
Carlos melihat Alan berjalan keluar dari dapur, di belakangnya ada paman Yan yang membawa nampan berisi cangkir kopi yang Hans inginkan.
"Alan." Ucap Carlos.
"Iya?"
"Apa kopi itu untuk Hans?"
"Benar."
"Emm... Apa Hans sibuk?"
"Sepertinya tidak terlalu, ada apa?"
"Aku ingin bicara dengan Hans sebentar."
"Baik, aku akan memberitahu bos."
"Iya, terima kasih."
Alan mengangguk lalu pergi menyusul paman Yan keruang kerja Hans.
Sementara itu didalam kamar, Adaline duduk termenung sendirian. Sore ini dia akan kembali, walaupun dia bisa menemui Hans lagi, tapi pasti akan sulit.
Adaline tahu bagaimana peraturan didalam keluarga Wilson, dia tidak bisa leluasa pergi dari rumah utama. Apalagi hanya dengan alasan ingin menemui Hans.
"Apa yang harus aku lakukan? Jika aku pergi..."
Adaline Wilson larut dalam lamunannya, dia sungguh bingung harus bagaimana.
Menjadi penerus wanita satu-satunya di keluarga Wilson pada usia yang muda sangat tidak di inginkan olehnya. Tapi jika bukan dia, maka kemungkinan besar keluarga Wilson pasti sudah hancur sejak kakek Adaline meninggal sekitar 3 tahun yang lalu.
Adaline memikirkan cara agar setelah kembali ke kediaman keluarga Wilson, dia tetap bisa bertemu dengn Hans tanpa kesulitan.
Dia memikirkan cara sampai akhirnya dia tertidur di sofa.
****
Sore harinya, Adaline terbangun karena merasakan sentuhan pada pipinya.
"Eung..." Itulah kata pertama yang keluar dari bibirnya setelah bangun.
"Kau sudah bangun?"
"Ha...Hans?"
"Bersihkan tubuh mu, aku akan mengantarmu pulang."
"Kau tahu kalau..."
"Iya aku tahu, Carlos sudah mengatakannya siang tadi padaku. Jadi aku tunggu 15 menit di ruang tamu. Cepat mandi."
"Hans... Bisakah aku... tidak pulang?"
Hans menatap Adaline Wilson.
"Ini bukan tempat penampungan keluarga Wilson. Dan lagi, aku tidak ingin keluargamu mengobrak-abrik markasku hanya untuk mencari nona mudanya."
Betapa dingin dan tajamnya perkataan Hans kepada Adaline saat ini. Sehingga membuat Adaline harus menahannya.
"Baik, aku tidak perlu mandi. Lebih baik kita berangkat sekarang." Ucap Adaline.
"Bos, mobil sudah siap." Ucap Alan.
Hans sadar dari lamunannya, dia lalu keluar dari kamar.
Didepan mansion, Hans melihat Adaline dan Carlos sudah berdiri disamping mobil.
"Apa kalian hanya akan berdiri disana?" Ucap Hans.
Adaline dan Carlos menoleh tanpa berkata apapun.
Seorang supir membukakan pintu mobil untuk Adaline dan Carlos, lalu membuka pintu yang lain untuk Hans.
"Masuklah, jika tidak kita akan sampai larut malam." Ucap Hans lagi.
Hans masuk kedalam mobil, di ikuti oleh Adaline yang dengan terpaksa masuk kedalam mobil itu.
Di sepanjang jalan Adaline terdiam, dia memilih melihat jalanan dari jendela mobil.
Ada perasaan tidak rela, tetapi dia punya pilihan. Hans pun sudah mengatakan hal yang membuatnya kecewa.
Dua jam mereka berkendara, akhirnya mereka sampai didepan pintu gerbang berwarna putih yang cukup besar.
"Aku tidak bisa mengantar kalian sampai dalam." Ucap Hans.
"I...ya tidak apa-apa. Terima kasih sudah mengantarkan kami."
Supir keluar da membantu membukakan pintu mobil.
Adaline dan Carlos keluar dari mobil itu lalu berdiri disamping.
"Masuklah." Ucap Hans.
Hans meminta supirnya untuk kembali ke mansion, dia tidak begitu peduli dengan tatapan Adaline yang terlihat sendu.
Bagi Hans apa yang di rasakan oleh putri dari keluarga Adaline saat ini, tidak ada hubungannya dengan dirinya. Jadi dia tidak ingin repot-repot menghiburnya.
"Dia benar-benar sangat berbeda dari kak Dave." Ucap Adaline yang melihat mobil yang Hans naiki semakin menjauh.
"Anda benar nona, tetapi mereka memiliki aura yang hampir sama."
"Jika saja kita lebih cepat menemukan Hans."
Carlos hanya diam mendengar ucapan nona mudanya saat ini.
Setelah Adaline tidak lagi melihat mobil yang Hans naiki, dia berbalik dan berjalan memasuki taman rumahnya yang cukup luas. Dan tentu di ikuti oleh Carlos di belakangnya dengan setia.
"Carlos, apakah mereka masih berpikir jika aku akan mudah di kendalikan oleh mereka?" Ucap Adaline.
"Saya tidak tahu nona muda, kita akan tahu setelah mereka sudah mengetahui kembalinya anda kesini."
Adaline hanya menganganggukan kepalanya, dia masih tidak percaya jika keluarga Wilson yang lain begitu tidak menyukai dirinya, yang telah terpilih menjadi penerus keluarga itu oleh tuan besar Wilson.
Pintu rumah terbuka, kepala pelayan dan beberapa pelayan di rumah itu menyambut kedatangan Adaline.
"Aku akan beristirahat, jangan ada yang mengangguk ku. Dan siapkan makan malam seperti biasa." Ucap Adaline setelah masuk ke dalam rumahnya.
"Baik nona muda." Ucap semua pelayan itu secara bersamaan.
Adaline hanya mengangguk, laly berjalan menaiki tangga dan menuju kamarnya yang berada di lantai dua.