
Siang itu Rio datang, dia ingin berbicara 4 mata dengan Hans. Dan saat ini mereka berdua sudah berada di dalam ruang kerja Hans.
Hans menatap Rio, "Katakan, apa yang membuatmu kesini hari ini?"
"Bos, aku ingin bertanya sesuatu pada bos."
"Katakan."
"Sudah beberapa kali aku melihat bos berendam air es, dan membuatmu harus menjalani berbagai pemeriksaan. Apakah bos mempunyai hormon s3xualitaas yang aneh?"
Hans diam, lalu menatap Rio cukup lama.
"Maaf bos, aku hanya ingin membantu bos, agar bos tidak lagi berendam seperti itu yang akan membuat tubuh bos tidak baik." Ucap Rio.
Hans berdiri, lalu berjalan ke arah jendela, "Ini hormon yang di turunkan oleh keluarga ku."
Rio mengangguk.
"Setiap beberapa hari sekali hormon ini akan bergejolak untuk di puaskan. Hanya dengan melakukan s*x aku baru bisa meredakannya, tapi kau tahu jika aku kembali melakukannya. Adaline pasti...."
"Aku mengerti bos, tapi apa tidak bisa jika bos meredamnya dengan tidak berendam pada air es."
"Aku tahu ini sangat berbahaya bagi tubuhku, tapi aku tidak punya cara lain lagi."
"Dulu bos pernah mengalami koma, apakah ini penyebabnya?"
Hans mengangguk, dia masih ingat dimana kondisi tubuhnya dulu yang mati-matian menahan hormonnya itu, tapi pada akhirnya gagal dan koma selama hampir satu bulan.
"Bos, boleh aku meminta darahmu lagi untuk sampel? Aku akan mencari tahu cara untuk mengobatinya."
"Bukankah kamu pernah mengambil darahku untuk sampel?"
"Iya, tapi aku tidak menemukan ada yang aneh. Kemarin temanku menemukan cara untuk mengidentivikasi sebuah penyakit yang di sebabkan oleh hal yang belum diketahui penyebabnya. Aku ingin melakukannya juga bos."
Hans menatap Rio, selama ini dia memang tidak tahu selain Rio ada orang lain yang lebih pintar darinya. Karena selain menjadi dokter pribadi Hans, Rio adalah seorang dokter bedah dan salah satu dokter yang cerdas yang terkenal di dunia bawah di beberapa negara.
Banyak penyakit karena virus atau bakteri yang sudah Rio tangani, dan jangan lupa dia juga seorang master racun. Bersama Clara (anak buah Hans termuda), dia selalu membuat eksperimen racun mematikan untuk membekuk musuh-musuh Hans.
"Bos." Ucap Rio.
"Aku mengerti, kau bisa ambil darahku."
Rio tersenyum senang "Terima kasih bos."
Dia lalu mengeluarkan jarum suntik yang dia bawa, dan berjalan menghampiri Hans. Rio menyuntikan jarum itu pada lengan Hans dan mengambil darah Hans dengan hati-hati.
Setelah selesai, Rio menyimpan sampel darah Hans itu.
"Aku akan melakukan yang terbaik dan akan memberitahu perkembangannya secepat mungkin, bos." Ucap Rio.
"Iya."
Rio membungkukkan sedikit badannya lalu keluar dari ruang kerja Hans.
Sepeninggal Rio, Hans masih diam di tempatnya. Dia sedang memikirkan cara untuk memberitahu kondisi tubuhnya pada Adaline, karena tidak mungkin dia akan terus merahasiakannya.
Hans mungkin orang yang tegas dan kejam, tapi dia tidak tahu harus bagaimana memberitahu kabar yang bisa di bilang mengkhawatirkan itu pada kekasihnya.
Hans duduk di kursi kerjanya, dan terus memikirkan cara yang bagus dan mencari waktu yang tepat agar Adaline bisa mengerti dan menerima kondisi tubuhnya.
Tok tok tok
Hans tersadar dari lamunannya, dia berjalan kearah pintu dan membukanya.
"Adaline." Ucap Hans.
Adaline tersenyum, "Ini sudah beberapa hari kau di rumah, aku ingin mengajakmu keluar."
"Keluar?"
Adaline mengangguk "Iya, kemarin aku menemukan tempat yang bagus. Aku yakin kau akan suka."
Hans mengusap kepala Adaline dan tersenyum, "Iya."
Adaline senang Hans mau ikut bersama dengannya. Karena setelah Hans keluar dari ruang rawatnya, dia tidak mau keluar kemanapun dari area mansion.
Hans meminta Alan untuk menyiapkan mobil dan mengantar mereka ke tempat yang akan Adaline tunjukan.
Setelah mobil siap, mereka pun pergi dari mansion.
