ADALINE (My Young Lady)

ADALINE (My Young Lady)
Part 34



"Bos. Jika bos merasa dada bos sesak dan seperti ada rasa sakit disana saat mendengar pertunangan seseorang. Itu artinya bos menyukai orang itu." Ucap Joe.


"Hmm, benarkah? Apa...Kau juga pernah merasakan itu?"


"Iya bos, dulu saya juga pernah merasakannya."


Hans hanya mengangguk lalu meneguk wine terakhir yang ada di dalam gelasnya.


"Bos, sudah cukup. Kau sudah mulai mabuuk." Ucap Joe.


"Aku baru minum beberapa gelas Joe."


"Bos, kau sudah minum hampir satu botol wine dengan kadar alk0hol yang tinggi."


"Aku tidak tahu apa itu suka, sejak dulu aku tidak pernah menjalin hubungan dengan orang lain yang di dasari oleh perasaan. Mereka hanya menghangatkan ranjangku dengan suka rela."


"Saya tahu bos, saya rasa ini kali pertama bos menyukai seseorang. Dan orang itu adalah dari keluarga Wilson, yang membuat bos kesulitan."


"Hmm, aku tidak tahu. Aku juga tidak mengerti semua perasaan ini."


Joe melihat bos nya yang sangat bingung. Pasalnya dia sendiri memang belum pernah melihat ada orang yang benar-benar Hans sukai.


"Kau habiskan saja wine nya." Ucap Hans sambil menepuk bahu Joe, lalu berjalan pergi.


"Kau mau kemana bos?"


Hans tidak menjawab, dia hanya mengibaskan tangannya ke atas.


Hans berjalan sendiri menuju ruang rawat dimana Adaline berada. Dengan pelan Hans membuka pintu ruangan itu, lalu melihat Adaline yang masih terbaring memejamkan matanya.


Hans berjalan mendekati Adaline,dan duduk di sampingnya sambil terus menatap lekat wajah Adaline.


"Kau.... Bagaimana bisa ini suka? Dan kenapa harus kau orangnya?"


Hans meraih tangan Adaline dan tanpa sadar menggenggamnya dengan erat.


Perlahan Hans membaringkan kepalanya diatas tangan Adaline yang dia genggam, seolah takut jika dia bangun nanti Adaline tidak lagi ada disana.


...----------------...


Dua hari kemudian Adaline yang sejak kemarin kembali ke rumahnya, duduk di depan taman bunga.


Kemarin begitu sampai dirumah, dia mendapatkan kabar dari kediaman lama jika mereka sudah memutuskan untuk menjodohkan Adaline dengan salah satu anak dari keluarga negara M.


Dalam hal pernikahan, Adaline memang tidak bisa memilih, semua sudah di atur oleh para tetua di kediaman lama.


Meski begitu, Adaline masih berharap jika dia masih bisa menikah dengan orang yang dia cintai. Karena pernikahan yang di atur oleh para tetua merupakan pernikahan aliansi, semua dilakukan agar nama keluarga lebih di kenal dan di hormati.


"Nona muda." Ucap Carlos.


"Ada apa, Carlos?"


"Anda baik-baik saja? Setelah kembali dari mansion Hans, anda sering terlihat sendirian dan melamun."


"Aku baik-baik saja."


"Nona muda, tentang perjodohan itu... Jika nona muda tidak mau menikahi anak dari..."


"Carlos, jika aku tidak menuruti mereka. Sudah di pastikan aku bisa mereka usir kapan saja dari kartu keluarga Wilson. Bukankah dari dulu aturan pernikahan keluarga ini memang seperti ini? Hanya saja, mereka ingin aku menikah dengan laki-laki yang tidak aku kenal."


"Tapi nona muda, apakah anda harus mengorbankan kebahagiaan anda untuk mereka, yang bahkan sering mencelakai anda di belakang?"


"Itu urusan mereka Carlos, bagiku mempertahankan hasil jerih payah kakek dan ayahku adalah sebuah kewajiban. Aku tidak ingin mereka dan sifat rakus yang mereka miliki menikmati semua ini."


"Anda benar, selama ini di keluarga Wilson hanya ayah dan kakek anda saja yang bekerja sangat keras, sementara yang lainnya hanya bisa menikmati. Meskipun ada diantara mereka masih mau bekerja, tetapi tetap saja. Mereka begitunhaus akan kekayaan yang di miliki oleh keluarga Wilson ini."


"Sifat orang berbeda-beda, Carlos. Mereka yang serakah akan melakukan banyak hal untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, walaupun tahu itu milik orang lain. Buktinya ada paman Quan yang berbeda, dia memilih pindah keluar bersama keluarganya setelah tahu jika semuanya kakek berikan padaku."


"Tuan Quan memang berbeda. Yang saya tahu, tuan Quan sendiri mempunyai sebuah restoran yang cukup besar, dan dengan mengandalkan itu, tuan Quan sudah merasa cukup."


"Jadi nona muda benar-benar akan menerima perjodohan itu?"


"Kau selidiki dulu siapa laki-laki yang akan menikah dengan ku. Mereka sungguh bertindak sangat buru-buru."


"Baik, nona muda."


Carlos pergi meninggalkan Adaline, untuk mencari tahu siapa laki-laki yang akan di jodohkan dengan nona mudanya.


