
Adaline ingat dengan ucapan Alan, yang mengatakan jika Hans beberapa hari ini selalu menyiksa para musuhnya itu.
"Hentikan saja. Jika mereka sudah tidak bisa melakukan apa-apa, maka bunuh saja mereka." Ucap Adaline.
Hans menatap Adaline, "Ini baru tiga hari setelah Carlos meninggal. Aku akan membunuh mereka tepat setelah 7 hari meninggalnya Carlos."
"Hans...."
"Kau tidak perlu ikut campur."
Adaline diam, dia tahu jika dia berkata lagi maka akan membuat Hans kesal. Bagaimanapun Hans sudah banyak membantunya.
"Hans, apa aku boleh tinggal di mansionmu?" Ucap Adaline dengan pelan.
"Bukankah kau sudah tinggal disana beberapa hari?"
"Maksud ku..."
"Kau bisa tinggal di apartment ku. Tidak ada orang yang berani macam-macam disana."
".....Aku mengerti."
Saat ini mereka sudah tiba disalah satu mall besar di pusat kota. Hans dan Xiao Yu Wen turun dari mobil.
"Kau tunggu saja disini." Ucap Hans pada anak buahnya.
"Baik bos."
Hans dan Adaline masuk ke dalam mall itu. Tidak begitu banyak orang disana, tapi tatapan mereka tertuju pada mereka berdua.
Seorang laki-laki tampan dan wanita yang cukup cantik masuk ke dalam mall, bagaimana tidak menjadi pusat perhatian.
Hans membawa Adaline masuk kedalam salah satu toko pakaian.
"Selamat siang tuan." Ucap pegawai toko.
"Em, carikan pakaian yang cocok untuknya." Ucap Hans pada pegawai toko.
"Baik tuan."
Pegawai toko segera mencari pakaian yang cocok dengan ukuran tubuh Adaline.
10 menit kemudian dua orang pegawai datang membawa beberapa pakaian yang sudah tergantung dengan rapi.
"Ini...."
"Kau cobalah baju-baju itu." Ucap Hans pada Adaline.
"Tapi, Hans..."
"Coba saja."
Adaline yang tidak memiliki pilihan, hanya bisa menurut dan masuk kedalam ruang ganti untuk mencoba pakaian yang di bawa oleh pelayan toko.
Beberapa kali Adaline keluar masuk ruang ganti dengan model baju yang berbeda-beda.
Setelah Adaline mencoba semua baju, Hans mengambil 6 dari 13 setel baju yang Adaline coba tadi.
"Aku mau ini semua." Ucap Hans sambil memberikan kartu kredit pada pegawai toko.
"Kenapa kau ambil sebanyak itu?" Ucap Adaline.
"Kita tidak mungkin kembali ke vila mu untuk mengambil semua pakaian milikmu. Jadi kita hanya bisa membeli yang baru, atau kau mau memakai pakaian ku?"
Blussssssh
Pipi Adaline entah kenapa berubah pink saat Hans berkata seperti itu.
"Ti...Tidak, tidak." Ucap Adaline dengan gugup.
Hansa tidak menghiraukan ucapan Adaline dan perubahan wajah wanita itu.
"Ini tuan barang-barang anda." Ucap pegawai toko pada Hans.
Hans menerima dua paper bag dan kartu kreditnya.
"Ayo." Ucap Hans pada Adaline.
Hans membawa Adaline ke toko baju berikutnya, dan juga ke toko sepatu dan toko buku.
(Seperti seorang suami yang sedang memanjakan istrinya 🤭)
Lebih dari dua jam mereka berada di dalam mall itu, dan akhirnya keluar dengan membawa lebih dari 10 paperbag.
Melihat bosnya kerepotan, anak buah Hans segera menghampiri dan membawakan semua paperbag itu dan meletakkan semuanya di dalam bagasi.
"Kita ke restoran yang ada di ujung blok." Ucap Hans pada anak buahnya.
"Baik bos."
Mobil melaju menuju restoran yang Hans maksud setelah mereka naik.
Hari ini Hans membuat Adaline sedikit melupakan masalah kematian Carlos. Karena dia tidak ingin Adaline terus menyalahkan dirinya, dan berkata jika dia adalah orang yang buruk, sehingga orang-orang di sekitarnya hidup dengan tidak nyaman dan mati.
