ADALINE (My Young Lady)

ADALINE (My Young Lady)
Part 33



Alan melihat Hans yang sangat khawatir, baru kali ini dia melihat bosnya begitu mengkhawatirkan orang lain selain Nana yang pernah mencoba bunuh diri.


"Bos, lebih baik bos membersihkan diri dulu. Saya akan memanggil bos jika Rio sudah keluar." Ucap Alan dengan pelan.


Hans menatap Alan, dia ingin memarahi Alan.Tapi saat ini apa yang Alan katakan benar.


Tubuhnya penuh dengan darah Adaline, bahkan luka-luka yang ada di tubuhnya belum dia obati karena sangat mengkhawatirkan keadaan Adaline di dalam sana.


"Aku ingin melihat Bao Long." Ucap Hans.


"Bos, Joe sudah ada disana."


"Joe?"


"Benar bos. Setelah tahu Bao Long melukai bos dan mencoba membunuh bos. Dia langsung menyeret Bao Long ke ruang bawah tanah."


Hans mengangguk, dia tahu bagaimana sifat Joe.


Kali ini dia akan membiarkan Joe melakukan apa yang dia ingin lakukan pada tubuh Bao Long. Karena bagi Hans itu pantas, sebab sudah membuatnya seperti sekarang ini.


Siapapun yang sudah ada ditangan Joe, mereka akan lebih memilih cepat mati dari pada harus merasakan siksaan demi siksaan yang Joe lakukan.


"Kau tetap disini." Ucap Hans.


"Baik bos."


Hans berjalan di koridor yang menghubungkan ruang operasi dengan rumah besarnya.


Ya, Hans membangun ruang operasi dan ruang rawat sendiri di setiap rumah atau mansion miliknya. Dengan dokter yang handal, dan tentunya dokter itu adalah anak buah Hans yang sudah Hans latih dan Hans kuliahkan khusus pada bidang kesehatan.


Hans melihat Carlos yang duduk di sudut kursi. Tetapi dia tidak bernina untuk berbicara dengan Carlos.


Alan meninggalkan tempatnya dan berjalan mendekati Carlos.


Sementara itu Hans berjalan ke kamarnya untuk membersihkan dirinya.


Didalam kamar mandi Hans melihat pantulan dirinya didalam cermin, "Kakak, apa ini tujuanmu? Aku berhutang nyawa pada orang yang sudah membuatmu mati."


Hans melepaskan semua pakaiannya, dan membasahi tububnya dengan air shower.


Rasa perih dari luka-luka yang baru saja dia dapatkan seolah tidak berarti baginya, dia sudah sering merasakan rasa perih itu bahkan lebih dari itu.


Hans membersihkan dirinya, menggosok tubuhnya yang penuh dengan luka dan lebam, juga tidak sedikit bekas luka lama yang dia dapatkan dulu.


Setelah selesai, Hans keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang baru. Dia kemudian berjalan keluar dari kamarnya.


"Bos." Ucap Rio.


"Katakan."


"Ka... Kami kekurangan darah."


Kedua mata Hans terbuka lebar, "Bagaimana bisa? cepat cari darah yang sesuai dengan darahnya."


"Bos, kita sudah mencari beberapa orang disini, tetapi tidak ada yang sama."


"Lalu?"


"Alan berkata jika darah bos sama dengan darah orang dari keluarga Wilson itu."


"Apa?"


"Bos, kita tidak punya banyak waktu. Jantungnya sempat berhenti beberapa detik saat aku mengambil peluru dari punggungnya."


"Baik, kita kesana sekarang."


Dengan cepat Hans dan Rio berjalan ke ruang operasi.


Hans tidak habis pikir setelah insiden seperti itu, ternyata dia masih harus menghadapi hal seperti ini.


"Bukankah ini terlalu kebetulan?"


Hans langsung berbaring setelah sampai diruang operasi. Dia melihat tubuh Adaline yang terbaring lemah di ranjang yang lainnya.


