ADALINE (My Young Lady)

ADALINE (My Young Lady)
Part 58



Di dalam ruang rawat yang ada di mansion, Hans masih terbaring diatas ranjang.


Alan dan Rio tidak tahu harus melakukan apa, karena Hans baru mengalami hal ini. Dulu walaupun dia pernah  melakukan hal yang sama, tetapi tidak sampi seperti ini.


Rio yang pandai dalam hal medis masih mencari tahu apa yang terjadi pada tubuh Hans, dan sudah seharian ini dia memeriksa sampel darah Hans untuk membuat obat, tapi belum menghasilkan apa-apa.


"Sudah dua hari bos seperti ini, apa yang harus kita lakukan lagi? Aku bahkan tidak menemukan ada yang aneh pada tubuh bos lewat sampel darahnya." Ucap Rio.


"Aku juga tidak tahu, kita juga belum mendapatkan informasi tentang nona Wilson." Ucap Alan.


Rio dan Alan hanya bisa duduk menunggu adanya sebuah keajaiban untuk bosnya.


Tubuh Hans tidak mengeluarkan reaksi apapun selain setiap malam hari suhu tubuhnya akan naik sampai 39°, dan akan kembali normal ketika pagi datang.


Sejak Hans sakit, kegiatan latihan juga berkurang. Anak buah Hans seperti tidak mempunyai kekuatan untuk berlatih.


Ya, Hans sudah menjadi kekuatan tersendiri bagi mereka.Hans seolah sudah menyatu dengan tubuh mereka.


***


Sore harinya, Rio dan Alan sudah mempersiapkan semua hal yang akan membantu mereka meredakan suhu tubuh Hans yang akan naik dimalam hari.


Mereka rela tidak tidur agar tubuh Hans kembali pulih, walaupun mereka tidak tahu obat apa yang harus mereka berikan pada Hans.


Sementara Alan sendiri masih merahasiakan tentang hormon yang di miliki oleh Hans pada Rio, karena dia takut Hans akan marah jika dia tahu kalau Rio sudah mengetahui semuanya dari dirinya.


...----------------...


Semakin hari kondisi Hans semakin tidak bisa di katakan, karena tidak ada yang bisa Rio lakukan, sebab semua hasil tes yang Hans jalani tidak menunjukkan adanya kelainan apapun.


Alan sendiri masih ragu untuk mengatakan apa yang sebenarnya Hans alami selama ini, karena dia sudah berjanji dan bersumpah pada Hans jika dia tidak akan mengatakan kepada siapapun mengenai hormon yang di miliki oleh Hans.


Rio terduduk lemas, dia mengusap wajahnya yang muram dengan keras.


Alan melihat Rio yang tampak suram, lalu mendekati Rio dan memberikan sekaleng kopi padanya.


"Kau sudah berusaha yang terbaik." Ucap Alan menghibur Rio.


"Aku merasa seperti orang yang tidak berguna untuk bos."


"Tidak, kau adalah dokter terhebat. Kau sudah memberikan yang terbaik dan melakukan semuanya."


"Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi, bahkan semuanya terlihat normal tidak ada keanehan sedikitpun pada tubuh bos."


Alan diam menanggapi ucapan Yun.


Tap tap tap


Dari koridor mansion terdengar suara langkah kaki, selama ini tidak ada satu anak buah Hans yang berjalan dengan mengeluarkan suara yang begitu jelas.


Alan dan Rio yang menyadari suara itu menoleh.


"Nona Wilson." Ucap Rio dan Alan.


Alan dan Rio berkata sambil berdiri secara bersamaan, melihat dengan tidak percaya orang yang berjalan itu.


Mereka melihat Adaline berjalan mendekati mereka.


"Nona Wilson."Ucap Alan.


"Maaf, aku sudah membuat kalian kesulitan." Ucap Adaline sambil membungkukkan tubuhnya.


Alan menggelengkan kepalanya lalu dengan cepat membantu Adaline menegakkan tubuhnya.


"Tidak,tidak. Anda tidak bersalah, kami yang bersalah. Kami mohon maafkan kami nona Adaline."


Kali ini Alan dan Rio yang membungkukkan tubuh mereka pada Adaline.


"Ini bukan salah kalian, aku yakin Hans akan menjelaskan semuanya." Ucap Adaline.


Alan dan Rio saling bertatapan lalu melihat kembali Adaline.


"Bagaimana kondisi Hans sekarang?"Tanya Adaline.


"Bos....Dia...dia tidak baik." Ucap Rio dengan terbata-bata.


Adaline mencoba tenang mendengar kondisi Hans saat ini dari Rio.


"Bisa aku menemuinya?" Ucap Adaline.


"Tentu."


Rio lalu membawa Adaline masuk ke dalam ruang rawat dimana Hans terbaring lemah.


Tiba disana, Adaline melihat wajah Hans yang terlihat lebih kurus dari yang terakhir dia lihat. Dengan pelan Adaline mendekati tubuh Hans,sementara Rio keluar dan membiarkan Adaline bersama dengan bosnya.


"Hans, kau...kau terlihat sangat tidak tampan sekarang." Ucap Adaline dengan nada gemetar.


Mata adal mulai merah karena membendung air matanya agar tidak terjun dengan bebas.


Adaline meraih tangan Hans dan merasakan otot juga tulang dari jari Hans yang menonjol.


