
Kedua mata Adaline terbuka lebar, sejak kemarin dia selalu mengira jika orang-orang itu adalah orang-orang yang diperintahkan oleh keluarga Wilson, namun ternyata bukan.
"Jadi mereka menargetkanku, karena mereka menginginkan nyawamu?" Ucap Adaline.
Hans mengangguk.
"Bagaimana bisa? Aku bahkan tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan mu." Ucap Adaline lagi.
"Ya kau benar, tapi apa kau ingat waktu aku menolongmu dan kau sering datang ke apartment ku? Di tambah anak buahku membawamu dan Carlos ke markas. Mungkin sejak saat itu mereka berpikir jika kau adalah orangku yang bisa membuatku jatuh."
Adaline tidak mengerti jalan pikiran musuh Hans. Hanya karena hal seperti itu mereka menyimpulkan jika dirinya dan Hans mempunyai hubungan, walau dalam hati Adaline sangat menginginkan itu.
"Apa semua otak musuhmu itu bebaal?" Ucap Adaline.
"Mungkin saja. Sudahlah lebih baik sekarang kau bersihkan dirimu dulu, aku akan menunggumu di bawah."
Hans lalu keluar dari kamarnya, lalu berjalan menuju ruang makan.
Di dalam kamar, Adaline masih memikirkan para musuh Hans yang tidak bisa membedakan mana kekasih dan orang asing, sampai-sampai dia menjadi target mereka.
"Aku harus cepat, aku ingin tahu bagaimana kondisi Carlos." Ucap Adaline.
Adaline berdiri dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
15 menit kemudian Adaline yang telah siap keluar dari kamar, dan menemui Hans di ruang makan.
"Duduk dan makanlah." Ucap Hans tanpa melihat Adaline.
Adaline duduk dan menatap Hans yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Makanlah sarapanmu, jika kau masih ingin bertemu dengan Carlos."by Hans tanpa menoleh lagi.
Adaline tersadar, lalu dia mengambil sepotong sandwich dan memakannya dengan perlahan.
"Kau tidak makan?" Ucap Adaline.
"Aku tidak lapar."
"Tapi...."
Ucapan Adaline terhenti saat melihat Alan mendekat dari arah belakang Hans.
"Bos."
"Katakan."
Alan sedikit membungkukkan tubuhnya lalu berbisik pada Hans.
"Apa Joe sudah membereskan semuanya?" Ucap Hans.
"Belum bos, masih tersisa satu kelompok lagi."
"Kalau begitu lanjutkan. Aku tidak ingin ada yang tersisa."
"Joe berkata kali ini dia akan menyerahkan yang terakhir pada mu, bos."
"Hmm?" Hans mengerut dahinya.
"Bos, ketua dari kelompok yang terakhir adalah teman Joe. Sekitar 7 bulan yang lalu mereka berselisih dan Ling tidak ingin melakukan itu pada temannya itu."
"Kalau begitu suruh Rio untuk melakukannya."
"Tapi bos..."
"Aku akan menyusul nanti. Sekarang kau pergilah dan seret mereka ke markas."
"Baik bos."
Alan langsung pergi untuk melakukan perintah dari Hans.
Adaline yang sejak tadi melihat Hans dan Alan berbicara menjadi penasaran.
"Hans." Ucap Adaline.
"Hmm?"
"Apa mereka yang kau maksud adalah orang-orang yang ingin menculikku kemarin?"
"Iya."
"Boleh aku tahu berapa banyak orang-orang itu?"
"Total ada 4 kelompok. Satu kelompok mempunyai lebih dari 100 anggota, jadi semuanya ada lebih dari 500 orang."
Kedua mata Adaline membulat. Begitu banyak orang yang menargetkan dirinya, dan tentu saja mereka juga menargetkan Hans, karena mereka adalah musuh-musuh Hans.
"Apa kau sudah selesai?" Ucap Hans.
Adaline mengangguk.
