
Dor!!
Suara tembakan yang sangat nyaring keluar dari pistol yang saat ini berada ditangan Adaline.
Saat ini kedua mata Adaline menatap paman ketiganya penuh dengan emosi.
"Kau bahkan tidak layak memanggil nama kakek, aku sungguh kecewa karena sudah terlalu baik padamu dulu, paman!" Ucap Adaline dengan keras.
Flashback
Paman ketiga Adaline menatap Adaline penuh kebencian, baginya Adaline adalah serangga kecil yang sudah membuat keluarga Wilson pecah.
Seorang cucu dari anak pungut yang tidak tahu jelas dari mana asal usulnya, tapi dia berhasil menjadi kepala keluarga baru menggantikan tuan besar Wilson.
"Cihh, aku kira siapa yang datang. Ternyata anak dari orang luar yang dipungut entah dari mana." Ucap paman ketiga.
Tubuh Adaline gemetar mendengar ucapan paman ketiga yang sangat tidak enak itu.
Hans berjalan lebih dekat lalu berjongkok di depan paman ketiga.
"Meskipun kau tahu jika kau akan mati, tetapi mulut mu masih tetap sangat kotor." Ucap Hans.
"Heh, kau bilang kotor? Kalianlah pasangan yang sangat kotor!"
Plak!
Tamparan keras dari Hans berhasil membuat paman ketiga meringis kesakitan, dan darah keluar dari sudut bibirnya.
"Aku benar-benar sangat terkejut, karena baru kali ini aku bertemu dengan orang yang tidak tahu malu seperti paman." Ucap Adaline yang tengah menahan air matanya.
"Hahaha, tidak tau malu? Kau yang seharusnya tidak tahu malu disini! Ayahku sudah sangat tertipu oleh mu dan ayahmu itu, anak liar yang tidak tahu di untung. Aku heran kenapa ayah...."
Ucapan paman ketiga Adaline terhenti, ketika dia melihat Adaline mengambik pist0l yang ada di salah satu kabting celana Hans dan mengarahkan pist0l itu padanya.
"Hahaha, kau ingin membunuhku? Dengarlah Adaline, jika kau membunuhku, ayah pasti tidak akan...."
Belum selesai mulut itu bicara, sebuah peluru meluncur dengan halus menuju kepala paman ketiga, dan seketika tubuh itu jatuh di atas lantai.
...----------------...
Saat ini tubuh paman ketiga tengah di urus oleh Alan dan anak buah Hans. Sementara Hans menenangkan Adaline yang sepertinya terkejut karena sudah menembak paman ketiga dengan tangannya sendiri.
Hans memeluk erat tubuh Adaline yang masih gemetar karena takut, dia bahkan memeluk Hans dengan sangat erat.
"Tidak apa-apa, semuanya sudah selesai. Mereka tidak akan mencurigaimu. Tidak apa-apa." Ucap Hans dengan lembut.
Hans menepuk-nepuk punggung Adaline pelan, bagi Hans paman ketiga Adaline pantas mendapatkan kematiannya, karena selama ini dia sudah membuat banyak rencana pembunuhan terhadap wanitanya itu.
"Bos, semua sudah beres." Ucap Alan.
Hans mengangguk, lalu mengangkat tubuh Adaline dan menggendongnya keluar dari ruang bawah tanah club* itu.
Orang-orang yag melihat Hans kwkuar dari ruang bawah tanah sambil menggendong seorang wanita, saling berbisik.
"Jangan saling berbisik lagi, itu adalah kekasih bos. Jika kalian tidak mau kehilangan kepala kalian, maka diamlah." Ucap bartender club* itu.
Mendengar itu orang-orang yang berbisik seketika diam.
Hans melewati kerumunan orang-orang yang ada di dalam club* nyya sambil tetap menggendong tubuh Adaline.
Di luar club*, Alan membukakan pintu mobil untuk Hans.
Dengan hati-hati Hans mendudukan Adaline di kursi mobil.
"Hans." Ucap Adaline.
Hans mengusap kepala Adaline, "Alan, kau bawa mobilnya."
"Baik bos."
Hans masuk ke dalam mobil lalu duduk di samping Adaline dan kembali memeluk tubuh kecil wanita yang gemetar itu.
Alan melajukan mobil meninggalkan club* menuju mansion.
