
Kabar kematian paman ketiga Adaline telah menjadi berita hangat beberapa hari ini, dalam berita itu paman ketiga Adaline mati karena sekelompok perampok yang datang kerumahnya.
Kondisi rumah yang acak-acakan dan juga beberapa barang berharga yang hilang menjadi bukti kuat pembunuhan itu.
Sementara berita itu terus mencuat, Adaline diam di dalam kamarnya.
Rasa takut dan sesal tentu masih menyelimuti dirinya. Bagaimanapun orang yang telah dia bunuh itu adalah pamannya, meski bukan paman kandungnya.
"Adaline." Ucap Hans.
"Em."
"Bagaimana jika kita pergi ke negara C, aku belum pernah memperkenal mu dengan anak buahku disana secara resmi."
Adaline menggeleng, "Aku tidak ingin kemana-mana, Hans."
"Semuanya tidak akan bisa kembali seperti semula, kau hanya harus terus melangkah. Melanjutkan hidup mu, sayang."
"Tapi..."
"Bahkan mereka tidak pernah berpikir jika kau adalah bagian dari keluarga wil, saat merencanakan pembunuhan padamu."
Adaline diam.
"Mungkin jika hari itu kau tidak membunuhnya, aku yang akan melakukannya. Dan seperti yang kau tahu, aku tidak akan membiarkan orang yang sudah menyakitimu mati dengan mudah."Ucap Hans lagi.
Apa yang Hans katakan benar, seorang mafia tidak akan membiarkan musuhnya mati dengan mudah. Mereka akan di buat merasakan lebih baik mati dari hidup dengan siksaan.
"Kau pasti akan senang mengenal Clara disana." Ucap Hans sambil mengusap kepala Adaline.
"Clara? Ah, perempuan yang ada di rumah mu itu?"
Hans mengangguk, "Iya, dia salah satu anak buahku. Usianya masih sangat muda, tetapi dia sangat pandai membuat racun dan obat-obatan."
Adaline mendengar hal itu dengan tidak percaya.
"Berapa umurnya?" Ucap Adaline.
"Mungkin sekitar 13 atau 14 tahun."
"Semuda itu?"
Hans mengangguk, "Dia di temukan dengan kondisi yang tidak baik, setalah mendapatkan perawatan beberapa bulan kondisinya baru bisa di katakan baik."
"Kasihan sekali."
"Jadi, aku akan memperkenalkan mu dengan dia. Aku yakin kalian akan bisa bercerita bersama."
"Apa kau menganggapku anak kecil?"
Hans terkekeh, "Mana mungkin sayang, kamu adalah bayi besarku."
"Hans!"
"Hahaha, iya maaf."
Hans memeluk Adaline sambil tertawa.
****
Sore harinya, sesuai dengan ucapan Hans, dia membawa Adaline ke negara C untuk memperkenalkannya secara resmi pada semua anak buahnya disana.
"Hans, apakah tidak apa-apa? Paman ketiga..."
Hans menyentuh pipi Adaline, "Tidak apa-apa, mereka bahkan bukan paman kandung mu. Dan selama ini mereka juga selalu ingin membunuh mu."
Hans menggendong tubuh Adaline dengan tiba-tiba, dan berjalan ke helikopter yang akan membawa mereka menuju negara C.
"Ingat, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti mu." Ucap Hans.
Adaline mengangguk, lalu memeluk leher Hans.
Hans menurunkan Adaline tepat di bawah helikopter yang akan mereka naiki.
"Ayo naik." Ucap Hans.
Adaline naik ke atas helikopter dan duduk di kursi.
Setelah melihat Adaline duduk, Hans naik dan duduk di sampingnya.
"Bawa dengan baik." Ucap Hans pada anak buahnya yang menjadi pilot helikopter itu.
"Baik bos."
Alan dan beberapa anak buahnya melihat helikopter mulai terbang dan menjauh dari mansion.
"Apa kau memgantuk?" Tanya Hans pada Adaline.
Adaline menggeleng, "Tidak, aku ingin menikmati perjalanan udara ini."
"Baiklah."
Hans merasa sedikit lega karena Adaline mau di bawa ke negara C, karena dia berharap setelah disana, Adaline bisa melupakan kejadian yang telah membuatnya ketakutan.
Dua jam kemudian mereka sampai di negara C, tepatnya di halaman belakang rumah Hans.
"Kemarilah." Ucap Hans sambil merentangkan tangannya di bawah helikopter.
"Hans, aku bisa turun sendiri."
"Jangan berisik, ayo kesini."
Adaline tidak bisa lagi menolak, dia pun turun di bantu oleh Hans. Tetapi yang tidak dia duga, Hans kembali menggendongnya dan berjalan ke rumah setelah dia turun.
Beberapa anak buah yang menyambut kedatangan Hans terkejut, karena sebelumnya mereka tidak tahu jika Adaline adalah kekasih bosnya.
Joe hanya tersenyum melihat sepasang kekasih yang akhirnya bersama lagi itu.
