ADALINE (My Young Lady)

ADALINE (My Young Lady)
Part 22



Hans melangkah keluar dari mansion, dan melajukan mobilnya menyusuri jalanan siang itu tanpa Alan atau anak buahnya.


"Lion Blue. Aku akan mengurus kalian setelah hari peringatan kakak ku selesai." Ucap Hans.


Kedua matanya menatap tajam kedepan di balik kaca mata hitamnya.


Dengan laju mobil yang tidak begitu cepat, Hans sampai di depan Club* miliknya.


Seseorang yang berada di luar Club* yang nampaknya sedang menumpuk krat botol menoleh dan tersenyum kearah Hans.


"Selamat siang bos. Tumben sekali bos kesini siang hari." Sapa b4rtender kepercayaannya itu.


"Aku sedang bosan."


"Hahaha baiklah, bos masuk saja dulu. Aku akan membuatkan minuman yang kemarin aku buat."


"Apa baru?"


"Tentu saja bos."


"Baiklah, bawa ke tempat ku"


"Siap bos."


Hans langsung masuk kedalam Club* yang memang masih tutup itu.


Seolah telah memahami tempat itu, Hans berjalan dengan santai di ruangan yang minim cahaya itu. Dalam sekejap Hans sudah berada di lantai atas, di salah satu ruang VIP yang biasa dia tempati ketika datang ke sana.


Hans duduk di salah satu sofa dan menyenderkan tubuhnya, kedua matanya mulai tertutup.


Tidak lama suara ketukan terdengar. Hans membuka matanya perlahan.


"Bos, ini minuman yang tadi aku katakan." Ucap b4rtender itu setelah masuk.


B4rtender itu berjalan mendekati Hans, lalu memberikan gelas berisi minuman buatannya pada Hans.


(Minuman ini maksudnya adalah minuman beralk0hol ya, dan b4rtender disini adalah seorang wanita)


Hans menerima gelas itu, lalu menghirup aroma dari minuman yang ada di tangannya dan meminumnya perlahan.


"Bagaimana bos?" Ucap b4rtender yang masih berdiri di deoan Hans.


"Hmm, lumayan."


"Kenapa hanya lumayan?"


Hans memicingkan salah satu alisnya pada b4rtender kepercayaannya itu.


B4rtender yang sudah sangat paham dengan maksud Hans, berjalan lebih dekat dan saat berada didepan Hans, b4rtender itu berjongkok dan menatap Hans.


"Lakukan, bukankah kau sudah merindukannya?" Ucap Hans.


B4rtender itu tidak menjawab, namun tangannya mulai membelai gundukan yang ada di depannya dengan salah satu tangannya.


Hans menikmati sentuhan itu sambil menyesap kembali minuman yang berada di tangannya .


Tangan b4rtender itu sangat lihai, hanya dalam waktu lima menit bisa membuat gundukan yang semula kecil berubah menjadi besar.


Dengan perlahan b4rtender itu membuka pengait dan kain yang menutupi gundukan itu.


"Kau semakin ahli." Ucap Hans memuji b4rtendernya


"Tentu."


"Sudah berapa banyak yang sudah kau bikin lemas?"


"Bos, apa bos lupa kalau aku hanya mau menyentuh milik bos?"


"Hahaha, benarkah?"


"Baiklah, lanjutkan."


B4tender itu mengangguk, dan dengan terampil tangan b4rtender itu berhasil menyingkirkan kain yang menghalanginya itu.


Timun Hans yang sudah mengeras begitu menggiurkan di mata B4rtender itu.


Perlahan b4rtender itu m*njil4ti ujung timun besar itu, lalu menjalar kebawah.


"Be good girl." Ucap Hans dengan suara tertahan.


B4rtender itu mengangguk, lalu menundukkan kepalanya dan seketika timun itu masuk ke dalam mulutnya.


Merasakan timun itu menyentuh pangkal tenggorokan b4rtendernya, Hans mendongak menikmati sambil memejamkan matanya.


B4rtender itu lalu memainkan timun besar, menarik dan memasukan kembali pada muluutnya.


Setiap gerakan dan tindakan B4rtender itu membuat Hans sedikit mengeluarkan suara indahnya.


Kurang lebih 45 menit Hans mendapatkan bl0wjob* dari b4rtendernya, hingga akhirnya timuj itu mengeluarkan banyak getah yang di tunggu oleh b4rtendernya itu.


Dengan senang hati getah itu di telan habis, bahkan yang ada di ujung timun pun tidak luput.


Hans melihat itu dengan senyum dinginnya. Entah sudah berapa kali timun besar itu mengeluarkan getah miliknya pada muluut b4rtender itu.


"Oke, sudah bersih bos." Ucap b4rtender itu sambil mengelap sisa getah yang ada di sudut bibirnya.


"Good job."


Hans berdiri dan merapikan kembali celaananya.


"Nanti sore akan datang sejumlah barang, aku akan mengirimkan jumlahnya ke email mu." Ucap Hans.


"Baik bos."


Hans berjalan keluar dari ruang VIP itu.


"Bos." Ucap B4rtendernya.


Hans berhenti dan menoleh, "Ada apa?"


"Minggu depan apa aku boleh ambil cuti?"


"Kenapa?"


"Aku ada kencan buta."


Hans menatap b4rtendernya heran.


"Ayolah bos, aku juga ingin punya pacar yang bisa melakukan itu pada ku."


Hans menggelengkan kepalanya mendengar ucapan anak buahnya itu.


"Apa hanya itu tujuanmu?"


"Ya tidak juga, bos. Tapi setiap kali aku melakukan tugas tambahan pada bos, aku selalu ingin merasakan bagaimana rasanya timun itu masuk ke dalam, hehehe."


"Ck! Kau ini."


"Jadi, apa boleh bos?"


"Ya pergilah, tapi minta yang lain untuk menggantikan mu."


"Siao, terima kasih bos."


Hans berjalan keluar dari Club* tanpa menjawab ucapan dari b4rtendernya itu.


(Hayoooo, pada traveling ya baca part ini 🤭😅)