
Siang harinya Adaline yang sudah bangun, tengah duduk di samping mansion. Dia melihat beberapa anak buah Hans yang sedang berlatih bersama dengan Alan.
"Kau disini." Ucap Hans.
Adaline menoleh dan melihat Hans sudah berdiri disampingnya, "Iya."
Hans duduk di kursi yang ada disamping Adaline, "Bagaimana kondisimu?"
"Aku baik-baik saja, tetapi kakiku terasa sangat sakit."
"Itu karena kau kurang berlatih, jadi saat berlari agak jauh kau mudah kelelahan dan kakimu sakit."
"Tidak, itu karena May terlalu kuat berlari."
Hans diam sejenak, "Maaf."
Adaline menatap Hans, dia seperti sedang mencari tahu apa yang Hans katakan tadi.
"Aku minta maaf, karena membuatmu seperti ini. Aku tidak tahu jika Alan akan meminta May untuk menemanimu." Ucap Hans lagi.
"Alan berkata jika dia tahu kalau May adalah mata-mata."
Hans mengangguk "Iya, memang tidak ada yang tahu jika May dan Brian adalah mata-mata yang diperintahkan oleh Albert."
"Kenapa kau tidak memberitahu Alan dan yang lainnya."
"Aku berencana akan memberi pelajaran pada mereka secara pribadi."
Adaline mengangguk, "Tapi untungnya tidak terjadi apa-apa."
"Sekali lagi maaf."
Adaline menatap Hans, "Kau tahu? Ini adalah kali pertama aku mendengar mu minta maaf. Dan ternyata seperti ini wajahmu saat minta maaf."
Hans diam saja, dia tidak ingin berdebat dengan Adaline, jadi dia membiarkan Adaline mengatakan apa yang dia inginkan.
"Aku akan melihat mereka berlatih dulu, jika kau masih lelah kau bisa kembali istirahat."
"Apa aku masih boleh tidur di kamar mu?"
"Kamar tamu sudah di bereskan, kau bisa tidur disana"
Adaline menatap Hans dengan tatapan yang sulit dimengerti.
"Apa aku harus terjadi apa-apa dulu baru bisa tidur dikamarnya?" Gumam Adaline pelan.
"Sebenarnya kau adalah orang pertama yang tidur di kamarnya." Ucap paman Yan yang entah sejak kapan berdiri di samping Adaline.
"Apa dia tidak pernah membawa kekasihnya kesini?"
"Selama ini dia tidak pernah punya kekasih, tapi dia mempunyai banyak orang yang rela menghangatkan ranjangnya."
Adaline merasa sedikit kecewa mendengar hal itu, tetapi dia segera tersenyum.
"Itu sangat wajar, dia adalah laki-laki yang sangat di impikan banyak wanita." Ucap Adaline.
"Bukan hanya wanita, bahkan banyak pria yang ingin tidur dengannya."
"Benarkah?"
Paman Yan mengangguk.
"Pernah ada seorang pemuda meminta Hans untuk bertanggung jawab. Pemuda itu berkata jika Hans sudah melecehkannya." Ucap paman Yan.
"Lalu?"
"Lalu apa? Tentu saja Hans tidak peduli. Dia justru meminta seorang dokter untuk memeriksa bagian belakang tubuhnya."
"Begitu saja?"
Paman Yan mengangguk, "Pemuda itu akhirnya mengaku jika dia sangat menyukai Hans, mendengar itu keluarga pemuda itu merasa sangat malu dan membawanya pergi entah kemana."
"Sepertinya paman Yan sangat tahu tentang Hans."
"Aku sudah menganggap dia sebagai anakku sendiri, dan aku sudah bersama dengan dia sejak pertama dia mendirikan Red Dragon ini."
Adaline mengangguk mengerti.
"Aku tidak tahu jika Hans mempunyai ikatan tersendiri dengan salah satu keluarga Wilson, selain rasa benci setelah kakaknya meninggal." Ucap paman Yan.
"Aku juga tidak tahu kenapa aku dan Hans bisa terlibat sangat jauh seperti ini."
"Mungkin sepertinya kalian berjodoh."
Mendengar ucapan paman Yan, wajah Adaline seketika memerah.
"Itu.... Itu tidak mungkin, dia begitu di kagumi dan sangat hebat." Ucap Adaline dengan gugup.
"Tapi nyatanya kau adalah orang luar pertama yang Hans bawa kesini. Dia tidak suka jika ada orang lain datang ke tempat ini."
"Mungkin karena aku adalah salah satu dari keluarga Wilson."
"Jika seperti itu, kau pasti sudah di tendang keluar beberapa minggu yang lalu."
"Aku juga tidak tahu, paman. Dia sangat sulir di mengerti."
