
Ronald Lu dan anak buahnya di seret oleh beberapa anak buah Hans. Tentu sebagian besar orang yang ada didalam Club* itu melihatnya, namun mereka hanya bisa berbisik dan tidak ada keterkejutan, seolah itu adalah pemandangan yang biasa jika ada orang yang telah mengusik ketenangan Hans.
Club* itu tidak memiliki cukup cahaya seperti di tempat lainnya, jadi hanya samar-samar bisa melihat wajah yang tengah di seret oleh anak buah Hans itu. Bahkan dua orang ketua mafia yang sedang melakukan transaksi disana tidak begitu peduli, karena mereka mengira yang di seret bukan ketua dari Black Tiger.
"B*ngsat! Kalau aku tahu Dave adalah kakak dari Hans, aku tidak akan pernah mau berurusan dengannya." Ucap Ronald Lu pelan saat dia telah berada di dalam sebuah ruangan gelap dan lembab.
Kedua tangan Ronald Lu terikat, dan bahkan dia hanya memakai celana saja.
"Sayangnya itu sudah terjadi."
Ronald Lu mengangkat kepalanya dengan tenaga yang begitu lemah, setelah mendengar sebuah suara.
Di lihatnya seseorang sudah duduk disebuah kursi kayu tepat didepannya. Ronald Lu berusaha melihat orang itu di kegelapan ruang.
"Ha...Hans." Ucap Ronald Lu setelah tahu siapa orang yang duduk di depannya.
"Ck, apa kalian tidak punya cukup tenaga menghajar s4mpah ini?" Tanya Hans penuh penekanan pada kedua anak buahnya.
"Maafkan kami bos."
Hans menatap Ronald Lu yang terikat di dinding, tanpa memakai pakaiannya.
"Kau tidak akan ku biarkan mati dengan mudah, jadi bertahanlah bos Lu." Ucap Hans.
"Tidak Hans, aku mohon... Aku mohon lepaskan aku."
"Melepaskanmu? Apa kau tahu bagaimana perasaanku saat kau dengan sombongnya berkata bahwa kau telah membunuh kakakku? "
Ronald Lu dian, jika saja dia tahu hubungan Hans dan Dave, tentu dia tidak akan melakukan itu di depan Hans. Bahkan dia tidak akan membunuh Dave.
Hans berdiri dan berjalan pergi. Dia enggan berlama-lama disana.
"Hans! Aku mohon ampuni aku, aku akan melakukan apapun... Aku akan membunuh mereka semua untukmu! Aku mohon lepaskan aku!" teriak Ronald Lu.
Hans berbalik dan menatap tajam Ronald Lu.
"Selama ini aku tidak pernah mengampuni orang yang mengusik hidup ku. Dan kau! KAU BUKAN HANYA MENGUSIK, TAPI KAU MEMBUATKU KEHILANGAN KELUARGAKU SATU-SATUNYA, RONALD LU!!"
Hans melihat kearah dinding, dimana peralatan untuk m3nyiksa musuhnya tergantung dengan indah disana.
"Jika aku masih melihat ada bagian kulitnya yang berwarna putih. Maka kalian yang akan aku kuliti*. Apa kalian mengerti!" Seru Hans pada anak buahnya.
"Baik bos, kami mengerti."
Ronald Lu membulatkan kedua matanya, dia tahu maksud dari ucapan Hans. Terlebih mata Hans tertuju pada alat-alat penyiksaan itu.
Ronald Lu benar-benar merasa sangat menyesal karena sudah membuat Hans marah.
Kini dia sungguh tahu bagaimana takutnya para ketua mafia, saat mereka mengetahui orang-orang kepercayaan mereka membuat masalah dengan anggota kelompok Hans.
"Hahh, jadi ini yang mereka rasakan saat sudah berada ditangan Hans, si ketua Red Dragon sang spik0pat. Keluarga Wilson, aku pastikan aku tidak akan mengampuni kalian walau di neraka sekalipun." Ucap Ronald Lu penuh kebencian.
...----------------...
Didalam mansion, Adaline tengah duduk sambil menikmati kue yang di bawakan oleh paman Yan.
Suara deru mobil terdengar jelas di telinga Adaline Wilson. Dan segera Adaline beranjak dari ruang tv, berjalan dengan cepat kearah pintu utama, berharap Hans yang kembali.
"Hans, kau kembali." Ucap Adaline.
Hans hanya diam melihat Adaline Wilson yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Hans, kau...."
Adaline berjalan dengan cepat mendekati Hans. Di lihatnya pakaian Hans yang terkena percikan darah.
"Aku baik. Alan, minta paman Yan untuk membuat kopi dan antar keruang kerja ku."
"Baik bos."
Hans menatap sejenak Adaline lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Adaline Wilson hanya diam melihat kepergian Hans. Ada sedikit rasa sakit yang dia rasakan melihat Hans tidak peduli padanya.
Alan melihat perubahan sikap Adaline pada Hans, tetpi dia sangat tahu bagaimana bosnya. Sangat sulit membuat hati Hans mencair, terlebih kepada Adaline Wilson yang sudah membuatnya kehilangan kakaknya.
"Permisi nona Wilson." Ucap Alan yang akan pergi.
"Tu... Tunggu!"
"Iya nona?"
Adaline Wilson menggigit bibir bawahnya sambil menatap Alan.
"Bo... Bolehkah aku yang... membuat kopi untuk Hans?"
"Maaf nona Wilson, tidak ada seorangpun yang boleh membuat kopi untuk bos selain paman Yan di mansion ini. Bahkan paman Yan sendiri yang harus mnegantarkan kopi itu pada bos."
"Ah, seperti itu."
"Benar. Kalau begitu saya permisi."
Adaline mengangguk pelan.
Hans adalah orang yang sangat berhati-hati, bahkan didalam mansionnya sendiri pun seperti itu.
Hans tidak mau ada seorang pengkhianat didalam mansionnya. Karena satu pengkhianat bisa menghancurkan segalanya.
"Apa kau tidak percaya padaku Hans?"
"Nona muda." Ucap Carlos.
"Ah, Carlos."
"Maaf nona muda, sudah membuat anda terkejut."
"Tidak apa-apa. Katakan ada apa."
"Nona, kediaman besar meminta kita untuk datang. Mereka ingin membuat jamuan minggu depan, dan mereka ingin tahu bagaimana pendapat anda."
Adaline Wilson mengangguk mengerti, "Baiklah, sore nanti kita akan kembali."
"Nona muda, anda...tidak apa-apa?"
"Kalaupun aku kenapa-kenapa, apa dia yang ada didalam ruangan itu akan tergerak dan memelukku?" Adaline menatap ruang kerja Hans yang tertutup rapat.
"Nona muda...."
"Kau jangan khawatir, aku akan baik-baik saja."
Adaline berjalan meninggalkan tempat itu dan kembali ke kamarnya.
Carlos yang melihat Adaline merasa khawatir akan nona mudanya itu.
"Sudah lama aku tidak melihatmu begitu menyukai orang, nona muda, tapi... kenapa harus Hans orangnya?"
Carlos benar-benar tidak mengerti dengan perasaan seorang wanita.
(mungkin karena kamu belum pernah jatuh cinta Carlos 🤭)