
Sudah hampir 4 bulan Hans dan Adaline menjalin hubungan. Mereka selalu bisa menutupi kekurangan masing-masing, walaupun terkadang Adaline harus selalu mengingatkan Hans agar tidak melakukan pekerjaan yang terlalu berbahaya.
Namun akhir-akhir ini Hans merasa ada yang berbeda dari Adaline, dia seperti selalu menghindari dirinya dan bahkan sudah lebih dari satu minggu mereka tidak melakukan hal intim.
Hari ini Xiao Yu Wen pergi sendirian ke sebuah restoran yang tidak jauh dari mansion Hans. Karena Adaline merasa tidak akan terjadi apa-apa pada dirinya, jadi diapun pergi sendirian.
Tapi dia tidak menyangka kepergiannya yang sendiri itu membuatnya melihat Hans bersama dengan seorang laki-laki masuk kedalam salah satu ruang VIP di restoran itu.
"Bukankah itu Hans, apakah dia melakukan pertemuan bisnis di restoran ini?" Gumam Adaline.
Adaline sama sekali tidak merasa curiga, karena wanita yang masuk bersama dengan Hans menggunakan pakaian yang cukup rapi dan juga cukup sopan, dan juga ada seorang pekayan yang ikut masuk ke dalam, jadi Adaline berpikir jika itu adalah salah satu rekan bisnis Hans.
"Sepertinya dia sangat sibuk, aku tidak akan menganggunya. Tetapi wanita itu...."
Adaline segera menggelengkan kepalanya, dia tidak mau memikirkan hal yang negatif saat melihat Hans bersama dengan wanita lain masuk ke dalam salah satu ruang VIP di restoran itu,, karena dia tahu Hans tidak akan melakukan apapun didalam sana.
Sementara di ruang VIP yang di pesan oleh Hans, sedang terjadi adegan yang diluar dugaan Adaline
"Lakukan dengan baik." Ucap Hans pada salah satu wanita di dalam ruangan itu.
"Baik, saya yakin hari ini akan membuat anda senang."
Hans hanya mengangguk sambil duduk di atas kursi.
Wanita itu dengan lihai melakukan aksinya pada tubuh Hans bagian bawah. Dan hanya sesaat dia telah berada di atas sebuah benda tumpul yang cukup besar dan berpacu di atasnya, sambil m'nger4ng.
Adaline mungkin tidak tahu jika Hans adalah pelanggan tetap dan pelanggan nomor satu di restoran itu, dan Hans akan di layani langsung oleh manager atau direktur restoran itu.
Semua permintaan Hans akan selalu di penuhi oleh restoran itu, seperti hari ini, Hans meminta beberapa alat untuknya bermain dengan menejer restoran itu.
Manajer restoran itu bahkan ikut bermain dengan Hans dan rekan kerja Hans.
"Kau bersiaplah, aku juga akan bermain dengan mu." Ucap Hans pada seorang pelayan restoran tercantik di restoran itu.
"Baik tuan."
Pelayan restoran itu dengan senang, menaanggalkan apa yang ada pada dirinya. Dan berdiri menunggu giliran sambil melakukan pemanasan dengan tangannya sendiri.
Melihat Hans selesai bermain dengan menejernya, pelayan restoran itu berbaring dan menunjukan pada Hans jika dia telah siap.
Hans pun tanpa membuang waktu, melakukannya pada pelayan restoran yang cantik itu.
"Tu.... Tuan." Ucap pelayan itu dengan suara merdunya.
Hans tidaj menghiraukan suara dan d*sahaan wanita itu, dia terus memaju mundurkan dirinya. Dan setelah 2 jam, Hans menyelesaikan permainannya.
"Terima kasih tuan Hans, saya pastikan selama kita menjalin kerjasama ini, saya akan membuat anda senang." Ucap wanita yang masuk bersama Hans.
"Tentu saja, selama kau bisa menutupinya dan tidak menghianati kerjasama kita."
"Tentu saja."
Wanita itu tersenyum, karena dia juga sangat menikmati permainan Hans, sebab selama ini dia tidak pernah merasa puas dengan orang lain.
Hans memberikan uang tip pada pelayan restoran yang juga ikut bermain, lalu mereka keluar seperti saat mereka masuk ke dalam ruangan.
Semua hal yang Hans lakukan di restoran itu tidak pernah di ketahui oleh siapapun, termasuk Alan.
Hans melajukan mobiknya menuju mansion, setelah merasa haasratnya telah tersampaikan tadi.
Setelah sampai di mansion, Hans melihat Adaline sedang membuat teh hangat di dapur l.
"Kau sedang membuat teh?" Tanya Hans.
Hans mengangguk "Kau mau?"
"Tentu, tapi aku akan mandi dulu."
"Baiklah, aku akan meletakan tehnya di dalam kamar."
"Terima kasih sayang."
Hans mengecup kening Adaline lalu berjalam menuju kamarnya.
Sekarang Adaline tidak lagi merasa canggung saat bertemu dengan anak buah Hans, karena setiap hari Hans akan memeluk atau bahkan menciumnya di depan anak buahnya tanpa malu dan ragu.
"Dia pasti sangat lelah, bahkan waktu aku keluar dari restoran itu saja dia sepertinya masih disana." Ucap Adaline pelan.
Drrrrrrt ddrrrrrrrt
Ponsel Adaline bergetar, dia mendapatkan sebuah pesan singkat.
X : Aline, bagaimana kabar mu? Kau masih mengingatku bukan?