"Kalau begitu ikut aku. Aku akan membawa mu menemui Carlos."
Adaline meminum air yang ada diatas meja sebelum berdiri dan mengikuti Hans pergi.
Hans membawa Adaline masuk ke mansionnya lebih dalam, yang selama ini hanya dia dan para anak buahnya yang bisa masuk kesana.
Adaline yang baru pertama kali masuk kedalam mansion Hans lebih dalam terkejut.
Koridor mansion sangat panjang dan cukup lebar, tapi tidak ada satu barangpun yang di letakan disana, hanya di hiasi pintu-pintu kamar yang mungkin kamar para anak buah Hans. Juga terdapat beberapa guci berukuran besar di setiap pojok koridor itu.
Di ujung koridor ada dua buah kamar yang berbeda dari pintu kamar yang lainnya.
Hans membuka salah satu pintu kamar itu, "Masuklah dan lihat sendiri kondisi Carlos di dalam." Ucap Hans pada Adaline.
Adaline melangkahkan kakinya dengan pelan. Dan dari depan pintu dia melihat seseorang terbaring lemah, dengan alat bantu pernafasan yang terpasang di wajahnya. Selang infus melingkar sempurna di tangan kirinya, dan juga masih ada beberapa alat medis tertempel diatas dadanya.
"Carlos." Ucap Adaline pelan.
Tubuhnya gemetar melihat kondisi Carlos saat ini. Laki-laki yang selalu tampak kuat, kini terbaring lemah diatas ranjang dengan alat medis menempel di tubuhnya .
Adaline mendekati Carlos dengan gemetar dan mata tang memerah.
Adaline tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia benar-benar terkejut melihat kondisi Carlos saat ini.
"Dia terkena geranat yang di lemparkan oleh salah satu anak buah musuhku, saat dia sedang melawan yang lain." Ucap Hans.
"Geranat?"
Hans mengangguk, "Dia tidak menyadari seseorang melemparkan geranat padanya. Saat dia sadar dia sudah terlambat untuk menghidar, dan akhirnya dia terpental sejauh 10 meter akibat ledakan geranat itu."
Adaline menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa percaya dengan apa yang Hans katakan.
Sebuah geranat mana mungkin bisa membuat orang sampai seperti itu. Tetapi meskipun dia tidak percaya, namun apa yang dia lihat di depannya membuatnya diam.
Adaline memperhatikan wajah Carlos dengan lekat, wajah seseorang yang setia menemani dan melindunginya selama ini.
"Kenapa semua terjadi? Orang-orang yang dekat denganku satu persatu mengalami hal yang sulit dan buruk."
Saat Adaline menatap Carlos dengan sendu, tiba-tiba jari Carlos bergerak dengan pelan.
"Carlos. Hans, jari Carlos bergerak." Ucap Adaline pada Hans dengan mata berbinar.
Hans berjalan dengan cepat mendekati tubuh Carlos. Dia lalu melihat layar monitor yang ada disamping ranjang, semua terlihat sama.
"Aku akan memanggil Rio. Kau tetaplah disini." Ucap Hans.
Adaline mengangguk mengerti. Dalam hati Adaline berharap jika Carlos akan baik-baik saja.
Hans keluar dari ruang rawat dan mencoba menghubungi Rio agar dia tidak ikut bersama Alan dan segera kembali ke mansion.
Di dalam ruang rawat, Adaline terus menatap Carlos dengan cemas, tubuhnya gemetar karena takut. Dia masih ingat saat dimana Dave meninggal setelah operasi pengambilan peluuru dilakukan.
Suasana saat itu sama persis seperti sekarang. Tubuh Dave juga sama lemah seperti Carlos sekarang ini.
"Carlos, aku mohon kau harus selamat. Aku tidak ingin kau juga meninggalkan aku." Ucap Adaline dengan keputusan asaannya.
Tanpa terasa air mata Adaline mengalir, karena dia tidak bisa menahan apa yang tengah dia rasakan.