"Menikah ya? Apa kau juga kelak akan menikahi orang yang kau cintai Hans?" Ucap Adaline sambil menatap langit yang begitu cerah.


Adaline berdiri dan bermaksud kembali ke kamarnya, tapi langkahnya terhenti. Kedua matanya menatap sebuah lukisan yang telah dibawa pulang ke rumahnya dari kediaman lama.


Dengan teliti Adaline menatap lukisan itu, ada sesuatu yang membuatnya ganjil. Lukisan itu terlihat tidak simetris seperti lukisan-lukisan lain yang ada di kediaman lama.


Adaline mencoba menyentuh lukisan itu, dia merasakan sebuah benda keras pada setiap bukit yang ada di lukisan itu.


Itu adalah lukisan 3D, yang timbul keluar. Tetapi Adaline masih bisa membedakan mana yang timbul karena di buat agar terlihat bagus, dan mana yang tidak.


"Tonjoolan ini, jenapa sangat keras dan berbeda?" Gumam Adaline sambil menyentuh lukisan yang ada di depannya.


Adaline lalu menurunkan lukisan itu dan membawanya ke dalam kamar.


Di dalam kamar, Adaline meletakkan lukisan tadi di atas meja, dia lalu memperhatikan kembali lukisan itu dengan lebih teliti.


Adaline duduk diatas lantai, lalu dia melihat lukisan itu dari samping. Dan benar, t0njolan pada masing-masing bukit berbeda. Salah satu bukit terlihat lebih menonjol di bandingkan dengan dua bukit lainnya.


Dengan perasaan yang penasaran Adaline berjalan menuju nakas dan mengambil gunting yang ada di dalam laci nakasnya.


"Maaf kakek, karena aku harus merusak lukisan ini." Ucap Adaline sebelum menggunting lukisan itu.


Adaline mulai menggunting lukisan itu dari samping, dan perlahan menggunting ke arah bukit. Setelah menggunting hingga ke tengah, dia berhenti karena gunting yang dia pakai seperti menyentuh sesuatu yang keras, ketika akan menggunting salah satu bukit yang ada di dalam lukisan itu.


Dengan hati-hati Adaline mencoba merobek lukisan itu dengan tangannya.


"Berlian?" Gumam Adaline saat melihat sebuah berlian yang cukup besar di balik salah satu bukit dalam lukisan.


Adaline kembali merobek lukisan itu, dan mendapatkan dua berlian yang lainnya.


"Bagaimana bisa ada berlian di lukisan ini?" Ucap Adaline dengan bingung.


Selain berlian, di balik lukisan itu juga ada sebuah surat yang mungkin sengaja di sembunyikan oleh kakek Adaline.


Adaline membuka dan membaca surat yang tersembunyi itu.


Isi surat:


"Adaline, kakek tahu paman-pamanmu akan melakukan segala cara untuk membuatmu jatuh dan pergi meninggalkan keluarga Wilson. Adaline, kakek akan memberitahu sesuatu padamu, ini adalah rahasia yang selama ini kakek dan nenekmu simpan. Ayahmu sebenarnya adalah seorang anak yang kakek bawa dari dalam hutan, ketika kakek dan nenek mu tersesat dulu. Kakek dan nenek sepakat untuk mengangkatnya sebagai anak karena dia adalah anak yang baik, dan ketika itu kakek dan nenek belum diberi keturunan setelah hampir 7 tahun menikah. Adaline, kakek dan nenek selalu menyayangi ayah, ibu dan dirimu. Kami tidak pernah membedakan ayahmu dengan paman-pamanmu. Nenekmu merasa khawatir dengan masa depanmu, karena dia juga tahu jika kelak mungkin paman-paman mu akan tahu siapa ayahmu. Ketiga berlian ini kakek dan nenekmu sembunyikan di dalam lukisan untuk membiayai kehidupanmu di masa depan. Kakek sudah sangat bahagia mempunyai cucu yang begitu berbakti dan baik seperti dirimu. Jika kau tidak bisa lagi berada di kediaman Wilson, maka berjalan dan pergilah. Kakek tidak mau kau terluka karena paman-pamanmu. Kau akan selalu menjadi cucu terbaik kakek dan nenek walaupun kau sudah meninggalkan keluarga Wilson.


Kakek juga mempunyai satu vila di pinggiran kota, tidak ada satu orangpun dari keluarga Wilson yang mengetahuinya. Pergi dan tinggalah disana, cucuku. Kakek sungguh tidak mau kau hidup dengan tidak bahagia seperti ayahmu dulu. Hiduplah dengan bahagia dan tanpa beban dari keluarga Wilson. Kakek akan selalu mendukung semua keputusanmu."


Kakekmu.


Adaline terkejut membaca seluruh isi surat itu, dia tidak menyangka jika orang tuanya bukanlah keturunan dari keluarga Wilson.


"Ayah, jadi..."


Adaline membaca kembali surat itu dan memang benar itu adalah tulisan dari kakeknya.


"Jadi, apakah sekarang aku sudah bisa melepaskan keluarga Wilson?"


Adaline memegang surat itu dengan tangan gemetar. Dia juga melihat tiga berlian yang bernilai sangat mahal tergeletak diatas meja.


Di dalam lukisan juga terdapat kunci vila yang kakeknya katakan di dalan surat itu.


"Kakek, apakah kakek benar-benar tidak keberatan jika aku keluar dari keluarga Wilson? Keluarga yang sudah membesarkan aku."