
Kata-kata yang Hans katakan begitu fr0ntal, sangat membuat hati Adaline seperti tertusuk.
"Ma... Maksudmu? Kau...."
"Tentu saja aku pernah melakukan itu sebelumnya. Kau pikir aku membuka Club* itu karena apa?"
Kedua mata Adaline seketika memerah, dan terlihat ada butiran yang membendung dibawah bola mata itu.
"Ha... Hans, kau... Kau sedang bercanda dengan aku kan?" Ucap Adaline dengan suara bergetar.
Hans menatap kedua mata Adaline dengan serius.
"Aku tidak pernah bercanda dengan apa yang aku katakan." Ucap Hans.
Tangan Adaline mengepal kuat menahan semua yang dia dengar saat ini. Dia tidak pernah menyangka jika Hans sungguh pernah melakukan hal itu dengan wanita lain sebelumnya.
"Adaline, aku menolongmu malam itu karena Carlos yang memaksaku. Bukan karena alasan lain." Ucap Hans dengan santai.
Hans berdiri dan berjalan kearah bar* kecilnya, "Kau tidak mungkin berpikir, kalau aku melakukannya karena aku menyukaimu bukan? Atau kau mengira itu adalah pertama kalinya aku melakukannya?"
Adaline diam, dia tidak berniat untuk menjawab pertanyaan dari Hans. Dadanya sudah terasa begitu sesak, dan dia sendiri tidak tahu bagaimana bisa seperti itu.
Hans menoleh karena tidak ada jawaban dari Adaline. Dan melihat kepala Adaline menunduk dan tubuhnya gemetar.
"Kau... Kau tidak mungkin...."
Adaline mengangguk, dia mengangguk beberapa kali lalu menatap Hans dengan mata merahnya yang sudah mengeluarkan air mata.
Hans membulatkan matanya saat melihat Adaline yang menangis di depannya.
"Benar, apa yang kau katakan benar. Aku... Aku..."
Adaline tidak melanjutkan ucapanya. Dia menyeka air matanya, mencoba untuk bersikap tenang didepan Hans.
"Hans, aku... Aku tahu kau sangat membenciku, aku juga... tahu kau tidak akan pernah memaafkan aku, tapi..."
Adaline menyeka air matanya yang masih terus mengalir, "Tapi aku tidak tahu harus bagaimana agar.... Agar kesalah pahaman itu berakhir." Ucap Adaline lagi.
Hans meneguk whiskey* yang dia tuang sebelumnya. Tangannya menggenggam kuat gelas yang ada di depannya.
"Adaline, katakan kenapa kau memilih kakak ku saat itu?" Tanya Hans sambil menuangkan lagi whiskey* pada gelasnya yang kosong.
"Kak Dave, dia adalah orang kepercayaan keluargaku. Bahkan dia satu-satunya orang yang dapat aku percayai."
Hans mengangguk.
"Orang kepercayaan, lalu bagaimana dengan surat perjanjian itu? Bukankah hanya karena kakak ku tidak mau kalian mengambilku untuk di jadikan pengawal kalian?" Ucap Hans penuh dengan tekanan.
Adaline menggelengkan kepalanya cepat.
"Heh, benarkah?" Ucap Hans menghentikan Adaline berbicara.
Hans meneguk habis whiskey* di tangannya, perasaan Hans saat ini sangat tidak baik.
Dia tidak bisa mengendalikan emosinya saat membicarakan tentang kakaknya. Itu karena kakaknya lebih memilih pergi darinya, dan yang membuat dia pergi adalah dirinya.
Hans mengambil botol whiskey* yang masih tersisa setengah lalu langsung meminumnya.
Melihat itu, Adaline berjalan dengan cepat dan merebut botol yang ada di tangan Hans.
"Aku mohon berhenti, aku yang salah karena memanggil kakakmu. Aku yang salah atas semuanya, karena itu aku minta maaf." Ucap Adaline yang kembali menangis.
Air mata Adaline kembali mengalir dengan deras. Sudah cukup dia kehilangan Dave Edward, dan dia tidak mau lagi kehilangan keluarga Edward itu lagi.
"Kau! Kau yang sudah membuat kakakku mati!! Kau yang sudah membuatnya..."
"Iya itu aku, itu aku."
Hans menatap Adaline dengan tajam, dia benar-benar ingin mencekik wanita yang ada didepannya saat ini.
"Keluar!" Seru Hans.
"Hans..."
"Keluar! Aku bilang keluar!!"
Adaline meletakkan botol whiskey* diatas meja bar*, dan menatap Hans dengan rasa bersalah.
"Aku akan keluar, tapi aku akan menemui mu lagi." Ucap Adaline.
Adaline menyeka semua air matanya sebelum akhirnya dia keluar dari apartment Hans.
Setelah Adaline pergi, Hans membanting botol dan gelas yang ada didepannya. Dia meluapkan emosinya yang tidak bisa dia lampiaskan pada Adaline.
"Aaaaaaaaaaagh!!!"
Hans berteriak sekeras mungkin, lalu duduk dengan lemas diatas lantai.
"Kakak..." Gumam Hans.
Hans duduk bersandar pada meja bar* mininya, matanya menatap langit-langit apartemennya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Cukup lama Hans duduk disana, hingga akhirnya tatapan mata yang semula penuh kesedihan berubah dengan tatapan dingin, yang biasa dia lemparkan kepada para musuhnya.
Hans mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.
Dengan mengenakan jaketnya, Hans keluar dari apartemen. Dia tidak memperdulikan pecahan botol dan gelas yang telah dia banting di lantai tadi.