ADALINE (My Young Lady)

ADALINE (My Young Lady)
Part 6



Satu minggu kemudian, Hans yang sudah berada di markasnya sejak enam hari yang lalu, kini tengah melihat-lihat senjata yang dia miliki di gudang bawah tanah.


Hans mengambil sebuah pist0l dan mengamati pist0l itu.


"Bukankah ini pist0l yang di dapat ketika kita terjebak diatas kapal dua bulan yang lalu?" Tanya Hans pada Alan.


"Benar bos."


Hans membuka tempat p3luru* pist0l itu, dan melihat p3luru* yang ada didalamnya yang tinggal dua butir.


"Alan, minta Rio dan Marco untuk membuat p3luru* ini. Tapi aku mau mereka membuat yang lebih ringan."


"Yang lebih ringan, bos?"


"Benar. Pist0l yang aku buat mempunyai kekuatan yang lebih ringan, tapi memiliki daya tarikan yang lebih baik, dan bisa mengenai sasaran lebih cepat di bandingkan jenis pist0l ini."


Alan mendengar dengan seksama, sudah beberapa bulan ini Hans membuat sebuah pist0l. Dan sudah beberapa kali juga dia datang ke gudang senj4ta hanya untuk melihat jenis p3luru* yang mereka miliki.


"Apa kau mengerti?" Tanya Hans.


"Baik, aku akan meminta Marco dan Rio untuk membuatnya."


Hans memberikan satu p3luru* pada Alan untuk diberikan pada Marco dan Rio.


Setelah selesai melihat-lihat, Hans dan Alan keluar dari gudang senjata.


"Sudah mulai gelap, minta paman Yan untuk membuatkan makan malam." Ucap Hans pada Alan.


"Siap."


Alan berjalan kedalam mansion, meninggalkan Hans yang berdiri menatap langit yang menyiratkan warna jingga.


"Sudah lebih dari tiga tahun, dan semua berjalan seperti ini." Ucap Hans pada dirinya sendiri.


Hans berjalan kearah mansion, dia melewati danau buatan dan beberapa anak buahnya yang baru selesai latihan.


Ya, Hans mendirikan sebuah mansion besar, dimana ada lebih dari seratus anak buah tinggal di mansion itu. Bukan hanya satu, tapi Hans juga mempunyai beberapa mansion besar di kota N. Entah itu di tengah kota, di pesisir pantai maupun di hutan.


Tidak butuh waktu lama, dia berhasil membeli sebuah mansion dan menarik beberapa orang dari jalanan untuk menjadi anak buahnya. Dan kurang dari dua tahun, dia berhasil menjadi seorang ketua m4fia yang mempunyai lebih dari 700 anak buah, yang tersebar di kota N.


Orang-orang di dunia bawah sangat tahu siapa Hans, namun mereka yang tidak pernah bersentuhan dengan dunia bawah, hanya menganggap Hans sebagai orang lemah yang harus di lindungi.


Seperti Carlos dan Adaline, yang sangat ingin melindunginya.


"Bos, minggu depan akan ada pertemuan di kota M. Apa bos akan kesana?" Tanya seorang anak buah yang dia lewati.


"Minggu depan? Aku akan lihat dulu."


"Kalau kau ikut, bisakah mengajakku bos?"


Mata Hans menyipit melihat anak buahnya itu.


"Ah, kalau tidak boleh juga...."


"Aku akan lihat dulu. Aku akan memberitahu mu kalau aku akan pergi kesana."


"Terima kasih bos, kau memang yang terbaik."


Hans hanya menggelengkan kepalanya lalu berjalan masuk kedalam mansion.


"Kak Hans."


Hans menoleh kearah orang yang memanggilnya. Fan dia melihat seorang perempuan, dan beberapa perempuan lainnya tengah duduk diruang tv.


"Kenapa?" Hans berjalan mendekati mereka.


"Kak, bisakah kita jalan-jalan? Rasanya sudah lumayan lama kita tidak berkeliling." Ucap salah satu anak buah perempuan Hans.


"Benar kak."


Selain anak buah laki-laki, Hans juga mempunyai anak buah perempuan. Mereka berjumlah 60 orang dan semuanya tersebar.


Di mansion itu ada 16 orang anak buah perempuan yang berlatih. Sementara sisanya di mansion yang lain.


"Tunggu waktu yang tepat, aku akan membawa kalian berlibur. Tapi ingat syaratnya." Ucap Hans pada semua anak buahnya itu.


"Siap kak." Jawab beberapa perempuan itu dengan kompak.


"Ada apa ini? Apa yang bos janjikan pada kalian kali ini?" Tanya Alan yang berjalan kearah mereka.


"Rahasia hahaha."


Alan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia sangat mengerti jika Hans begitu memanjakan para anak buah perempuannya itu.


Walau begitu, Hans tidak akan segan-segan mengeluarkan siapapun yang menaruh hati padanya. Karena bagi Hans, mereka adalah keluarganya sendiri, jadi tidak mungkin untuk menjalin hubungan dengan saudara sendiri.


"Ana, Mey, Claudia. Kalian kemari dan bantu aku!" Teriak paman Yan dari dapur.


Ketiga wanita yang di panggil itu segera berdiri, dan berjalan ke dapur untuk membantu paman Yan.


Melihat itu Hans merasa benar-benar seperti memiliki keluarga sendiri selama beberapa tahun itu.


15 menit kemudian, diruang makan yang begitu luas dengan tiga meja makan yang cukup besar. Semua orang yang ada di mansion makan bersama, tidak terkecuali anak buah Hans yang berjaga didepan gerbang.


Walaupun semua berkumpul, namun mereka semua makan dengan tenang. Tidak ada sepatah katapun keluar, karena Hans melarang mereka berbicara saat sedang makan.


Selesai makan, Hans kini tengah duduk di ruang kerjanya, menatap foto yang di letakkan pada sudut meja kerja. Foto yang mampu membuat hidupnya berubah, foto yang juga membuat dirinya bertahan sampai sekarang.


"Kakak, ayah, ibu. Kalian pasti sangat bahagia karena sudah bertemu disana." Ucap Hans pelan.


Dia sangat merindukan tiga orang keluarganya itu.


Hans berdiri dan berjalan kearah balkon, di lihatnya empat anak buah yang sedang saling berbicara dibawah sana.


"Besok aku akan mulai memberikan pelatihan yang baru pada mereka." Ucap Hans.


Hans keluar dari ruang kerjanya dan berjalan ke kamarnya yang berjarak tidak jauh dari ruang kerja itu.


Didalam kamar, Hans membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Dia menatap langit-langit kamarnya, dan tiba-tiba bayangan Darius dengan senyumannya datang.


"Selamat malam Hans." Suara Adaline begitu lembut di dengar.


Tanpa disadari tangan Hans terulur untuk menyentuh bayangan itu. Tetapi saat akan tersentuh bayangan itu hilang, dan kesadaran Hans kembali.


Hans tertegun dengan apa yang dia lakukan tadi, "Apa yang aku lakukan? Tidak mungkin aku..."


Hans memijit pangkal hidungnya, lalu dia beranjak dan berjalan menuju kamar mandi membersihkan diri dan menenangkan pikirannya.