
Paman kedua dan keempat tidak menyangka akan mendapatkan perusahaan itu, mereka ingat dulu tuan besar Wilson menyuruh mereka untuk melakukan kerjasama dengan sebuah perusahaan, dan jika berhasil maka keberhasilan yang di dapat akan tuan besar Wilson serahkan pada mereka.
Dan sekarang mereka tahu jika menginginkan sesuatu, mereka harus bekerja dengan keras, bukan hanya duduk diam di rumah.
"Silahkan tuan kedua dan keempat untuk menandatangani surat pemindahan perusahaan, dan saham sebanyak 65% ini."
Dengan bahagia paman kedua dan keempat menandatangani surat itu.
"Ini benar-benar tidak adil! Bagaimana bisa kakak pertama dan adik keempat mendapatkan perusahaan dan saham yang begitu besar?" Ucap paman ketiga.
"Paman ketiga, dua tahu yang lalu paman melakukan judi di sebuah kasino dan kalah sebesar 700 juta, juga bibi membeli beberapa barang dengan total uang hampir 400 juta. Anak pertama paman ketiga berulang tahun, untuk merayakan ulang tahun itu paman mengeluarkan uang 150 juta, hadiah sebuah mobil mewah yang di modifikasi oleh desainer mobil terkenal, itu menghabiskan biaya lebih dari 650 juta. Paman menghabiskan banyak uang dalam satu tahun, saya mengatakan itu di dua tahun yang lalu, haruskah saya mengatakan pengeluaran paman ketiga di tahun kemarin dan tahun ini? Paman ketiga, setiap harinya paman hanya duduk santai di rumah, dan hanya mengandalkan sebuah tempat spa, bagaimana bisa paman menikmati kehidupan yang cukup baik dengan penghasilan itu? Apa paman yakin itu tidak adil?" Ucap Adaline dengan tenang.
"Ka...Kau, tidak mungkin kau tahu semua itu."
"Tentu saja saya tahu paman. Kasino yang paman selalu datangi adalah milik teman saya, hotel tempat dimana paman mengadakan pesta ulang tahun anak tersayang paman juga milik teman saya. Paman pasti tidak menyangka, jika keponakan paman yang di anggap selama ini tidak bisa apa-apa, ternyata bisa mengetahui hal-hal yang tidak saudara-saudara paman lainnya tahu."
Paman ketiga seketika terdiam, dia benar-benar sudah meremehkan Adaline selama ini.
Bibi pertama dan kelima yang tadi ingin protes menjadi diam, mereka tidak ingin Adaline juga membeberkan pengeluaran besar yang sudah mereka lakukan.
Hanya dengan menerima keputusan itu mereka bisa memperoleh uang walaupun tidak banyak.
Satu vila setidaknya bisa mereka jual dengan harga 275 juta, karena vila itu termasuk vila yang besar dan mewah. Sementara resort mereka bisa menyewakannya dengan harga 45 juta perbulan.
"Baik, tuan dan nyonya Mark. Kalian sudah menyaksikan semuanya, dan dalam waktu satu bulan nona muda Wilson akan melepaskan diri dari keluarga ini. Apakah kalian masih ingin menikahkan putra kalian dengan seseorang yang tidak punya apa-apa?" Tanya Ricard pada orang-orang dari keluarga Mark.
Keluarga Mark adalah salah satu keluarga terpandang dan kaya di negara itu. Mereka tentu menginginkan menantu yang mempunyai status yang tinggi juga.
"Karena sepertinya perjodohan ini tidak di ketahui dan tidak di inginkan oleh nona muda Wilson, maka kami juga tidak akan melanjutkan perjodohan ini." Ucap tuan Mark.
"Baiklah, kalau begitu."
"Ma...Maaf, tapi bisakah saya berbicara dengan nona muda Wilson sebentar, walaupun perjodohan ini tidak di lanjutan, tapi ada sesuatu yang ingin saya sampaikan." Ucap putra tuan dan nyonya Mark.
"Maaf, kami harus mengurus beberapa hal. Jadi sepertinya anda tidak bisa berbicara dengan nona muda Wilson." Ucap Ricard.
Putra keluarga Mark melihat ke arah Adaline yang tengah tersenyum pada Ricard, "Sayang sekali, wanita yang cantik itu tidak bisa aku miliki."
Nona muda Wilson sangat cantik, muda, tinggi, putih dan senyumannya juga sangat manis.
"Jika aku tahu dia sangat cantik, aku akan langsung setuju, dan tidak akan berdebat dengan ibu. Jadi perjodohan ini akan terus berjalan."
Tetapi semuanya yang dia pikirkan tidak akan mungkin, karena kedua keluarga sudah memutuskan pembatalan perjodohan itu.
...----------------...
