
3 hari kemudian, Adaline tidak berniat kemanapun, dan dia terus berbaring di dalam kamarnya sambil memainkan game di ponselnya.
Dari dalam kamar, Adaline mendengar suara berisik, dia lalu berjalan ke arah balkon.
Kedua mata Adaline membulat melihat begitu banyak bunga di halaman samping. Semua adalah bunga segar dan sangat cantik.
"Alan, siapa yang membeli bunga sebanyak itu?"Ucap Adaline dari atas balkon kamarnya.
"Semua dari bos, bos bilang jika nona bisa menyibukan diri dengan bunga-bunga ini."
Adaline terlihat diam, dan kembali dia tidak tahu apa yang di pikirkan oleh Hans.
Hans selalu bersikap mendominasi, dingin dan terkenal kejam. Tetapi dia juga mempunyai sisi lain yang lembut dan sulit di pahami oleh Adaline dan juga orang lain.
Adaline lalu berjalan keluar untuk melihat bunga-bunga itu dari dekat.
"Selamat pagi nona Adaline." Ucap Alan saat Adaline berada di sampingnya.
"Iya, selamat pagi. Apa semua bunga-bunga sungguh dari Hans?"
Alan mengangguk, "Iya nona, bos berkata jika nona Adaline pasti akan bosan di dalam mansion. Jadi bos meminta saya untuk membeli bunga-bunga ini dan menatanya di halaman samping."
"Tapi, bukankah halaman ini biasa kalian pakai untuk latihan?"
"Bos meminta kami berlatih di halaman belakang, dan kemarin kami telah memindahkan semua peralatan latihan kesana."
Adaline tidak menyangka jika Hans akan melakukan semua itu untuknya.
"Kak Alan, semua bunganya sudah ada disini." Ucap salah seorang anak buah Hans.
"Kau dan yang lain bantu susun bunga-bunga ini agar terlihat lebih rapi."
"Ka... Kami?"
"Iya, kalian."
"Tapi kak Alan, kami..."
"Tidak apa-apa, biar aku saja yang melakukannya." Ucap Adaline.
"Nona Adaline, anda...."
"Hans membeli banyak bunga agar aku bisa menyibukan diri disini, jadi aku harus melakukannya." Ucap Adaline sambil tersenyum.
"Baik kalau begitu."
Adaline meminta beberapa anak buah Hans, untuk membantunya mengangkat beberapa pot bunga yang besar untuk meletakkannya agak di belakang.
Hampir seharian Adaline sibuk di halaman samping, di bantu oleh beberapa anak buah Hans.
Tanpa Adaline ketahui, ada seseorang yang mengawasi setiap garak geriknya dari dalam mansion.
"Nona Adaline, bunga ini di letakan dimana?" Tanya anak buah Hans.
Adaline melihat bunga itu lalu melihat sekeliling, "Letakkan saja disana."
"Baik."
Anak buah Hans membawa bunga itu dan meletakkan di tempat yang Adaline tunjuk.
Setelah hampir 4 jam, halaman yang tadinya adalah tempat latihan anak buah hans, berubah menjadi taman bunga yang indah.
"Ternyata kau sangat berbakat." Ucap seseorang.
Adaline menoleh, dan melihat sosok orang yang selama beberapa hari ini pergi tanpa memberitahunya.
"Bukankah Alan berkata jika kau akan pulang satu atau dua minggu lagi, kenapa kau sudah disini?" Ucap Adaline.
Hans tersenyum dia lalu berjlan mendekati Adaline, dia menyeka keringat yang ada pada wanita di depannya itu.
"Jadi, apa kau lebih suka jika aku pulang lebih lama, hmm?" Ucap Hans.
Adaline menatap Hans sambil cemberut.
"Kau pasti belum makan, ayo mandi dulu setelah itu aku akan membawamu kamu keluar." Ucap Hans lagi.
"Aku tidak mau."
Hans membelai rambut Adaline, menyingkirkan beberapa helai rambut dari kening wanitanya.
"Aku akan memberitahu siapa orang yang ada di club* setelah makan." Ucap Hans dengan pelan.
"Sungguh?"
"Iya, bukankah kau marah karena kau ingin tahu tentang hal ini?"
"Aku tidak marah."
Hans menggelengkan kepalanya, melihat sikap kekasihnya itu.
"Baiklah, sekarang kau mandi. Aku akan menunggumu." Ucap Hans.
Adaline mengangguk, perlakuan Hans padanya membuat Adaline merasa sangat hangat dan nyaman, sehingga dia hanya bisa menuruti apa yang Hans katakan.
Mereka berdua masuk ke dalam mansion bersama.
"Alan, kau siramlah bunga-bunga yang ada diluar." Ucap Hans yang melihat Alan berdiri di samping pintu.
"Saya bos?"
"Iya, kau. Aku lihat kau sangat berbakat."
Kedua mata Alan membulat, ingin sekali dia membantah. Tetapi dia tidak berani melakukannya.
Baru kali ini ada bos mafia yang menyuruh anak buahnya menyiram tanaman, mungkin hanya Hans yang melakukan seperti itu.
Hans duduk di ruang keluarga, dan sambil menunggu Adaline. Dia menonton televisi.
20 menit kemudian, Adaline turun dari lantai dua.
"Aku sudah siap." Ucap Adaline.
Hans melihat Adaline yang terlihat lebih segar dan cantik dari sebelumnya.
