ADALINE (My Young Lady)

ADALINE (My Young Lady)
Part 30



Hans menatap Carlos dengan tajam, seolah sedang mengunci mangsanya dengan tatapannya itu.


"Hans." Ucap Carlos.


"Apa kemampuanmu sudah menurun? Apa menjaga satu orang saja kau sudah tidak mampu, tuan Carlos?"


Carlos tertegun dengan pertanyaan-pertanyaan Hans padanya, di tambah nada bicara Hans yang terdengar begitu dingin.


"Mereka mengancam ku dengam nyawa nona muda." Ucap Carlos.


Tiga orang anak buah Hans masuk kedalam.


"Bos, semua sudah siap." Ucap salah satu anak buah Hans.


"Joe, atur mereka pada posisi. Malam ini kita akan memberi mereka sedikit pelajaran."


"Baik bos."


Joe dan ketiga anak buah Hans keluar. Nana juga membawa Clara pergi dari sana.


Sekarang hanya tinggal Hans, Carlos dan Alan.


"Bagaimana kondisimu?" Tanya Alan pada Carlos.


"Jauh lebih baik."


"Alan, bawa dia untuk bersiap. Besok kita akan pergi menemui Bao Long." Ucap Hans.


"Siap bos."


Hans berjalan meninggalkan Carlos dan Alan.


"Maaf sudah melibatkan kalian." Ucap Carlos.


"Tidak perlu di pikirkan, bos memang seperti itu. Tapi kau bisa melihatnya sendiri, walaupun dia sangat keras dan seperti tidak bisa di sentuh. Pada kenyataannya dia mempunyai hati yang hangat."


"Hati yang hangat?"


"Kau akan tahu nanti."


Alan menepuk bahu Carlos, lalu membawanya ke sebuah ruangan dimana terdapat berbagai macam senjataa.


Sejenak Carlos terkejut melihat itu semua, dia masih tidak menyangka jika Hans benar-benar seorang bos mafia yang di takuti.


"Coba lihat dan ambil senjata mana yang pas untukmu." Ucap Alan.


"Apa... Kita akan..."


"Carlos, kau sudah bertahun-tahun terjun di dunia seperti ini. Menjadi pengawal berani mati untuk keluarga Wilson, bukankah tidak ada bedanya dengan kehidupan mafia yang harus melindungi diri sendiri dan semua anggotanya?"


Carlos mengangguk. Memang benar kehidupan pengawal berani mati dan mafia tidak jauh berbeda. Banyak orang yang mengincar nyawa mereka, agar mereka tidak bisa lagi melindungi orang-orang yang harus mereka lindungi.


"Kau coba beberapa pist0l ini dan ambil yang pas untuk kita beraksi besok." Ucap Alan lagi.


"Iya."


...----------------...


Di dalam kamar, Hans sedang melihat foto dirinya bersama dengan Dave.


"Hahh, kau dan nona muda mu benar-benar luar biasa, kak. Aku sama sekali tidak bisa lepas dari simpul tali yang kau buat." Ucap Hans.


Hans menarik laci nakas, dan melihat sebuah pistol yang dia simpan sangat lama.


"Sudah lama aku tidak bermain denganmu, dan sekalinya bermain justru harus menyelamatkan orang yang sudah membuat pemilik mu mati." Ucap Hans lagi.


Ya, pist0l itu adalah pist0l milik Dave. Kakaknya menyembunyikan pist0l itu di lemari baju milik Hans, sehari sebelum dia pergi meninggalkan Hans dulu.


Saat itu Hans belum mengerti bagaimana menggunakan senjata api, sehingga dia tidak pernah memakai pist0l itu untuk membunuh orang.


Walaupun sekarang dia sudah sangat pintar menggunakan berbagai jenis senjata api, namun dia masih enggan memakai pist0l milik kakaknya itu.


Hans mengambil pist0l itu lalu membuka tempat peluru. Hans mengambil sebuah peluru dan mengamati peluru itu.


"Kak, apa sepadan nyawa dia dengan peluru yang kau buat ini?" Gumam Hans.


Hans kembali memasukkan peluru itu kedalam tempatnya lalu menguncinya. Dia menyimpan kembali pist0l itu kemudian berjalan keluar dari kamar.


"Bos."


Hans melihat Rio berjalan cepat kearahnya.


"Bagaimana? Siapa saja mereka?"


"Mereka dari kelompok Elang Api, White Shark, dan Gunn."


"Gunn? Bukankah hanya dua kelompok yang membantu Bao Long?"


"Benar bos, itu adalah kelompok baru di negara C. Mereka baru dua tahun berdiri. Bao Long meminta bantuan pada Gunn setelah menangkap Adaline Wilson itu."