Bagi Hans pemikiran itu hanyalah pemikiran orang yang sedang tidak stabil, jadi dia hanya membantu menstabilkan emosi Adaline saat ini.
...----------------...
Hari berikutnya, Hans membawa Adaline ke apartment miliknya.
Hans mempunyai beberapa apartment, vila dan juga resort pribadi. Jadi tidak sulit baginya jika harus menyediakan sebuah apartment untuk Adaline.
"Kau akan tinggal di apartment ini." Ucap Hans.
"Ini... Bukankah ini terlalu luas untuk aku tinggali?"
"Hanya ada dua kamar, satu tempat gym, ruang makan, dapur, ruang tamu dan bar* kecil.Jika kau ingin menambahkan televisi di luar, aku bisa meminta anak buahku untuk meletakkannya di ruang makan itu."
"Tidak, tidak. Aku tidak begitu suka menonton televisi, jadi tidak perlu."
"Ini adalah apartment yang aku tempati saat aku tidak ingin melakukan apapun. Karena itu aku sengaja tidak meletakkan televisi di apartment ini."
Adaline mengangguk lalu berjalan kearah balkon, dari sana dia bisa melihat pemandangan yang cukup mempesona.
"Disini cukup bagus, jika kau merasa bosan kau bisa melihat matahari terbenam dari sini." Ucap Hans.
Adaline mengangguk, "Iya, terima kasih."
Apartment itu terletak di lantai 34 dari total 42 lantai gedung apartment itu. Jadi pemandangan dari lantai itu cukup bagus.
"Hans." Ucap Adaline.
"Hmm?"
"Kau... Apa kau akan sering kesini?"
"Tidak juga."
Adaline sedikit kecewa mendengar jawaban Hans, tapi dia segera menepis itu karena dia tahu Hans adalah orang yang sibuk.
"Sepertinya keluarga mu sudah mulai bergerak." Ucap Hans yang sedang melihat ponselnya.
Adaline menatap Hans dengan bingung.
"Lihatlah." Ucap Hans sambil memberikan ponselnya pada Adaline.
Adaline menerima ponsel Hans dan melihat sebuah video, yang ternyata adalah video vila yang dia tempati beberapa hari yang lalu.
Adaline melihat beberapa orang masuk kedalam vila dan mengobrak-abrik vila itu, orang di dalam video itu salah satunya adalah sepupu Adaline.
"Mereka sungguh ingin aku....."
Adaline mengembalikan ponsel pada Hans lalu duduk di kursi, "Aku tidak tahu jika mereka benar-benar lebih mementingkan harta di bandingkan keluarga? Bahkan setelah bertahun-tahun mereka masih ingin membunuhku."
"Mereka tidak akan bisa lagi melakukan itu."
Adaline mengangguk, saat ini dia tidak tahu harus percaya atau tidak pada Hans.
"Tidak perlu di pikirkan. Berdirilah, aku akan membawamu makan siang." Ucap Hans.
Adaline mengangguk lalu berdiri dan berjalan mengikuti kemana Hans pergi.
"Apa yang ingin kau makan?" Ucap Hans.
"Aku tidak tahu."
Hans menekan lift yang akan membawa mereka turun kelantai bawah. Dan sampai di lantai bawah, Hans membawa Adaline keluar dari gedung apartment dan masuk kedalam mobil.
"Aku ingin makan makanan dari negara J hari ini. Apa tidak masalah?" Ucap Hans.
"Iya, tidak apa-apa. Aku tidak mempunyai masalah dengan makanan."
"Baiklah, itu bagus."
Anak buah Hamans melajukan mobilnya menuju restoran yang Hans katakan.
"Hans, saat ini keluar denganmu, apakah tidak apa-apa?" Ucap Adaline dengan hati-hati.
"Kenapa? Kau takut aku akan seperti kak Dave dan Carlos?"
Adaline menundukkan kepalanya lalu mengangguk pelan.
Hans mengusap kepala Adaline tiba-tiba, "Jangan takut, tidak akan ada orang yang berani menyentuh ku."
Adaline tertegun mendapat perlakuan itu dari Hans. Jantungnya berdetak sangat kencang merasakan kehangatan dari sentuhan Hans pada kepalanya.
