
Esok harinya, Adaline yang baru saja keluar dari kamar mendengar beberapa orang tengah berbicara dibawah.
Sambil mengusap-usap matanya dia berjalan menuju tangga.
Dari atas Adaline melihat dua orang perempuan tengah duduk bersama dengan Hans dan Rio, dan mereka terlihat sangat akrab satu sama lain.
Seorang perempuan yang terlihat lebih dewasa melihat ke arah Adaline, di susul dengan Hans, Rio dan perempuan yang berusia lebih muda.
Hans tersenyum saat melihat Adaline dari bawah.
"Sepertinya dia baru bangun." Ucap anak perempuan yang duduk di samping Hans.
"Iya. Aku tinggal dulu, seseorang memerlukanku untuk mengurusnya." Ucap Hans seraya berdiri.
"Baik kak Hans." Ucap kedua perempuan muda itu.
Dari atas Adaline Hans berdiri dan berjalan menaiki tangga untuk menghampiri dirinya.
"Kau sudah bangun, sayang?" Ucap Hans.
Adaline hanya mengangguk, sementara kedua matanya masih terlihat mengantuk. Dan itu terlihat karena sesekali dia mengusap matanya.
Hans meraih tangan Adaline, "Jangan di usap lagi. Kita ke kamar."
"Em."
Hans hanya tersenyum melihat tingkah Adaline yang menggemaskan saat bangun tidur itu.
Mereka berjalan bersama, dan sangat terlihat jika Hans seperti seorang kakak yang tengah menuntun adiknya ketika bangun tidur.
"Aaah."
Hans langsung meniindih tubuh Adaline setelah mengunci pintu kamarnya.
"Hans, aku mau mandi." Ucap Adaline sambil mendorong tubuh Hans.
Hans yang di dorong bukannya menjauh, justru dia semakin meniindihnya.
Kedua mata Hans mengunci mata Adaline, dan saat ini sangat terasa hangat nafas mereka beradu.
Perlahan bibir Hans menempel pada bibir Adaline dan memberikan lum4tan pelan padanya. Dan tak lama Hans melepaskan ciuman mereka.
Adaline menatap Hans dengan wajah terkejut, karena dia melihat wajah kekasihnya itu sedikit pucat dari sebelumnya.
"Hans, kau tidak apa-apa?" Ucap Adaline.
"Aku tidak apa-apa."
"Sungguh?"
Hans mencium pipi Adaline dan tersenyum, "Iya, aku tidak apa-apa."
Dengan pelan Hans membaringkan tubuhnya di samping Adaline, lalu menatap langit-langit kamarnya.
"Hans." Ucap Adaline.
"Hmm?"
"Kau sedang menyembunyikan sesuatu dari, bukan?"
Hans berbalik dan manatap Adaline, "Tidak ada."
"Berhentilah berbohong padaku, kau telah mengetahui semuanya tentangku, meski aku tidak mengatakannya."
Hans mengusap pipi Adaline dengan pelan, "Aku tidak apa-apa. Sungguh."
Adaline meraih tangan Hans, "Jika kau tidak ingin mengatakannya, maka aku mohon jangan pernah lagi mencari tahu tentangku."
Hans tertegun mendengar apa yang di katakan oleh Adaline.
"Adaline...."
"Cukup, aku mau mandi."
Adaline berdiri lalu berjalan ke kamar mandi, sudah cukup dia merasa bersabar pada Hans yang selalu menyembunyikan sesuatu darinya. Dan kali ini dia akan membiarkan Hans untuk menyimpannya sendiri, begitu juga dirinya yang tidak akan pernah memberitahu Hans sesuatu tentangnya lagi.
Sementara itu, Hans yang masih di dalam kamar menatap pibtu kamar mandi yang tertutup rapat.
"Adaline, berikan aku sedikit waktu. Karena aku tidak tahu harus bagaimana mengatakannya padamu." Ucap Hans.
Hans mengusap wajahnya, rasa kesal dan takut bercampur menjadi satu pada benaknya saat ini.
Beberapa saat kemudian Hans keluar dari kamatnya, dan berjalan menuju ruang kerjanya untuk menenangkan diri.
Dan tidak lama seyelah Hans pergi, Adaline keluar dari kamar mandi. Dia melihat jika Hans tidak lagi berada disana.
"Jika kau terus seperti itu, aku mungkin akan menyerah Hans."
Adaline duduk di atas sofa yang ada di dalam kamar, lalu melihat jika ponsel Hans bergetar berulang kali di atas meja.
"Dia tidak membawa ponselnya?" Ucap Adaline.
Adaline mengambil ponsel Hans dan melihat siapa yang menghubungi, setelah tahu orang yang menghubungi nomor Hans, Adaline mengangkatnya.
Rio : Bos, aku telah berhasil melakukan pemeriksaan itu. Aku dan temanku juga sedang membuat obat untuk bos, agar bos tidak lagi berendam air es ketika hormon aneh bos sedang keluar.
Adaline yang mendengarkan semuanya terdiam, "Hormon aneh, obat, pemeriksaan? Sebenarnya apa yang sudah terjadi padamu Hans?"
Ceklek
Pintu kamar terbuka, dan Hans melihat Adaline tengah memegang ponselnya.
Rio : Bos? Halo, bos. Kau masih disana kan bos?
Mendengar suara dari ponselnya, Hans segera berjalan mendekati Adaline yang tengah menatapnya dengan penuh tanya.
Hans mengambil ponselnya dari tangan Adaline lalu menempelkannya pada telinganya sendiri.
Hans : Aku akan menghubungi mu nanti.
Setelah mengatakan itu, Hans mematikan sambungan telefonya lalu menatap Adaline.