"Hmm, segera bereskan."


"Siap bos."


Rio berjalan menuju tiga kelompok yang sudah terbentuk, untuk mengepung dan menyeret tiga kelompok yang sudah membantu Bao Long.


"Apa yang kau buat kali ini?" Ucap Hans pada Clara.


Clara menoleh dan melihat Hans sudah berada di depannya .


"Racuun." Ucap Clara dengan singkat.


"Racuun?"


Clara mengangguk.


"Aku tidak suka dengan kalajengking dan kaki seribu. Jadi aku membuat racuun untuk mengusir mereka."


Hans mengusap kepala Clara dan tersenyum.


"Kau boleh membuat racunn yang kau inginkan, tapi ingat kau harus membersihkan semuanya agar tidak ada yang keracunan." Ucap Hans.


"Tentu kak."


"Aku akan membuatkan ruangan untuk mu membuat racun-racun itu."


"Tidak, aku lebih suka membuatnya disini."


"Disini untuk makan, kau tidak mau orang lain keracunan karena bahan-bahan untuk membuat racun ini, bukan?"


"Tidak, tentu tidak mau." Ucap Clara sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Jadi menurutlah, Rio akan menemani mu setiap kali kau membuat racun."


"Baiklah, tapi apa kak Nana boleh ikut?"


"Tentu."


"Yeeeyy, terima kasih kak Hans."


Hans tersenyum hangat pada gadis kecil itu sambil mengangguk.


"Kak Hans." Ucap Clara.


"Hmm?"


"Jangan marah lagi, kau tidak terlihat tampan jika marah. Kau terlihat sangat menakutkan."


"Hahaha, baiklah gadis manis."


Tepat saat itu, Carlos melihat Hans dan gadis bernama Clara di ruang makan, dia melihat Hans begitu menyayangi gadis kecil yang ada di depannya .


"Itulah bos. Bagi kami dia bukan hanya seorang bos,tapi juga seorang kakak yang sangat menyayangi kami semua." Ucap Rio mengejutkan Carlos.


"Apa dia selalu bersikap seperti itu pada kalian?"


Rio tersenyum, "Kau sudah melihat bagaimana dinginnya bos, bagaimana saat bos marah dan bagaimana hangatnya dia. Semua dia lakukan sesuai dengan keadaan."


Carlos mengangguk, dia tidak menyangka jika dia akan melihat sisi hangat Hans yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya.


...----------------...


Di ruangan yang cukup luas dan penuh dengan barang-barang mahal, Adaline duduk di sebuah sofa.


Dia di hadapkan dengan suasana yang penuh dengan ketidak sukaan dan tatapan yang sangat menyeramkan.


Bibir Adaline tidak bisa bicara karena di tutup oleh kain panjang berwarna hitam.


Bao Long, ketua dari kelompok mafia Red Fox duduk dengan santai. Di tangannya ada segelas wine.


"Hmm, jadi kau adalah kekasih Hans? Cukup cantik." Ucap Bao Long.


Kedua mata Adaline membulat, dia tidak mengerti maksud dari ucapan Bao Long.


Jangankan ucapan Bao Long, Adaline juga tidak mengerti alasan kenapa dirinya di tangkap .


"Kira-kira apa yang akan Hans lakukan untuk menyelamatkan kekasihnya ini, tuan Bao?" Tanya seorang laki-laki yang duduk tidak jauh dari Bao Long.


"Aku ingin dia menjadi cacat dan akhirnya mati. Bukankah dia sangat suka menyiksa anggota mafia lain jika berurusan dengannya."


"Hahaha, kau benar tuan Bao. Aku juga ingin melihat dia merangkak dan memohon agar kita melepaskan kekasihnya ini."


Suara tawa memenuhi ruangan itu. Pikiran Adaline tidak tenang, dia khawatir dengan Hans.


"Kak Dave, aku mohon tolong aku. Jangan biarkan Hans datang kesini."


Salah seorang di sana mengamati Adaline, dia sepertinya tertarik kepada wanita yang duduk dengan terikat itu.


"Kak Bao, jika kita sudah menaklukan Hans. Apa boleh aku membawanya?" Ucap laki-laki itu dengan tatapan m*sum pada Adaline.


"Hahaha, apa kau menyukainya?"


"Aku rasa dia cukup manis, mungkin suara d*sahaannya akan terdengar lebih indah dari pada wanita yang aku sewa."


"Hahahaha, baiklah kalau kau menyukainya. Kau bisa membawanya nanti."


"Terima kasih, kak Bao."


Air mata Adaline mulai mengalir, dia benar-benar tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya dan juga pada Hans, dia tidak mau jika harus bersama dengan laki-laki yang tidak dia kenal seperti mereka.