Jantung Adaline berdetak dengan cepat membaca pesan singkat itu.
Itu adalah pesan dari seseorang yang dulu sangat menyukainya dan ingin memilikinya. Tapi karena kakek Adaline melarang, dan agar laki-laki itu tidak mengganggu lagi, Adaline di jaga oleh banyak pengawal, dan orang itu lalu keluar negri.
"Bagaimana dia tahu nomor ku?" Gumam Adaline.
Adaline tidak membalas pesan itu, dan justru menghapus pesan itu agar Hans tidak melihatnya dan salah paham padanya.
Pikiran Adaline saat ini berputar, karena jika orang itu menghubunginya itu artinya dia sudah kembali ke negara N.
Adaline mencoba menenangkan dirinya, agar tidak terlihat gugup di depan Hans karena pesan singkat dari laki-laki itu.
...----------------...
Di dalam, kamar Hans masih belum keluar dari kamar mandi, entah apa yang sedang Hans lakukan disana.
Adaline masuk kedalam kamar sambil membawa teh yang dia buat tadi.
"Sebentar lagi." Jawab Hans dari dalam.
Mendengar jawaban Hans, Adaline duduk disisi ranjang.
Ceklek
"Maaf, tadi aku berendam sebentar." Ucap Hans setelah keluar dari kamar mandi.
"Ah, tidak apa-apa. Kau pasti lelah hari ini, minum tehnya lalu istirahatlah."
"Terima kasih."
Adaline mengangguk. Dia sangat senang melakukan hal yang membuat Hans bahagia, walaupun itu adalah hal-hal yang kecil.
Hans melihat Adaline yang tiba-tiba terdiam, lalu mendekati wanita itu dan mengusap kepalanya.
"Ada apa?" Ucap Hans.
Adaline mendongak lalu menggelengkan kepalanya "Tidak ada apa-apa."
Hans membungkukkan tubuhnya lalu mencium bibir Adaline.
"Hans, ku tidak bisa melakukannya. Lagipula kau terlihat lelah hari ini." Ucap Adaline.
Hans mengerti, tentu dia tidak mau memaksa Adaline untuk melakukannya. Karena dia sudah tahu jika Adaline akan menolak.
Ini adalah kesekian kalinya Adaline menolak Hans untuk melakukan hal itu. Dan itu membuat Adaline merasa sangat bersalah.
"Maaf Hans, bukannya aku sudah tidak mau melakukannya dengan mu.Tapi, apakah kamu bisa menerima, jika aku sudah...."
...----------------...
Keesokan harinya, Hans melihat Adaline tengah duduk di taman samping mansionnya, lalu dia berjalan ke arah kamarnya.
Dan pada saat Hans baru masuk ke dalam kamar, Hans melihat ponsel Adaline bergetar dengan cukup keras.
Hans mengambil ponsel Adaline yang ada di atas meja, "Nomor siapa ini?"
Hans lalu mengangkat panggilan itu.
X : Aline, akhirnya kau mau mengangkat telefon dariku. Aku sudah kembali dan aku sangat merindukanmu.
Hans diam mendengar suara pria berbicara di seberang sana yang memanggil Adaline dengan begitu akrab.
X : Aline, halo? Kau masih disana? Aline, Adaline.
Hans : Saat ini, Adaline sedang ada di kamar mandi. Kau bisa menghubunginya lagi nanti setelah dia sudah selesai.
Setelah mengatakan itu, Hans langsung memutuskan sambungan telefonya.
Hans sangat ingat kalau laki-laki itu memanggil Adaline dengan sebutan "Aline" tebtu itu adalah sebutan yang hanya untuk orang terdekat saja.
Sebelumnya Hans sudah mencari tahu bagaimana kehidupan Adaline, dan hasilnya selain keluarga Wilson, dia tidak mempunyai kerabat atau saudara lain.
Hans duduk disisi ranjang, dan terus mencoba mengingat siapa orang yang pernah dekat dengan Adaline dulu.
"Apa yang kau sembunyikan dariku Adaline? begitu banyak hal yang kau rahasiakan?" Ucap Hans.
Hans mengusap wajahnya kasar, karena merasa kesal dengan Adaline.
Hans menghapus nomor yang menghubungi nomor Adaline tadi, agar Adaline tidak mengetahuinya, dan Hans akan menunggu sampai Adaline yang mengatakan sendiri semuanya.
Dengan perasaan kesalnya, Hans keluar dari kamar.
"Bos." Ucap Alan.
"Sudah tahu alasan dia berubah?"
"Sudah bos."
"Ke ruang kerja ku."
"Baik bos."
Hans dan Alan berjalan dan masuk ke dalam ruang kerja Hans.
"Katakan." Ucap Hans.
"Bos, saat nona Adaline menginap di hotel. Salah satu pekerja di hotel itu telah....."
"Telah apa?"
"Telah.... Memberikan obat dan melakukan hal itu kepada nona..."
Braaaaak!
"Beraninya dia!" Seru Hans dengan keras.
Kedua mata Hans menatap dengan tajam, dan aura membunuh seketika memenuhi ruang kerjanya.
"Kau ikut aku menangkap seseorang." Ucap Hans.
"Baik bos."
Hans dan Alan keluar dari ruang kerja itu, dan pergi meninggalkan mansion tanpa memberitahu pada Adaline.
Kali ini Hans akan menangkap dan menyiksa seseorang yang sudah membuat Adaline berubah dan membuatnya harus bermain dengan wanita lain di luar, beberapa hari ini.