
Evalina terbaring di pangkuan Zhara, dia berusaha keras untuk meminta maaf dan menyentuh wajah Zhara dengan tangan yang lemas, tapi itu tidak tersampaikan karena dia telah menghembuskan nafas terakhirnya sebelum bisa menyentuh wajah Zhara.
Zhara menggoyangkan tubuh lemas Evalina berharap jika dia masih hidup, tapi itu tidak mungkin karena dia telah melihatnya dengan jelas jika Evalina telah tewas karena peluru yang mendarat di organ vitalnya.
'Ini tidak mungkin.... setidaknya jelaskan alasanmu mengkhianatiku terlebih dahulu....' batin Zhara dengan sedih.
Tak bisa dipungkiri jika Zhara telah memiliki perasaan sejak awal kepada Evalina yang mengingatkannya dengan perempuan di masa lalunya.
Tapi Zhara selalu menepis hal itu untuk tujuannya sendiri, dia adalah orang yang sangat munafik dan sekarang dia mendapatkan akhir yang menyedihkan.
Tak!
Disisi lain Mr. Amril menjatuhkan pistolnya dengan mata yang membulat melihat cucu kesayangan yang telah tewas di tangannya sendiri.
"A-Apa yang aku lakukan..." gumam Mr. Amril dengan lirih.
Dia selama ini selalu tenggelam dalam obsesinya bahkan sampai mengabaikan perasaan Evalina yang merupakan cucu kesayangannya.
Tapi sekarang dia telah membunuh cucunya sendiri dan tidak ada yang bisa dia lakukan selain merenungkan kesalahannya selama ini dengan penuh penyesalan.
Brak!
Pintu kamar di dobrak tapi Zhara dan Mr. Amril masih tidak bergeming, mereka terlalu terpaku dengan kematian Evalina yang menjadi kesalahan terbesar mereka.
"Apa yang terjadi di sini...." gumam Rian keheranan.
Benar, orang yang datang dan mendobrak pintu itu adalah Rian dan Laura yang datang ke lantai atas setelah memenangkan pertarungan mereka, tapi suara yang keras mengalihkan perhatian mereka dan menuju kamar itu.
Rian melihat Zhara yang memangku seorang gadis yang dia ketahui merupakan pacar Zhara, tapi Rian bisa melihat jika gadis itu telah tewas dan itu pasti memberikan pukulan keras kepada Zhara.
Oleh karena itu Rian tidak ingin menggagunya, tapi tidak dengan Laura...
Laura mengambil chip perusahaan mereka yang di jatuhkan Mr. Amril dan berkata kepada Zhara dengan serius.
"Pasukan militer sedang menuju ke sini jadi kita harus cepat pergi..." ujar Laura.
Sepertinya Laura mengetahui sesuatu dengan alarm sebelumnya, jadi dia bisa tahu jika pasukan militer sedang menuju ke tempat mereka dan hanya masalah waktu untuk mereka sampai.
Laura tahu jika Zhara sedang terpukul, tapi mereka harus menyelamatkan diri mereka terlebih dahulu.
Zhara meletakan Evalina ke lantai dengan lembut, dia kemudian berdiri dan berjalan kearah Mr. Amril berlutut dengan penuh penyesalan.
Zhara mengambil pistol yang dijatuhkan Mr. Amril dan mengarahkannya ke kening pria tua menyedihkan itu.
"Apa ada kata kata terakhir...?" kata Zhara dengan dingin.
Dia begitu ingin menyiksa pria tua itu dan membunuhnya secara perlahan untuk semua hal yang telah dia lakukan, tapi Zhara sadar jika dia tidak bisa melakukan itu sekarang.
"...... Aku menyesal..." ujar Mr. Amril dengan lirih.
"...... Kalau begitu tebuslah dosamu di neraka..." kata Zhara dengan dingin lalu menggerakan jarinya untuk menarik pelatuk pistolnya.
"Apa sebaiknya kita menghentikannya?" bisik Rian kepada Laura.
"Biarkan saja... mungkin dengan ini dia bisa menjadi lebih baik..." ujar Laura dengan datar.
"Oh... oke."
Jika Mr. Amril di temukan di bunuh oleh Zhara maka itu akan menjadi kehancuran bagu perusahaan Futuristik, tapi Rian yakin jika Zhara punya rencana untuk mengecoh kepolisian.
Dor!
Satu tembakan di lepaskan tepat di kepala Mr. Amril dan langsung membunuhnya dengan kepala yang hancur berlubang.
Dor! Dor! Dor!
Dor! Dor!
idak berhenti sampai di sana Zhara kembali menembak kepalanya beberapa kali hingga amunisinya habis di tembakan ke-5 tapi Zhara masih menarik pelatuknya seolah olah ingin menghancurkan seluruh bagian tubuhnya.
Tap!
Laura memegang pundak Zhara dan membuatnya berhenti.
"Sudahlah... ayo kita segera pergi..." ujar Laura dengan lembut di barengi dengan anggukan Rian.
Tak!
Setelah itu merekapun langsung keluar dari gedung perusahaan Alastrine Industrions yang telah sepi itu.
