ADALINE (My Young Lady)

ADALINE (My Young Lady)
Part 60



Dua hari kemudian Hans sudah mulai tidur dikamarnya, dan tentu saja di temani oleh Adaline.Walau awalnya Adaline menolak, tapi karena alasan kesehatan Hans, dia pun setuju untuk tidur satu kamar dengan Hans.


Adaline masuk ke dalam kamar, di tangannya ada satu gelas air putih hangat.


"Berhentilah bekerja, kau belum sepenuhnya pulih." Ucap Adaline.


Hans menoleh ke arah Adaline lalu tersenyum, "Lima menit lagi, aku janji."


Adaline tidak menanggapi, dia berjalan kesisi lain ranjang lalu meletakkan gelas berisi air di atas nakas. Kemudian mengambil ponselnya lalu duduk di samping Hans dan bermain dengan ponselnya itu.


Lima menit kemudian Hans benar-benar menyelesaikan pekerjaannya, dan menutup rapat laptop miliknya lalu meletakkannya.


"Apa yang kau lihat?" Tanya Hans sambil mendekatkan tubuhnya pada Adaline.


"Hanya membaca berita di sosial mediaku saja. Kau sudah selesai?"


"Em."


Adaline mematikan ponselnya lalu meletakkan di atas nakas dan tersenyum pada Hans.


"Istirahat lah." Ucap Adaline.


Hans mengangguk dan berbaring, dan Adaline mengusap kepala Hans dengan lembut lalu berbaring di sampingnya.


"Aku merindukan mu." Ucap Hans.


"Aku tahu, pejamkan matamu."


Hans menuruti apa yang Adaline katakan, lalu memejamkan mata sambil memeluk erat tubuh Adaline.


Melihat Hans tidur,Adaline sedikit lega. Dia tahu Hans masih belum bisa sepenuhnya terbuka padanya, tetapi saat ini jika dia kembali meninggalkan Hans kemungkinan Hans akan seperti kemarin lagi.


"Aku harap kau tidak melakukan itu lagi. Jika tidak, mungkin aku akan meninggalkan mu selamanya."


Hans mulai terlelap dalam tidurnya, mungkin ini adalah tidur yang paling nyenyak beberapa hari ini bagi diri Hans, selain saat dia tidak sadarkan diri.


Adaline ikut memejamkan mata lalu menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Hans dan tertidur.


...----------------...


Esoknya Adaline bangun, dan dia melihat bantal di sampingnya kosong.


"Hans, Hans." Ucap Adaline.


Beberapa kali Adaline memanggil, tetapi tidak mendapat jawaban, dia lalu turun dari ranjang lalu mencari Hans di kamar mandi dan di ruang pakaian.


"Kemana Hans?" Gumam Adaline.


Ceklek


Saat Adaline akan keluar, pintu kamar terbuka dan dia melihat Hans berdiri di depan pintu sambil membawa sarapan di atas nampan, lengkap dengan bunga mawar putih.


"Kau sudah bangun?" Tanya Hans.


Adaline mengangguk, "Saat aku bangun aku lihat kau tidak ada, jadi aku turun untuk mencarimu."


Hans tersenyum, lalu berjalan masuk dan meletakkan nampan berisi sarapan di atas meja.


"Maaf, aku membuatkanmu sarapan tadi." Ucap Hans.


Adaline melihat sarapan yang sudah Hans buat untuknya, "Kau baru saja keluar dari ruang rawatmu, seharusnya kau tidak perlu melakukannya."


"Tidak apa-apa, lagipula aku sudah baik-baik saja."


"Kau ini."


"Baik, lain kali tidak lagi. Ayo kita sarapan dulu."


Adaline mengangguk lalu duduk di samping Hans.


Mereka menikmati sarapan mereka tanpa peduli apakah mereka sudah mandi atau belum.


20 menit kemudian mereka selesai sarapan, Hans menggendong tubuh Adaline dan membaringkannya diatas ranjang.


"Hans, kita baru saja selesai sarapan."


"Aku tahu, aku ingin menonton sebuah film denganmu. Jadi hari ini kita akan menghabiskan waktu berdua di dalam kamar ."


Kedua mata Adaline membulat mendengar perkataan Hans.


"Hans, kau tidak sedang bercanda kan?" Ucap Adaline.


"Tentu saja tidak."


