
Saat Hans kembali ke perusahaan, banyak karyawan menatapnya dengan tatapan yang sulit dimengerti.
Sampai diruang kerjanya, Hans langsung meminta sekertarisnya mencari tahu apa yang sudah terjadi pada karyawannya.
10 menit kemudian Hans mendapatkan informasi jika karyawannya melihat foto-foto dirinya dengan Adaline.
Hans,tanpa berfikir lagi dia meminta sekertarisnya untuk mengumpulkan semua karyawannya di aula perusahaan.
Setelah itu Hans keluar dari ruang kerjanya, berjalan ke aula perusahaan dan berdiri didepan karyawannya.
Di atas podium, Hans melihat semua karyawan yang berdiri tegak.
"Jadi, apa yang kalian dapatkan hari ini?" Ucap Hans di atas podium tanpa basa basi.
Semua diam, mereka tentu tidak berani untuk berbicara.
"Baiklah, apakah aku harus memecat kalian semua baru kalian akan berbicara?" Ucap Hans lagi.
Semua karyawan Hans terkejut dan menggelengkan kepala mereka.
"Jadi katakan, apa yang sudah kalian dapatkan hari ini?" Ucap Hans kali ini dengan lantang.
Salah seorang karyawan akhirnya berani maju ,dan berjalan mendekati sekertaris Hans, dia memberikan sebuah amplop yang berisi foto-foto yang mereka lihat.
"Kami menemukannya di depan pintu masuk perusahaan pagi ini." Ucap karyawan itu.
Sekertaris Hans memberikan amplop itu pada Hans.
Hans membuka dan melihat isi amplop itu.
Hans tersenyum tipis melihat dua foto dari dalam amplop itu.
"Ahh, ternyata masih ada saja semut kecil yang berani melakukan ini padaku." Ucap Hans.
Hans menatap semua karyawannya, "Foto ini memang aku dan kekasihku."
Semua karyawan Hans kembali terkejut, dan mereka mulai berbisik satu sama lain.
"Jika kalian mengira wanita di dalam foto ini yang telah mengg0da saya. Karena kami masuk ke dalam club* itu bersama-sama, maka kalian salah, justru saya lah yang menggodanya." Ucap Hans lagi.
Hans tentu tidak akan membiarkan orang lain berfikir buruk tentang Adaline setelah melihat foto-foto mereka berdua, yang masuk kedalam club ketika Hans membawa Adaline menemui Steven.
"Aku sangat mencintai dia, dan aku tidak peduli dengan apa yang kalian katakan tentang hubunganku dan dia. Karena bagaimana pun kami sudah menjadi sepasang kekasih, dan kami akan menikah nanti." Ucap Hans dengan tenang.
Hans turun dari podium, dan kembali keruang kerjanya tanpa peduli dengan bisik-bisik para karyawannya.
"Oke semua, kalian bisa kembali ke tempat kalian bekerja.Dan ingat, di larang membicarakan tentang direktur dan kekasihnya. Jika kalian tidak mau di keluarkan secara tidak baik dari perusahaan ini." Ucap sekertaris Hans.
Di dalam ruang kerjanya, Hans menghubungi Alan untuk mencari tahu siapa dalang di balik penyebaran foto-fotonya dan Adaline hari ini.
Mungkin dia akan mudah mengatasi orang-orang di perusahaannya, tetapi jika foto-foto itu juga di sebarkan ke perusahaan lain, itu akan membuat Adaline dalam bahaya. Karena tentu saja para saingan bisnis dan musuh Hans akan tahu kelemahan dia.
Hanya dalam waktu kurang dari satu jam, Alan memberitahu kepada Hans orang yang sudah berani mengusik kehidupan sang ketua mafia itu.
Setelah tahu, Hans keluar dari perusahaannya, dan pergi menuju tempat orang itu berada.
"Sepertinya kau memang sudah bosan hidup, kali ini aku tidak akan mengampunimu, walaupun kau pernah menjadi bagian dari keluarga Adaline."
Dengan cepat Hans pergi ke rumah dimana salah satu paman Adaline tinggal, disana juga sudah ada Alan dan dua orang anak buahnya.
20 menit kemudian, Hans sampai di depan rumah yang tidak begitu besar.
Hans turun dari mobil dengan cepat, Alan yang berdiri di depan mobilnya mengangguk dan mengikuti Hans masuk ke halaman rumah itu.
