
Zhara sedang diikuti oles seseorang sekarang tapi dia tetap berjalan dengan tenang untuk menganalisa lawan, dari langkah kakinya yang ringan Zhara bisa tahu kalau orang yang mengikutinya itu adalah seorang wanita.
Walaupun terkesan mirip, suara langkah kaki seorang pria dan wanita itu memiliki perbedaan.
'Apa itu wanita yang sebelumnya? jika memang benar maka apa yang dia inginkan dariku?' batin Zhara.
Zhara tidak tahu apa tujuan wanita itu, tapi yang pasti apapun tujuannya pasti tidak akan baik.
Zhara masih berjalan menelusuri lorong tanpa menoleh ke belakang dan tiba tiba memasuki salah satu lorong di sebelah kanan.
Wanita yang mengikuti Zhara sedikit kebingungan, dia kemudian berjalan semakin cepat untuk menuju lorong yang dimasuki Zhara yaitu lorong sebelah kanan.
Namun ketika dia berbelok ke kanan, ternyata Zhara sudah menunggunya disana dan langsung mendaratkan tendangan tinggi yang mengarah ke leher wanita itu.
Bugh!
Wanita itu menangkis tendangan Zhara dengan kedua tangannya yang dengan jelas dapat membuatnya pingsan karena menyerang titik vital, akan tetapi tendangan Zhara mampu membuat topeng yang dikenakan wanita itu sedikit retak.
"Cih!"
Rencana Zhara untuk membuat wanita itu pingsan dan menangkapnya gagal karena tanpa dia duga ternyata wanita itu cukup ahli dalam bela diri.
Dalam sepersekian detik pandangan Zhara dan wanita itu bertemu sesaat, Zhara benar benar dibuat terkejut karena tatapan wanita itu.
Itu adalah mata merah darah yang tajam dan penuh dengan kebencian pekat yang mengarah kepadanya, terlebih lagi mata itu mengingatkan Zhara tentang seseorang.
Disini Zhara sudah mendapatkan firasat buruk.
Usai menangkis tendangan Zhara, wanita itu mengambil pistol miliknya dengan cepat dan langsung menodongkannya kearah Zhara.
Dor!
Pelatuk ditarik dan menembakan sebuah peluru yang melesat langsung ke arah Zhara dan mendarat tepat dilengannya karena Zhara tidak mampu menghindari tembakan sedekat itu.
Namun Zhara tidak terpengaruh apapun oleh tembakan itu yang membuat wanita itu sangat terkejut, Zhara kemudian langsung mencengkeram wajah wanita itu atau lebih tepatnya topeng wanita itu.
Dan dengan satu tarikan-
Crack!
Topeng wanita itu hancur berkeping keping.
Tapi sebelum Zhara mampu melihat wajah wanita itu, wanita itu sudah mendaratkan lutut mulus dan langsingnya tepat ke wajah Zhara dan membuat topengnya ikut hancur.
Greb!
Wanita itu langsung melilit leher Zhara menggunakan kedua kaki mulusnya, kemudian itu memutar tubuhnya dengan cepat bersamaan dengan Zhara yang terputar dan terbanting ke lantai dengan keras.
Bugh!
Bugh!
Bukan hanya Zhara yang terbanting ke lantai, melainkan wanita itu juga ikut terbanting ke lantai.
Seolah olah tidak merasakan rasa sakit sama sekali, kedua orang itu langsung bangkit dengan cepat dan efisien bersamaan dengan mengambil pistol mereka masing masing dan menodongkannya satu sama lain.
"......."
"......."
Mereka berdua terdiam.
Tidak ada yang menarik pelatuk satu sama lain ataupun kembali bergerak untuk bertarung.
Mereka hanya diam dan saling memandang dalam diam.
Ternyata firasat buruk Zhara memang benar adanya.... salah satu tujuannya datang ke korea adalah untuk menghindari bertemu dengan wanita ini, atau lebih tepatnya gadis ini.
