1095 DAYS BEFORE THE APOCALYPSE

1095 DAYS BEFORE THE APOCALYPSE
Chp 31: Kedatangan



TOK! TOK! TOK!


"Kinata.. bolehkah aku masuk?" ujar Zhara mengetuk pintu sebuah kamar.


Namun, tidak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar itu yang membuat Zhara merasakan firasat buruk.


BRAK!


Zhara mendobrak pintu kamar itu hingga hancur, tapi tidak ada seorangpun di dalam sana kecuali sepucuk surat yang ditinggalkan di atas ranjang.


Zhara kemudian menggambil surat itu dan membaca isinya dengan baik.


...----------------...


Untuk Zhara.


Aku tahu ini mendadak, tapi kurasa aku harus pergi dari sisimu untuk selamanya.. Bukan karena aku membencimu, justru aku menyukaimu.. Sangat menyukaimu.. Tapi aku tahu jika kau diam-diam menyukainya.


Aku tidak ingin dengan keberadaanku akan menggagumu, jadi aku memutuskan untuk segera pergi.. Tenang saja, aku tidak akan pernah menemuimu lagi.. Semoga hubunganmu dengannya bisa berjalan lancar...


^^^Dari Kinata.^^^


...----------------...


'Apa yang dilakukan gadis bodoh itu...' batin Zhara dengan kesal lalu merobek surat itu.


Zhara kemudian berjalan mendekati jendela kamar dan membuka tirainya untuk melihat ke luar.


Kemudian pemandangan mengerikan bagaikan neraka terlihat di pandangan Zhara.


Itu adalah pemandangan kota terbengkalai dengan banyak Zombie berkerumunan di malam hari dengan bulan yang berwarna merah darah menghiasi tempat itu.


Benar, itu adalah Apocalypse!


Bulan merah darah itu adalah pertanda hal mengerikan yang terjadi setiap sebulan sekali, ketika para Zombie disinari oleh cahaya bulan merah itu, maka mereka akan 50X lebih kuat daripada sebelumnya. Bahkan ada beberapa Zombie yang berevolusi saat itu juga.


Kemudian peristiwa itu disebut sebagai bencana merah....


Tapi untungnya bencana merah hanya berlangsung selama 1 malam saja, dan tengah malam adalah puncak kengerian dari bencana merah.


Pergi keluar ketika terjadi bencana merah adalah hal yang bodoh dan hanya mencari kematian, hal itulah yang membuat Zhara menjadi khawatir dengan keadaan Kinata....


'Dia pasti belum terlalu jauh... Aku harus menemukannya sebelum tengah malam...' batin Zhara lalu melompat dari jendela itu untuk mencari Kinata.


Sudah lebih dari 30 menit Zhara mencari Kinata sambil melawan puluhan Zombie yang menyerangnya dengan sangat liar.


Zhara juga mulai kewalahan melawan puluhan Zombie yang semakin kuat seiring berjalannya waktu.


Tapi Zhara tidak menyerah untuk mencari Kinata hingga tiba-tiba hawa dingin bagaikan es dirasakan oleh Zhara di tempat yang panas itu.


'Itu dia! Kinata pasti sudah dekat!' batin Zhara dengan lega karena akhirnya bisa menemukan harapan untuk mencari Kinata.


Hawa dingin itu adalah kemampuan mutant yang dimiliki oleh Kinata yaitu manipulasi es, jadi Zhara dapat mengetahui keberadaannya dengan cara mencari sumber hawa dingin itu.


Semakin Zhara mendekat, semakin dingin juga suhu di tempat itu hingga membuat bangunan hingga tubuh Zhara membeku, bahkan tiba-tiba terjadi badai salju dahsyat yang menerjang tempat itu.


Hal itu menandakan seberapa keras Kinata mengerahkan kekuatannya...


'Semoga aku belum terlambat...' batin Zhara yang berusaha keras untuk menggerakkan tubuhnya.


CRACK!


BUGH...


Zhara tiba-tiba terjatuh ketanah, atau lebih tepatnya salju. Dengan penuh keheranan dia kemudian melihat kebelakang tepatnya melihat kakinya.


"!!!"


Alangkah terkejutnya Zhara ketika melihat kakinya yang telah patah bagaikan ranting kayu yang begitu rapuh, tidak ada darah ataupun rasa sakit yang dirasakan Zhara, yang ada hanyalah kedinginan yang membuatnya tidak dapat merasakan anggota tubuhnya...


"Khik khik khik khik!"


Suara menjijikkan dari seekor monster tiba-tiba mengalihkan perhatian Zhara. Dia kemudian melihat ke depan, tempat yang dipenuhi dengan badai salju yang perlahan menghilang itu.


GLUK!


Zhara menelan ludahnya karena merasakan firasat buruk dari hawa dingin serta badai salju yang mulai mereda di tempat itu...


