ADALINE (My Young Lady)

ADALINE (My Young Lady)
Part 10



Hans menggendong tubuh Adaline yang sudah lemah kembali ke ruang VIP.


Didalam ruang VIP itu, ada sebuah kamar yang biasa Hans pakai saat dia tidak bisa pulang ke mansion karena m4buk.


Hans membaringkan tubuh Adaline Wilson diatas ranjang yang tidak begitu besar itu.


"Hans, panas. Tolong aku Hans." Adaline kembali mencoba membuka k4ncing bajunya.


Tatapan mata Adaline begitu sayu, dan wajahnya sudah sangat merah menahan g4irah yang ada didalam tubuhnya.


"Dimana dokternya?" Tanya Hans pada Carlos.


"Dia akan datang sebentar lagi."


Carlos berusaha membantu Hans untuk mencegah Adaline membuka bajunya.


10 menit kemudian dokter sampai. Salah seorang pelayan Club* mengantar dokter itu ke ruang VIP.


"Dokter, tolong dia." Ucap Hans.


Dokter langsung memeriksa keadaan Adaline Wilson yang terbaring di atas ranjang.


"Apa dia di beri obat p*rangs4ng jenis B?" Tanya dokter itu.


Hans yang mengetahui jenis-jenis obat p*rangs4ng membulatkan matanya.


"Apa... Apa dia..."


"Benar, sepertinya dia sudah meminum obat p*rangs4ng jenis B. Dan anda pasti tahu cara mengobatinya."


Hans mengusap wajahnya kasar.


Hampir semua dokter di wilayah itu terjun di dunia bawah, karena mereka tahu jika hanya mengandalkan kehidupan dari dunia atas itu tidak cukup.


Jadi mereka pun masuk ke dalam dunia bawah, dan yang pasti mereka sudah sangat mengerti jenis obat apapun yang ada di dunia bawah.


"Hans, apa maksud dari ucapan dokter itu?" Tanya Carlos dengan cemas.


"Baik dokter aku mengerti. Terima kasih." Ucap Hans pada dokter itu.


Dokter itu mengangguk, kemudian dia pergi meninggalkan ruangan itu.


"Dokter. Hans, katakan kenapa dokter itu pergi, dan ada apa dengan nona muda?" Tanya Carlos lagi.


Carlos menatap Hans dengan penuh rasa khawatir. Dia takut terjadi sesuatu pada tuan mudanya.


"Carlos, Adaline... Dia sudah di beri obat p*rangs4ng jenis B." Ucap Hans.


"Apa maksud mu?"


Hans menghela nafas berat, "Jenis obat itu hanya bisa hilang setelah melakukan hubungan s3x*."


"Apa kau bilang?"


Hans diam, dia sendiri tidak menyangka jika mereka berani melakukan itu pada Adaline.


"Hans, kau sedang tidak bercanda denganku bukan?" Tanya Carlos lagi.


"Aku tidak bercanda."


"Lalu bagaimana? Siapa laki-laki yang nona muda sukai, aku tidak tahu."


Hans menatap Carlos, dia sungguh tidak tahu maksud Carlos dengan seorang laki-laki.


"Laki-laki? Maksudmu...."


"Kau bilang di harus berhubungan s*x. Jadi aku harus...."


"Bukankah kau ada disini? Untuk apa kau bingung."


"Apa?" Teriak Carlos.


"Iya, obat jenis ini tidak bisa menunggu terlalu lama. Akan ada efek khusus jika dalam waktu 1 jam tidak melakukannya."


"Kau!"


"Hans...Hans..."


"Hans...."


"Aku tidak akan melakukannya. Lebih baik kau yang melakukannya." Ucap Carlos.


Carlos berjalan mendekati Hans dan menarik kerah baju Hans.


"Kau yang membuat kami datang kesini untuk mencarimu. Dan orang-orang itu adalah pengunjung di Club* mu, jadi kau yang harus bertanggung jawab!" Ucap Carlos dengan tatapan tajamnya.


