ADALINE (My Young Lady)

ADALINE (My Young Lady)
Part 59



Esok harinya adsl bangun dengan kepala yang sangat sakit. Dia memegangi kepalanya yang terasa seperti akan pecah karena kemarin terus menangis.


Matanya melihat langit-langit kamar, mencoba mengingat apa yang sudah terjadi kemarin.


"Hans!" Seru Adaline setelah mengingat semuanya.


Adaline langsung turun dari ranjang dan keluar kamar tanpa menggunakan alas kaki. Dia berlari dengan cepat menuju ruangan dimana Hans di rawat.


Dari koridor Adaline tidak melihat siapapun di depan ruangan itu. Dan jantung Adaline berdetak dengan kencang saat mendengar isak tangis beberapa orang dari dalam ruangan itu.


Dengan pelan Adaline membuka pintu ruangan dan melihat anak buah Hans sudah berdiri mengelilingi tubuh Hans.


"Apa yang terjadi, kenapa semuamya menangis. Tidak mungkin, Hans tidak mungkin...."


Perlahan Adaline berjalan mendekati mereka, namun dia tidak bisa melihat Hans karena semua anak buah Hans yang berada disana menutupi Hans darinya.


"Nona Adaline." Ucap Alan.


Adaline menoleh, "A...Alan."


"Saya pikir anda pergi karena tidak ingin melihat bos lagi, sebab saya lihat anda tidak berada di dalam kamar tadi."


"Aku....."


Ucapan Adaline terhenti saat melihat mata Alan yang sembab seperti orang yang habis menangis.


"A...Alan, kau....Hans,dia...dia..."


"Adaline."


Sebuah suara yang sangat Adaline kenal, sebuah suara yang sangat Adaline rindukan terdengar dengan jelas di telinganya.


Adaline menoleh, anak buah Hans satu persatu menyingkir dan memperlihatkan Hans yang tengah bersender pada bantal di atas ranjang.


Air mata Adaline kembali mengalir, dia menatap Hans tanpa berkedip.


Dengan perlahan Adaline mendekati Hans, dan dengan bibir gemetar dia berusaha memanggil nama Hans namun tidak bisa terucap.


Tangan Adaline terulur dan menyentuh pipi Hans, "Kau....Kau..."


Hans hanya diam, dan membiarkan Adaline melakukan apa yang ingin dia lakukan.


Sementara Adaline yang tidak lagi bisa berkata memeluk Hans dengan erat, dan menangis dengan sangat kencang dalam pelukan Hans.


"Aku membencimu Hans, aku membencimu!" Ucap Adaline di sela tangisnya.


Hans membiarkan Adaline meluapkan semuanya, dan dia juga membiarkan Adaline memukuli bahu dan dadanya sampai wanitanya itu puas.


Hampir satu jam Adaline menangis dan mengatakan apa yang ingin dia katakan pada Hans.


Dan saat merasa Adaline sudah lebih tenang, Hans mengecup keningnya dan menepuk-nepuk punggung Adaline pelan.


"Kau sangat jahat, aku tidak akan memaafkanmu." Ucap Adaline pelan.


Hans tidak berkata apapun, dia hanya terus menepuk-nepuk punggung Adaline hingga akhirnya Adaline tertidur karena kelelahan dalam pelukan Hans.


Selama Adaline tidur, Hans selalu menatap wajah wanita yang telah memenuhi hatinya itu. Kedua mata Adaline yang bengkak, wajah yang merah dan bulu mata yang masih terlihat basah.


"Maaf sudah membuatmu seperti ini."


Hans lalu memanggil Alan yang berada di depan ruangan itu, untuk menanyakan bagaimana dengan perusahaan selama dia tidak sadarkan diri.


Alan memberikan beberapa file pada Hans yang kemudian di baca dengan teliti oleh Hans.


Hans merasa puas dengan kerja keras Alan dan Joe yang membantunya mengurus perusahaan. Karena meski tidak ada dirinya, perusahaan tetap berjalan dengan baik dan tidak ada satu orangpun yang melakukan hal yang tidak berarti.


"Kerja bagus, katakan pada Joe kalau aku akan kembali ke perusahaan minggu depan."


"Tapi bos, bukankah lebih baik bos istirahat lebih banyak?"


"Aku sudah baik-baik saja."


Hans memberikan kembali file tadi pada Alan, namun gerakannya membuat Adaline sedikit terbangun.


