ADALINE (My Young Lady)

ADALINE (My Young Lady)
Part 41



"Rio." Ucap Hans.


"Iya bos."


"Siapkan semuanya. Kita akan memakamkan Carlos sore nanti."


"Baik bos."


"Dimana Joe?"


"Di ruang bawah tanah bos."


"Mereka sudah di seret semuanya?"


"Iya bos."


"Markas mereka?"


"Sudah di ratakan bos."


Hans mengangguk, dia lalu berjalan menuju ruang bawah tanah untuk menemui para musuhnya itu. Sementara Yun menyiapkan pemakaman untuk Carlos.


Di ruang bawah tanah, Hans yang di ikuti oleh beberapa anak buahnya berjalan masuk ke dalam ruang bawah tanah yang biasa dia pakai untuk menyiiksa musuh-musuhnya itu.


Ada 8 ruangan di bawah tanah itu, dan semua ruangan yang biasanya kosong itu kini terisi oleh orang-orang yang akan mendapatkan siksaa*n dari Hans dan Joe. Dua psik0pat yang sudah sangat terkenal di dunia bawah.


"Jadi mereka ketua dari keempat kelompok itu?" Tanya Hans setelah masuk kedalam ruangan dengan 4 orang yang terikat rantaii, dan dengan tubuh penuh memar.


"Benar bos." Jawab salah seorang anak buahnya.


"Dimana Alan?"


"Dia sedang menyeret dua orang kepercayaan dari salah satu mereka bos."


Hans mengangguk, lalu menganggkat tangan kanannya.


Segera seorang anak buah menyiramkan air dingin pada keempat ketua mafia yang sudah babak belur itu.


Setelah mereka sadar, mereka melihat tatapan tajam dari kedua mata Hans.


"Ka...Kak Hans." Ucap salah seorang ketua mafia itu.


"Aku tidak pernah merasa punya adik, apalagi seorang adik seperti kalian."


Hans mendekati mereka lalu mengangkat wajah salah satu dari mereka dengan kakinya. Hans menatap penuh kebencian pada orang-orang yang ada di depannya saat ini.


"Kalian sepertinya sudah lupa dengan julukanku, sehingga kalian berani melakukan hal ini untuk memancingku." Ucap Hans.m dengan aura dinginnya.


"Am.... Ampuni kami kak Hans.... Kami..."


"Ampun? Apa setelah aku mengampuni kalian orang yang sudah kalian bunuh akan hidup lagi?"


Merek terkejut, mereka tidak mengira jika ada orang Hans yang terbunuh. Karena mereka tidak mendengar laporan apapun dari anak buahnya.


Hans berjalan kesamping ruangan itu, dia melihat beberapa alat penyiksaa yang bergantungan dengan rapi disana.


"Apa saja yang sudah kalian lakukan pada mereka?"Tanya Hans pada anak buahnya.


"Kami baru memuukuli mereka bos."


Hans menyentuh sebuah rantaii besar yang cukup panjang yang di gantung pada dinding ruangan itu.


Mata keempat ketua mafia itu langsung terbuka lebar melihat Hans mendekati barang-barang itu. Senua rantai itu berukuran cukup besar, dan cukup membuat tulang mereka patah dalam beberapa kali pukulan saja.


Melihat ketakutan dimata para musuhnya itu, Hans hanya tersenyum.


"Kalian mengerti dengan rasa takut, tapi kalian bertindak sangat jauh."


"Kak Hans.... Kami... Aaaaaaaagh!"


Sebuah suara memenuhi ruangan bawah tanah saat Hans mengayunkan rantaii yang panjang, dan cukup besar itu pada salah satu ketua mafia yang terikat.


"Suara mu masih cukup kuat." Ucap Hans.


Hans kembali mengayunkan benda di tangannya itu pada setiap bagian tubuh satu persatu dari mereka.


Erangaan, teriakan kesakitan terus mengalun di dalam ruang bawah tanah itu.


10 menit kemudian Hans melemparkan rantaii itu di lantai, karena para ketua itu tidak sadarkan diri.


"Kalian teruskan saat mereka sadar. Jangan biarkan mereka mati sebelum hari ketujuh kematian Carlos." Ucap Hans.


