1095 DAYS BEFORE THE APOCALYPSE

1095 DAYS BEFORE THE APOCALYPSE
Chp 37: Kembang Api



...πΆπ’‰π‘Žπ‘π‘‘π‘’π‘Ÿ 𝐼𝑛𝑖 π‘€π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘›π‘‘π‘’π‘›π‘” π‘ˆπ‘›π‘ π‘’π‘Ÿ πΎπ‘’π‘˜π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘ π‘Žπ‘› π‘Œπ‘Žπ‘›π‘” π΅π‘’π‘Ÿπ‘™π‘’π‘π‘–π’‰π‘Žπ‘›, π‘€π‘œπ’‰π‘œπ‘› π΅π‘–π‘—π‘Žπ‘˜ π·π‘Žπ‘™π‘Žπ‘š π‘€π‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘π‘Ž...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Hah.... dimana aku..."


Michael membuka matanya dan menemukan dirinya berada di ruangan yang sama seperti sebelumnya yaitu ruang tamu, namun bedanya sekarang kedua tangannya dirantai sehingga tubuhnya tergantung.


Selain itu suhu ruangan terasa sangat panas padahal saat ini masih tengah malam yang dingin.


"Benar... tadi si brengsek itu membuatku pingsan.." gumam Michael dengan kesal.


Michael tiba-tiba melihat sebuah alat pengupas yang di lumuri darah yang tergeletak di lantai dengan kebingungan.


'Untuk apa alat pengupas kulit buah ada disini?'


"Kau sudah bangun ya?" ujar Zhara melihat Michael yang sudah terbangun dengan kebingungan.


"Kau... apa yang akan kau lakukan padaku.."


"Tidak, aku sudah melakukannya..." ujar Zhara yang membuat Michael langsung tertegun.


"A-Apa maksudmu?"


Zhara tidak menjawab melainkan mengambil sebuah cermin dan memperlihatkannya kepada Michael.


"!!!"


Michael benar-benar tersentak melihat dirinya sendiri di cermin, seluruh kulit perut sampai dadanya terkupas dengan sempurna hingga memperlihatkan serat ototnya yang berwarna merah dengan di lumuri darah.


Tampaknya Zhara telah mengupas kulitnya bagaikan mengupas kulit buah..


"Aaaarrrgh!!"


Michael berteriak histeris, ternyata rasa panas yang dia rasakan berasal dari dadanya yang telah terkelupas dengan sempurna.


"Tampaknya sarafmu sangat sensitif ya.." ujar Zhara lalu berjalan mendekati Michael.


"A-apa yang ingin kau lakukan!? menjauhlah dariku!!" teriak Michael.


Zhara tidak menanggapinya dan terus berjalan hingga berada tepat di depan Michael, dia kemudian menjulurkan jari telunjuknya dan menyentuh perut Michael yang terkelupas itu.


"Aaaaarrrrgghh!!!"


Seketika teriakan Michael terdengar lebih keras dari sebelumnya.


Rasa sakit yang luar biasa terasa sangat menyengat hanya dengan satu sentuhan Zhara, itu terasa sangat sakit dan perih di waktu yang bersamaan.


"Kumohon... ampuni aku.. bawa saja aku ke kantor polisi, aku akan mengakui semuanya..." ujar Michael dengan putus asa.


"Kau kira aku ini naif? dengan status keluargamu kau dapat bebas dengan mudah dari kantor polisi dan mungkin kau akan membalas dendam kepadaku yang hanya dari keluarga biasa.." ujar Zhara yang membuat Michael berhenti berkata-kata.


"Baiklah, jika tidak ada yang ingin kau katakan, mari kita lakukan sesuatu yang seru.." ujar Zhara.


Zhara kemudian mengeluarkan sebuah pistol dan mengarahkannya kearah Michael yang sangat ketakutan.


"Tenang saja.. ini hanyalah pistol angin.." ujar Zhara lalu menembakannya keatas, dan benar saja, yang keluar hanyalah tembakan angin yang tidak berbahaya.


"Lihat?" ujar Zhara.


Michael tidak tau harus berkata apa lagi melihat kekonyolan Zhara.


