1095 DAYS BEFORE THE APOCALYPSE

1095 DAYS BEFORE THE APOCALYPSE
Chp 3: Sekolah



Polisi dan ambulans tiba di tempat lokasi kecelakaan tapi Zhara sudah pergi terlebih dahulu dari sana.


Moodnya untuk menikmati pemandangan indah sembari berangkat sekolah langsung hilang begitu saja karena ulah Andri.


Zhara sama sekali tidak khawatir jika dirinya akan menjadi tersangka karena dia sudah memperhatikan CCTV dengan baik sehingga dirinya tidak akan mendapatkan kecurigaan.


Sebenarnya Zhara tidak membunuh Andri hanya karena alasan sepele seperti Andri yang meminta uang kepadanya tapi karena apa yang dilakukan Andri di masa depan nanti.


Ketika Apocalypse tiba maka bukan hanya zombie yang menjadi sumber bahaya tetapi juga para manusia dengan hati busuk adalah bahaya yang sesungguhnya.


Manusia saling merampas satu sama lain ataupun membunuh untuk bertahan hidup dan Andri beserta kelompoknya adalah salah satunya, karena itulah Zhara membunuhnya.


Setidaknya ia telah membersihkan satu manusia busuk sebelum Apocalypse.


Zhara sebenarnya ingin membersihkan para manusia busuk agar mereka tidak menjadi ancaman kelak, tapi mengigat ini adalah negara hukum dan ada sosok ibu yang disayanginya, Zhara harus memikirkan hal itu dengan lebih baik agar tidak membahayakan ibunya.


Dengan pemikiran itu, Zhara kembali berangkat menuju sekolah yang sudah lebih puluhan tahun tidak dia kunjungi...


...----------------...


Di sebuah ruang kelas, terlihat puluhan siswa yang sedang berbincang dan tertawa gurau bersama temannya, seorang gadis berambut hitam dan terlihat sangat cantik sedang cemberut di bangkunya sendiri.



"Hah...... Orang itu tidak datang lagi ya hari ini....." gumam gadis itu.


Karena gadis itu adalah seorang ketua kelas, jadi dia harus bertanggung jawab atas teman-temannya


Dia sedang mengabsen teman-temannya tapi ada salah satu siswa yang tidak pernah datang selama sekolah dimulai, bahkan dia sama sekali tidak tahu bagaimana penampilan siswa itu.


"Amelia, kenapa kau terlihat sangat cemberut hari ini?"


Sebuah suara terdengar dari belakang gadis itu dan memperlihatkan seorang gadis cantik berambut coklat pendek.



Gadis yang ternyata bernama Amelia itu menghela napasnya dan berkata dengan cemberut.


"Oh Rina..... Sepertinya siswa itu tidak datang lagi hari ini..."


"Bukankah sudah kukatakan untuk tidak terlalu memperdulikan anak nakal itu." kata gadis yang ternyata bernama Rina itu.


"Itu tidak bisa, sudah tugasku sebagai seorang ketua kelas untuk bertanggung jawab terhadap siswa lainnya." jawab Amelia.


Amelia memanglah seorang gadis yang selalu bertanggung jawab atas tugasnya dan selalu bersikap ramah kepada teman-temannya tapi bersamaan dengan itu dia juga orang yang tegas jika ada siswa yang melanggar peraturan


Dan itulah yang membuatnya menjadi sangat populer tapi susah didekati di sekolah


Ketika mereka sedang asyik berbincang, pintu kelas tiba-tiba dibuka dengan keras yang membuat semua siswa refleks menoleh kearah pintu dan mendapati seorang siswa laki-laki yang sangat tampan tapi juga terlihat sangat mengintimidasi karena ekspresinya yang dingin.


Ruang kelas yang sebelumnya berisik langsung menjadi hening karena kedatangan siswa itu dan bisik-bisik terdengar dari siswa lainnya.


"Hei apakah itu murid baru? Aku tidak pernah melihatnya di sekolah sebelumnya." ujar seorang siswa laki-laki.


"Aku tidak tahu itu, tapi yang pasti adalah dia sangat tampan!" kata seorang siswi perempuan dengan gembira.


"Hei aku ini pacarmu lho.... " kata siswa laki-laki itu.


Intinya setiap pembicaraan yang dilakukan oleh para siswa itu menanyakan tentang identitas siswa tampan itu.


Zhara melihat kearahnya dengan menyipitkan matanya, dia bukan melihat Rina melainkan melihat Amelia yang berada di dekat Rina.


'Orang itu....'


Zhara sangat mengingat Amelia melebihi apapun, ketika kekejian dan kemunafikan manusia pasca Apocalypse, sebuah organisasi muncul tiba-tiba dan menamai diri mereka sebagai seorang Executioner.


