
Hans yang sedang emosi dan cemas segera menghubungi Alan untuk membantunya mencari Adaline.
Saat ini dia tidak ingin lagi melakukan hal itu dengan siapapun, dia tidak peduli akan apa yang terjadi pada dirinya nanti.
Dengan cepat Hans keluar dari hotel saat Alan berkata dia sudah berada di luar hotel.
"Perintahkan yang lain untuk mencari Adaline sekarang, dia pasti tidak akan pergi jauh." Ucap Hans pada Alan setelah masuk kedalam mobil.
"Baik bos."
Alan segera melajukan mobil menyusuri jalanan untuk mencari Adaline.
Mereka tidak tahu jika saat ini Adaline masih berada di dalam hotel itu. Karena Adaline bersembunyi di ruang tangga.
Selama hampir dua jam mereka mencari Adaline kesana kemari, dan mereka masih belum menemukan dimana Adaline berada.
Hans juga sudah berulang kali menghubungi nomor Adaline, tetapi ponsel miliknya tidak aktif.
"Aaaaagh! Kenapa seperti ini?" Seru Hans dengan geram.
Hans tidak bisa mengontrol emosinya, hormon aneh yang di miliki Hans mulai bergejolak lagi karena di belum melakukan hal itu pada wanita yang Alan bawa ke hotel.
"Bos, apa bos mau...."
"Tidak, etap cari dia."
"Tapi bos..."
"Aku bilang cari dia!"
"Baik, baik bos."
Alan kembali menyusuri jalan. Bukan hanya Alan dan Hans yang mencari, tapi 50 anak buah Hans yang lain juga ikut mencari.
Sementara itu, Adaline yang berada di ruang tangga hotel itu, berdiri dan berjalam keluar dari ruangan itu, dan menuju ke kamar yang telah dia pesan.
Di dalam kamar, Adaline menghubungi seseorang dari telefon yang ada di dalam kamar hotel itu, karena dia tahu jika dia menyalakan ponselnya Hans pasti akan langsung menghubunginya, dan tahu dimana dia berada.
15 menit kemudian teman Adaline yanh di hubungi datang.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya teman Adaline saat berada di depannya.
Adaline mengangguk pelan.
Teman Adaline lalu memakaikan topi dan memberikan masker kepadanya.
"Ayo, aku akan membawamu ke apartment ku." Ucap teman Adaline.
"Aaron." Ucap Adaline memanggil temannya itu.
"Iya, kenapa?"
"Bisa kau membantuku melakukan beberapa hal?"
Teman Adaline bernama Aaron mengangguk sambil tersenyum.
"Kita pergi dulu dari sini." Ucap Aaron.
Adaline mengangguk dan mengikuti Aaron.
Aaron membawa Adaline ke mobilnya yang terparkir di ruang bawah tanah hotel.
"Kau tunggu disini. Aku akan melakukan chek out untuk mu." Ucap Aaron.
"Tidak perlu, aku sudah melakukannya. Lagipula aku sudah membayar uang untuk menginap."
"Baiklah, kalau begitu kita pergi sekarang."
"Emm, iya."
Aaron masuk ke dalam mobil setelah melihat Adaline duduk dengan baik di kursi penumpang yang ada di belakang.
Dengan pelan Aaron keluar dari area parkir bawah tanah. Dan benar dugaan Aaron, jika beberapa mobil yang dia yakini adalah mobil yang di pakai anak buah Hans sedang mencari Adaline saat ini.
Ketika Adaline menghubungi Aaron, dia menceritakan hubungannya dengan Hans dan bagaimana dia di hianati oleh Hans.
Setelah melajukan mobilnya, 30 menit kemudian mereka sampai di apartment milik Aaron yang berada dilantai 30.
"Minumlah." Ucap Aaron memberikan air pada Adaline.
"Terima kasih."
"Lalu apa rencana mu?"
"Kau, kau masih membuat identitas palsu untuk orang?"
Aaron mengangguk, lalu duduk di samping Adaline .
"Kenapa, kau ingin pergi dengan identitas baru?" Ucap Aaron.
"Aku..."
Aaron menepuk bahu Adaline, "Pikirkan baik-baik."
"Aku....aku tidak tahu harus bagaimana, aku sangat mencintainya. Tapi pada akhirnya dia..."
"Begini saja, aku mempunyai vila yang berada di sudut kota Y. Setiap satu minggu sekali aku akan kesana untuk menemuimu, dan kau bisa menenangkan diri dulu disana."