Brak brak brak
Alan menggedor pintu dengan sangat keras.
"Ya, tunggu!" Ucap seseorang dari dalam rumah.
Brak brak
"S*alan, apa kalian mau...."
Paman Adaline yang mengumpat berhenti, saat dia membuka pintu dan mengetahui siapa yang sudah menggedor pintu rumahnya dengan sangat keras.
"Lama tidak bertemu, tuan...."
"Mau....Mau apa kalian kesini?"
Hans tersenyum, "Apa kau sedang pura-pura tidak tahu alasan kami kesini?"
"Kau...Kalian mau apa?"
Hans melirik ke arah Alan, Alan yang mengerti langsung mengangguk dan menyuruh anak buahnya untuk menyeret paman Adaline dan membawanya ke club*.
Sejenak Hans melihat rumah milik paman Adaline, lalu mengambil kunci dari pintu dan menutup kembali pintu rumah itu serta menguncinya.
Alan dan kedua anak buahnya sudah pergi lebih dulu menuju club', dan tidak lama Hans pun menyusul mereka.
Namun sebelum pergi ke club*, Hans menjemput Adaline terlebih dulu, karena dia tentu harus memberitahu bagaimana salah satu paman Adaline itu berulah hari ini.
Sampai di mansion, Hans melihat Adaline sudah berdiri di depan pintu sambil tersenyum lebar.
"Apa hari ini kau akan membawaku jalan-jalan?" Tanya Adaline.
"Iya, tapi sebelum itu aku mau membawamu ke club* milik ku."
"Untuk apa kesana?"
"Nanti kau akan tahu. Ayo."
Hans menggandeng tangan Adaline dan membukakan pintu mobil untuknya.
"Hans, katakan padaku untuk apa kita kesana?" Ucap Adaline.
"Akan ada kejutan disana."
Hans melajukan mobilnya menuju club* fengan cepat, sementara Adaline yang tidak di beritahu tujuan mereka kesana hanya diam selama perjalanan.
Bahkan setelah sampai di club* itu pun Adaline masih diam.
"Baiklah, aku akan memberitahu." Ucap Hans.
"Sungguh?"
Hans mengangguk, lalu mengambil amplop yang ada di sampingnya dan memberikannya pada Adaline .
"Apa ini?" Ucap Adaline.
"Buka dan lihat. Kau akan tahu."
Adaline yang penasaran membuka amplop itu dan dia sangat terkejut melihat ada foto-fotonya bersama Hans dari dalam amplop itu.
"Ini..."
"Salah satu pamanmu menyebarkan foto-foto itu didepan perusahaanku pagi ini." Ucap Hans.
"Paman, siapa?"
"Aku tidak ingat, dia paman ketiga atau paman keempat mu."
"Kau... Yakin itu paman?"
"Apa aku terlihat tidak bisa menemukan orang yang sangat mudah itu, hmm?"
Adaline diam, lalu melihat kembali foto-foto itu.
"Lalu dimana paman sekarang?" Ucap Adaline.
"Di dalam sana."
Hans menunjuk club*miliknya.
Adaline tahu dimana tepatnya pamannya sekarang berada, dimana lagi jika bukan di ruang bawah tanah club* itu.
"Ayo turun dan temui paman mu." Ucap Hans.
Adaline menatap Hans lalu mengangguk.
Mereka berdua masuk ke dalam club* itu, ada beberapa orang yang mengenal Hans menyapa saat Hans dan Adaline melewati mereka.
Hans membawa Adaline keruang bawah tanah. Disana sudah ada Alan dan dua orang anak buahnya yang tadi menyeret paman Adaline.
"Dimana dia?" Tanya Hans.
"Dia ada di dalam bos." Ucap Alan.
Hans hanya mengangguk.
Alan membukakan pintu jeruji untuk Hans dan Adaline
Adaline sangat terkejut saat melihat wajah salah satu pamannya di bawah cahaya remang di dalam ruangan itu.
"Pa...Paman ketiga?" Ucap Adaline.
Paman Adaline melihat Adaline dengan tatapan penuh kebencian.
Selama ini dia masih tidak terima karena dia hanya mendapatkan warisan yang menurutnya sangat sedikit, sementara Adaline mendapatkan lebih banyak dan hidup dengan baik, jadi dia ingin menghancurkan nama baik Adaline dan Hans, orang yang sudah membantu Adaline selama ini selain Carlos.