Namun, bukan itu yang membuat Zhara tertegun melainkan apa yang ada dimulut monster itu...


"Tidak... Kinata!!!" teriak Zhara.


Benar, yang ada dimulut monster itu adalah kinata yang telah tewas dan dimangsa oleh monster itu...


...------------------------------...


...---------------------...


...-------------...


...[1040 Days Before The Apocalypse]...


"Hah!"


Zhara tiba-tiba terbangun dari tempat tidurnya yang ada dirumah sakit, dan sontak itu juga membuat ibunya yang menemaninya sedari tadi menjadi khawatir.


"Apa kamu mimpi buruk sayang?" ujar Ayunda dengan penuh kepedulian.


Zhara tidak menjawab melainkan hanya mengangguk dan memegangi keningnya.


Ayunda yang melihat kondisi anaknya menjadi sedih dan mendekatinya untuk memeluknya.


"Semuanya baik-baik saja.. Ibu akan selalu menemanimu.." ujar Ayunda.


Zhara masih tidak menjawabnya melainkan membalas pelukan ibunya. Walaupun Zhara itu kuat, tapi dia masih tidak bisa menghadapi masa lalunya yang sangat kelam dengan sendirian.


"Apa kamu sudah baik?" ujar Ayunda dengan tersenyum lembut.


"Hm." Zhara mengangguk.


Tak lama setelah itu, telepon ibunya berdering sebagai pengingat bahwa sudah waktunya untuk bekerja yang membuat Ayunda sedih karena akan meninggalkan Zhara.


"Ibu pergi bekerja saja.. Aku sudah baik-baik saja." kata Zhara.


".... Baiklah, semoga kamu cepat sembuh." kata Ayunda lalu mencium kening Zhara.


Setelah itu Ayunda pergi untuk bekerja, tapi ketika dia baru saja keluar dari pintu kamar, dia kembali masuk dan berkata kepada Zhara dengan lumayan senang.


"Zhara, teman-temanmu datang untuk menjengukmu."


'Teman?' batin Zhara keheranan karena dia tidak memiliki teman.


Tak lama setelah itu, Evalina masuk dalam kamar rumah sakit Zhara bersama dengan Amelia, Rina dan seorang laki-laki yang adalah Reno tapi tidak dikenal Zhara.


"Kalian tolong jaga Zhara ya, tante harus pergi bekerja." kata Ayunda dengan senyum ramahnya.


Dia begitu senang begitu tahu jika anaknya memiliki teman yang begitu peduli dengannya.


""Baik tante."" kata mereka semua serentak walaupun sedikit tidak nyaman memanggil wanita semuda Ayunda dengan sebutan tante.


Zhara telah dirawat di rumah sakit selama 9 hari, jadi sudah pasti Evalina ingin mengunjungi Zhara dan memaksa Amelia dan Rina untuk menemaninya, tapi entah kenapa Reno juga ingin ikut dengan mereka.


Tapi Evalina tidak mempermasalahkannya, bukannya semakin banyak yang menjenguk itu semakin bagus?


Tapi Zhara tidak merasa hal itu bagus, tatapan matanya selalu mengarah kepada Reno yang juga menatapnya balik, mereka berdua terlihat seperti hewan buas yang sedang memperebutkan mangsa.


Dan mangsanya itu siapa lagi jika bukan Amelia...


...----------------...


Di bandara kemiliteran.


Hujan deras melanda bandara kemiliteran ketika sebuah pesawat militer yang terlihat sangat besar dan megah mendarat di tempat itu.


Pintu pesawat terbuka dan memperlihatkan seorang gadis cantik dengan rambut panjang kebiruan yang sangat menawan sedang menatap langit yang mendung dan hujan deras di depannya.


"Aku tidak sabar menyelesaikan kasus baru itu..." gumam gadis itu dengan datar tapi sangat manis dan menawan.



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...𝐽𝑖𝑘𝑎 𝑀𝑒𝑛𝑒𝑚𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑇𝑦𝑝𝑜 𝐴𝑡𝑎𝑢 𝐾𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎𝒉𝑎𝑛 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑃𝑒𝑛𝑢𝑙𝑖𝑠𝑎𝑛, 𝑇𝑜𝑙𝑜𝑛𝑔 𝐵𝑒𝑟𝑖𝑡𝑎𝒉𝑢 𝐴𝑢𝑡𝒉𝑜𝑟 𝐿𝑒𝑤𝑎𝑡 𝐾𝑜𝑚𝑒𝑛𝑡𝑎𝑟 𝑃𝑎𝑟𝑎𝑔𝑟𝑎𝑓 𝐴𝑔𝑎𝑟 𝐶𝑒𝑝𝑎𝑡 𝐷𝑖𝑟𝑒𝑣𝑖𝑠𝑖...