"Jangan pergi, aku merindukanmu." Ucap Adaline dalam tidurnya.


Hans menatap Adaline, dia melihat jika kedua mata adalw masih tertutup dengan rapat.


"Sepertinya nona Adaline mengigau bos." Ucap Alan.


Hans membelai rambut Adaline dan tersenyum tipis.


"Keluarlah dulu." Ucap Hans.


Alan mengangguk lalu meninggalkan Hans bersama dengan Adaline.


Hans menatap wajah Adaline yang terlihat semakin kecil, "Apa bayi kecil ini tidak makan dengan baik?" Gumam Hans.


Setelah puas menatap Adaline, Hans pun berbaring di sampingnya, dan tidur sambil memeluk tubuh Adaline.


***


Siang harinya Adaline bangun dengan tubuh yang terasa berat dan kepala yang begitu pusing.


Perlahan kedua mata Adaline terbuka, dan melihat sebuah tangan memeluk tubuhnya dengan erat. Adaline menatap wajah Hans yang sudah membuatnya sangat ketakutan.


"Bagaimana bisa wajahmu begitu kurus, Hans?"


Tangan Adaline terulur untuk menyentuh wajah Hans. Tulang rahang yang begitu tegas, pipi yang sedikit terasa menonjol karena Hans yang kurus, hidung yang mancung dan bibir yang tipis.


Adaline menatap wajah yang dia rindukan, wajah yang sangat dia khawatirkan, dan yang sangat takut tidak bisa dia lihat lagi.


"Apa kau tidur dengan nyenyak?" Ucap Hans seraya membuka kedua matanya.


Kedua mata mereka langsung bertemu dan saling mengunci saat Hans seketika.


Adaline hanya mengangguk pelan, suaranya seolah tidak ingin melompat keluar seperti kemarin saat dia berteriak, dan menangis ketika Hans masih tidak sadarkan diri.


Hans mengusap pipi Adaline dan tatapannya berubah menjadi sendu, tatkala apa yang sudah dia lakukan pada kekasihnya itu.


"Maafkan aku, aku...sudah membuatmu seperti ini." Ucap Hans pelan.


Adaline tidak menjawab,d dia lebih memilih untuk memeluk tubuh Hans dengan erat.


Dan untuk beberapa saat Adaline hanya ingin memeluk Hans tanpa mau mengeluarkan suara sedikitpun, begitu juga dengan suara tangisan atau isakan yang dia keluarkan sebelumnya.


Hans membiarkan Adaline memeluknya, karena selama beberapa hari dia pasti sudah melewati hari yang sangat berat dan menyakitkan.


" Apa kau ingin makan?" Ucap Hans.


Adaline menggelengkan kepalanya.


"Minum?" Ucap Hans lagi.


Kembali Adaline hanya menggelengkan kepalanya.


Hans tahu jika saat ini yang Adaline mau adalah sebuah penjelasan darinya, tetapi Hans belum bisa mengatakannya pada Adaline untuk saat ini.


Pikiran Adaline bisa di bilang masih belum stabil, jik dia memberitahu Adaline keadaan dirinya. Hans takut akan membuatnya terguncang dan menyalahkan dirinya sendiri karena selalu menolak Hans beberapa hari yang lalu, dan itu akan membuat Hans tidak berdaya. Karena itu dia harus memilih waktu yang tepat untuk mengatakannya oada Adaline.


"Aku akan menjelaskannya nanti, semuanya akan aku katakan padamu. Tetapi aku mohon untuk bersabar." Ucap Hans sambil mengusap kepala Adaline.


"Maaf, karema sudah membuat mu seperti ini."


Hans tertegun mendengar ucapan Adaline yang meminta maaf padanya, padahal dirinyalah yang bersalah karena terlah menyakiti wanitanya itu.


"Kau tidak bersalah, aku yang sudah membuat kau merasa tersakiti. Seharusnya akulah yang meminta maaf padamu. Aku sungguh sangat menyesal telah menbuatmu terluka."


Adaline menggelengkan kepalanya, saat ini dia benar-benar merasa takut akan kehilangan Hans.


Mungkin akan banyak yang berkata jika Adaline adalah wanita bod0h, karena masih bertahan dengan Hans yang telah menyakitinya. Tetapi dia tidak peduli, karena satu-satunya orang yang dia cintai dan tidak ingin dia tinggalkan adalah Hans.