"Apa yang terjadi padaku? Kenapa jantungku berdetak lebih cepat?"
Sampai di depan restoran, Hans dan Adaline turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam restoran.
"Selamat siang, tuan Hans." Sapa pelayan restoran yang ternyata mengenal Hans.
"Em, bawa aku ke meja yang nyaman."
"Baik tuan."
Pelayan restoran itu lalu berjalan didepan Hans, sementara Hans dan Adaline mengikutinya di belakang.
"Ini mejanya tuan, silahkan." Ucap pelayan itu.
Hans dan Adaline duduk di kursi yang pelayan tadi tunjukkan.
"Anda ingin pesan makanan yang seperti biasa atau yang lainnya, tuan Hans?" Tanya pelayan itu lagi sambil memberikan buku menu.
"Kau tanyakan padanya, dan bawakan dua porsi makanan yang dia inginkan." Ucap Hans.
"Baik. Nona, silahkan di lihat dulu menu makanan restoran kami."
"Baik, terima kasih."
Adaline lalu membuka buku menu dan melihat-lihat makanan yang ada di buku menu itu.
"Emm, saya ingin pesan ini dan ini." Ucap Adaline sambil menunjukan makanan yang dia inginkan.
"Baik, untuk minumannya?"
"Buatkan saja jus jeruk untuk ku dan es kopi untuk Hans."
Pelayan itu sempat terkejut dan melirik ke arah Hans.
"Bawa pesanan yang dia katakan tadi." Ucap Hans.
"Baik, kalau begitu. Mohon tunggu sebentar."
Pelayan itu kemudian pergi untuk memberikan pesanan yang Adaline pesan kepada koki di dapur.
"Hans." Ucap Adaline.
"Iya."
"Apa kau sering kesini?"
"Hmm, bisa di katakan jika ini restoran favorit ku."
"Pantas pelayan tadi mengenalmu."
"Hmm, iya."
Adaline merasa canggung karena tidak ada lagi topik pembahasan di antara mereka berdua, di tambah ini adalah kali pertama mereka makan bersama diluar.
"Ada yang ingin kau beli lagi?" Tanya Hans.
Adaline menggeleng dengan cepat, "Tidak ada, barang-barang yang kau belikan kemarin sudah cukup."
"Hmm, kalau begitu aku tinggal meminta Alan untuk mengantarkan bahan makanan untuk mu nanti."
"Iya. Terima kasih."
"Tidak masalah. Lalu bagaimana kau akan berurusan dengan keluarga mu?"
"..... Aku masih belum tahu."
"Apa kau tahu, aku masih menyimpan rasa dendam pada keluarga mu."
Adaline menundukan kepalanya, dia tahu Hans masih mempunyai rasa benci pada keluarganya. Karena orang yang sudah membunuh kakaknya adalah orang suruhan dari salah satu anggota keluarga Wilson sendiri.
"Maaf." Ucap Adaline pelan.
"Bukan kau yang seharusnya minta maaf."
"Tapi...."
Ucapan Adaline terhenti karena seorang pelayan datang membawa pesanan mereka.
"Silahkan tuan nona. Selamat menikmati." Ucap pelayan itu setelah meletakkan semua makanan di atas meja.
"Makanlah, setelah itu kita kembali ke apartment." Ucap Hans.
"Kenapa tidak kembali ke mansion mu?"
"Semua barang-barang mu sudah ada di apartment, lagi pula sore nanti aku ada urusan di negara C. Jadi lebih baik kamu mulai tinggal di apartment."
"Bolehkah aku ikut?"
Hans menatap Adaline.
".....Aku... Aku hanya ingin mengunjungi makam kak Dave."
"Adaline, sudah aku katakan itu semua bukan salahmu. Kakak ku meninggal karena anggota keluarga mu, dan kelak aku akan membalasnya."
"Hans."
"Makanlah sebelum makanan mu dingin."
Hans tidak ingin berdebat Adaline, karena itu hanya akan membuatnya kesal.
Adaline diam, lalu mulai menyendokkan makanannya dan memakannya dengan pelan.
Sebenarnya Hans tidak menyukai sikap lemah dari Adaline, yang sudah mengetahui keluarganya tidak ada yang peduli padanya kecuali tuan besar Wilson, tetapi dia lebih memilih diam dari pada bertindak agar mereka jera.