
Di rumah milik keluarga Wilson, Adaline tengah duduk diatas ranjangnya sambil membaca sebuah buku.
Saat tengah menikmati waktunya itu, tiba-tiba ponselnya bergetar diatas nakas. Adaline mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya malam-malam.
"Nomor tidak di kenal?" Ucap Adaline.
Adaline baru akan menekan icon berwarna hijau, namun sebelum tersentuh getarannya sudah berhenti.
"Siapa yang larut malam menghubungiku?" Tanya Adaline pada dirinya sendiri dengan bingung.
Karena tidak ada tanda-tanda orang itu menghubunginya lagi, dia pun meletakkan kembali ponselnya lalu menutup buku yang tadi dia baca.
Dengan langkah ringan Adaline berjalan menuju jendela kamarnya, melihat apa yang bisa dia lihat dari kamarnya itu.
"Hans, sebenarnya dimana kamu saat ini? Bagaimana aku akan bertanggung jawab padamu atas kematian kakak mu, jika aku tidak bisa menemukanmu?" Gumam Adaline.
Adaline Wilson menatap jauh ke depan. Matanya terlihat sayu seolah tidak mempunyai tenaga.
Sudah lebih dari tiga hari dia terus mencari dimana Hans berada, dan semua cara dilakukan olehnya. Tapi tidak seorangpun bisa menemukannya.
Hari semakin larut, Adaline memutuskan untuk beristirahat agar besok dia bisa kembali mencari Hans.
****
Esok harinya seorang pengawal Adaline Wilson berjalan dengan cepat menuju ruang makan.
"Nona muda, nona muda." Pengawal itu memanggil Adaline yang berada di ruang makan dengan nafas terengah-engah.
Adaline yang sedang menikmati sarapannya berhenti dan melihat pengawal itu.
"Ada apa?" Tanya Adaline pada pengawal itu.
Melihat sang nona muda sedang sarapan, wajah pengawal itu memucat. Dia takut karena sudah menganggu waktu sarapan Adaline.
"Tidak apa-apa, katakan ada apa?" Ucap Adaline lagi.
"Tu...Tuan Hans, kami.. Kami telah menemukannya."
Kedua mata Adaline membulat. Ada secercah bahagia terlihat dari kedua matayang indah itu.
"Dimana, dimana dia?" Tanya Adaline dengan bersemangat samoai dia berdiri dari kursi yang dia duduki.
"Dia...Dia..."
"Cepat katakan."
"Dia ada di Club* Cloe."
"Club*? Di sebuah Club*?"
"Benar... Benar nona muda. Ketika saya bertanya kepada bartender disana, ternyata dia..."
"Ternyata apa?"
"Ternyata...Dia...Dia pemilik Club* itu, nona muda. Bukan hanya Club* itu saja, bartender itu juga berkata kalau tuan Hans mempunyai dua Club* lagi dan juga dua kasin0."
Adaline Wilson terduduk lemas mendengar informasi tentang Hans dari pengawalnya itu.
"Apakah yang kau katakan itu benar?" Tanya Carlos yang sudah berdiri di belakang pengawal itu.
"Benar ketua, aku melihatnya sendiri dan juga aku mendengarnya sendiri dari bartender itu. Juga...Setiap satu minggu sekali dia akan datang ke Club* itu."
"Kapan kau melihatnya di Club* itu?"
"Kemarin malam, ketua."
"Kemarin malam?"
"Benar, karena kemarin saya libur, jadi saya pergi ke Club* dan minum dengan teman. Saat itu saya melihatnya disana."
"Itu artinya kita bisa bertemu dengannya lima hari lagi." Ucap Adaline.
"Benar nona muda. Saya akan mengantarkan anda kesana. Hanya saja...."
"Apa?"
"Club* itu bukan hanya untuk orang biasa, tetapi juga sering di datangi oleh para laki-laki dan perempuan yang menyukai sesama."
