ada dikamar Hans dengan baju yang sudah di ganti.


"Apa...apa yang terjadi, kenapa aku di kamar Hans, dan siapa yang mengganti pakaianku semalam?" Gumam Adaline.


Adaline menutupi wajahnya dengan tangan, dia merasa malu karena pasti semua orang yang ada di mansion sudah mengetahui hubungannya dengan Hans.


"Bagaimana ini?" Ucap Adaline lagi.


Ceklek


Pintu terbuka dan Hans berjalan masuk.


"Kau sudah bangun?" Ucap Hans.


Adaline hanya mengangguk dengan pelan.


Hans berjalan mendekati Adaline lalu duduk disisi ranjang, "Mandilah setelah itu turun untuk sarapan."


"Hans."


"Ya?"


"Apa...Apa sekarang semua anak buahmu sudah tahu kalau aku..."


"Iya, mereka sudah tahu."


"Aaaaa, bagaimana ini?"


"Kenapa? Kau tidak mau jika mereka tahu hubungan kita?"


"Bukan, tapi...tapi ini sangat mendadak dan aku..."


Hans mengacak-acak rambut Adaline, "Tidak apa-apa, mereka bisa menerimanya. Sekarang mandilah dulu."


Adaline mengerucutkan bibirnya dan menatap Hans dengan tatapan yang dia buat menyeramkan.


Melihat itu, Hans sangat ingin mengigit bibir kecil dan tipis itu, tapi dia takut jika dia melakukannya akan melukai bibir Adaline.


"Aku akan keluar dan akan kembali nanti siang. Jika kau ingin keluar, Alan akan menemanimu." Ucap Hans sambil berdiri.


"Aku bahkan tidak berani untuk keluar dari kamarmu sekarang, bagaimana aku bisa keluar dari mansion ini?" Ucap Adaline pelan.


"Hahaha baiklah, kalau begitu kamu bisa menghabiskan waktumu disini. Jika ada apa-apa hubungi aku."


Adaline mengangguk pelan.


Hans mengecup kening Adaline dan berjalan keluar dari kamar.


Sementata Adaline terpaku disana, walaupun Hans sudah mencium bibirnya dan mereka sudah melakukan hal itu beberapa kali. Tetapi Adaline masih saja merasa gugup dan jantungnya berdetak kencang, saat Hans melakukan hal kecil yang sangat romantis baginya, seperti memanggilnya sayang atau mengecup keningnya seperti yang Hans lakukan tadi.


"Aku bisa mati lama-lama jika Hans selalu melakukan hal yang tidak pernah aku tebak seperti ini."


Adaline menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, seolah sedang menyembunyikan dirinya dari orang lain karena malu.


Selama Hans pergi, Adaline benar-benar tidak berani untuk meninggalkan kamar Hans. Dia belum siap menerima tatapan atau ucapan dari anak buah Hans.


Walau Hans berkata jika mereka sudah menerimanya sebagai pasangan Hans, tetapi Adaline masih belum berani.


Selama di dalam kamar, Adaline meminta tolong pada Hans untuk membawakan pakaian dan makanan untuknya.


"Anda bisa makan di luar nona Adaline, kami tidak masalah dengan hubungan anda dan bos." Ucap Alan ketika membawakan makan siang untuk Adaline.


"Tidak,tidak. Aku belum cukup siap untuk menghadapi semua anak buah Hans disini."


Alan hanya tertawa mendengar itu, wajah Adaline terlihat sangat lucu ketika berkata hal itu juga sangat lucu. Seperti seorang anak kecil yang ketakutan.


"Baiklah kalau begitu, kami hanya bisa menunggu bos untuk membawa anda keluar nanti."


Adaline tidak bisa berkata lagi, karena apa yang Alan katakan tidak akan bisa dia hindari.


"Baiklah nona Adaline, selamat menikmati makan siang anda. Saya permisi." Ucap Alan lagi.


"Iya, terima kasih."


Adaline menutup pintu kamar Hans setelah Alan pergi.


"Apakah seperti ini rasanya mempunyai pasangan yang memiliki banyak anak buah?" Ucap Adaline.


Adaline meletakkan nampan berisi makan siang dan juga buah di atas meja, lalu dengan tenang dia mulai menikmati makanan itu.


Di dalam kamar Adaline hanya bisa melihat televisi dan memainkan game yang ada pada ponselnya.


Xiao Yu Wen benar-benar tidak mau keluar dari kamar, bahkan untuk berdiri di balkon kamar saja dia tida berani melakukannya.


(Maklum, ini cinta dan pasangan pertama bagi Adaline).


Sore hari Hans mendengar dari Alan, jika Adaline tidak mau keluar dari dalam kamar, dan hanya mau Alan yang membantu mengantarkan makanan dan juga pakaiannya.


Mendengar itu Hans hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia tidak menyangka jika Adaline benar-benar akan ada di dalam kamar seharian.


Ceklek


"Dia ini, benar-benar terus berada di dalam kamar." Gumam Hans yang melihat Adaline tidur di atas ranjangnya.


Hans berjalan mendekati Adaline dan duduk disampingnya. Wajah Adaline yang terlihat sangat cantik saat sedang tidur membuat Hans ingin menciumi pipinya, tapi dia khawatir kalau akan membuat Adaline terbangun.


"Apa setakut itu dirimu jika orang lain tahu hubungan kita?" Ucap Hans pelan.


Hans membelai rambut Adaline dengan lembut dan mendaratkan kecupan pada pelipis wanitanya itu.


Hans berdiri lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Dan 10 menit kemudian dia keluar dari kamar mandi lalu berjalan mendekati ranjanh, dan dengan memeluk tubuh Adaline, Hans ikut tidur di sampingnya.