"Nona Adaline, apa tempatnya jauh?" Ucap Alan yang tengah mengendarai mobil.
"Tidak, hanya berjarak kurang dari 30 menit."
Hans menatap Adaline yang tengah tersenyum senang.
"Apa kau sangat bahagia?" Ucap Hans.
"Tentu saja, setelah beberapa hari akhirnya kau mau keluar dari mansion."
"Kau sudah tidak takut keluar denganku?"
"Kenapa aku harus takut?"
"Karena aku mempunyai banyak musuh yang bisa kapan saja menyerang."
Hans tertegun mendengar perkataan Adaline yang sudah sepenuhnya mau mengandalkan dirinya.
"Jadi, apa sekarang aku sudah kau jadikan sebagai perisai, hmm?" Ucap Hans.
"Tidak, bukan perisai. Tapi pelindung ku."
Adaline menyentuh pipi Hans dan menatapnya lekat.
"Aku ingin kau selalu melindungiku, tapi bukan berarti kau seperti kak Dave atau Carlos. Kau mengerti maksudku kan Hans." Ucap Adaline.
Hans menatap kedua mata Adaline dengan lekat, "Aku mengerti."
Hans mengecup kening Adaline lalu memeluknya erat.
Alan yang mengemudikan mobil hanya diam, dan berharap agar mereka tidak lagi berselisih seperti sebelumnya.
Tepat di ujung jalan, Alan menghentikan laju mobilnya.
"Kita sudah sampai bos." Ucap Alan.
Hans melihat sekeliling tempat itu.
"Kita akan berjalan sedikit ke atas sana." Ucap Adaline sambil menujuk jalan setapak yang ada di samping kanan mobil.
Hans hanya mengangguk.
"Ayo." Ucap Adaline sambil keluar dari mobil.
"Alan, kau tetap disini. Dan hubungi aku segera jika terjadi sesuatu." Ucap Hans.
"Baik bos."
Setelah turun dari mobil, Hans dan Adaline berjalan menaiki jalan setapak yang di tunjukan oleh Adaline tadi.
Tidak lebih dari 10 menit, mereka sudah sampai di tempat yang Adaline katakan.
Dari tempat itu Hans dan Adaline dapat melihat pemandangan yang sangat indah, merasakan udara yang begitu sejuk dan hangatnya matahari.
"Apa kau menyukainya?" Tanya Adaline pada Hans.
"Kau ternyata tahu tempat yang tidak terduga seperti ini."
Adaline mengangguk, "Kemarin aku merasa sangat bosan dan keluar sendiri, saat aku menyusuri jalan aku sampai di ujung jalan ini. Dan aku melihat jalan setapak yang kita lewati tadi, ketika sampai disini aku merasa tubuhku menjadi lebih nyaman dan perasaanku menjadi lebih baik. Jadi aku pikir kau akan suka jika aku membawamu kesini."
Hans menarik tangan Adaline lalu memutar tubuhnya. Hans memeluk wanitanya dari belakang dan menyenderkan kepalanya pada bahu Adaline.
"Aku sangat menyukainya. Disini terasa begitu tenang dan indah." Ucap Hans.
Adaline menggenggam tangan Hans.
Mereka berdua menikmati keindahan pemandangan di atas bukit berdua tanpa gangguan apapun.
"Maaf karena sudah membuatmu kecewa padaku." Ucap Hans.
"Aku sudah tidak apa-apa, jadi kau tidak perlu meminta maaf lagi."
Hans mencium leher Adaline dan sedikit m*nghisaapnya.
"Hans." Ucap Adaline dengan suara lembutnya.
"Suaramu masih sangat indah."
"Hans."
Hans terkekeh.
Adaline berbalik dan kini kedua mata mereka beradu. Tangan Adaline perlahan menyentuh wajah tegas Hans yang sudah membuatnya tidak bisa berpaling.
"Aku tidak ingin kau melakukannya lagi." Ucap Adaline.
"Aku mengerti."
Adaline mengalungkan tangannya pada leher Hans lalu mencium bibirnya.
Hans menyambut ciuman Adaline, dan mereka berciuman dengan matahari yang semakin menghangatkan tubuh mereka.
"Kita harus segera kembali." Ucap Hans setelah melepaskan ciuman mereka.
"Kenapa?"
"Kau sudah mengg0daku, dan tentu kita tidak bisa melakukannya disini, sayang."
Wajah Adaline seketika merona, mendengar apa yang Hans tadi.
Hans menggendong tubuh Adaline dan berjalan kembali ke mobil.
"Alan, kita kembali ke mansion." Ucap Hans.
"Baik bos."
Alan membantu Hans membuka pintu mobil, tanpa berkata banyak hal pada bosnya yang tengah menggendong Adaline.
Setelah mereka masuk, Alan dengan cepat melajukan mobil kembali ke mansion.