
Jendral Grinz langsung berlari ke ruang penelitian setelah lolos dari sergapan sebelumnya.
Meskipun mengalami luka tembak yang cukup parah, tapi ia masih bersikeras berlari sambil memegangi lengannya yang mengeluarkan darah.
'Sial ... bagaimana hal ini bisa terjadi? ... kenapa aku bisa seceroboh ini!'
Pria itu mengutuk kebodohannya sendiri dalam hatinya, dia terlalu lengah sampai-sampai tidak menyadari jika markas yang dia kira sangat aman itu telah disusupi musuh.
'Ini semua karena pria tua mesum itu membuatku berakhir seperti ini...'
Bukan hanya mengutuk dirinya sendiri, tapi dia juga mengutuk rekannya, Hiroaki yang menjadi dalang utama dari masalah itu.
Jendral Grinz terus berlari menelusuri lorong dengan sangat bising karena suara alarm dan lampu merah yang terus berkedip, hingga sebuah tembakan melesat dari belakang dan hampir mengenai kepalanya.
Peluru kecil itu tepat melayang di sebelah telinganya, membuat suara bias yang cukup keras.
'Sial, mereka menyusulku!' batin Jendral Grinz yang panik.
Ia mempercepat langkahnya ketika dirinya mulai dihujani puluhan peluru yang siap menembus tubuhnya, bersamaan dengan itu Jendral Grinz sudah sampai di ruang penelitian dan langsung menutup pintunya yang terbuat dari logam itu.
Pria itu nyaris saja terkena banyak tembakan dari belakang. Jika saja dia terlambat sampai di ruang penelitian dan menutup pintunya, maka bisa dipastikan jika nama Jendral Grinz akan sirna di saat itu juga.
'Aku harus cepat!'
Tanpa membuang-buang waktu lagi ia langsung berlari ke arah sebuah meja kontrol yang dipenuhi dengan banyak tombol-tombol.
Namun bersamaan dengan itu plafon ruang penelitian tiba-tiba meledak dan hancur hingga meninggalkan lubang yang besar di atas sana.
Beberapa orang bersenjata turun dari lubang sebelum seorang pria yang tampak mencolok juga turun paling belakang, dia adalah Asher.
"Tch!"
Jendral Grinz berdecak kesal melihat kedatangan salah satu kapten pasukan Frasier-01.
Ia kemudian berusaha keras untuk meraih salah satu tombol merah yang terdapat di meja kontrol untuk menekannya, tapi sebelum dia bisa melakukan itu-
DOR!
Tembakan dari senjata api tepat mengenai punggung Jendral Grinz dan membuatnya jatuh tersungkur.
"Kau pikir kau bisa melakukan itu saat aku sudah datang?" ujar Asher dingin setelah menembakkan peluru kepada musuhnya itu.
Asher berjalan menghampiri pria yang sudah tidak berdaya itu, dan ketika sudah sampai di hadapannya Asher langsung menginjak kaki pria itu hingga terdengar suara tulang yang patah.
"Aaargh!"
Jendral Grinz berteriak histeris di bawah tatapan dingin Asher.
"Tidak usah banyak basa-basi, aku hanya ingin bertanya satu hal padamu ... dimana markas Aliansi Anti-Futuristik yang kau tahu?" lanjut Asher mencoba mendapatkan informasi sebelum mengakhiri hidup pria menyedihkan itu.
Jendral Grinz tidak menjawab, melainkan mengeram marah lalu meludahi sepatu Asher dan merendahkannya.
"Jangan harap kau mendapatkan hal yang ingin kau dapatkan dasar keparat!" teriaknya.
Tatapan dan ekspresi wajah Asher masih sama dinginnya, dia bukan tipe pria yang bisa diajak bercanda apalagi saat sedang menjalankan misi.
Dia juga tidak akan bisa di profokasi dengan semudah itu oleh musuhnya.
"Sepertinya kau tidak mau bicara ... kalau begitu biar kubunuh kau dan mengambil otakmu untuk dimasukkan ke mesin pembaca pikiran milik kami..." kata Asher dingin sambil menodongkan senapan satu tangannya itu ke arah jantung Jendral Grinz.
Dihadapan pada kematian, Jendral Grinz malah tersenyum seperti orang gila yang membuat siapapun yang melihatnya akan mengeluarkan ekspresi jijik.
'Gawat!' batin Asher merasakan bahaya, sontak dia langsung menodongkan senapannya ke arah salah satu kabel yang terhubung dengan meja kontrol. Maksud hati ingin memutus aliran listriknya.
