
Esok harinya, Hans duduk didepan dua orang mata-mata Albert (May dan Brian), Hans menatap dua orang itu dengan dingin.
May dan Brian sudah babak belur, karena beberapa anak buah Hans memukuli mereka saat mereka akan melarikan diri.
"Kalian sangat berani sekali, apa kalian pikir aku tidak tahu siapa kalian sejak awal?" Ucap Hans.
May dan Brian yang sudah tidak bisa berkata apa-apa hanya bisa menatap Hans.
"Kalian dengar, sejak kalian datang ke tempatku. Aku langsung menyelidiki kalian berdua. Sebagai seorang yang keluar dari rumah keluarga kalian, informasi kalian cukup bersih. Itu yang membuatku curiga dan mencaritahu lebih jauh tentang kalian, dan yang aku dapatkan adalah hal yang sangat mengejutkan." Ucap Hans lagi.
"K....Kau, bos...Albert...A...Akan." Ucap Brian dengan terbata-bata.
"Berhenti berharap padanya, karena tidak lama setelah ini kalian akan bertemu lagi dengannya. Tapi..... Di alam lain."
Kedua mata May dan Brian membulat, mereka tahu arti dari kata-kata Hans itu.
Albert adalah salah satu ketua mafia yang kuat dan juga mempunyai anak buah tidak sedikit, bagaimana mungkin Hans bisa membunuhnya.
Tapi itulah kenyataannya. Hans memang terlihat seperti orang yang tidak mempunyai kekuatan, namun mereka yang meremehkan Hans selalu mendapatkan tamparan yang sangat keras, saat melihat bagaimana Hans menghancurkan satu demi satu musuhnya.
"Alan, bawa mereka berdua dan beri mereka pelayanan yang bagus." Ucap Hans.
"Siap bos."
Alan menyuruh anak buah Hans yang lain,untuk menyeret dua orang mata-mata itu ke ruang bawah tanah untuk di layani dengan baik seperti permintaan bosnya.
Selesai memerintahkan anak buahnya untuk menghukum kedua mata-mata itu, Hans berjalan menuju kamarnya.
Di dalam kamar Hans melihat Adaline masih terlelap dalam tidurnya, mungkin dia lelah setelah tadi malam berlari cukup lama.
Flashback
Di apartment, setelah mereka selesai makan malam Adaline meminta May untuk menemaninya duduk di balkon, karena dia merasa makan malam kali ini agak banyak, jadi dia tidak ingin cepat-cepat tidur.
"May, kenapa kau masuk kedalam dunia bawah?" Tanya Adaline membuka percakapan mereka.
"Saya tidak mempunyai siapa-siapa lagi untuk di andalkan di dunia ini."
"Keluargamu?"
May menggelengkan kepalanya, "Orang tua saya bercerai, mereka tidak peduli pada kehidupan saya setelah mereka memiliki keluarga baru."
Adaline hanya mengangguk mendengar itu.
Cukup lama mereka duduk di balkon, sampai akhirnya Adaline mendengar suara ponselnya berbunyi dari dalam kamar yang tidak dia tutup.
"Tunggu sebentar." Ucap Adaline.
May mengangguk. Kedua mata May mengikuti kemana Adaline pergi dengan tajam.
Adaline masuk kedalam kamar dan menutupnya.
Di dalam kamar, Adaline mengambil ponsel yang ada diatas ranjang, lalu melihat siapa yang menghubunginya.
Setelah tahu siapa yang menghubungi ponselnya, Adaline menggeser icon beewarna hijau ke atas.
Adaline : Halo.
Alan : Nona, apakah anda baik-baik saja?
Adaline : Iya tentu, ada apa?
Alan : Nona Adaline, tolong dengarkan saya baik-baik. May adalah mata-mata dari musuh bos, kita tidak tahu jika di dalam markas ada mata-mata dan itu adalah May.
Adaline : (dengan nada khawatir) Lalu bagaimana?
Alan : Begini. Malam ini, saat anda merasa Macy sudah tidur, anda keluar dari apartemen diam-diam. Saya akan menjemput anda di toko bunga yang kita lewati kemarin. Anda masih ingat tempatnya?
Adaline : Iya, aku ingat.
Alan : Baik, sekarang jangan buat May mencurigai anda. Bersikap seperti anda belum tahu siapa dia, supaya dia tidak melakukan hal yang berbahaya pada anda.
Adaline : Aku...Aku mengerti.
Alan : Nona Adaline.
Adaline : Iya?
Alan : Saya minta maaf karena membuat anda tidak tenang, karena saya juga tidak mengetahuinya.
Adaline : Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja.
Alan : Baiklah kalau begitu, tolong tetap waspada, nona.
Adaline : Aku mengerti.