Organisasi yang hanya beranggotakan beberapa orang itu membuat semua orang yang berbuat jahat sukses gemetaran karena tugas seorang Executioner adalah menghukum orang orang seperti mereka.


Dan alasan kenapa Zhara melihat Amelia dengan aneh adalah karena Amelia merupakan ketua dari organisasi Executioner itu dan sering dijuluki sebagai Queen Of Judgment.


Amelia yang melihat Zhara menatap dirinya langsung menghampirinya sementara Zhara juga sebenarnya ingin berbicara dengan orang yang dimasa depan akan menjadi seorang gadis yang sangat ditakuti itu.


"Apa kau yang bernama Zhara?" tanya Amelia, dia sama sekali tidak merasa ketakutan ataupun gugup berhadapan dengan Zhara yang memiliki ekspresi dingin itu.


'Benar-benar sesuai dengan ekspetasiku.....' batin Zhara.


"Itu benar." jawab Zhara singkat.


Amelia sedikit menaikan alisnya dan berkata,"Kalau begitu seharusnya kau tahu sudah berapa lama kau tidak masuk sekolah kan?"


"Aku tahu itu." kata Zhara dengan tenang.


"Kalau begitu bisa kau sebutkan alasanmu tidak datang ke sekolah selama ini?"


"Tidak ada alasan khusus, aku hanya malas untuk datang....." jawab Zhara dengan cuek tapi tidak dengan Amelia.


"Kau seharusnya dihukum karena hal itu." kata Amelia dengan serius, tapi lagi-lagi dibalas dengan cuek yang membuat Amelia langsung menjadi emosi.


"Terserah, aku juga tidak peduli dengan itu... "


"Kau! Apa kau mau ibumu dipanggil kesekolah untuk kesekian kalinya!?" kata Amelia dengan sedikit marah.


Tatapan mata Zhara langsung tajam karena perkataan Amelia yang menyebut ibunya, Zhara tiba-tiba memegang tangan Amelia dan langsung melempar tubuhnya ke dinding dengan satu tangan Zhara bersandar untuk mencegah Amelia kabur.


"Apa yang kau lakukan!" Amelia terlihat panik dengan wajahnya yang memerah dan ingin segera keluar dari pose memalukan itu tetapi Zhara mencegatnya dengan cara memasukan lututnya ke selang.kang.an Amelia dan langsung membuat Amelia mengerang.


Para siswa yang melihat adegan intim didepan mata mereka terlihat sangat terkejut dan tidak percaya dengan fakta itu, tapi mereka sama sekali tidak berani ikut campur setelah melihat keganasan Zhara.


Amelia menegang setelah melihat tatapan mata Zhara yang menatap tajam ke matanya tapi Amelia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa, keberaniannya yang sebelumnya telah berubah menjadi sebuah ketakutan....


"Jangan pernah membawa-bawa ibuku...." kata Zhara dengan tanpa emosi yang membuat Amelia sukses bertanya-tanya apakah dia itu benar-benar manusia?


Amelia tidak menjawab dan hanya mengangguk dengan patuh, situasinya yang sekarang tidak membiarkannya untuk melawan perkataan Zhara.


"Kyaaa!"


Sebuah teriakan seorang wanita datang dari arah pintu yang menarik perhatian semua orang.


"Bu guru...." gumam Amelia.


"A-Apa yang kalian lakukan! I-Itu bukanlah sesuatu yang sepantasnya siswa SMA seperti kalian lakukan!" teriak guru wanita itu lalu melanjutkan."Kalian berdua ikut ke ruangan ibu sekarang juga!"


'Gawat!' batin Amelia lalu melihat kearah Zhara yang masih terlihat tenang padahal sudah jelas mereka berdua akan mendapatkan masalah besar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...𝐽𝑖𝑘𝑎 𝑀𝑒𝑛𝑒𝑚𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑇𝑦𝑝𝑜 𝐴𝑡𝑎𝑢 𝐾𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎𝒉𝑎𝑛 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑃𝑒𝑛𝑢𝑙𝑖𝑠𝑎𝑛, 𝑇𝑜𝑙𝑜𝑛𝑔 𝐵𝑒𝑟𝑖𝑡𝑎𝒉𝑢 𝐴𝑢𝑡𝒉𝑜𝑟 𝐿𝑒𝑤𝑎𝑡 𝐾𝑜𝑚𝑒𝑛𝑡𝑎𝑟 𝑃𝑎𝑟𝑎𝑔𝑟𝑎𝑓 𝐴𝑔𝑎𝑟 𝐶𝑒𝑝𝑎𝑡 𝐷𝑖𝑟𝑒𝑣𝑖𝑠𝑖...