Saat ini Hans yakin, jika Rio telah mengatakan sesuatu pada Adaline tanpa di sadari oleh Rio. Karena sangat terlihat jelas, dengan cara Adaline menatapnya.
"Adaline, aku...."
"Katakan, hormom aneh apa yang Rio katakan tadi?"
Hans tahu jika cepat atau lambat, Adaline akan mengetahui dan menanyakan hal itu padanya.
"Aku akan mengatakannya, dan setelah itu jika kau ingin pergi. Maka pergilah." Ucap Hans.
Adaline mengerutkan keningnya mendengar perkataan Hans.
Hans duduk di sofa, dan sambil menatap meja yang ada di deoannya hans mulai menceritakan semuanya, tanpa mau mendengar apakah Adaline akan meninggalkan dia atau tidak, terlebih dulu.
Adaline mendengarkan semua ucapan Hans, sambil menatap wajah Hans yang sangat sulit di artikan.
Sesekali Adaline akan tersentak mendengar cerita yang Hans katakan.
"....Itu kondisi tubuhku, dan itu sebabnya ketika di hotel kau melihatku bersama dengan wanita lain." Ucap Hans mengakhiri ucapannya.
Adaline terdiam, dan terlihat seperti sebuah patung di depan Hans.
Hans menatap Adaline lalu mengangguk, "Seperti yang aku katakan, jika kau ingin pergi. Maka....."
Cup
Sebuah kecupan mendarat tepat di bibir Hans. Dan seketika membuat Hans terdiam.
Adaline menatap kedua mata Hans, "Dasar bod0h. Harusnya kau berkata pada ku agar kau tidak melakukan hal seperti itu di belakangku. Dan agar aku juga tidak dengan bod0hnya menolak setiap kau menginginkannya. Kau benar-benar bod0h Hans, kau juga egois!" Ucap Adaline sambil menahan air matanya.
Hans tertegun mendengar semua ucapan Adaline, dan dia melihat air mata Adaline yang tiba-tiba mengalir.
"Maaf, aku minta maaf." Ucap Hans sambil memeluk tubuh Adaline dengan erat.
"Dasar Hans bod0h, Hans Edward kau sangat b0doh!"
Sekarang tangisan Adaline semakin terdengar di dalam kamar Hans.
"Kau membuatku seperti orang yang tidak berguna, aku benar-benar membencimu Hans!" Ucap Adaline di sela isakannya.
"Maaf sayang, aku sangat menyesal. Aku benar-benar minta maaf."
Hans hanya bisa memeluk tubuh Adaline dan terus meminta maaf padanya.
Saat ini Adaline sudah mengetahui semuanya, dan tentu dia akan melakukan yang terbaik untuk Hans di masa depan.
Adaline terus menangis dalam pelukan Hans, seolah dia tidak ingin berhenti.
Hans mengusap kepala Adaline, "Baiklah, aku tidak mau kamu menangis lagi. Mereka akan menertawaimu jika melihat matamu bengkak."
"Hans!"
Hans hanya bisa tertawa, dan tentu saja itu hanya ingin membuat agar Adaline tidak lagi menangis.
"Sekarang ganti pakaian mu, atau kau ingin aku membantu mu?" Ucap Hans.
Adaline menggelengkan kepalanya dan mendorong tubuh Hans "Tidak, aku akan melakukannya sendiri. Aku tidak percaya padamu, jika kau hanya akan membantuku."
Dengan cepat berjalan ke ruang ganti yang ada di dalam kamar Hans, karena saat ini dia hanya memakai handuk kimono saja.
Hans hanya tertawa melihat Adaline yang saat ini berada di dalam ruang ganti pakaian miliknya.
"Maaf sayang, dan terima kasih."
Hans kembali duduk di atas sofa, lalu mengetik sesuatu oada layar ponselnya.
10 menit kemudian Adaline keluar dengan pakaian santainya.
"Kau sudah selesai." Ucap Hans setelah melihat Adaline berdiri di depannya.
"Iya."
"Baiklah, kita ke ruang makan sekarang. Sarapan sudah siap."
Adaline mengangguk.
Hans berdiri dan dengan menggandeng tangan Adaline, Hans keluar dari dalam kamarnya.
"Selamat pagi bos." Ucap Joe.
"Iya."
Clara, gadis muda yang tengah duduk di ruang makan itu menatap Adaline tanpa berkedip.
"Clara, ini adalah Adaline. Dia...."
"Apakah dia calon istri kak Hans?" Ucap Clara dengan cepat memotong perkataan Hans.
Mendengar itu wajah Adaline sedikit merona. Sementara Hans tersenyum lalu mengangguk.
"Iya, dia adalah calon istriku." Ucap Hans.
"Jadi, apakah nanti kak Hans akan mempunyai anak?"
Joe yang mendengar ucapan Clara tersentak, karena dia tidak menyangka jika Clara akan mengatakan itu.
"Siapa yang membuat mu bertanya hal itu, Clara?" Ucap Hans.
"Kak Joe kemarin berkata jika nanti kak Hans akan ounta anak dengan kakak itu."
Joe kembali tersentak, dan mencoba untuk lari secara diam-diam.
"Joe. Lari di lapangan belakang sebanyak 20 putaran." Ucap Hans dengan suara kerasnya.
"....... Baik bos." Ucap Joe dengan lemas.
Mendengar ucapan Hans, Clara yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa melihat Joe keluar dengan tidak berdaya.
"Lebih baik sekarang kita makan." Ucap Hans dengan suara lebih pelan.
"Baik, kak Hans." Ucap Clara dan yang lainnya.
Merekapun menikmati sarapan mereka dengan tenang bersama.