Rio menyiapkan jarum dan selang untuk memindahkan darah Hans ke tubuh Adaline.


Akan membutuhkan waktu jika harus menempatkan darah itu kedalam kantong, jadi Rio akan langsung melakukan tranfusi darah Hans itu.


"Bos, saya akan melakukannnya sekarang." Ucap Rio pada Hans.


Hans mengangguk memberi persetujuan.


Dengan hati-hati Rio menyuntikkan jarum ke lengan Hans, lalu membiarkan darah Hans mengalir ke tubuh Adaline.


Hans melihat darahnya mengalir melalui selang, lalu menatap wajah Adaline yang pucat.


"Apakah dengan ini kita sudah menyatu?"


Dalam melakukan transfusi darah itu, Hans tidak mengalihkan pandangannya dari wajah pucat Adaline. Dan entah kenapa, ada rasa takut jika Hans memalingkan tatapannya itu.


Setengah jam kemudian Rio mencabut selang yang ada di lengan Hans, lalu memberi plester pada bagian yang di suntik sebelumnya.


"Apa sudah cukup?" Tanya Hans.


"Sudah bos, lebih baik sekarang bos istirahat dulu, saya akan melakukan sisanya."


Hans kembali mengangguk, lalu tak berapa lama dia memejamkan matanya


...----------------...


Hari berikutnya, Hans belum mendapat kabar tentang Adaline.


Karena setelah dia mendonorkan darahnya dan tertidur, Rio kembali melakukan pemeriksaan pada Adaline.


Dan pada sore harinya Hans tidak menemukan tubuh Adaline di ruang operasi.


Alan berkata Rio memindahkan Adaline ke ruang rawat. Dan siang ini Carlos datang menemui Hans.


Dan di sinilah mereka berdua sekarang, di ruang kerja Hans.


"Bagaimana kabar Adaline Wilson?" Ucap Hans.


"Dia masih belum sadar."


"Hmm, bagaimanapun dia sudah menolong ku."


"Hans, bagaimana perasaan mu sekarang? Orang yang kau anggap sebagai penyebab kematian kakakmu, telah menyelamatkan nyawamu. Sama persis seperti Dave menyelamatkanku."


"Aku anggap semuanya impas."


"Hans Edward!" Seru Carlos dengan tatapan tajamnya.


Carlos benar-benar tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran Hans. Bagaimana bisa dia mengatakan hal itu.


"Carlos, aku juga menyelamatkan nyawanya dengan darahku." Ucap Hans dengan santai.


Carlos menganggukan kepalanya mencoba meredam emosinya.


Hans tertegun sejenak, ada perasaan yang aneh dan mencubit dadanya. Namun dia hanya mengangguk menanggapi ucapan Carlos.


"Hmm, baik kalau begitu." Ucap Hans.


Carlos keluar dari ruang kerja Hans dengan perasaan kesal.


Sementara di dalam ruangan Hans mencoba menenangkan dirinya, yang tidak tahu apa yang terjadi dengan dadanya yang tiba-tiba merasa sesak itu.


Hans mengepalkan tangannya kuat, dia mencoba mengatur nafasnya yang tidak terkontrol setelah mendengar bahwa Adaline akan bertunangan.


"Apa yang terjadi padaku? Bukankah ini tidak ada kaitannya dengan ku? Dia mau bertunangan atau menikah dengan siapapun, itu sama sekali tidak ada kaitannya denganku." Ucap Hans.


Hans berdiri dan bergegas keluar dari ruang kerjanya.


"Alan. Alan." Ucap Hans.


Alan yang mendengar suara Hans langsung berlari mendekat.


"Ada apa bos?"


"Ambilkan aku wine di ruang bawah tanah."


"Apa bos mau minum?"


"Iya. Ambil 1869."


"Baik bos."


Alan sangat tahu minuman kesukaan Hans, hanya dengan mengucapkan tahun pembuatannya Alan sudah tahu wine mana yang harus dia ambil.


Alan berjalan menuju ruang penyimpanan wine yang ada di ruang bawah tanah.