Kabar mengenai perjodohan Adaline memang telah di ketahui oleh Hans. Dan beberapa anak buah Hans sedikit menyayangkan perjodohan itu.
Adaline Wilson adalah seorang wanita kaya yang selalu terpenuhi kebutuhannya. Namun sayang dia harus menikah dengan anak dari salah seorang pengusaha dari negara M.
Banyak yang berkata jika keluarga itu mempunyai sifat yang cukup agresif terhadap hal-hal yang menyangkut dengan sebuah kekayaan. Bahkan mereka rela mengirimkan anak-anak mereka ke ranjang orang lain demi usahanya lancar.
"Jika saja bukan dengan laki-laki itu, mungkin nona muda Wilson akan bahagia. Tetapi bersama dengan laki-laki dari keluarga itu, rasanya dia akan....."
"Sssttttt, diamlah. Lebih naik kita kembali berlatih." Ucap Joe pada salah satu anak buah Hans.
Hans sangat tahu keluarga itu dan sedikit merasa cemas, dia seolah tidak rela jika Adaline mendapatkan seorang laki-laki dari keluarga yang seperti itu.
Dengan sedikit kesal Hans pergi ke ruang kerjanya, lalu dia menatap komputernya, lebih tepatnya dia tengah melihat pergerakan Adaline Wilson.
Setelah Hans mendengar kabar perjodohan Adaline, Hans memerintahkan anak buahnya untuk memasang cctv di kediaman Adaline saat wanita itu tidak ada dirumahnya.
Tok tok tok
"Bos, ada kabar tidak baik."
"Katakan."
"Kami....Kami...Kehilangan jejak nona Wilson."
Hans menajamkam tatapan matanya pada anak buah yang saat ini ada di depannya.
"Bagaimana kerja kalian? Hanya mengawasi satu orang kalian tidak bisa!"
"Maaf bos. Saat kami mengikuti mobil mereka, tiba-tiba mereka menghilang di tengah kemacetan jalan."
"Sampai mana kalian mengikuti dia?"
"Sampai jalan XX, tepat setelah dua pertigaan jalan yang ada di sana kami kehilangan dia."
Hans mengingat jalanan itu, tidak jauh dari pertigaan jalan itu ada dua jalan bercabang. Satu menuju luar kota, dan satu lagi menuju sebuah wilayah vila yang ada di pegunungan.
"Kalian cari sampai perbatasan kota dan jalan ke Vila yang ada di pegunungan pinggir kota." Ucap Hans.
"Baik bos."
Hans menutup pintu ruang kerjanya lalu berjalan dengan cepat ke meja kerjanya itu.
"Sekarang situasi sedang tidak baik. Mereka sudah banyak yang tahu kalau Adaline pernah dekat dan pernah aku selamatkan. Jika kali ini mereka mendapatkan Adaline lagi, aku tidak tahu apa aku bisa menyelamatkan dia lagi atau tidak." Ucap Hans yang sedang menatap layar komputernya.
Dengan cepat jari Hans bermain di atas keyboard komputernya, dia sedang mencari bagaimana perkembangan para musuhnya saat ini.
"Ini...."
Hans melihat cctv di jalan yang di lewati oleh anak buahnya saat mengikuti Adaline kemarin, dua buah mobil yang dia kenal.
"Mereka sudah bergerak. Sepertinya aku harus turun tangan sendiri." Ucap Hans.
Kali ini Hans tidak akan membiarkan para musuhnya menggunakan Adaline sebagai senjata mereka lagi.
Walaupun Hans tidak tahu bagaimana perasaannya terhadap Adaline saat ini. Tetapi tetap saja, jika sampai Adaline tertangkap, Hans yang akan di cari oleh para musuhnya. Dan satu demi satu anak buahnya akan di habisi oleh musuh-musuhnya itu.
Hans keluar dari ruang kerjanya dan menuruni tangga dengan cepat.
"Alan!" Seru Hans.
"Iya bos." Ucap Alan sambil berlari dari ruang makan.
"Ikut aku ke pinggiran kota, bawa beberapa orang juga."
"Siap bos."
Alan bergegas keluar untuk memanggil beberapa anak buah Hans yang sudah terlatih dengan kuat.
Tak lama kemudian di depan mansion tiga mobil telah siap menunggu Hans, begitu juga dengan beberapa anak buah yang Alan pilih.
"Kita berangkat." Ucap Hans.
"Baik bos."
Hans, Alan dan yang lain naik ke dalam mobil. Mereka mengendarai mobil dengan cukup cepat.
Dan tepat saat mereka tiba di depan jalan bercabang, Hans memerintahkan anak buahnya untuk berbelok ke arah wilayah vila yang ada di pinggir kota, dekat dengan pegunungan.