"Tapi...kalau dia mencariku dan menyakitimu?"
"Itu tidak akan terjadi, karena itu adalah vila yang kakakku buat untukku, dengan di lengkapi oleh beberapa alat khusus, jadi tidak mudah untuk menemukan lokasinya."
"Terima kasih Aaron."
Adaline memeluk Aaron, selama ini hanya dia yang selalu membantu Adaline saat berada dalam kesulitan.
Aaron sendiri salah satu orang yang tidak mudah untuk dikorek informasnya. Bahkan banyak orang yang penasaran dengan Aaron, karena dia adalah anak dari salah satu orang kaya di negara N.
"Kau istirahatlah dulu, aku akan meminta orangku untuk menyiapkan vila itu untukmu." Ucap Aaron.
Adaline mengangguk.
Aaron lalu mengantar Adaline ke kamarnya untuk beristirahat. Setelah itu, Aaron menghubungi seseorang untuk membersihkan vila yang akan Adaline tinggali sementara waktu.
"Hans, kita lihat seberapa hebat kau dan seberapa lama waktu yang kau butuhkan untuk menemukan Adaline." .
Aaron membiarkan Adaline tidur di kamar tamu, lalu dia keluar rumah untuk membeli sesuatu.
...----------------...
Di mansion, Hans yang tidak bisa menahan diri hanya bisa duduk di di dalam bathtub dengan air dingin.
Dia membiarkan dirinya menggigil karena menahan keinginannya untuk berhubungan intiim dengan orang lain.
Alan yang sudah menunggu lebih dari 30 menit merasa khawatir, karena Hans belum juga keluar dari kamar mandi.
"Adaline, dimana kau sekarang?" Gumam Hans.
Hans berendam di dalam air dingin selama lebih dari 30 menit membuat suhu badan Hans naik, wajahnya pucat dan tubuhnya sangat panas.
Alan yang melihat Hans berjalan terhuyun keluar dari kamar mandi, dengan cepat Alan menangkap tubuh Hans yang akan jatuh kelantai.
"Bos, badan bos panas sekali." Ucap Alan.
Alan lalu memapah tubuh Hans, dan membaringkannya di atas ranjang.
"Aku akan menghubungi Rio sekarang." Ucap Alan.
Setelah membaringkan Hans di atas ranjangnya, Alan menghubungi Rio agar dia cepat datang ke mansion.
Sementara menunggu Rio sampai, Alan mencoba menurunkan suhu tubuh Hans dengan mengompresnya.
1 jam kemudian Rio datang dengan tergesa-gesa.
"Apa yang terjadi dengan bos?" Tanya Rio saat masuk ke dalam kamar Hans.
"Bos berendam air dingin selama lebih dari 30 menit, dan saat keluar dia sudah seperti ini."
Rio memeriksa tubuh Hans dengan serius, lalu menyuntikan obat pada tubuh Hans.
Rio juga mengeluarkan satu botol cairan, selang infus dan meminta Alan untuk mengambil tiang penyanggah botol infus, yang berada di ruang kesehatan mansion itu.
20 menit kemudian suhu tubuh Hans berangsur turun.
Ini kali kedua Hans mengalami hal seperti ini, yang pertama saat dia mencoba untuk menghentikan hormonnya dengan cara yang sama, dan kali ini pun begitu.
"Biarkan bos istirahat, jika dalam dua jam bos belum siuman juga. Kita terpaksa membawanya kerumah sakit." Ucap Rio.
"Kau tidak bercanda bukan?"
"Tentu saja tidak."
"Kau tahu, bos tidak akan setuju jika kita membawanya ke rumah sakit. Kau harus melakukan yang terbaik, kau juga seorang dokter."
Rio menatap Alan yang sangat khawatir pada Hans, "Aku pasti akan melakukan yang terbaik untuk bos, tetapi dimana nona Wilson?"
"Itulah yang membuat bos seperti ini."
"Jadi karena dia?"
Alan menghela nafas, dia lalu menarik tangan Rio untuk keluar.
"Kita keluar, aku akan menceritakan semuanya."
Rio mengangguk lalu mengikuti Alan keluar dari kamar Hans.
Di ruang keluarga, Alan menceritakan apa yang terjadi di hotel pada hari itu.
Rio mendengarkan dengan seksama, dan dia sempat terkejut mendengarnya karena dia pikir selama ini hubungan bosnya dan Adaline baik-baik saja.
"Jadi karena nona Wilson tahu bos bermain dengan wanita lain, dan bos tidak menemukan dia. Jadi....."
