
"Jendral, bisa Anda pertimbangkan hal ini lagi?"
"Semuanya sudah diputuskan, kapten Reynald.."
Reynald tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk mendapatkan keringan hukuman dari para petinggi militer.
Padahal dia sudah melakukan yang terbaik hanya demi kemiliteran, namun sekarang pangkatnya sebagai seorang kapten harus dicabut begitu saja...
"Tapi.. mengingat kontribusi yang telah saya berikan pada kemiliteran, seharusnya saya diberikan kesempatan sekali lagi untuk menebus kesalahan saya.." ujar Reynald masih belum menyerah.
"Jika kesalahan yang kau perbuat tidak sampai membuat masyarakat resah, maka aku akan memberikanmu keringan dalam hukuman. Memangnya kau pikir sebesar apa masalah yang kau timbulkan?"
"......"
Reynald tidak menjawab, melainkan hanya menundukkan kepalanya dengan menyesal.
"Bukan hanya membiarkan seseorang mencuri Kristal berharga, tapi juga menodongkan senjatamu pada rakyat biasa dan membuat seisi restoran menjadi panik karena aksimu yang konyol itu, karena ulahmu itu juga nama kemiliteran menjadi tercoreng di mata masyarakat.."
"......"
".... kami tidak bisa melakukan apapun untukmu Reynald.."
Reynald masih tidak menjawab, memang ada sedikit rasa kekecewaan yang di dalam dirinya, tapi dia juga sadar jika kesalahannya tidak semudah itu untuk dimaafkan..
Tok.. Tok... Tok..
Tak lama kemudian, pintu ruangan jendral Grinz diketuk dari luar dan Jendral Grinz langsung mengijinkan orang itu untuk masuk.
Tampaknya dia sudah mengetahui siapa orang yang mengetuk pintu ruangannya...
Pintu dibuka dan memperlihatkan seorang gadis berambut biru yang berusia sekitar 17 tahunan dan memakai seragam militer yang sangat cocok dengan tubuhnya.
"Selamat datang di indonesia Nona Kinata, saya harap perjalanan anda berjalan dengan baik." ujar Jendral Grinz dengan ramah.
Kinata tidak menjawab melainkan hanya menganggukkan kepalanya.
"B-Bagaimana kalau anda duduk terlebih dahulu dan meminum teh bersama kami.." kata Jendral Grinz dengan gugup.
Walaupun Kinata masih sangat muda, tapi statusnya di kemiliteran jepang bukanlah sembarangan, bahkan seorang Jendral seperti Jendral Grinz harus bersikap hormat padanya.
"Aku tidak punya banyak waktu... serahkan saja berkas kasusnya agar aku bisa menyelesaikannya dengan cepat.." kata Kinata.
Reynald melihatnya dengan benar-benar kagum karena kemampuan berbahasa indonesianya yang sangat fasih.
"Oh, tentu saja..." ujar Jendral Grinz.
Dia kemudian melihat kearah Reynald dan menyuruhnya untuk mengambilkan berkas untuk Kinata.
"Oh, satu lagi.. aku juga ingin menyelidiki kasus ledakan yang menewaskan kepala keluarga Verdiansyah dan anaknya semalam, bisakah?" kata Kinata tiba-tiba.
Jendral Grinz menaikan alisnya.
"Untuk apa anda ingin menyelidiki kasus itu?"
"Tidak ada yang penting... aku hanya merasa jika kasus itu terhubung dengan kasus pencurian kristal.." ujar Kinata.
Karena Kinata sudah memutuskan, maka tidak ada lagi yang bisa di lakukan Jendral Grinz selain mengikuti keinginan gadis muda itu..
Beberapa saat kemudian, Reynald datang membawa berkas yang diminta oleh Kinata dan langsung ingin keluar karena keberadaannya sudah tidak dibutuhkan.
Namun, Kinata tiba-tiba memanggilnya.
"Hei kau.."
Reynald menghadap Kinata dengan kebingungan.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?"
"Apa kau adalah orang yang berlawanan langsung dengan Mr. Z?"
"I-itu benar... saya memang pernah berhadapan langsung dengan orang itu..."
Kinata terdiam sesaat, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu sebelum berbicara selanjutnya.
"..... Aku membutuhkanmu dalam kasus ini.. Jadilah sekretarisku."
"Eh?"
...----------------...
...[1032 Days Before The Apocalypse]...
"Sepertinya akhir-akhir ini banyak kejadian berbahaya di kota kita, ya..." ujar Ayunda melihat berita yang ditayangkan di TV.
Saat ini dia sedang sarapan pagi seperti biasa bersama anak tercintanya siapa lagi jika bukan Zhara.
"Hm.. itu hanyalah kecelakaan.." ujar Zhara.
"Tapi walaupun begitu tetap saja berbahaya.. apa lagi semalam kau pulang sangat larut yang membuat ibu khawatir, bagaimana jika kamu kenapa-napa?"
"Aku minta maaf tentang itu, aku juga janji tidak akan mengulanginya.." sahut Zhara menyesal membuat ibunya khawatir.
"Sepertinya ibu harus mencari pekerjaan lain.." kata Ayunda tiba-tiba.
