
Sudah satu minggu ini hubungan Hans dan Adaline kembali membaik, dan saat ini mereka berdua tengah menikmati kue yang Hans beli di dalam kamar mereka.
"Apa hari ini kau akan pergi, Hans?" Ucap Adaline.
"Kenapa, apa kau ingin melakukan sesuatu denganku, hmm?"
"Hans."
Hans hanya tersenyum, walaupun hubungan mereka telah membaik. Namun Adaline masih saja tidak mau malakukannya dengan Hans, dan Hans hanya bisa menerima itu.
"Aku akan ke kamar mandi sebentar." Ucap Adaline.
"Apa kau ingin aku temani?"
"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri."
Hans hanua terkekeh menxsngar ucapan Adaline.
Setelah Adaline masuk ke dalam kamar, hans segera menghubungi Alan.
"Iya, kau harus mencari yang masih baru. Aku dan Alan akan segera kesana." Ucap Hans.
Dari dalam kamar mandi,Adaline mendengar apa yang Hans katakan.
"Akan segera kesana, apakah Hans akan keluar?" Gumam Adaline.
Setelah Hans tidak lagi bersuara, Adaline membuka pintu kamar mandi lalu keluar dan berjalan menghampiri Hans.
"Kau sudah selesai?" Ucap Hans.
"Iya."
"Seseorang menghubungi ku, dan aku harus keluar bersama dengan Alan sekarang."
"Sekarang? Bukankah kau tadi berkata kalau kau tidak akan keluar hari ini?"
"Maaf, aku harus pergi sekarang."
"Baiklah."
Adaline terlihat tidak rela jika Hans harus pergi, di tambah lagi pembicaraan Hans di telefon membuat pikiran Adaline terusik.
Hans mencium kening Adaline, "Setelah urusanku selesai, aku akan segera kembali."
"Iya, aku mengerti."
Hans mengangguk lalu keluar dari kamar.
Saat ini Hans yang tengah menahan sesuatu berjalan dengan cepat, dan di lantai bawah Alan sudah menunggunya.
"Setelah sampai, kau segera bawa orangnya menemui ku." Ucap Hans pada Alan.
"Siap bos."
Hamsa dan Alan lalu berjalam keluar dari mansion, dan menaiki mobil yang sudah berada di depan mansion.
Setelah mendengar deru mobil Hans yang menjauh dari mansion, Adaline yang merasa tidak tenang segera keluar dari kamarnya dan berlari ke lantai bawah.
"Nona Adaline, anda ingin kemana?" Tanya salah seorang pelayan.
"Aku ingin membeli sesuatu dan akan segera kembali."
"Tapi nona Adaline. Nona, nona."
Adaline tidak mendengarkan panggilan pelayan itu, dia berjalan menuju garasi lalu masuk ke dalam mobilnya.
Dengan cepat Adaline melajukan mobil itu, karena dia tidak ingin tertinggal telalu jauh dari mobil Hans.
Adaline terus melajukan mobilnya, sampai dia melihat mobil yang di naiki oleh Hans dan Alan. Dia mengikuti mobil Hans agak jauh, karena tidak ingin ketahuan.
Setelah lebih dari 30 menit, mobil Hans masuk ke dalam tempat parkir bawah tanah yang ada di sebuah gedung. Ketika Adaline membaca nama gedung itu, kedua mata Adaline terbuka lebar.
"Hotel? Untuk apa Hans datang kesana?" Gumam Adaline.
Setelah menunggu beberapa saat, Adaline memarkirkan mobilnya tepat di seberang hotel itu.
Adaline keluar dari mobil dan bergegas pergi ke hotel itu saat, dia melihat Alan yang akan pergi dari meja resepsionis yang sepertinya telah melakukan chek in di hotel itu.
"Selamat siang nona, apa anda ingin memesan kamar?" Ucap salah seorang resepsionis ketika Adaline sampai di depan mereka.
"Iya, aku ingin memesan kamar tepat di depan kamar yang tamu tadi pesan."
"Baik, tunggu sebentar."
Resepsionis itu memeriksa kamar yang telah Alan pesan tadi, lalu memberi tahu kepada Adaline.
