ADALINE (My Young Lady)

ADALINE (My Young Lady)
Part 8



Di mansion milik Hans, lebih dari 100 orang berlatih di luar mansion, ada bela diri, renang, memanah, m3nembak* dan ada juga yang berlatih memasang peluru pada pist0l, dan senj4ta laras panjang dengan gerakan cepat.


Sebagian anak buahnya berlatih di dalam hutan, seperti memanjat, menyembunyikan diri di hutan, membuat sinyal atau kod3 yang tidak akan di curigai oleh musuh, dan yang lainnya.


"Aku harap mereka akan semakin lebih baik lagi dengan pelatihan yang aku berikan ini." Ucap Hans saat melihat anak buahnya berlatih.


Hans tahu untuk saat ini orang yang ingin membunuhnya belum terlihat, tapi dia sadar setelah bertemu dengan Carlos dan Adaline, hidupnya akan menjadi incaran seperti kakaknya dulu.


Orang-orang yang ingin menghancurkan Adaline tidak pandang bulu, siapapun yang dekat dengan satu-satunya putri keluarga Wilson dan dianggap ancaman bagi mereka, maka akan mereka bunuh.


Hans yang sedang melihat anak buahnya berlatih dari ruang gym tersenyum tipis.


"Mereka memang hebat, tidak butuh waktu lama mereka bisa melakukannya dengan baik." Ucap Hans pelan.


Drrrrrttttt drtttttt


Ponsel Hans bergetar diatas meja.


Hans berjalan dan mengambil ponsel itu. Lalu melihat nama pada layar ponselnya.


"Xin?" Gumam Hans.


Hans menggeser icon berwarna hijau keatas, lalu telefon pun tersambung.


Hans hanya berkata halo dan selanjutnya dia hanya mendengarkan b4rtender kepercayaannya itu bicara.


"Katakan padanya, besok lusa datang ke Club* Cloe. Dan kau antarkan mereka ke ruang VIP." Ucap Hans.


Setelah mengatakan itu Hans mematikan sambungan telefonya.


"Tumben sekali ada seseorang yang ingin bertemu denganku." Ucap Hans dengan heran.


Hans yang tidak tahu jika orang yang ingin menemuinya adalah Carlos dan Adaline, tidak begitu peduli.


Sambil mendengarkan musik yang dia putar, Hans kembali melanjutkan olahraganya yang tadi sempat terhenti, karena memperhatikan anak buahnya berlatih dari dalam ruangan itu.


...----------------...


Esok harinya Carlos dan Adaline akan bertemu dengan Hans di Club* Cloe, salah satu Club* milik Hans.


Dengan memakai pakaian kasualnya, Adaline telah siap dan berdiri di depan rumah Carlos.


"Anda yakin akan ikut dengan saya, nona muda?" Tanya Carlos meyakinkan Adaline lagi.


"Iya, aku sangat yakin Carlos."


"Baiklah kalau begitu. Tapi sebelumnya saya minta maaf nona muda, karena saat kita sampai di sana kita harus berpura-pura menjadi pasangan. Agar mereka tidak menganggu nona muda."


"Baik, aku mengerti."


Adaline Wilson meyakinkan dirinya lagi, dia sungguh ingin ikut menemui Hans di Club* itu, bagaimana pun caranya.


Tangan Adaline saling menggengam. Walaupun dia sudah meyakinkan diri, tapi ada rasa khawatir yang dia rasakan. Karena ini adalah kali pertama dia akan melihat secara langsung, bagaimana suasana di dalam Club* malam yang banyak orang datangi dengan berbagai alasan mereka.


Selain itu, Adaline Wilson juga merasa khawatir jika sampai disana dia sentuh oleh laki-laki lain yang tidak dia kenal. Membayangkannya saja sudah membuat Adaline merasa sangat tidak nyaman.


Setelah hampir satu jam, mereka sampai didepan Club* Cloe yang mereka tuju.


Carlos membukakan pintu untuk Adaline.


"Baik nona muda, kita mulai peran kita dari sini." Bisik Carlos pada Adaline.


Adaline Wilson mengangguk mengerti.


Carlos mengulurkan tangannya pada Adaline, dan Adaline menyambut uluran tangan itu dengan senyum menghiasi bibirnya.


Meski dia tidak ingin melakukan semua itu, tapi dia harus melakukannya agar bisa bertemu dengan Hans.


Carlos dan Adaline masuk kedalam Club* itu dengan tangan Carlos merangkul bahu Adaline.


Mereka bisa melihat beberapa orang menatap kearah mereka berdua, saat mereka sudah memasuki Club* itu.


"Selamat malam. Aku Damian, orang yang sudah membuat janji untuk bertemu dengan tuan Hans kemarin lusa." Ucap Carlos pada seorang bartender.


"Baik, silahkan ikuti saya."


Carlos mengangguk, dia lalu menggandeng tangan Adaline dan mengikuti kemana bartender itu pergi.


Adaline dapat menangkap beberapa pasang mata tengah menatapnya dengan intens, seolah sedang m*nelanj4ngi dirinya, saat dia berjalan melewati kursi mereka.


Adaline menggenggam tangan Carlos kuat, dan berjalan lebih dekat pada Carlos.


Carlos yang merasakan genggaman tangan Adaline menoleh, dan menatap orang-orang yang berani menatap nona mudanya tadi dengan tatapan membunuh.


Sampai didepan pintu sebuah ruangan yang berada di lantai dua, bartender itu berhenti.


"Silahkan masuk tuan Damian. Saya akan memanggil tuan Hans terlebih dulu." Ucap bartender itu setelah membukakan pintu.


"Baik terima kasih."


Carlos dan Adaline masuk kedalam rung VIP itu dan menunggu Hans disana.


"Carlos, apa kau yakin kalau Hans akan datang?" Tanya Adaline dengan khawatir.


"Iya nona muda, saya yakin."


Adaline mengangguk pelan, kepalanya menunduk. Dia masih ingat tatapan para laki-laki di bawah tadi saat melihatnya.


Tidak lama kemudian pintu ruangan terbuka, sepasang sepatu berwarna hitam melangkah kedalam ruangan.


Adaline Wilson dan Carlos melihat siapa yang masuk kedalam ruangan.