Dis sepanjang jalan, Hans terus menenangkan Adaline, dia sangat tahu bagaimana perasaan wanitanya saat ini, orang yang tidak berani menyakiti orang lain, justru membunuh paman sendiri.
Adaline menyenderkan kepalanya pada dada Hans, laku menatao kedua tangannya. Dia masih tidak percaya jika dirinya sudah membunuh seseorang, terlebih itu adalah paman ketiga.
"Hans, bagaimana jika bibi dan paman yang lain tahu kalau aku sudah...."
"Bos benar nona Adaline, anda tidak perlu khawatir. Tidak akan ada yang tahu tentang kejadian tadi." Ucap Alan turut meyakinkan Adaline.
Adaline diam, semuanya masih nampak jelas di saat dia melihat tubuh pamannya tergeletak tak bernyawa di depan kedua matanya karena peluruu yang dia tembakan.
Sampai di depan mansion, Hans membantu Adaline turun dari mobil dengan hati-hati.
Melihat Adaline yang terlihat mengkhawatirkan, Hans langsung menggendong tububnya dan masuk ke dalam mansion.
"Paman Yan, tolong buatkan teh hangat dan bawa ke kamarku." Ucap Hans saat masuk ke dalam mansion.
"Baik bos."
Beberapa anak buah Hans yang melihat Hans menggendong Adaline bertanya-tanya, tetapi mereka hanya bisa nemebak-nebak sendiri jawabannya dalam pikiran mereka.
Di dalam kamar, Hans membaringkan tubuh Adaline diatas ranjang.
"Istirahatlah." Ucap Hans.
Adaline menarik lengan baju Hans, "Jangan pergi."
"Aku tidak akan pergi."
Saat ini Adaline terlihat sangat tidak stabil, ketakutan sangat terlihat jelas pada wajahnya.
"Besok lusa, aku akan membawamu ke perusahaan." Ucap Hans.
Adaline menatap Hans dengan tak percaya.
"Tadi aku sudah memberitahu semua karyawan, bahwa kau adalah kekasihku, jadi besok aku akan membawamu." Ucap Hans lagi.
"Tidak, tidak. Aku tidak mau."
"Adaline. Apapun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan orang lain mengganggu mu. Aku akan selalu di sampingmu, jadi jangan khawatir."
"Aku... Aku takut mereka akan mengatakan hal yang buruk."
Hans duduk di samping Adaline dan menggenggam tangannya, "Selama kau bersamaku, tidak akan ada orang yang berani menyakiti mu."
"Tapi Hans...."
"Atau... Kau mau kita menikah besok sebelum ke perusahaan?"
"Hah?"
"Lihatlah wajah terkejutmu itu, apa kau tidak mau menikah dengan ku, hmm?"
"Bukan, bukan begitu Hans. Aku hanya...."
Cup
Hans mengecup pipi Adaline dengan tiba-tiba dan membuat Adaline terdiam.
Tok tok tok
Hans berdiri dan berjalan ke arah pintu lalu membuka pintu kamarnya.
"Bos, ini teh hangatnya." Ucap paman Yan sambil memberikan segelas teh hangat.
"Terima kasih, paman Yan."
Paman Yan mengangguk lalu meninggalkan kamar Hans. Dan Hans kembali menutup pintu dan berjalan mendekati Adaline.
"Minumlah dulu, ini akan membuatmu sedikit lebih tenang." Ucap Hans sambil memberikan satu gelas teh hangat pada Adaline.
"Terima kasih."
Adaline menerima teh itu, lalu meminum teh hangat yang di berikan oleh Hans.
Setelah meminum teh itu, Adaline memberikan gelas itu lagi pada Hans.
"Sekarang tidurlah, aku akan disini." Ucap Hans.
Adaline mengangguk, lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan perlahan memejamkan kedua matanya.
Hans yang melihat Adaline mulai tertidur, merasa sedikit lenih tenang. Saat ini dia tahu, jika tidak lama lagi para oaman Adaline akan mengetahui kematian paman ketiga Adaline. Namun tentu saja Hans tidak akan membiarkan mereka mengetahui siapa pembunuuh paman ketiga Adaline itu.
"Aku tidak akan membiarkan satu lalatpun menyentuhmu, Adaline."Gumam Hans.