"Baik bos."


Dengan tenang Hans memasuki mansion, dan dia sedikit tersentak melihat saat melihat Adalin berada didepannya.


"Kau..."


"Apa kau sudah membunuh mereka?" Tanya Adaline dengan datar.


"Mereka belum mati, aku tidak akan membiarkan mereka mati dengan mudah."


Adaline mengangguk pelan.


Dari jauh terlihat Rio berlari mendekati mereka, "Bos."


"Katakan."


"Semuanya sudah siap."


"Kau temani nona Wilson. Aku akan segera kembali."


"Baik bos."


Hans berjalan menuju kamarnya, sementara Adaline duduk di ruang keluarga di temani oleh Rio.


"Nama mu Rio?" Tanya Adaline.


"Benar."


"Kau... Sudah berapa lama kau mengenal Hans?"


"Sekitar 2 tahun yang lalu."


"Aku tidak tahu bagaimana dia yang sebenarnya. Aku hanya bisa membayangkan seperti apa Hans saat kak Dave menceritakan tentang dia."


Rio hanya mengangguk.


"Rio, jika aku meminta Hans untuk menjagaku. Apa... Apa dia mau?"


"Maaf nona Wilson, sebaiknya anda langsung bertanya pada bos. Karena saya tidak tahu bagaimana pendapat bos."


Adaline mengangguk pelan "Kau benar."


Setelah pembicaraan singkat itu, mereka berdua sama-sama diam.


Tak lama Hans datang dengan setelan tuxedo kasual berwarna hitam.


"Kita berangkat." Ucap Hans.


"Baik bos."


"Adaline."


Adaline menatap Hans lalu mengangguk, dia kemudian berdiri dan ikut berjalan keluar mansion.


Di luar, 6 buah mobil sudah berbaris dengan rapi, salah satu diantara mobil itu membawa peti berisi Carlos yang sudah meninggal.


Hans dan Adaline menaiki mobil tepat di belakang mobil yang membawa peti Carlos.


Semua mobil melaju menuju tempat pemakaman umum di negara N.


Selama perjalanan Adaline tudak berbicara sama sekali, karena saat ini dia tidak ingin berbicara dengan siapapun. Seolah mulutnya telah terkunvi dengan rapat.


Sampai di area pemakaman, mereka membawa peti berisi Carlos menuju tempat dimana Carlos akan di makamkan.


Sampai di depan tempat pemakaman Carlos, mereka berhenti. Dan dengan perlahan peti berisi Carlos di turunkan kedalam liang makam itu, lalu sedikit demi sedikit tanah mengubur peti yang berwarna coklat berisi Carlos yang telah meninggal.


Dengan air mata yang mengalir, Adaline menaburkan bunga di atas gundukan tanah basah itu.


"Terima kasih Carlos, kau sudah menemaniku selama ini. Maafkan aku karena aku tidak bisa menolongmu. Aku...Aku benar-benar tidak berguna. Sekarang kau dan kak Dave sudah bersama disana, tapi aku disini..."


Air mata Adaline terus menetes, kesedihan yang dia rasakan saat sungguh tidak bisa lagi dia bendung. Rasa kehilangan orang-orang yang dekat dengannya, membuat dirinya merasa putus asa.


Orang tuanya, tuan besar Wilson, Dave dan sekarang Carlos. Mereka satu persatu meninggalkan Adaline di dunia ini sendirian.


Hans yang melihat Adaline menyeka air mata, menepuk bahu Adaline seolah memberikan kekuatan dan meyakinkan wanita itu, jika dia tidak sendirian.


"Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan sekarang? Sejua keluarga ku telah pergi. Orang-orang yang dekat denganku juga telah pergi satu persatu." Ucap Adaline yang masih menatap makam Carlos.


Hans tidak menjawab, karena dia sendiri tidak tahu harus berkata apa. Bahkan pertemuannya dengan Adaline pun, sama sekali tidak pernah dia sangka.


"Setiap orang pasti akan mati, hanya waktunya saja yang berbeda." Ucap Hans.


Setelah menaburkan bunga di atas makam Carlos, Hans berjalan pergi. Dia membiarkan Adaline disana lebih lama, di temani oleh Rio dan beberapa anak buahnya.