"Dimana pun orang tadi memesan kamar, saya mau pesan kamar tepat di depannya." Ucap Adaline.
"Baik nona, silahkan anda mengisi formulirnya terlebih dulu."
Adaline melakukan apa yang resepsionis katakan, dengan cepat dia mengisi setiap poin yang ada pada lembar formulir itu.
"Ini." Ucap Adaline sambil memberikan formulir tadi pada petugas resepsionis.
Resepsionis itu menerima formulir dari Adaline lalu dengan lincah jemarinya menari di atas keyboard komputer.
"Untuk pembayaran, anda ingin membayar dengan chas atau pakai kartu kredit, nona?" Ucap resepsionis itu.
"Chas."
Adaline tahu jika menggunakan kartu kredit, Hans akan mengetahui jika dia memesan kamar di hotel itu, jadi dia memilih menggunakan uang.
Resepsionis kembali melakukan sesuatu.
"Ini total yang harus anda bayar, nona."
Resepsionis itu memberikan selembarbkertas pada Adaline. Lalu Adaline mengambil uang dari dalam dompet dan memberikannya pada resepsionis itu.
Setelah semua urusan selesai, Adaline mendapatkan sebuah kartu yang di gunakan untuk membuka pintu kamar hotel.
Adaline berjalan menuju lift, lalu menekan tombol nomor 12. Dan Tepat saat pintu lift yang Adaline naiki tertutup, Alan keluar dari dalam lift yang lainnya.
Ting
Pintu lift terbuka, dan Adaline melangkah keluar dari dalam lift untuk mencari nomor kamar hotel yang dia pesan.
Setelah Adaline menemukan kamarnya, dia menatap pintu kamar yang ada di depan pintu kamarnya itu.
"Apa yang kau lakukan di dalam sana Hans?"
Adaline berbalik lalu menempelkan kartu yang dia dapat dari resepsionis di bawah knop pintu kamar yang dia pesan.
Tit
Suara kunci terbuka, Adaline memutar knop pintu itu lalu masuk ke dalam kamar hotel.
Di dalam kamar, Adaline dengan serius mengintintip dari lubang kecil yang ada di pintu, untuk mnegetahui apa yang terjadi di depan kamar yang Alan pesan untuk Hans.
"Kenapa tidak ada orang yang datang? Apakah benar itu kamar Hans?" Ucap Adaline.
Ketika Adaline tengah bingung, dia melihat Alan membawa seorang wanita muda ke dalam kamar itu, dan beberapa menit kemudian Alan keluar dari dalam kamar seorang diri.
Jantung Adaline berdetak cepat dan menggelengkan kepalanya melihat semua itu.
"Siapa wanita yang Alan bawa masuk, dan kenapa dia tidak ikut keluar dengan Alan?" Ucap Adaline.
Banyak sekali tanya dalam pikiran Adaline saat ini, tapi dia tidak bisa mengatakannya karena dadanya terasa semakin sesak.
10 menit setelah Alan keluar seseorang yang ternyata karyawan hotel datang membawa meja troli yang membawa makanan.
Adaline membuka pintu kamarnya, lalu menahan orang itu agar tidak mengetuk pintu kamar terlebih dulu.
"Maaf mengganggu pekerjaan mu, di dalam adalah kekasih saya. Teapi dia sedang bersama wanita lain. Bisakah anda membantu saya?" Ucap Adaline dengan hati-hati.
Karyawan itu melihat Adaline dengan curiga.
"Bagaimana saya bisa tahu apakah benar yang ada didalam kamar ini adalah kekasih anda?" Ucap karyawan itu.
"Saya bersumpah yang ada di dalam kamar ini adalah kekasih saya. Itu karena....saya mengikuti dia dari rumah sampai kesini. Saya memesan kamar itu, dan mengintipnya dari dalam." Adaline menunjuk kamar yang dia pesan, juga menunjukkan kartu akses masuk kedalam kamar.
Karyawan itu mengangguk, "Baiklah, anda hanya harus berdiri di samping pintu, agar tidk terlihat. Karena biasanya ketika seseorang masuk membawa makanan yang di pesan, pintu akan langsung di tinggal, saya akan mengganjal pintu agar tidak tertutup dan terkunci secara otomatis. Saat itu anda bisa masuk ke dalam diam-diam, hanya itu yang bisa saya lakukan untuk membantu anda."