Tuuuuuuuuuuuuttt
Sebuh suara datar yang panjang terdengar begitu nyaring di telinga Adaline.
Adaline menatap monitor yang berada disamping ranjang tempat Carlos berbaring. Disana hmhanya ada garis lurus yang bisa Adaline lihat.
"Tidak, Carlos aku mohon bertahanlah, Carlos. Hans! Hans!" Ucap Adaline debgan histeris.
Hans segera masuk kedalam ruang rawat setelah mendengar suara Adaline.
"Hans! Aku mohon lakukan sesuatu pada Carlos sekarang, aku mohon Hans." Ucap Adaline sambil menarik-narik baju Hans.
Hans yang belum menyadari apa-apa melihat layar monitor yang menunjukkan garis lurus disana.
Mata Hans terpejam, dia lalu memeluk tubuh Adaline untuk menenangkan wanita itu.
"Kita keluar dulu. Biarkan Rio memeriksa Carlos." Ucap Hans.
"Tidak! Aku tidak mau keluar. Aku ingin kau membangunkan Carlos."
"Adaline Wilson!"
"Hans, aku mohon. Aku tahu kak Dave meninggal karena aku, tapi aku tidak mau Carlos yang harus menebus nyawa kak Dave."
"Adaline, ini tidak ada hubungannya dengan kematian kakak ku. Tidak ada sama sekali."
Adaline mendorong tubuh Hans, lalu berjalan mendekati Carlos.
"Carlos, aku perintahkan kau untuk bangun sekarang juga. Bangun Carlos!" Seru Adaline sambil terisak.
Rio yang mendengar suara berisik dari dalam ruangan segera masuk kedalam.
"Bos." Ucap Rio.
"Bagus kau sudah datang. Cepat periksa Carlos."
"Baik bos."
Hans mencoba menarik tubuh Adaline agar menjauh dari ranjang, dan membiarkan Rio memeriksa Carlos.
Rio memeriksa Carlos lalu melihat kedua matanya.
"Bagaimana?" Ucap Hans.
Rio menatap Hans dengan lemas dan menggelengkan kepalanya.
Adaline yang mengerti arti dari gelengan kepala Rio, menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, dia tidak percaya dengan apa yang dia ketahui saat ini. Tubuh Adaline sendiri hampir terjatuh di atas lantai.
Hans yang melihat Adaline hampir jatuh, secara reflek memeluk tubuh Adaline.
"Hans, dia...dia adalah satu-satunya orang yang dapat aku percaya, dia satu-satunya orang yang peduli denganku setelah kakek dan kak Dave meninggal. Tapi kenapa...."
Hans hanya diam, dalam matanya terpancar kemarahan yang begitu kuat.
Rio yang sejak tadi memperhatikan Hans dan Adaline, melihat perubahan sikap Hans. Rio yakin kali ini semua musuh Hans pasti akan hancur di tangan bosnya.
Dengan pelan Rio menutup tubuh Carlos dengan selimut putih.
"Kita kembali ke kamar dan akan memakamkan Carlos nanti sore." Ucap Hans pelan.
Adaline hanya mengangguk. Baginya tidak ada lagi orang yang bisa dia percaya, bahkan keluarganya sendiri pun dia tidak percaya.
Hans membawa Adaline ke kamarnya. Dengan hati-hati Hans membantu Adaline duduk.
"Dia wanitabyang cukup kuat, namun juga rapuh. Karena bgaimana pun dia sudah banyak kehilangan orang yang berharga baginya, terlebih keluarga Wilson selalu mengincar nyawanya."
"Istirahatlah, setelah semua beres aku akan membawamu untuk memakamkan Carlos."by Hans.
Adaline diam tidak menanggapi apa yang Hans katakan.
Hans yang tidaj mendapatkan tanggapan berdiri dan berjalan keluar dari dalam kamar itu, membiarkan Adaline sendirian disana.