Adaline meletakkan ponsel di samping tubuhnya setelah sambungan telefon itu terputus. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana dengan May saat ini, karena orang yang ingin membunuhnya saat ini ada di dalam apartemen bersamanya.
"Nona Adaline."
Adaline terkejut mendengar May memanggilnya dari luar, tangannya gemetar dan dingin seketika.
"Maaf, tadi aku ke kamar mandi setelah menerima panggilan." Ucap Adaline memberi alasan.
"Tidak apa-apa nona."
"Apa anda ingin minum?"Ucap May yang sudah memegang bir* di tangannya.
Adaline menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak biasa minum."
"Baiklah."
Adaline melihat ke arah jam dinding.
"Ini sudah jam 10 malam, aku akan tidur lebih dulu." Ucap Adaline.
"Iya, silahkan nona."
Adaline tersenyum lalu berjalan ke arah kamarnya. Sebisa mungkin dia bersikap seperti biasa agar May tidak curiga padanya, seperti apa yang Alan katakan.
Tepat pada jam 1.30 dini hari, Adaline yang yakin jika May sudah tertidur, mengendap-endap keluar dari kamarnya. Dia melihat sekeliling sebelum berjalan keluar.
Di ruang tamu dia kembali melihat sekeliling, karena dia takut jika May tidur di luar kamar.
"Baiklah, aman."
Adaline dengan pelan membuka pintu kamar utama apartemennya, dan berjalan dengan cepat ke arah lift.
Di dalam lift Adaline berharap jika lift turun ke bawah dengan cepat. Karema dia takut jika May akan menyadari dirinya pergi lalu mengejarnya.
Ting
Lift akhirnya sampai di lantai bawah, Adaline langsung keluar dan berjalan melewati meja resepsionis.
"Nona, nona." Panggil salah seorang resepsionis.
"Iya." Jawab Adaline dengan terengah-engah.
"Nona, mau kemana malam-malam?"
"Saya sedang ada urusan. Saya harus keluar sekarang."
Tanpa mendengar ucapan resepsionis itu lagi, Adaline berjalan dengan cepat keluar dari gedung apartemen itu.
Setelah di luar gedung, dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Setelah itu dia berjalan dengan cepat ke arah toko bunga yang di katakan Alan saat di telefon.
Masih setengah jalan, tiba-tiba Adaline mendengar suara sepatu yang berlari ke arahnya.
Adaline menoleh ke belakang dan dia melihat May tengah berlari mendekatinya.
Mengetahui sesuatu yang tidak baik akan terjadi, Adaline berlari dengan cepat agar tidak tertangkap oleh May yang berlari semakin cepat di belakangnya.
"Ba... Bagaimana dia bisa tahu aku keluar dengan sangat cepat." Gumam Adaline sambil terus berlari.
Aksi kejar-kejaran dini hari dua orang itu pun tidak terelakan.
Adaline yang tidak biasa berlari merasa nafasnya akan berhenti, sementara Mau semakin lama semakin dekat dengannya.
"Kau tidak akan bisa kemana-mana!" Seru May dari belakang.
Mendengar itu, Adaline menggelengkan kepalanya, "Alan, aku mohon cepatlah datang."
Adaline terus berlari sekuat-kuatnya, karena dia tidak ingin tertangkap oleh May.
May semakin dekat dengan dirinya, karena saat ini Adaline berlari tidak secepat tadi.
Namun tepat saat May akan meraih bahu Adaline, dua buah mobil berhenti tepat di depan Adaline.
Dari dalam mobil Alan keluar, begitu juga dengan anak buah Hans lainnya. Mereka bergegas menuju May yang akan menangkap Adaline.
Beberapa anak buah Hans segera bertarung dengan May.
"Nona Adaline, maaf kami terlambat." Ucap Alan.
"Tidak, ka...kalian tidak...."
Bruuuuukk
Tubuh Adaline jatuh sebelum dia menyelesaikan ucapannya.
Alan yang melihat itu segera mengangkat tubuh Adaline yang tak sadarkan diri, dan membawanya kedalam mobil.
Setekah berhasil mengalahkan May, anak buah Hans memasukkan May kedalam mobil. Lalu dua mobil itu meninggalkan tempat itu dan pergi ke mansion Hans.
...----------------...
Hans duduk disamping tubuh Adaline dan menatap wajah putih wanita yang tengah memejamkan matanya itu.
"Maaf, karena kau harus terlibat lagi." Ucap Hans pelan.
Sampai saat ini Hans tidak tahu kenapa dia begitu merasa khawatir saat mendengar Adaline dalam bahaya. Seperti saat mengetahui May ada bersama Adaline, dia sangat marah pada dirinya sendiri. Bahkan fia sampai meminta Yun untuk kembali ke negara N, dan memeriksa keadaan Adaline.