"Bagaimana bisa kau seperti ini, aku belum memberikan hukuman padamu. Jika begini bagaimana aku menghukum mu." Ucap Adaline sambil menangis.


Air mata Adaline mengalir dengan deras, dia terisak disamping tubuh Hans yang masih belum bergerak sama sekali. Tangisan yang begitu menyayat, yang penuh kerinduan dan penyesalan pecah memenuhi seluruh ruangan itu.


Rio dan Alan yang mendengar suara isakan Adaline hanya bisa diam sambil menunduk.


Hampir satu jam Adaline menangis disamping Hans tanpa ada yang berani menghentikannya. Kedua mata Adaline pun terlihat sangat sembab dan bengkak,wajahnya juga terlihat merah karena terus menangis dan sesekali meneriaki nama Hans.


Adaline keluar dari ruangan dan melihat Alan juga Rio yang berada tidak jauh dari ruang rawat itu.


"Aku akan ke kamar dulu, malam nanti aku akan kembali menemani Hans." Ucap Adaline.


"Baik nona Wilson." Ucap Alan.


Rio dan Alan melihat Adaline pergi dengan langkah pelan dan sesekali menyeka air matanya yang mungkin masih mengalir.


Adaline masuk kedalam kamarnya, kamar dimana dia dan Hans melalui malam bersama beberapa hari yang lalu. Bayangan mereka saat bercanda diatas ranjang terlihat jelas oleh Adaline .


"Bisakah kita melakukannya lagi Hans, bisakah kita mengulang semuanya dengan saling terbuka?" Gumam Adaline.


Kedua kaki Adaline tidak mampu lagi menopang tubuhnya, dia jatuh terduduk di atas lantai dan menangis.


Hari ini entah sudah berapa banyak air mata Adaline yang tertumpah karena Hans.


Rasa sakit karena di hianati oleh Hans, ternyata tidak lebih sakit saat melihat kondisi tubuh Hans yang terbaring diatas ranjang.


"Bod0h, seharusnya aku tidak begitu saja pergi. Harusnya aku meminta penjelasan dulu padanya." Ucap Adaline lagi.


Adaline merutuki dirinya sendiri dan menyalahkan dirinya atas kondisi Hans.


Setelah beberapa saat Adaline mulai tenang, dia lalu berdiri dan berjalan dengan terhuyun ke kamar mandi.


15 menit kemudian Adaline keluar dari kamar mandi, dan berjalan ke ruang ganti pakaian untuk mencari dan memakai pakaian sebelum dia kembali keruang rawat Hans.


Kini Adaline berada di depan cermin, dia melihat wajahnya. Kedua matanya yang bengkak terlihat sangat buruk, di tambah wajahnya. Dia benar-benar terlihat sangat tidak baik.


Ceklek


Baru saja Adaline keluar dari kamarnya, dia melihat Rio dan Alan yang berlari ke arah ruangan dimana Hans berada.


Jantung Adaline berdetak dengan cepat, dan tanpa berpikir lagi Adaline berlari ke ruangan itu.


Selama dia berlari pikirannya sangat tidak tenang, perasaannya sangat tidak nyaman. Dia sungguh takut terjadi sesuatu pada Hans.


"Hans, aku mohon jangan terjadi apa-apa padamu. Aku mohon." Ucap Adaline sambil menangis.


Sampai di depan kamar Hans, Alan yang melihat Adaline menangis, mencoba menenangkanny dan menghalangi Adaline untuk masuk ke dalam ruangan itu.


"Biarkan aku masuk, aku ingin melihat Hans. Alan aku mohon biarkan aku masuk." Ucap Adaline.


"Maaf nona Adaline, Rio dan dokter yang lain sedang memeriksa bos di dalam. Dan siapapun tidak boleh masuk kesana."


"Aku tidak peduli, aku ingin melihatnya. Aku mohon Alan, biarkan aku masuk."


Adaline terus mencoba masuk ke dalam walaupun Alan dengan kuat menahannya. Sementara air matanya tidak berhenti mengalir, karena dia tidak ingin kehilangan orang yang berarti baginya lagi.


Ceklek


Pintu ruangan terbuka, beberapa dokter keluar dan begitu juga dengan Rio.


Adaline dan Alan melihat Rio keluar, Adaline langsung mendekati Rio untuk mengetahui kondisi Hans.


"Apa yang terjadi padanya, katakan padaku, apa yang terjadi pada Hans?" Ucap Adaline.


Rio diam, karena dia tidak tahu harus menjawab apa.


Adaline mencengkeram kerah baju Rio karena tidak mendapatkan jawaban, "Katakan padaku, apa yang sudah terjadi padanya!"


"Nona Adaline, tolong tenanglah." Ucap Alan.


Alan menatap Rio meminta jawaban akan kondisi Hans saat ini, namun Rio hanya diam dan menunduk.


Melihat interaksi kedua anak buah Hans, Adaline mundur beberapa langkah sambil menggelengkan kepalanya.


"Nona Adaline." Ucap Alan.


Adaline masih menggelengkan kepalanya, lalu berbalik dan berjalan sambil berpegangan pada dinding, dan....


Bruuuuk


"Nona Adaline!" Ucap Alan dengan keras.


Alan dan Rio berlari ke arah tubuh Adaline yang jatuh di atas lantai.


Ya, Adaline pingsan di koridor mansion, dan langsung di bawa ke kamarnya oleh Alan untuk mendapatkan pemeriksaan secepatnya dari Rio.