"Hans tolong aku. Ini...Ini sangat panas." Ucap Adaline dengan suara yang semakin lemah.


Hans dan Carlos melihat Adaline m*nggeli4t di atas ranjang, seperti orang yang tidak bisa bertahan saat berjemur di bawah sinar matahari.


Hans menelan ludahnya saat melihat Adaline yang m*nggeli4t itu.


Carlos menatap Hans, "Aku mohon, hanya kamu yang nona muda inginkan."


Carlos melepaskan cengkramannya pada kerah baju Hans, dan meninggalkan Hans bersama dengan Adaline disana.


...----------------...


Dua hari setelah kejadian di malam itu, Adaline sering datang menemui Hans di apartemen yang baru saja Hans beli.


Hans tidak mau jika Adaline datang ke mansionnya dan melihat semua yang ada disana. Jadi dia membeli sebuah apartemen yang berjarak lumayan jauh dari mansionnya itu.


Diatas ranjang Hans berbaring sambil menatap layar ponselnya. Disana tertulis sebuah pesan dari Adaline, jika dia akan datang lagi ke apartemennya itu.


Hans meletakkan ponselnya diatas bantal yang ada disampingnya. Dia lalu mengingat kembali kejadian malam itu saat bersama dengan Adaline.


Flashback


Setelah Carlos meninggalkan ruangan itu, perlahan Hans berjalan mendekati ranjang dan duduk di tepian ranjang itu.


Hans yang entah sejak kapan telah mempunyai sedikit perasaan yang aneh pada Adaline, tidak ingin melihat wanita itu terus merasa tidak nyaman seperti saat ini.


"Hans.... Hans... tolong aku."


Adaline yang masih men9geli4t diatas ranjang itu menatap Hans dengan tatapan yang sayu.


S3ksi, itulah satu kata yang ada didalam pikiran Hans saat ini ketika melihat Adaline.


Hans mencoba menyentuh pipi Adaline dan mengusapnya dengan lembut.


"Hans...."


Saat ini kedua tangan Adaline masih terikat, dan dia hanya bisa merasakan dinginnya tangan Hans yang menyentuh pipinya.


"Sangat dingin." Ucap Adaline dengan nafas terengah-engah.


Hans hanya bisa menelan lud4hnya sendiri, menahan h4srat* yang ada di dalam dirinya.


"Adaline, kau..."


Adaline mengangguk, dia seolah memberikan izin atas apa yang akan mereka lakukan nanti. Karena dia benar-benar tidak tahu lagi dengan pikirannya.


Hans yang melihat itu membuka ikatan pada tangan Adaline, dan tanpa dia duga Adaline langsung memeluknya dengan erat.


"Tolong aku Hans.." Ucap Adaline dengan sangat pelan.


Hans yang mendengar itu langsung m*ncium dan m*lum4t* bibir Adaline.


Ciuman yang semula lembut* berubah menjadi pa9ut4n yang begitu pa*nas.


Suara yang di timbulkan dari mereka hanya merekalah yang dapat mendengarnya. Karena ruangan itu merupakan ruangan yang kedap suara.


Tangan Hans meraih buah mel0n yang ada di depannya itu, lalu dengan sedikit kuat dia m*rem4snya* dan bermain dengan biji mel0n yang ada di atasnya.


Hans hanya samar-samar mendengar Adaline memanggil namanya, yang di sertai dengan d3sah4n tertahan dari bibir tipis Adaline saat tangannya masih bermain dengan biji mel0n itu.


Hans melepaskan ciuman mereka, dan dengan pelan m*njil4ti leh3r putih Adaline, sesekali Hans juga m*nghis4pnya hingga menciptakan tanda kepemilikan disana.


D*sah4n semakin terdengar saat Hans m*nghis4p salah satu biji mel0n yang ada di depannya itu.


"Hans..."