Seharusnya gadis itu saat ini sedang berada di indonesia, jadi Zhara memilih untuk pergi dari indonesia agar tidak bertemu dengannya, walaupun kesempatan untuk bertemu secara kebetulan itu kemungkinannya sangat kecil, tapi Zhara tidak tahu apa yang akan terjadi.
Namun kenapa gadis itu sekarang berada disini? ini adalah pertemuan secara kebetulan yang selalu dihindari Zhara.
Benar, gadis itu adalah Seo Yun, gadis yang pernah dia cintai di masa depan dan gadis yang menjadi sumber penyesalan seumur hidupnya.....
..
..
..
'Tenanglah, tidak mungkin dia mengingat tentang kehidupan sebelumnya....' batin Zhara menenangkan dirinya.
Dia tidak boleh bertindak aneh dan mencurigakan di depan gadis sepintar Seo Yun.
Zhara ingin bertanya tentang apa tujuan Seo Yun, tapi sebelum dia membuka mulutnya, Seo Yun terlebih dahulu memotongnya.
"Apa kau mau berpura pura jika kita saling tidak mengenal?"
Zhara sedikit kaget,"Apa sebelumnya kita pernah bertemu?"
Bagaimanapun seseorang melihatnya, ini adalah pertemuan pertama mereka yang berjalan dengan tidak lancar, bahkan saat ini mereka masih saling menodongkan senjata mereka dengan waspada sembari berbicara dan memperkenalkan diri.
"Tentu saja kita pernah bertemu, aku bahkan masih mengingat dengan jelas bagaimana kau membunuhku pasca Apocalypse...." ucap Seo Yun penuh kebencian.
Sebelumnya Seo Yun datang ke pelelangan gelap hanya sekedar untuk mendapatkan obat obatan untuk ayahnya, tapi dia tidak menyangka bisa menemukan kristal yang sama dengan kalung kristal berbentuk burung merpati di kehidupan sebelumnya.
Jadi dia mencari tahu mengenai penjual kristal itu dan mengikutinya, dan sesuai dengan perkiraannya, orang yang menjual kristal itu adalah Zhara.
Sementara Zhara, dia tidak tahu harus mengatakan apa, dari perkataannya saja dia sudah menyadari jika Seo Yun juga terlahir kembali dari masa Apocalypse.
Jika Zhara saja bisa terlahir kembali, lalu kenapa Seo Yun tidak? dan yang lebih mengkhawatirkan lagi, apakah masih ada orang lain yang terlahir kembali dari masa Apocalypse...?
"....... Aku akui jika aku memang salah saat itu... tapi sekarang bukan waktunya memikirkan hal itu, kita punya hal yang lebih penting-"
"Tidak usah berbasa basi Zhara, aku tahu itu bukan sifatmu. Kau pikir dengan mengakui kesalahanmu aku akan memaafkanmu? Tidak! sampai matipun aku tidak akan pernah memaafkanmu! Semua penderitaan dan pengkhianatan yang kau berikan padaku hanya bisa dibalas dengan nyawamu!"
Mata Seo Yun memerah, menatap tajam kearah Zhara dengan penuh kebencian seakan akan ingin menghabisinya dengan sekejam kejamnya.
Sebenarnya apa yang telah dilakukan Zhara kepada Seo Yun pasca Apocalypse?
...----------------...
...[Apocalypse Era]...
"Seo Yun aku mencintaimu, maukah kau menjadi kekasihku?"
"Eh?"
Zhara tiba tiba menyatakan perasaannya langsung kepada Seo Yun, gadis yang sangat ia cintai selama ini dan selalu ia pendam dalam dalam karena takut di tolak.
Tapi sekarang Zhara menguatkan tekadnya untuk menyatakannya secara langsung.
Perjalanan mereka dalam dunia pasca Apocalypse penuh dengan bahaya yang mengancam nyawa, Zhara tidak tahu entah kapan kematian akan menjemputnya atau Seo Yun.
Jadi dia memutuskan untuk menyatakan cintanya sebelum terlambat.
Tapi reaksi Seo Yun jauh dari dugaan Zhara.
"Maaf... maaf... maafkan aku... aku tidak bisa bersamamu..."
