ADALINE (My Young Lady)

ADALINE (My Young Lady)
Part 52



Dengan cepat Alan mengemudikan mobil menuju tempat yang Hans katakan.


"Apa kita tidak perlu membawa yang lain, bos?" Ucap Alan.


"Tidak perlu, karena orang itu tidak akan bisa menyentuh sehelai rambut ku."


Alan mengangguk.


Sudah lebih dari satu minggu ini Alan melihat hubungan bosnya dan Adaline sedikit merenggang, dia ingin bertanya tapi takut jika bosnya akan memarahinya.


Setelah 45 menit berkendara, mereka sampai di hotel tempat Adaline menginap ketika Hans dan Alan keluar negeri.


Hans turun dari mobil di ikuti oleh Alan. Dengan tenang tapi penuh dengan aura dingin, Hans masuk ke dalam hotel itu.


"Selamat siang tuan, ada yang bisa kami bantu?" Ucap petugas resepsionis di hotel itu.


"Apa seorang karyawan bernama Steven masih bekerja disini?" Ucap Hans.


"Maaf tuan, kami tidak bisa memberitahu nama-nama karyawan di hotel ini."


"Jika aku bilang, aku mau menginap disini tapi hanya ingin dia yang melayani. Apa hotel ini akan menyanggupi?"


Petugas resepsionis itu bingung harus menjawab apa, karena dia takut jika mengiyakan maka akan mendapatkan sanksi dari manajer hotel.


"Panggil manager mu, aku sendiri yang akan bertanya padanya." Ucap Hans lagi.


Petugas resepsionis mengangguk, lalu dia menghubungi  manager hotel.


10 menit kemudian manajer hotel datang menemui Hans dan Alan yang duduk di ruang tunggu.


"Selamat siang tuan." Ucap manajer hotel dengan ramah.


"Iya."


"Saya adalah manager di hotel ini. Apa ada yang bisa saya bantu untuk anda tuan?"


Braaaaak!


3 tumpuk uang senilai 30 juta di lemparkan oleh Hans di atas meja tanpa basa basi.


"Bawa seorang karyawan hotel yang bernama Steven kemari." Ucap Hans.


Manajer itu tidak mengerti maksud Hans.


"Tuan, apakah terjadi sesuatu dengan salah satu karyawan kami?" Ucap manajer itu.


"Jika aku berkata dia sudah melecehkan kekasihku saat menginap di hotel ini, apa kau akan percaya?"


Manajer hotel terkejut atas perkataan Hans, karena selama ini tidak ada kasus seperti ini di hotel.


"Lebih baik anda bawa kesini karyawan hotel yang bernama Steven itu." Ucap Alan yang akhirnya mengerti tujuan mereka datang ke hotel itu.


"Tapi tuan..."


"Jika dia tidak ada di depanku dalam waktu 5 menit, aku pastikan kau yang akan di pecat dari hotel ini." Ancam Hans dengan aura dingin yang sangat pekat pada manajer hotel itu.


"Baik, baik tuan. Saya akan memanggilnya kesini."


Manajer itu tentu tidak mau kehilangan pekerjaannya, dan akan lebih memilih menyerahkan orang yang sudah mengusik tamu hotel yang ada di depannya saat ini.


Dengan cepat manajer hotel itu meminta resepsionis untuk menghubungi kepala bagian dimana Steven bekerja saat ini.


5 menit kemudian kepala bagian dan Steven datang.


Hans menatap Steven dengan tajam, menatapnya penuh dengan aura membunuh.


Steven yang tidak ingat pada Hans hanya berdiri dengan santai tanpa merasa takut atau bersalah.


"Baik, aku akan membawa orangnya. Jika direktur kalian bertanya, suruh dia untuk menghubungiku." Ucap Hans datar.


Alan memberikan kartu nama Hans pada manajer itu, lalu menarik lengan Steven agar ikut dengan mereka.


"Tunggu! Siapa kalian, dan kenapa kalian membawaku?"


Manajer dan kepala bagian hanya diam, karena mereka tidak ingin terlibat dalam masalah ini demi nama baik hotel.


Alan membuka pintu mobil lalu melemparkan Steven ke dalamnya.


"Aaagh! Siapa kalian, mau dibawa kemana aku?" Seru Steven.


"Diam! Kau akan tahu nanti." Ucap Alan.


20 menit setelah melewati jalanan yang lenggang, mereka sampai di depan club* itu.


Alan meminta dua orang anak buah yang berjaga di depan pintu club* untuk membawa Steven masuk, dan membawanya keruang bawah tanah.


Mendengar itu, beberapa pengunjung berbisik.