"Kalau begitu kita berangkat sekarang." Ucap Hans sambil berdiri.
Hans menggandeng tangan Adaline dan mereka keluar dari mansion.
"Apa Alan tidak ikut?" Ucap Adaline.
"Kau meminta Alan menyiram bunga?"
"Memangnya kenapa? Disini semua harus patuh dengan perintahku, termasuk dia."
Adaline hanya dapat menggelengkan kepalanya, bisa-bisanya Hans menyuruh Alan yang mengetuai semua anak buah Hans untuk menyiram bunga.
"Masuklah." Ucap Hans.
Adaline masuk kedalam mobil, dan setelah mereka duduk di dalam. Hans melajukan mobilnya keluar dari halaman mansion.
"Apa urusanmu di negara C sudah selesai?" Ucap Adaline.
"Belum."
"Jika belum, kenapa kau kembali?"
"Aku mendapat laporan, jika ada seseorang yang sudah beberapa hari ini tidak mau keluar dari kamarnya. Jadi apa yang bisa aku lakukan selain kembali dengan cepat?"
Adaline terdiam, dia mengalihkan pandangannya karena merasa bersalah pada Hans.
Hans yang melihat itu meraih tangan Adaline dan menggenggamnya.
"Aku tahu kau menyembunyikan banyak hal dariku, tapi aku tidak akan memaksamu untuk mengatakannya. Aku akan menunggu kau berkata sendiri padaku atas keinginanmu." Ucap Hans.
Adaline menatap Hans lekat, hatinya sedikit tercubit mendengar perkataan Hans yang memang benar.
"Jika aku mengatakannya, apa kau akan berkata jujur padaku juga?" Ucap Adaline.
"Tentu, aku akan mengatakan semua yang aku sembunyikan darimu."
Adaline diam, "Apa aku akan sanggunp untuk mengataknnya padamu, dan apa kau akan masih menerimaku atas apa yang sudah terjadi padaku, Hans?"
Hans membawa mereka ke sebuah restoran China. Hans tahu jika Adaline kadang ingin memakan makanan itu, jadi dia membawanya kesana.
"Ayo, aku sudah memesan meja di dalam." Ucap Hans setelah mereka sampai di depan restoran itu.
Adaline mengangguk, lalu keluar dari mobil.
Hans dan Adaline masuk ke dalam restoran, dan seorang pelayan mengantarkan mereka menuju meja yang sudah Hans pesan sebelumnya.
Beberapa saat kemudian, dua orang pelayan datang membawa makanan yang sudah Hans pesan sebelum mereka sampai.
"Kau sudah memesan semua ini?" Ucap Adaline.
"Apa kau suka?"
Adaline mengangguk, dia tidak bisa berkata tidak saat melihat semua makanan yang ada di atas meja, karena semua makanan itu adalah makanan kesukaannya.
"Terima kasih." Ucap Adaline.
"Makanlah sebelum dingin."
Hans mengambilkan beberapa makanan lalu meletakkannya di atas mangkuk Adaline.
Dengan tenang mereka menikmati makan siang mereka.
30 menit kemudian mereka selesai makan.
"Kau ingin es krim?" Ucap Hans.
Adaline menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku sudah kenyang."
"Baiklah, kalau begitu kita berkeliling sebentar agar makanan tadi sedikit tercerna sebelum kita ke club*."
Adaline mengangguk dengan patuh.
Hans memberikan sebuah kartu kredit kepada seorang pelayan untuk membayar semua makanan yang sudah mereka makan.
Dan tak berapa lama pelayan itu kembali dan memberikan kartu kredit itu pada Hans.
"Terima kasih tuan. Selamat jalan." Ucap pelayan itu sambil melirik ke arah Hans.
Hans keluar dari restoran sambil menggandeng tangan Adaline, karena dia ingin menunjukkan jika hanya ada Adaline di sampingnya.
Hans membukakan pintu mobil untuk Adaline, "Naiklah, aku akan membawamu berkeliling sebentar."
"Iya."
Setelah Adaline masuk, Hans kembali menutup pintu mobil dan dia pun segera naik ke dalam mobil.
Dengan kecepatan sedang Hans melajukan mobilnya, dan membawa Adaline berkeliling.
"Hans." Ucap Adaline.
"Hmm?"
"Apa aku sudah membuatmu kesulitan?"
"Kenapa tiba-tiba kamu bertanya itu?"
Adaline menggeleng, "Tidak ada apa-apa."
Hans menggenggam tangan Adaline, "Jangan berpikir terlalu banyak."
Setelah 15 menit berkeliling, Hans mengarahkan mobilnya ke sebuah club* miliknya.
Mobil berhenti tepat di depan salah satu club* milik Hans.
"Ayo turun, kau ingin melihat orang di dalam club* itu bukan?" Ucap Hans.
Adaline mengangguk.
"Bos." Ucap seorang anak buah Hans yang bekerja di club* itu.
"Ada siapa di bawah?"
"Ada Roy, Ellen dan Huan."
Hans mengangguk, lalu menggandeng tangan Adaline masuk kedalam club* itu.
Anak buah Hans sempat terkejut karena melihat Hans menggandeng tangan seorang wanita, yang belum pernah dia lihat.
"Bos." Sapa beberapa anak buah Hans di dalam club*.
Hans hanya mengangguk menanggapi mereka.
Club* itu belum buka, dan hanya ada anak buah Hans yang tengah sibuk membersihkan, dan merapikan meja di dalam club* itu.