Seo Yun menangis, tapi itu bukan tangisan bahagia melainkan kesedihan yang mendalam dan menolak Zhara secara langsung.
"K-Kenapa?"
Seo Yun tidak menggubris perkataan Zhara dan malah mempersiapkan barang barangnya di dalam tas ransel miliknya.
Mereka saat ini sedang berada di sebuah apartemen terbengkalai untuk berlindung dari para Zombie yang semakin mengganas di malam hari, tapi Seo Yun sekarang malah mempersiapkan barangnya untuk pergi dari sana.
Zhara tidak terima jika Seo Yun pergi begitu saja dan menyuruhnya untuk tetap tinggal karena di luar sedang penuh dengan bahaya.
Tapi Seo Yun tetap bersikeras untuk pergi.
"Kurasa sampai disini perjalanan kita, selanjutnya kita tidak akan pernah bertemu lagi..."
Zhara tidak tahu harus melakukan apa, hanya karena pernyataan cintanya sekarang hubungan mereka akan hancur.
Selain itu Zhara juga terbawa emosi karena merasa dipermainkan oleh Seo Yun, padahal mereka sudah melalui banyak hal untuk sampai di titik itu, tapi sekarang dia mau meninggalkan Zhara?
"Jangan bercanda!"
"Z-Zhara?"
Zhara menghampiri Seo Yun lalu memukul samping kanan lehernya hingga pingsan, sebelum tak sadarkan diri Seo Yun sempat mendengar Zhara menggumamkan sesuatu seperti 'aku tidak akan membiarkanmu pergi'
Dan hal itupun terjadi...
..
..
..
"Hiks.... Hiks.... apa, apa yang telah kau lakukan padaku?"
Seo Yun menangis dengan penuh kesedihan di atas kasur apartemen, memegangi tubuh polosnya yang hanya di tutupi oleh selimut tipis.
"Aku terpaksa melakukan ini...." ujar Zhara sambil mengenakan pakaiannya.
Karena mereka telah melakukan 'hal itu', mau tidak mau Seo Yun harus tetap bersama dengan Zhara karena Zhara memiliki tanggung jawab terhadapnya.
Walaupun hubungan mereka tidak sehangat dan sebaik sebelumnya tapi semuanya masih berjalan cukup lancar hingga beberapa bulan kemudian, semuanya mulai berubah.....
...[Diujung Jurang]...
Craash!
Tangan Zhara tepat menembus tubuh Seo Yun, darah berceceran dari perut Seo Yun dan mulutnya memuntahkan seteguk darah.
"K-Kenapa...." ujar Seo Yun dengan lirih.
"......."
Zhara tidak menjawab, matanya kosong dan ekspresinya sama sekali tidak berubah walaupun sudah melubangi orang yang dia cintai.
Zhara menggerakan tangannya dan ingin meraih salah satu kalung yang dikenakan Seo Yun, Seo Yun memakai dua kalung sekaligus yaitu kalung kristal berbentuk burung merpati hadiah ulang tahun dari Zhara dan satunya kalung kristal berwarna merah pekat.
"Jika aku harus mati, maka aku akan membawamu ikut bersamaku!" teriak Seo Yun.
Sebelum Zhara mengambil kristal merah pekat milik Seo Yun, Seo Yun terlebih dahulu memegangnya dan menghancurkannya menggunakan tangannya.
Bersamaan dengan itu sinar terang menyelimuti mereka berdua dan beberapa saat kemudian kristal itu akan meledak dengan dahsyat, tapi sebelum itu meledak di dekat Zhara, dia sudah terlebih dahulu melempar Seo Yun ke dalam jurang tak berujung itu.
BOOOOM!
Ledakan dahyat terjadi hingga mengguncang tanah, seluruh tubuh Seo Yun musnah tak terasa akibat kedakan sedangkan Zhara masih bisa selamat.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Btw scene kematian Seo Yun mirip dengan scene kematian Zhara di Chp 1 yaitu sama sama mati karena ledakan kristal, tentunya itu bukan kristal biasa...