Sambil menunggu Alan, Hans mengambil gelas dan duduk di bar* mini miliknya.


Sudah cukup lama Hans tidak minum di rumah. Dia biasanya akan minum di Club* atau bar* miliknya.Dan itu pun whiskey* yang dia minum.


"Alan." Ucap Joe.


"Iya. Apa kau sudah membereskan semuanya?"


"Tentu."


Yang Alan maksud adalah membereskan ruang bawah tanah, karena kemarin Joe telah menyiiksa Bao Long dengan puas dan setelah itu membunuh Bao Long. Jadi hari ini dia harus membereskan ruang bawah tanah itu.


"Untuk apa kau mengambil wine?" Ucap Joe.


"Bos bilang dia ingin minum?"


"Apa bos sedang ada masalah?"


"Orang yang membuat kakaknya meninggal menolong nyawanya, dan darahnya juga menyatu dalam tubuh keluarga Wilson itu kemarin. Menurutmu apa bos sedang dalam kondisi yang baik?"


"Hmm, benar juga."


"Sudah, kalau kau mau kau bisa menemani bos."


"Kau?"


"Aku masih harus mengawasi Nana, hari ini dia akan mulai berlatih menggunakan pist0l."


Joe mengangguk, dia lalu mengikuti Alan ke bar mini.


"Bos, ini wine nya." Ucap Alan saat berada di samping Hans. M


"Hmm, letakkan disini."


Setelah membuka tutup botol wine, Alan meletakkan wine itu di samping Hans.


"Joe, kau mau ikut minum juga?" Ucap Hans.


"Hehe, tentu bos."


"Ambil gelasmu."


Joe dengan senang hati mengambil satu gelas.


"Alan?" Ucap Hans sambil menatap pada Alan. M


"Tidak bos, Nana masih menunggu di ruang latihan."


"Hmm, latih dia dengan baik."


"Siap bos."


Joe menuangkan wine kedalam gelas milik Hans lalu menuangkan pada gelasnya sendiri. Dia melihat tahun pembuatan wine itu. Dan kadar alk0hol yang terkandung.


"Apa bos benar-benar sedang merasa tidak baik? Meminum wine dengan kadar alk0hol seperti ini? Bahkan aku saja tidak tahu setelah gelas ke tiga, akan bisa minum lagi atau tidak."


Selain psik0 nomor dua, Joe juga mempunyai kemampuan minum yang kuat di bandingkan dengan anak buah Hans yang lainnya.


Jadi tidak heran jika Joe juga mempunyai koleksi wine dan araak di dalam kamarnya.


Hans meminum wine itu dalam sekali teguk.


Joe membulatkan kedua matanya, karena Hans meminum habis wine yang dia tuangkan tadi dalam satu tegukan.


"Bo... Bos." Ucap Joe.


"Hmm?"


"Apa bos sedang ada masalah?" Ucap Joe dengan hati-hati.


Hans diam, lalu menuangkan wine ke dalam gelasnya sendiri.


Joe yang tidak mau membuat bos nya marah memilih untuk diam dan menikmati wine miliknya.


Hans sudah minum wine itu lebih dari setengah botol, dan kepalanya kini terasa sedikit pusing.


Joe melihat Hans begitu sulit menjalani semuanya. Walaupun dia tidak tahu seperti apa bos nya dulu, tapi dia yakin jika kehidupan bos nya tidaklah begitu bagus.


"Bos."


"Joe, katakan padaku. Jika kau mendengar seseorang akan bertunangan atau menikah dengan orang lain, tapi disini kau merasa sesak. Apa kau tahu maksudnya?" Ucap Hans sambil menunjuk dadanya sendiri ketika berkata pada Joe.


"Siapa orang yang akan bertunangan bos?"


Hans meminum lagi wine nya.


"Dia... Adaline... Wilson."


Joe mengerutkan keningnya, "Apa bos menyukainya?"


"Suka? Apa itu bisa di katakan suka?"