"Baik, saya mengerti. Terima kasih."
"Sama-sama, nona."
Adaline menuruti apa yang orang itu katakan dan langsung berdiri disamping pintu seperti apa yang dia katakan.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu terdengar, dan tak lama pintu terbuka.
"Maaf tuan, seseorang bernama tuan Alan memesan makanan ini untuk kamar 226." Ucap karyawan itu di depan pintu.
"Bawa masuk."
Hanya dengan satu kalimat pendek, Adaline yang bersembunyi di samping pintu mengenali suara itu dengan baik. Di tambah orang itu mneyebut nama Alan.
Setelah itu karyawan hotelnmasuk ke dalam, dan dia mengganjal pintu dengan tisu yang dia bawa agar pintu kamar tidak terkunci.
Dengan pelan Adaline berjalan masuk ke dalam kamar hotel yang Alan pesan untuk Hans.
"Hans, aku mohon. Aku mohon kau tidak melakukan apa yang aku takutkan."
Adaline melihat ke dalam kamar hotel itu dan berdiri di belakang dinding. Dan seketika kedua mata Adaline terperanjat saat melihat wanita yang di bawa oleh Alan masuk ke dalam kamar tadi, mengenakan pakaian yang minim dan duduk dip atas pangkuan Hans yang hanya memakai celana, yang dia kenakan saat keluar dari mansion.
Air mata Adaline mengalir, hatinya seolah hancur melihat itu. Dengan perasaan yanh kecewa Adaline perlahan melangkah mundur, tapi....
Praaaaang!
Adaline tidak sengaja menyenggol vas bunga besar yang ada di sampingnya.
Hans dan yang lain melihat ke arah sumber suara, dan alangkah terkejutnya Hans saat melihat Adaline berdiri di depan pintu kamar hotelnya.
Dengan cepat Hans menurunkan wanita yang ada diatas pangkuannya, dan berniat menghampiri Adaline.
Adaline yang sudha tidak bertahan, berbalik dan berjalan. Namun kakinya terpeleset pecahan vas dan jatuh di atas pecahan vas bunga tadi.
"Adaline." Ucap Hans.
Adaline yang tidak ingin melihat Hans, berdiri dengan cepat lalu berlari meninggalkan kamar itu.
"Adaline!" Ucap Hans dengan keras.
Adaline terus berlari tanpa peduli dengan panggilan Hans. Air mata Adaline terus mengalir di sepanjang koridor hotel itu.
"Kenapa, kenapa kau melakukannya Hans?"
Adaline menekan tombol lift dan berharap pintu lift segera terbuka.
Hans yang masih berada di dalam kamar, mencari kemeja yang dia pakai lalu dengan tergesa-gesa keluar untuk mengejar Adaline.
Saat dia sudah keluar dari kamar dan menyusuri koridor hotel, dia tidak menemukan sosok Adaline dimana pun.
"S*alan! Aaaaaaaaghh!!" Hans berteriak di depan pintu lift yang tertutup.
Hans memukul dinding di sampingnya, dia benar-benar tidak menyangk jika Adaline akan mengikutinya dan mengetahui apa yang dia lakukan.
Sementara itu Adaline yang berada di dalam ruang tangga darurat dilantai 9, terduduk sambil menangis.
Rasa perih yang ada di kedua telapak tangan dan lututnya tidak dia rasakan. Saat ini yang dia rasakan adalah rasa sakit melihat orang yang begitu dia sayangi menghianatinya.
"Kenapa kau melakukan itu Hans, kenapa? Apa... apa karena aku sudah di nodai oleh orang lain? Hans...." Ucap Adaline.
Adaline menangis di ruang tangga itu, hatinya merasa hancur. Karena dia benar-benar tidak percaya jika Hans akan melakukan itu padanya.
"Kau yang berjanji jika kau tidak akan menyakiti ku, tetapi kau justru melakukan hal itu dengan wanita lain." Ucap Adaline lagi.
Saat ini Adaline tidak tahu harus berbuat apa. Hatinya terasa seperti tersayat melihat Hans dan wanita itu dengan kedua matanya sendiri.