
Esok harinya, Adaline bangun dengan tubuh yang sangat lelah dan juga di bagian bawah sana terasa sedikit sakit. Dia mencoba untuk bergerak, namun tubuhnya di peluk dengan erat oleh Hans yang ternyata masih memejamkan matanya.
Adaline mencoba untuk melepaskan dirinya dari pelukan Hans, tetapi tangan Hans memeluknya dengan sangat erat.
"Em.. Kau sudah bangun sayang?" Ucap Hans dengan suara seraknya.
Adaline hanya diam, karena dia tidak tahu harus berkata apa. Terlebih Hans memanggilnya sayang.
Karena tidak mendapat jawaban, Hans memper-erat pelukannya pada Adaline seolah tidak ingin melepaskannya.
"Apa kau mau mandi?" Ucap Hans yang masih memejamkan matanya.
"A.... Aku akan...."
Cup
Satu kecupan mendarat pada bibir Adaline, dan tak menunggu lama Hans yang telah membuka kedua matanya menggendong tubuh Adaline, lalu berjalan ke kamar mandi.
(Tebak, mereka pakai baju apa ke kamar mandi? 🤭😅)
Dengan pelan Hans mendudukan Adaline di dalam bathtub, lalu memutar keran kamar mandi, mengatur suhu air agar hangat. Setelah itu Hans membiarkan air hangat itu memenuhi bathtub yang sudah di beri beberapa tetes sabun.
Sejak tadi Adaline menundukan wajahnya, dia tidak berani menatap Hans, terlebih dengan kondisi tubuh mereka saat ini.
"Apa kau akan terus menunduk seperti itu?" Ucap Hans setelah duduk di belakang Adaline.
Adaline menggelengkan kepalanya, namun dia masih tetap menunduk.
Hans mengulurkan tangannya lalu meraih kepala Adaline, dengan perlahan mendongakkan wajah Adaline untuk menatap kedua matanya
Kini kedua mata mereka bertemu satu sama lain, Hans tersenyum melihat Adaline yang tampak tegang namun cukup menggemaskan di depannya.
"Aku sudah bilang, kau milikku. Jadi mulai sekarang kau adalah milikku." Ucap Hans dengan lembut.
Adaline mematung, jantungnya masih berdetak dengan sangat cepat, seolah akan keluar dari tubuhnya.
Karena tidak mendapat jawaban dari Adaline, Hans pun mengecup bibir Adaline lalu memeluk tubuhnya dengan erat.
"Apakah ini nyata?" Gumam Adaline tanpa dia sadarai.
Hans yang mendengar itu hanya tersenyum, lalu meletakan kepalanya pada bahu Adaline.
"Apa aku harus melakukannya lagi, agar kau bisa yakin jika ini nyata, hmm?" Bisik Hans pada Adaline.
Adaline yang mengingat apa yang telah mereka lakukan tadi malam, menggelengkan kepalanya cepat beberapa kali. Dan tubuhnya seketika gemetar jika mengingat hal itu, juga wajahnya kembali merona.
"Ti...Tidak, aku..aku masih merasa sakit di...." Ucap Adaline dengan pelan.
"Jika itu sakit, maka semuanya bukan mimpi, sayang."
Hans mencium bahu Adaline lalu menyenderkan tubuh Adaline pada d4danya yang bidang.
Adaline tidak tahu harus berkata apa saat ini, bagi dirinya ini sungguh sangat tiba-tiba dan membuatnya belum siap menerima apa yang sudah mereka lakukan.
Hans memejamkan kedua matanya karena merasa sangat nyaman.
"Ha.... Hsans." Ucap Adaline.
"Hmm?"
"Ke... Kenapa kau..."
"Aku juga tidak tahu kenapa dan sejak kapan seperti ini, tetapi... setiap melihatmu aku selalu ingin memelukmu dan saat melihat mu bicara aku selalu ingin m*lum4t habis bibirmu, dan ketika aku mendengar kau terluka, aku merasa sangat cemas."
Deg
Deg
Deg
Adaline tidak percaya jika Hans akan mengatakan itu padanya, kemarin dia masih bersikap biasa saja. Tetapi malamnya dia berubah dengan sangat cepat.
"Kau... Apakah kau masih maabuk?" Ucap Adaline dengan hati-hati.
Hans membuka kedua matanya, "Bukankah tadi malam aku berkata jika aku tidak maabuk?"
"Ja...Jadi tadi malam kau benar-benar..."
Hans kembali memeluk tubuh Adaline dan mencium pipi Adaline yang sudah merah.
"Iya, semua yang aku katakan adalah benar dan bukan karena aku maabuk." Ucap Hans dengan pelan.
"Ta...Tapi.."
"Tidak ada tapi, jika kau tidak mau menjadi milikku kau bisa pergi sekarang." Ucap Hans sambil melepaskan pelukannya pada Adaline.
Adaline yang mendengar itu langsung berbalik dan memeluk tubuh Hans.
"Aku tidak mau pergi. Aku... aku hanya merasa semuanya diluar kendaliku." Ucap Adaline.
Hans tersenyum dan membalas pelukan Adaline.