Kepala keluarga Verdiansyah yang merupakan pemilik restoran tempat Ayunda bekerja telah tewas dalam tragedi yang sangat mengerikan, karena kejadian itu juga restoran tempat Ayunda bekerja langsung ditutup.
"Mau pergi bersama ke restoran tempat ibu bekerja?" kata Zhara mengajak ibunya.
"Eh? tapi untuk apa? bukankah sudah jelas jika restoran itu akan ditutup?" kata Ayunda kebingungan.
"Tidak ada salahnya untuk melihat-lihat saja, kan?"
"E-em... baiklah.."
Karena paksaan Zhara, akhirnya Ayunda bersedia untuk ikut pergi ke restoran tempatnya bekerja bersama Zhara.
Mereka berdua menaiki taksi dan sampai dalam 30 menit...
Sesampainya disana Ayunda benar-benar kebingungan sekaligus dibuat terkejut oleh apa yang dilihatnya, ternyata restoran itu masih buka dan tidak ditutup seperti perkiraannya.
Zhara menuntun ibunya masuk ke dalam restoran yang tampak lebih megah dan lebih mewah daripada sebelumnya.
Bukan hanya arsitektur dalam restoran yang membuat Ayunda sangat terkejut, tapi juga pelayan restoran yang sepertinya diganti keseluruhannya, mereka juga tampak lebih profesional daripada pelayan sebelumnya.
Kemudian, sesuatu yang aneh dan tidak masuk akal dilakukan oleh seluruh pelayan itu..
Mereka semua menundukkan badannya serempak dan berbicara dengan tegas menyambut Ayunda.
""Selamat datang Nona Ayunda!!""
Ayunda tentu saja sangat kebingungan dan gugup disaat bersamaan ketika melihat kejadian itu.
"S-Sepertinya kalian salah orang, Z-Zhara, ayo kita pergi dari sini..." kata Ayunda dengan panik.
Sebelum Ayunda dapat membawa Zhara pergi dari tempat itu, seorang gadis tiba-tiba datang dan menyapanya.
Ayunda berbalik dan alangkah terkejutnya dia melihat siapa gadis itu.
"A-Anda Nona Mila dari perusahaan Futuristik Generation!" kata Ayunda dengan sangat terkejut.
Benar, itu adalah sekretaris Aurel yang ditemui Zhara pertama kali sebelum membeli saham perusahaan Futuristik Generation..
Walaupun Mila hanyalah sekretaris Aurel, namun statusnya masih bisa dibilang sangat tinggi dibandingkan Ayunda, oleh karena itu Ayunda langsung menundukkan kepalanya dengan hormat
Zhara yang melihat itu langsung menatap Mila dengan tajam seolah-olah ingin memangsanya...
"E-em, N-nona Ayunda, tidak perlu bersikap sopan seperti itu pada saya.." kata Mila dengan gugup.
"Saya disini hanya untuk memberitahu jika Nona Ayunda sekarang akan dipromosikan sebagai manajer restoran ini.." lanjut Mila.
"Eh? Apa maksud anda?" tanya Ayunda kebingungan.
Restoran ini adalah milik keluarga Verdiansyah, jadi orang dari perusahaan Futuristik Generation sama sekali tidak memiliki hak untuk merekrut seseorang di restoran itu.
Mila tampaknya tahu kebingungan Ayunda dan menjelaskannya.
"Sebenarnya restoran ini telah di beli oleh perusahaan Futuristik Generation, dan karena pekerjaan anda yang sempurna di restoran ini sebelumnya, kami memutuskan untuk menjadikan anda manajer di restoran ini.."
Setelah menjelaskan hal itu, Ayunda akhirnya setuju untuk menjadi manajer di restoran itu walaupun akan memerlukan waktu untuk beradaptasi...
"A-Apa aku sudah melakukannya dengan benar, tuan Zhara?" bisik Mila kepada Zhara dengan gugup.
"Hm... Lumayan... Setidaknya aku tidak akan memakanmu untuk saat ini..." bisik Zhara di telinga Mila, bahkan sedikit menggigitnya..
'Hiks.. apakah suatu saat aku akan dimakan...' batin Mila dengan sedih..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...𝐽𝑖𝑘𝑎 𝑀𝑒𝑛𝑒𝑚𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑇𝑦𝑝𝑜 𝐴𝑡𝑎𝑢 𝐾𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎𝒉𝑎𝑛 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑃𝑒𝑛𝑢𝑙𝑖𝑠𝑎𝑛, 𝑇𝑜𝑙𝑜𝑛𝑔 𝐵𝑒𝑟𝑖𝑡𝑎𝒉𝑢 𝐴𝑢𝑡𝒉𝑜𝑟 𝐿𝑒𝑤𝑎𝑡 𝐾𝑜𝑚𝑒𝑛𝑡𝑎𝑟 𝑃𝑎𝑟𝑎𝑔𝑟𝑎𝑓 𝐴𝑔𝑎𝑟 𝐶𝑒𝑝𝑎𝑡 𝐷𝑖𝑟𝑒𝑣𝑖𝑠𝑖...