"Sepertinya ada orang bod0h yang mengusik bos Hans lagi. Dasar orang b0doh yang cari mati." Ucap salah seorang pengunjung dengan pelan.


Steven yang masih bisa mendengarnya menjadi terkejut dan takut. Dia ingat, dia tidak pernah menyinggung siapapun, apalagi menyinggung seorang bos.


Kedua anak buah Hans membawa Steven. Meski Steven memberontak tapi itu sia-sia, karena tubuh kedua anak buah Hans jauh lebih kekar dan bertenaga.


Bruuuuuk!


Tubuh Steven di lemparkan oleh dua anak buah Hans ke atas lantai yang lembab.


Di ruang bawah tanah itu banyak berbagai macam alat penyiiksa, dan itu membuat bulu kuduk Steven berdiri.


"Si...Siapa kalian, kenapa kalian membawa ku kesini?" Tanya Steven dengan takut.


Hans duduk dengan santai di sudut ruangan, beberapa anak buah Hans datang membawa sebuah tas.


"Bos, semuanya sudah siap." Ucap Alan.


"Lakukan tugas kalian, aku ingin dia mendapatkan pelayanan selama satu minggu. Bila perlu bawa dia keatas panggung, siapa tahu ada yang ingin langsung mencobanya disana."


"Baik bos."


Steven tidak mengerti ucapan Hans, dia juga bahkan tidak mengenal orang-orang yang membawanya itu.


"Jangan mendekat! Aku tidak mengenal kalian, dan aku juga tidak mempunyai masalah dengan kalian. Apa...apa yang ingin kalian lakukan?" Ucap Steven dengan keras.


Hans menatap Steven dengan tajam, "Apa kau tidak ingat apa yang sudah kau lakukan pada salah satu wanita, yang menginap di hotel beberapa minggu yang lalu?"


Steven langsung mencoba mengingat dengan apa yang Hans katakan padanya, dan...


"Kau! Aku ingat, kau adalah laki-laki yang bersama dengan...."


Praaaaang!


Gelas berisi wine di lempar oleh Hans di depan Steven dengan keras, dan berhasil membuat Steven semakin takut.


"Kau sudah ingat? Jika sudah, aku akan membuatmu merasakan hal yang lebih dari apa yang sudah kau lakukan padanya." Ucap Hans dengan dingin.


"Kau, siapa kau? Apa kau adalah kekasihnya?"


"Kau tidak perlu tahu siapa aku."


"Hahaha, sepertinya begitu. Asal kau tahu kau sangat payah! Kau bahkan tidak bisa membuat dia squirt dibawah tubuhmu hahaha."


Steven seolah melupakan rasa takutnya terhadap Hans, ketika berbicara dan tertawa dengan lantang di depan Hans.


Tangan Hans mengepal dengan kuat mendengar semua perkataan Steven.


"Layani laki-laki ini, sampai semua cairan dan air keencingnya mengering tak tersisa." Ucap Hans.


"Baik bos."


Tawa Steven yang tadi begitu keras tertawa, seketika menghilang dan kedua matanya membulat mendengar hal itu.


Dengan takut Steven merangkak mundur ke belakang, dia melihat Hans yang masih duduk di kursinya dengan tubuh gemetar.


"Kalian, kalian semua pergi!" Seru Steven dengan takut.


Anak buah Hans yang tidak peduli dengan teriakan Steven membuka tas yang di bawanya, dan mengeluarkan semua mainan yang ada di dalam tas itu.


Semua alat permainan yang Hans minta untuk di bawakan di letakkan di atas meja yang ada diruang bawah tanah.


Kedua mata Steven terbuka lebar melihat semua alat-alat permainan s*x yang mengerikan di depannya itu.


"Ka... Kalian, jangan macam-macam! Aku akan melaporkan kalian!" Seru Steven dengan cemas.


"Hahaha melaporkan? Apa kau tidak tahu siapa aku? Bahkan polisi saja tidak berani untuk memegang jariku, dan kau bilang akan melaporkanku. Kau terlalu memandang tinggi dirimu sendiri Steven." Ucap Hans.


Steven merasa hidupnya akan berakhir di tangan Hans, seketika menyesal karena sudah memprovokasi dan mempermainkan Adaline beberapa minggu yang lalu. Tetapi penyesalan itu sia-sia, karena Hans tidak pernah mengampuni siapapun yang sudah membuat masalah dengannya.


Hans berbisik pada dua anak buahnya lalu pergi meninggalkan ruang bawah tanah, dia tidak peduli dengan teriakan dari Steven yang meminta ampun pada Hans.


"Aku hanya tinggal membuat Adaline mengatakannya padaku, agar aku tidak lagi menyentuh orang lain untuk menuntaskan keinginanku yang menyebalkan ini."