"Aku merasa bingung dan tidak tahu harus bagaimana saat kita bertemu setelah hari ini, karena kau bilang jika aku sudah mengg0damu. Jadi aku berpikir jika kau pasti menganggapku...."
"Kenapa kau selalu banyak berpikir. Sebenarnya apa saja yang kau pikirkan selama ini?" Ucap Hans memotong perkataan Adaline.
"Aku selalu merasa khawatir kau akan tidak suka jika aku terlalu dekat denganmu, aku... juga takut kau akan marah dan menilaiku tidak baik, saat aku mencoba berbicara dengan orang lain, aku tidak tahu harus bagaimana saat kau tidak lagi mau berbicara dengan ku, aku...."
Hans yang tidak ingin mendengar ucapan Adaline segera membalikan wajah wanita itu agar menghadap padanya, lalu mencium bibir yang sejak tadi berbicara itu.
"Dasar b0doh! Mulai sekarang lupakan itu semua. Jangan berpikir yang tidak-tidak lagi." Ucap Hans setelah mencium bibir Adaline.
Adaline hanya mengangguk dengan pelan.
...----------------...
Setelah hari itu setiap kali Adaline bertemu dengan Hans, dia tidak berani untuk menatapnya dan menjadi lebih pendiam.
Walaupun Hans berkata jika dia sudah menjadi miliknya, namun Adaline masih tidak percaya dengan semua yang sudah mereka lakukan hari itu.
Sementara Alan yang melihat tingkah Adaline berubah dari biasanya pada bosnya, hanya bisa diam dan terheran-heran.
"Ehem, nona Adaline. Bos meminta saya untuk memanggil anda." Ucap Alan.
Adaline yang sedang menonton televisi langsung menoleh dan menatap Alan dengan wajah terkejutnya.
"Di... Dimana dia?" Ucap Adaline.
"Di ruang kerjanya."
Adaline mengangguk, "Aku mengerti."
Alan lalu pergi meninggalkan Adaline dengan heran. Karena biasanya Adaline tidak akan menunjukkan ekspresi wajah terkejut bila bosnya ingin berbicara dengannya.
Adaline berdiri dan berjalan dengan pelan ke ruang kerja Hans.
Sampai di depan pintu, Adaline diam. Dia sedikit ragu untuk masuk ke dalam ruangan itu, terlebih disana hanya akan ada mereka berdua.
Setelah menarik nafas dan membuangnya perlahan, Adaline memberanikan diri memutar knop pintu itu. Kemudian dia masuk seperti seorang pencuri yang takut ketahuan oleh pemilik rumah.
"Masuk saja." Ucap Hans.
Suara Hans mengejutkan Adaline yang baru saja masuk ke dalam.
Adaline lalu menutup kembali pintu ruang kerja Hans dengan dan berjalan ke arah Hans.
"Alan..Alan berkata jika kau...mencariku."
Hans menatap Adaline yang terlihat gugup. Sementara Adaline melihat sekeliling, karena dia tidak tahu harus berkata apa saat ini, dan juga dia takut untuk menatap wajah Hans.
Hans tersenyum melihat Adaline yang salah tingkah di depannya. Dia lalu menarik tangan Adaline dan sontak membuat tubuh Adaline jatuh ke pangkuannya.
Wajah Adaline sangat tegang saat ini, jantungnya berdetak sangat cepat dan keras. Karena dia tidak tahu apa yang akan Hans lakukan padanya.
Hans memeluk pinggaang Adaline dengan erat dan mendekatkan wajahnya pada wajah wanita yang berada di depannya saat ini.
"Ha...Hans." Ucap Adaline.
"Hmm?"
Adaline terdiam, dia tidak berani berkata apa-apa lagi.
"Apa kau takut padaku?" Ucap Hans.
Adaline menggelengkan kepalanya dengan ragu.
"Lalu kenapa setiap bertemu denganku, kau selalu menghindar?Tidak mau menatapku lagi atau berbicara denganku." Ucap Hans lagi.
"Aku.. Aku hanya..."
Hans yang sudah sangat gemas dengan Adaline langsung membekap bibirnya dengan kecupan singkat. Dan itu membuat kedua mata Adaline membulat, wajahnya pun merah seketika.
"Kau... Kenapa kau..."
"Kenapa, apa aku tidak boleh mencium pasanganku sendiri, hmm?"
Deg Deg
Saat ini jantung Adaline benar-benar ingin melompat keluar, mendengar Hans berkata jika dirinya adalah pasangan Hans.
Hans memeluk Adaline erat, "Kau tidak akan pernah bisa menghindar dariku Adaline."
"Aku...."
"Hmm?"
"Apa... aku bisa mempercayaimu?"
"Kau boleh tidak percaya dengan orang lain,tetapi kau harus percaya padaku."
Hati Adaline seperti bunga di musim semi, dia benar-benar sangat bahagia sekarang.
Dengan senyum lebarnya Adaline membalas pelukan Hans, dan berharap jika dunia bisa berhenti sejenak untuk saat ini.
"Aku percaya, aku percaya padamu." Ucap Adaline dengan bahagia.
Hans mengangguk dan memper-erat pelukannya.