Hans lalu pergi mengambil remot dan menyalakan televisi yang ada di dalam kamar. Sementara Adaline menatap Hans tidak percaya, seharian ini dia akan bersama dengan Hans hanya menonton film di dalam kamar.


"Hans." Ucap Adaline.


"Kau tidak ingin keluar untuk jalan-jalan?"


"Tidak."


"Kau yakin?"


"Iya, aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua denganmu disini."


Adaline menatap Hans dengan tidak percaya. Dan Hans hanya tersenyum lalu menarik hidung Adaline dengan pelan.


"Aku serius, aku sudah memilih beberapa film bagus untuk kita lihat bersama."


Kali ini Adaline menatap Hans penuh curiga, dan langsung berdiri setelah mendengar jika Hans sudah memilih film untuk mereka.


"Lihatlah, kau pasti berpikir yang tidak-tidak. Aku memilih beberapa film yang bagus, bukan berarti film yang kau pikirkan. Atau....kau mau melihatnya?" Ucap Hans.


Adaline menggeleng dengan cepat, "Tidak, aku tidak mau."


"Hahaha baiklah, kesini duduk disini. Aku akan mulai menyalakan."


Dengan patuh Adaline duduk disamping Hans, lalu mereka melihat film itu, dan benar saja film yang mereka lihat bukanlah film yang Adaline pikirkan.


Dua jam sudah berlalu, mereka masih dengan setia menonton film yang Hans pilih. Terkadang mereka tertawa bersama, dan terkadang Hans harus menyeka air mata Adaline jika adegan di dalam film itu membuatnya menangis.


"Haahh, akhirnya selesai juga, filmnya sangat bagus." Ucap Adaline sambil merenggangkan tubuhnya.


"Mau lihat film yang lain, atau mau makan dulu?"


Adaline melihat ponselnya, dan di layar ponsel itu terlihat jika saat ini sudah pukul 1 siang.


"Kita makan dulu saja." Ucap Adaline.


Hans mengangguk, lalu berdiri dan mengulurkan tangannya.


Adaline melihat itu lalu meraih tangan Hans dengan senang. Hans membantu Adaline bangun dan mereka berdua keluar dari kamar bersama.


"Apa makan siang sudah siap, paman Yan?" Tanya Adaline saat mereka sampai diruang makan.


"Sudah nona Adaline, semua sudah siap."


"Terima kasih paman."


Hans dan Adaline duduk, Hans melihat menu makan siang mereka dan keningnya mengerut.


"Kenapa dengan makanan ini?" Ucap Hans.


"Kau baru saja pulih, tidak boleh makan makanan yang pedas dan terlalu keras dulu."


"Aku sudah tidak apa-apa."


"Kau mau makan atau aku tidak mau bicara denganmu lagi?"


Adaline tahu jika Hans tidak akan mudah memakan makanan itu, jadi dia langsung mengancam Hans.


"Bagaimana bisa kau melakukan itu?" Ucap Hans.


"Tentu saja bisa, kau tidak mau makan ini. Jadi aku tidak akan bicara denganmu."


Hans diam sambil menatap makanan yang ada di atas meja makan, sementara Adaline melirik ke arah paman Yan sambil sedikit tersenyum.


"Bagaimana, kau mau makan atau tidak?" Ucap Adaline pada Hans lagi.


Hans menghela nafas, "Baiklah."


Adaline tersenyum lebar, begitu juga dengan paman Yan yang tadi sempat khawatir jika Hans tidak mau makan.


Dengan senang hati Adaline mengambilkan beberapa makanan ke dalam piring Hans, dia juga mengambilkan sup jamur untuk Hans.


Hampir semua makanan yang ada di meja makan adalah makanan yang tidak Hans suka,tapi semua itu adalah makanan yang baik untuk pemulihan dirinya.


"Ayo makan." Ucap Adaline.


Dengan terpaksa Hans mulai menyendok sedikit demi sedikit makanan itu lalu memakannya.


Adaline sangat senang melihat Hans memakan makanan yang ada di depannya, Hans juga meminum sup yang Adaline berikan padanya.


15 menit kemudian, Hans sudah menghabiskan semua makanannya.


"Terima kasih, karena sudah menghabiskan semuanya." Ucap Adaline.


"Jika sudah selesai, kita kembali ke kamar."


Adaline mengangguk, karena dia juga akan mengikuti keinginan Hans selama Hans mau makan apa yang baik untuk tubuhnya saat ini.