"Hans, turunkan aku. Aku sangat malu, semua melihat kesini." Bisik Adaline pada telinga kanan Hans.
"Jika kau masih bergerak seperti itu, aku tidak akan bisa menjamin apa yang akan aku lakukan sekarang padamu."
Adaline mengerti apa yang Hans katakan, dia lalu memper-erat pelukannya dan hanya bisa menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Hans.
"Selamat datang bos." Ucap anak buah Hans serentak.
Hans melewati anak buahnya dan masuk ke dalam rumah.
"Kak Joe, siapa yang di gendong oleh bos?" Tanya salah seorang anak buah Hans.
"Itu kekasih bos. Jadi selain bos, mulai sekarang kita juga harus melindunginya."
Mereka mengangguk.
"Apa kalian mengerti?" Ucap Joe lagi.
"Mengerti, kak Joe."
Jo mengangguk, lalu menyusul Hans masuk kedalam rumah.
"Joe, katakan pada semuanya. Besok setelah sarapan aku ingin mengatakan sesuatu pada mereka. Jadi sebelum berlatih, kumpulkan mereka di tempat latihan menembak." Ucap Hans tanpa berbalik untuk melihat Joe.
"Baik bos."
Hans melihat sekeliling, "Dimana Clara dan Nana?"
"Clara sedang menguji obat dengan Rio di laboratorium. Nana, sepertinya dia sedang mandi setelah tadi latihan di hutan belakang."
Hans mengangguk.
"Ayo kita ke kamar dulu." Ucap Hans pada Adaline.
Adaline yang masih berada dalam gendongan Hans hanya mengangguk.
Hans lalu membawa Adaline ke lantai atas dimana kamarnya berada.
Sampai di depan pintu kamar, Adaline menatap Hans.
"Apa? ini adalah kamar kita. Jangan berpikir kau akan tidur di kamar yang lain." Ucap Hans.
Kedua mata Adaline membulat.
Tanpa mau mendengar penolakan Adaline, dengan cepat Hans membuka pintu kamar dan membawa Adaline masuk ke dalam kamar itu.
Kamar Hans sangat luas dengan kombinasi warna yang memang sesuai dengan karakter Hans.
Adaline tidak tahu apa yang harus dia lakukan, karena saat ini Hans mengunci dirinya dan menatapnya dengan lekat.
"Ha...Hans." Ucap Adaline.
"Hmm?"
"Aku...aku ingin..."
Hans mengusap pipi Adaline dengan sangat lembut.
"Kau ingin apa, sayang?" Ucap Hans.
Deg
Deg
Deg
Jantung Adaline berdetak dengan cepat, ketika mendengar Hans memanggilnya sayang dengan begutu lembut.
Hans mendekatkan wajahnya pada Adaline, "Aku merindukan mu dan mencintaimu."
Hans mencium bibir Adaline dengan lembut dan m*lum4tnya dengan pelan.
Semakin lama tubuh Adaline jatuh diatas ranjang, dan Hans meniindiih tubuh itu dengan pelan.
Hans perlahan membuka helai demi helai kain yang menghalanginya, sambil sesekali memainkan buah melon segar di depannya.
Mendapatkan serangan itu, Adaline hanya bisa menahan suara indahnya, karena Hans masih menciumnya.
Ciuman mereka terlepas, dan Hans mulai menciumi pipi juga leherr Adaline, dia memberikan beberapa tanda disana.
Adaline hanya bisa m*ndeesah di bawah Hans, setiap Hans bermain dengan buah melon dan bijinya itu.
"Ha....Hans, henti.... Hentikan." Ucap Adaline dengan terbata-bata.
Hans memainkan tangannya dengan begitu indah, sehingga sang pemilik buah melon hanya bisa mengeluarkan suara indahnya.
"Suaramu masih tetap sangat indah, sayang." Ucap Hans sambil tersenyum.
Adaline tidak menanggapi ucapan Hans, dan tubuhnya melengking ketika tangan Hans memainkan biji kecil yang ada di bawah sana.
Hans teeus membuat Adaline mengeluarkan suara indahnya, hingga akhirnya mereka menyatu di cuaca yang cerah itu.
****
Malam harinya, Adaline bangun dengan tubuh yanh sangat lelah. Karena sudah cukuo lama mereka tidak melakukannya.
Hans yang berbaring di samping Adaline, menatap kekasihnya yang baru saja bangun itu.
"Apa kau masih ingin tidur?" Ucap Hans.
"Tidak aku ingin makan."
Hans terkekeh, lalu mencium kening Adaline.
"Aku akan meminta koki menyiapkan makan malam." Ucap Hans.
"Kau keterlaluan Hans."
Hans tertawa, dia tentu tahu maksud dari perkataan Adaline itu.
"Aku mencintaimu." Ucap Hans dengan lembut lalu mencium kening Adaline.
Adaline hanya diam dan menatao Hans.
"Aku akan keluar dulu, kau tetaplah disini." Ucap Hans lagi.
"Iya, aku mengerti."
Hans lalu keluar dari kamarnya untuk meminta koki membuatkan makan malam untuk Adaline.