Adaline terkejut dengan pertanyaan paman Yan.
"Ma... Maksud paman Yan?"
"Aku tahu kau juga pasti menyukainya, dia tidak pernah melakukan hal itu dengan orang lain. Tapi aku mendengar jika beberapa waktu yang lalu dia melakukannya untuk membantu seorang wanita. Apa pria itu kau?"
"Dia.... Dia tidak pernah melakukan......"
Paman Yan hanya mengangguk, menjawab pertanyaan Adaline.
"Mungkin banyak laki-laki atau perempuan yang sudah melakukan itubpada Hans dengan mukut mereka. Tapi yang aku tahu, selama ini Hans tidak pernah melakukannya dengan siapa pun." Ucap paman Yan.
"Tapi banyak yang berkata jika dia sering melakukannya dengan banyak wanita."
"Hahaha, itu hanya ucapan mereka. Kau tahu bukan kalau banyak orang yang ingin naik keranjang Hans, tapi Hans tidak peduli pada mereka? Dia hanya akan mengijinkan mereka untuk melakukannya dengan mulut mereka."
Adaline mengangguk, "Jadi artinya, itu adalah pengalaman pertama kali untuk kita berdua."
"Aku akan membuat beberapa makanan ringan untuk mereka. Apa kau mau membantu?" Tanya paman Yan.
"Iya, tentu saja."
Paman Yan dan Adaline masuk ke dalam, lalu mereka berjalan ke dapur untuk membuat makanan ringan.
"Paman akan membuat apa kali ini?" Ucap Adaline.
"Aku akan membuat makanan ringan kesukaan Hans."
"Dia juga suka makan makanan ringan?"
"Iya."
"Bukankah dia tidak suka manis?"
"Iya, karena itu aku membuat makanan ringan dengan rasa kopi yang tidak terlalu manis hari ini."
Adaline mengangguk.
Mereka berdua mulai membuat makanan ringan (kue kering) sambil berbicara banyak hal.
Satu jam kemudian beberapa jenis makanan ringan sudah selesai dibuat.
"Apa setiap hari paman akan membuat sebanyak ini?" Ucap Adaline sambil menatap semua makanan yang mereka buat.
"Tidak, aku membuatnya hanya dua kali dalam satu minggu."
"Oh."
Saat ini Adaline jadi lebih banyak tahu tentang Hans, dan itu membuat dirinya senang.
Jika orang lain mungkin akan marah, karena hampir mati oleh musuh-musuh Hans beberapa kali, tapi tidak dengan Adaline. Mungkin karena dia sudah terbiasa di jadikan bahan buruan oleh orang lain, saat masih berada di dalam keluarga Wilson, jadi dia tidak begitu memikirkannya selagi tidak terjadi apa-apa pada dirinya.
****
Malam ini Adaline merasa sangat takut, setelah sore tadi dia menonton film horor sendirian di mansion Hans.
Ya, sudah beberapa hari ini Adaline tinggal di mansion Hans lagi, dia tidak mau tinggal diluar mansion setelah kejadian itu.
Adaline menutupi semua tubuhnya dengan selimut karena ketakutan, dia membayangkan sebuah tangan keluar dari bawah ranjang dan menarik dirinya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Adaline sangat terkejut. Walaupun suara ketukan itu kembali terdengar, tapi Adaline tidak berani untuk turun dari ranjangnya.
"Adaline, apa kau sudah tidur?" Ucap Hans dari luar pintu kamar.
"Aku... Aku belum tidur."
"Kalau begitu, keluarlah."
"Aku tidak berani, aku...aku sangat takut."
Hans mendengar suara Adaline yang sedikit gemetar, dia lalu memutar knop pintu yang ternyata pintu itu tidak di kunci.
Ceklek
Setelah pintu terbuka, Hans masuk ke dalam kamar, dia tidak melihat Adaline dimana pun. Tetapi dia melihat sebuah gundukan di atas ranjang.
Dengan pelan Hans berjalan mendekati ranjang, dia mencoba menyentuh gundukan itu lalu menariknya.
"Ahhhh jangan!!" Teriak Adaline saat selimut itu di buka oleh Hans.
Hans terkejut mendengar teriakan Adaline, dia menatap Adaline yang meringkuk ketakutan.
"Adaline." Ucap Hans sambil menyentuh tangan Adaline.
"Ahhh hantu! Pergi jangan bawa aku!"
"Hantu? Siapa yang kau panggil hantu, dan apa yang kau lakukan di balik selimut yang tebal ini?"
Adaline yang mendengar suara Hans, perlahan melihat kearah belakang. Setelah dia melihat Hans dengan jelas, dia langsung memeluk tubuh Hans dengan erat.