
Sudah dua hari ini Adaline kembali ke rumahnya sendiri dan kegiatan seperti biasa sudah mulai dia lakukan.
Saat ini Adaline Wilson tahu jika tidak lama lagi dirinya akan di targetkan kembali, karena dia tidak terbunuh dalam insiden beberapa hari yang lalu.
Tok tok tok
Setelah beberapa kali ketukan, seseorang masuk ke dalam ruang kerja Adaline.
"Nona muda."
Adaline menatap orang yang memanggilnya.
Deon, laki-laki yang berusia 3 tahun lebih tua darinya sudah berdiri didepan meja kerja.
"Deon, ada apa?"
"Nona muda, kepala pelayan dari rumah tua sedang menunggu anda di ruang tamu."
Adaline mengangguk "Baik, aku akan kesana."
Daeon membungkukkan sedikit badannya lalu pergi meninggalkan Adaline.
"Hanya dua hari setelah aku pulang, dan mereka sudah tidak tahan untuk melakukan aksi mereka lagi." Gumam Adaline.
Adaline merapikan beberapa berkas yang sempat dia lihat, lalu memasukkannya kedalam laci dan mengunci laci itu.
Dengan langkah pelan namun pasti, Adaline berjalan keluar untuk bertemu dengan kepala pelayan dari rumah tua.
"Bagaimana kabarmu paman David." Ucap Adaline pada kepala pelayan.
"Saya baik, nona muda."
"Duduklah."
Kepala pelayan bernama David itu mengangguk, laku duduk didepan kursi yang Adaline duduki.
Tak lama, David melihat seorang pelayan membawa dua cangkir teh hijau kesukaan Adaline.
"Jadi, ada apa paman David kesini?" Tanya Adaline tanpa basa basi.
"Seperti yang anda tahu, rumah tua akan mengadakan perayaan, dan para tetua ingin tahu bagaimana pendapat anda, nona muda."
Adaline menyesap teh hijau yang ada ditangannya.
"Bukankah setiap kalian ingin membuat sebuah perayaan, tidak pernah meminta pendapatku? Jadi kenapa sekarang kalian meminta pendapat dariku?" Ucap Adaline dengan santai.
Kepala pelayan diam, dia sangat tahu bagaimana Adaline Wilson.
Didalam rumah tua mungkin Adaline hanya di pandang sebelah mata, karena sebagian besar dari para tetua tidak setuju jika dia yang menjadi penerus keluarga Wilson.
Dan apa yang dikatakan Adaline benar, setiap ada perayaan di rumah tua, mereka hanya akan mengirimkan undangan pada Adaline tanpa meminta pendapatnya terlebih dulu, sebagai penerus keluarga Wilson itu.
"No... Nona muda." Ucap David.
"Katakan pada mereka, aku tidak tertarik. Lakukan saja seperti yang biasa kalian lakukan padaku. Tidak perlu pedulikan bagaimana pendapatku."
"Tapi nona muda..."
Adaline menatap tajam David, tatapan yang sangat jarang dia berikan kepada orang lain.
"Baik nona muda, saya akan mengatakan hal ini kepada para tetua." Ucap David pelan.
"Iya."
Adaline berdiri lalu berjalan dan masuk kembali keruang kerjanya.
Kepala pelayan itu mengepalkan tangannya, selama ini Adaline Wilson tidak pernah memperlakukan dirinya seperti itu.
Bukan hanya Adaline, bahkan para tetua pun tidak ada yang berani bersikap seperti itu padanya, itu karena dia merupakan orang yang telah lama bekerja di rumah tua dan banyak membantu tuan besar Wilson dulu.
"David, lebih baik kau kembali ke rumah tua dan katakan apa yang nona muda katakan padamu tadi." Ucap Carlos yang sejak tadi berdiri di belakang sofa.
"Aku mengerti, kau tidak perlu mengatakannya."
Dengan langkah lebar dan rasa kesal, David pergi dari rumah Adaline.
...----------------...
Sementara itu di mansion, Hans tengah duduk termenung diruang kerjanya.
Sepuluh menit yang lalu dia mendapat pesan, jika Adaline sudah mulai mempersiapkan semua kebutuhan untuk memperingati kematian Dave, yang akan di peringati beberapa minggu lagi di negara C.
"Apa tujuanmu Adaline? Apa yang harus aku lakukan kakak?" Gumam Hans.
Di hari peringatan kematian kakaknya kali ini, dia ingin melakukannya tepat waktu, karena dia selalu melakukannya sehari setelahnya.
"Haruskah aku melakukannya setelah dia lagi kak? Tidak bisakah aku menjadi orang pertama yang melakukan peringatan kematianmu?"
Hans merasa frustasi setiap kali datang hari peringatan kematian kakaknya.
Hans bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar.
"Alan." Ucap Hans.
"Iya bos."
"Besok lusa siapkan helikopter."
"Helikopter?"
"Iya. Kita akan ke negara C."
"Bos, bukankah hari peringatan kematian kakak bos masih beberapa minggu lagi?"
"Iya, tapi kita akan melakukan beberapa hal dulu. Sudah cukup dia melakukan semua itu untuk kakakku. Karena apapun yang dia lakukan tidak akan bisa membuat kakakku kembali."
Alan memperhatikan setiap perkataan Hans.
"Apa kau mengerti?" Ucap Hans lagi.
"Iya bos, aku sangat mengerti. Jadi, apa kita akan sedikit bersenang-senang disana?"
"Hmm. Lakukan dengan bersih."
"Siap bos."