Di luar gedung juga terlihat sangat sepi tanpa satupun orang yang berkeliaran padahal letak gedung itu yang berada di tempat umum.
Ketika mereka tengah berada dalam kebingungan, puluhan suara sirine polisi terdengar dari jauh di tempat itu bersamaan dengan puluhan mobil polisi yang terlihat menuju ke arah mereka.
Ini adalah situasi yang rumit karena mereka telah di kepung dari segala arah, jika mereka tertangkap maka hanya akhir yang buruk yang akan mereka dapatkan.
Ketika mereka tengah memikirkan jalan keluar, dua mobil jeep melesat dari belakang puluhan mobil polisi dan menabrak salah satunya yang sudah dekat dengan keberadaan Zhara dan yang lainnya.
Zhara, Rian, dan Laura tidak panik melainkan senang karena mereka sudah tahu siapa yang datang itu.
Pintu mobil terbuka dan memperlihatkan Aurel yang mengemudikannya.
"Apa yang kalian tunggu! ayo cepat naik!!" teriak Aurel.
Zhara, Rian dan Laura menaiki mobil jeep yang dikendarai oleh Aurel, sementara Aland yang mengendari mobil jeep satunya terlihat kebingungan dan khawatir.
"Bagaimana dengan Rosalie? dimana dia??" ujar Aland.
Zhara dan yang lainnya tergegun karena melupakan Rosalie, tapi sebelum mereka berbicara Rosalie sudah keluar dari gedung dengan membawa seorang wanita berambut putih yang diikat mulut serta tubuhnya.
Jarak mereka dengan Rosalie agak jauh yang membuat Rosalie harus berlari dengan susah payah.
Puluhan mobil polisi berhenti 50 meter dari tempat mereka, puluhan sampai ratusan pasukan polisi dan militer keluar dari mobil dan menyiapkan senjata mereka.
Terlihat satu orang yang benar benar berbeda dengan yang lainnya karena memiliki penampilan yang sangat mewah dengan senapan M45 bercorak emas.
Itu adalah jendral Grinz yang turun tangan langsung untuk memimpin pasukan.
"Mereka adalah *******, tembak mereka tanpa ampun!!" teriak jenral Grinz dengan penuh wibawa.
Mendapatkan perintah dari sang jendral, ratusan pasukan itu menembaki Zhara, Rian, Laura, Aurel, Alanf dan Rosalie tanpa ampun.
Zhara, Rian, Laura dan Aurel masih bisa berlindung di dalam mobil, tapi tidak dengan Rosalie yang masih berlari kearah mereka.
Karena khawatir, Aland langsung melajukan mobilnya kearah Rosalie untuk menangkis hujan perlu yang berdatangan.
Drrrrrrttttttt.....
Peluru yang tak terhitung banyaknya menghujani mobil mereka yang merupakan satu satunya tempat berlindung mereka, itu menghancurkan kaca mobil mereka dan membuat mereka harus menunduk di dalam mobil.
Zhara dan Rian melihat ada beberapa senjata api di dalam mobil jeep yang dikendarai oleh Aurel, sepertinya itu sudah di siapkan olehnya.
Zhara dan Rian kemudian mengambil senjatanya dan menembakannya kearah ratusan pasukan selagi mendapatkan kesempatan dan menewaskan beberapa di antaranya.
Di sisi lain Aland mengulurkan tangannya kepada Rosalie untuk membantunya memasuki mobil di tengah hujan peluru itu.
"Pegang tanganku!" ujar Aland.
Rosalie menyetujuinya karena bukan saatnya untuk membahas masa lalu, yang terpenting adalah keselamatan dirinya dan membawa perempuan berambut putih itu bersamanya.
"Terima kasih..." ujar Rosalie ketika sudah masuk bersama dengan perempuan berambut putih.
"Em." jawab Aland.
Aland kemudian mengambil walkie tolkie untuk menghubungi Aurel.
"Semuanya sudah siap! ayo kita segera pergi!"
[Baik, bersiap untuk pergi!]
Aurel kemudian melajukan mobilnya dengan cepat dan menabrak ratusan pasukan yang menghalangi jalan mereka bersama dengan Aland yang ada di belakangnya.
Dan begitulah kepergian Zhara dan yang lainnya dari perusahaan Alastrine Industrions dengan membawa kemenangan dan kesedihan....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...𝐽𝑖𝑘𝑎 𝑀𝑒𝑛𝑒𝑚𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑇𝑦𝑝𝑜 𝐴𝑡𝑎𝑢 𝐾𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎𝒉𝑎𝑛 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑃𝑒𝑛𝑢𝑙𝑖𝑠𝑎𝑛, 𝑇𝑜𝑙𝑜𝑛𝑔 𝐵𝑒𝑟𝑖𝑡𝑎𝒉𝑢 𝐴𝑢𝑡𝒉𝑜𝑟 𝐿𝑒𝑤𝑎𝑡 𝐾𝑜𝑚𝑒𝑛𝑡𝑎𝑟 𝑃𝑎𝑟𝑎𝑔𝑟𝑎𝑓 𝐴𝑔𝑎𝑟 𝐶𝑒𝑝𝑎𝑡 𝐷𝑖𝑟𝑒𝑣𝑖𝑠𝑖...