Namun tanpa diduga-duga Jendral Grinz langsung melayangkan kakinya untuk menendang senapan di tangan Asher, membuat peluru dilepaskan ke atas dan gagal mengenai kabel itu.
Semua pasukan Asher sontak waspada dan menodongkan senapan mereka ke arah Jendral Grinz yang sudah tidak berdaya.
"Bunuh dia!" perintah Asher.
"Hahahaha! kau kira kau bisa selamat setelah membunuhku? mimpi saja!" teriak Jendral Grinz sebelum puluhan peluru menghujani tubuhnya hingga menewaskannya.
Namun meskipun dia telah tewas, tapi masalah masih belum berhenti sampai disana karena tabung besar yang berisikan subyek penelitian itu tiba-tiba pecah secara bersamaan.
Ratusan manusia yang terbebas dari tabung itu memiliki bentuk tubuh yang aneh, seperti kulit yang melepuh sampai dengan lengan yang sangat panjang. Beberapa juga memiliki kuku dan gigi yang tajam.
Beberapa saat setelah terbebas dari tabung berisi cairan hijau, para manusia itu langsung membuka matanya dan memperlihatkan mata predator.
Mereka bangkit dengan tubuh yang lemas seolah-olah orang mabuk dan mengeram seperti binatang buas, mulut mereka berbusa ketika melihat ada mangsa lezat di hadapan mereka yaitu Asher dan pasukannya.
"Seperti kata Tuan Zhara, mereka memang melakukan hal yang sangat keji..." gumam Asher.
Penelitian manusia dengan bertujuan untuk mengubahnya menjadi makhluk super ataupun senjata biologis adalah suatu tindakan yang tidak berprikemanusiaan.
Asher dan kapten lainnya sangat membenci hal itu, mereka membenci tindakan Aliansi Anti-Futuristik yang merencanakan semua ini tanpa tahu jika Tuan mereka, Zhara juga pernah melakukan hal yang sama...
"Groaarhh!"
Salah satu mutant berlari ke arah Asher dengan mulut terbuka lebar, memperlihatkan sederet gigi tajamnya.
Melihat itu Asher langsung menggerakkan senapannya dengan cepat dan memasukan moncong senapannya itu ke mulut makhluk menjijikkan itu.
Dan dengan satu tarikan pelatuk, peluru berukuran 55 ml itu langsung menembus otak makhluk itu dan menghancurkannya.
Satu mutant telah terbunuh dengan mudahnya, ternyata gerakan mereka tidaklah segesit yang Asher pikirkan, jadi dia bisa langsung memerintah seluruh pasukannya dengan mudah.
"Bunuh semua makhluk menjijikkan ini tapi sisakan satu untuk diselidiki nanti!"
""Baik kapten!"" jawab pasukannya serentak lalu mulai menghujani para mutant di hadapan mereka itu dengan peluru, beberapa juga melemparkan granat yang langsung membunuh puluhan mutant.
Selagi pasukannya membunuh para mutant dengan sangat mudah, Asher memeriksa pakaian Jendral Grinz dan menemukan sebuah kotak kecil yang ketika dibuka ternyata isinya adalah sebuah chip seukuran ibu jari.
Itu adalah chip penelitian yang diinginkan oleh Zhara.
Asher kemudian membuka HPC miliknya untuk menghubungi kondisi semua rekannya secara bersamaan.
"Target misi sudah aku dapatkan, kita bisa kembali bersama dengan para tahanan penelitian." kata Asher melaporkan situasi.
[Kurasa kita tidak bisa kembali semudah itu...]
Perkataan dari Queen yang sedang bersama Felix dan Warren dalam upaya penyelamatan tahanan membuat Asher mengernyitkan dahinya.
"Apa maksudmu, Queen?"
[Ada banyak gempuran mutant jauh di lantai dasar ruang bawah tanah ini, sepertinya mereka telah menyempurnakan banyak mutant dan menyimpannya di ruang yang tidak akan bisa kita jangkau.]
Laporan dari Queen membuat Asher sangat terkejut pasalnya mereka sama sekali tidak memiliki tentang informasi yang satu ini.
Bahkan kemampuan peretas milik Warren tidak mampu mengetahui jika ada ruangan lagi di bawah sana.
Para mutant yang sedang dihadapi oleh Asher dan pasukannya saat ini hanyalah mutant lemah yang masih belum sempurna, mungkin mutant yang sudah sempurna jauh lebih kuat daripada yang sedang mereka hadapi....