"Apa?" Ucap Adaline dengan keras.
"Nona muda, lebih baik anda tidak kesana. Biar malam ini saya kesana untuk membuat janji dengan Hans. Saya tahu apa yang harus saya lakukan." Ucap Carlos.
Adaline mengangguk pelan. Kedua matanya merah, dia merasa sangat terpukul mendengar jika Hans mempunyai Club* seperti itu.
Adaline berdiri dan berjalan menuju kamarnya, dia tidak lagi berselera untuk melanjutkan sarapannya.
Didalam kamar, Adaline Wilson duduk di tepi ranjang.
"Hans, apa kau juga seperti mereka, sehingga kau membuat Club* yang seperti itu?" Gumam Adaline dengan sedih.
Tanpa terasa air matanya menetes, ada rasa yang begitu menusuk jika apa yang dia pikirkan memang benar.
"Kenapa, kenapa denganku? Aku tidak pernah merasakan seperti ini. Tetapi kenapa aku merasa sakit membayangkan dia mencium atau memeluk wanita lain di luar sana?"
Adaline Wilson memegangi dadanya, dia lalu berbaring di sisi ranjang sambil tetap memegangi dada kirinya yang terasa sesak itu.
"Aku harus menemuinya dan meminta maaf. Aku tidak mau dia tinggal diluar lagi." Ucap Adaline.
Tok tok tok
Suara ketukan menyadarkan Adaline dari lamunannya. Adaline menghapus air matanya lalu berjalan menuju pintu.
"Carlos." Ucap Adaline setelah dia membuka pintu.
"Bisa saya bicara dengan anda, sebelum saya pergi ke Club* itu, nona muda?"
"Tentu, masuklah."
Carlos mengangguk lalu masuk kedalam kamar Adaline yang cukup besar.
"Ada apa Carlos?" Tanya Adaline setelah menutup pintu kamarnya.
"Nona muda, saya merasa ada yang aneh pada Hans."
Adaline menatap Carlos dengan heran. "Aneh? Apa maksudmu?"
"Selama ini kita mencari Hans, dan tidak menemukannya, bahkan kita juga sudah mencari dia bertahun-tahun di dalam maupun di luar negeri. Dan saat kita menemukannya, kita justru mendapat kabar kalau Hans mempunyai beberapa Club* di negara ini."
"Hmm kau benar. Setelah kak Dave meninggal, dia menghilang tanpa jejak. Dan sekarang dia mempunyai beberapa Club*."
"Apa selama ini dia bersembunyi dengan uang milik Dave?"
"Tidak." Adaline menggelengkan kepalanya.
"Aku masih menyimpan uang kak Dave, karena aku tidak bisa menemukan Hans selama beberapa tahun ini." Ucap Adaline lagi.
"Jadi, bagaimana dia..."
Carlos dan Adaline sama-sama berpikir.
"Nona muda, jangan-jangan Hans terlibat dengan dunia bawah?" Ucap Carlos.
"Dunia bawah? Maksudmu.... M4fia?"
Carlos mengangguk dengan ragu-ragu.
"Aku rasa tidak, tidak mungkin jika Hans akan...."
"Nona muda, saya akan mencari tahu hal ini pada teman saya yang ada di dunia bawah."
"Hmm, baiklah."
"Saya harap dia memang tidak terlibat di dunia bawah itu."
"Iya aku juga berharap seperti itu. Aku benar-benar akan merasa sangat bersalah padanya dan pada kak Dave jika itu terjadi. Aku...Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri."
"Nona muda..."
"Pergilah, cari tahu semua tentang dia."
"Baik nona muda."
Carlos keluar dari kamar Adaline Wilson.
Sementara itu Adaline menautkan kedua tangannya, dengan keringat dingin yang membasahi telapak tangannya itu.
"Semoga kamu tidak terlibat dalam dunia bawah itu Hans." Ucap Adaline dengan penuh harap.