Alan mengangguk, "Benar, dan kami telah mencari selama beberapa jam."
"Jadi sampai sekarang kalian belum menemukan nona Adaline?"
Alan menggeleng, "Belum, kita sudah melacaknya dan kita juga sudah melihat cctv di setiap sudut jalan. Tapi tidak ada hasil."
Rio mengangguk mengerti.
Mereka tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya, begitu juga dengan Hans. Jadi saat ini mereka hanya bisa menunggu Adaline datang dengan keinginannya sendiri.
Tapi semua akan sulit bagi Hans, karena kondisinya saat ini benar-benar tidak baik.
...----------------...
Sudah dua hari ini Adaline tinggal di vila milik Aaron, dan tidak banyak yang dia lakukan di vila itu.
Adaline juga sengaja tidak menyalakan ponselnya sejak dia masih di hotel itu sampai sekarang.
Selama ini Hans selalu merahasiakan banyak hal dari Adaline, dan kemarin salah satu rahasia Hans yang selalu keluar sendirian atau hanya berdua dengan Alan, dengan alasan pergi ke suatu tempat sudah Adaline ketahui dan membuatnya kecewa.
"Kenapa kau melakukannya Hans, apa karena beberapa minggu ini aku selalu menolakmu, dan kau sudah mengetahui apanyang terjadi padaku, jadi kau seperti itu?" Gumam Adaline.
Adaline duduk di kursi dan menekan remote kontrol untuk melihat acara di televisi.
Kedua mata Adaline membulat saat melihat sebuah berita.
"Saat ini di kabarkan seorang CEO dari perusahaan H Group sedang di rawat intensif di kediamannya, tidak ada seorang pun yang tahu sebab dari sakit yang dia alami secara mendadak itu. Salah seorang wartawan kami berkata bahwa sudah dua hari CEO Hans tidak pergi ke perusahaannya, dan hanya asisten pribadinya saja yang datang menggantikan dirinya."
Adalah berdiri dengan tidak percaya, keduanya matanya melihat sendiri apa yang di beritakan oleh salah satu pembawa acara berita tadi.
"Ha....Hans sakit?" Ucap Adaline.
Selama ini tidak pernah ada berita tentang kehidupan Hans, apakah itu tentang dirinya yang berhasil dalam dunia bisnis ataupun yang lainnya.
Tentu saja itu karena Hans selalu melarangnya,tetapi kali ini Alan sengaja memberitakan keadaan Hans untuk menarik Adaline keluar dari persembunyiannya, karena itu berita mengenai Hans yang sakit telah menjadi berita hangat hari ini.
Adaline tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang, dia sangat mengkhawatirkan Hans. Tetapi dia juga masih dangat ingat bagaimana Hans menyakiti hatinya.
Drrrrrrrtt ddrrrrrrrt
Telefon yang ada di vila berbunyi, dan Adaline tahu itu pasti Aaron.
Adaline : Halo
Aaron : Adaline, kau sudah melihat berita di tv hari ini?
Adaline : iya, aku....baru saja melihatnya.
Aaron : Lalu apa keputusanmu?
Adaline : ....Aku tidak tahu.
Aaron : Jika kau ingin terus disana dan tidak mau lagi peduli dengan Hans, maka kau tidak perlu pergi.
Adaline : ........
Aaron : Adaline, aku tahu kau masih peduli padanya, bagaimanapun kalian adalah sepasang kekasih. Kalian harus berbicara satu sama lain.
Adaline : Aaron.
Aaron : Aku tidak akan memaksamu, pikirkan semuanya dengan baik. Kau sudah dewasa untuk memilih jalan hidupmu.
Adaline : Aku....aku mengerti.
Aaron : Jika begitu, aku tunggu keputusanmu.
Adaline : Iya.
Adaline meletakkan kembali gagang telefonnya lalu duduk di kursi.
Satu sisi dia tidak ingin berbicara dengan Hans karena hatinya merasa sangat sakit, tetapi disisi lain apa yang Aaron katakan benar,bmereka harus membicarakan semuanya dengan baik-baik agar semua menjadi jelas.
Adaline juga ingin tahu alasan Hans melakukan itu di belakangnya. Karena selama ini Hans sudah melindunginya, bahkan dia juga menyelamatkannya dari keluarga yang mengincar nyawanya. Dia mengingat semua yang sudah mereka alami beberapa waktu ini, dan tanpa terasa air matanya mengalir.
"Apa yang harus aku lakukan kak Dave?" Ucap Adaline.