"Tapi... walaupun ini hanyalah pistol angin, tapi tekanan angin yang dihasilkan cukup kuat dan menyakitkan jika langsung terkena permukaan kulit.." ujar Zhara dengan seringai penuh arti.


"Mungkinkah-"


"Benar."


Zhara mengarahkan pistol anginnya tepat didepan perut Michael yang terkelupas, hanya dengan satu sentuhan saja sudah membuat Michael merasakan rasa sakit dan perih yang luar biasa, apalagi tembakan dari pistol angin yang cukup kuat.


"T-tidak!! kumohon jangan lakukan itu!"


Michael memohon agar Zhara tidak melakukan hal yang pastinya akan sangat menyakitkan itu padanya sedangkan Zhara menaikan sebelah alisnya.


"Oh? lalu bagaimana dengan ini." ujar Zhara sembari mengarahkannya tepat di bola mata Michael.


"Aku penasaran apakah kau akan buta? Atau matamu akan hancur? Hei, beritahu aku." ujar Zhara dengan dingin yang membuat Michael merinding ketakutan.


"T-tolong..." ujar Michael dengan putus asa.


Zhara menyeringai, dan-


Splach!


"Aaaaarrrrgghh!!"


Pistol angin ditembakan dan bola mata Michael langsung hancur seketika yang membuatnya berteriak histeris, namun tidak berhenti disana, Zhara kembali menembak perut Michael yang telah terkelupas.


"Aaaaarrrrgghh!!"


Michael berteriak karena rasa sakit yang luar biasa, dia bahkan memuntahkan darah berkali-kali hingga mengotori lantai dengan darah menjijikkannya.


Dengan itu, Zhara melanjutkan penyiksaannya kepada Michael yang tidak dapat dibayangkan oleh siapapun.


...----------------...


...30 menit kemudian...


""Tuan kami datang!""


Rosalie, Laura dan Iris telah datang dan memasuki ruang tamu hingga mereka dapat melihat kejadian mengerikan yang dilakukan Zhara kepada Michael.


Namun kali ini mereka tidak terlalu terkejut ataupun ketakutan karena mungkin mereka telah terbiasa.


Zhara menghentikan kegiatannya dan menoleh kepada ketiga sekretarisnya.


"Apa barang yang kusuruh sudah kalian beli?" ujar Zhara sembari mengelap wajahnya yang di lumuri darah.


""Sudah tuan."" jawab mereka bersamaan.


"Bagus... sekarang kalian boleh pergi..." kata Zhara yang membuat mereka bertiga terkejut.


""B-Benarkah? kami sudah boleh pergi?"" ujar Laura dan Iris sedikit senang, tapi tidak dengan Rosalie.


".... Biarkan aku mengikutimu tuan!" kata Rosalie dengan spontan.


"Rosalie! apa yang kau katakan!?"


"Bukankah kau juga ingin pergi dari sini secepatnya!?"


Laura dan Iris tidak percaya dengan perkataan Rosalie dan membantahnya, tapi Rosalie tetap pada pendiriannya.


"Aku sudah muak dengan pekerjaanku sebagai wanita hiburan, lagipula sejak awal aku tidak pernah menginginkannya.." ujar Rosalie dengan serius.


"Rosalie..." gumam Laura.


"Kalau begitu aku ikut denganmu Rosalie!!" ujar Iris yang membuat Laura kembali terkejut.


"I-Iris, apa yang kau katakan!" kata Laura.


"Mou!! terserah kalian saja! aku juga akan ikut dengan kalian!" kata Laura pasrah.


"Teman-teman..." gumam Rosalie terharu.


Mereka bertiga kemudian menghadap kepada Zhara bersamaan dengan ekspresi yang serius.


""Tolong biarkan kami ikut dengan anda!"" kata mereka bertiga serempak.


Zhara tersenyum lembut, memang itu yang diinginkannya.


"Baiklah, tapi kalian harus melayani orang ini terlebih dahulu." ujar Zhara menunjuk Michael yang terlihat sangat tidak berdaya.


Tentu saja 'melayani' yang dimaksud disini bukanlah memberikan kenikmatan duniawi melainkan sebaliknya...


""Dengan senang hati tuan!"" kata mereka serempak lalu mengeluarkan sesuatu yang mereka bawa.


Itu adalah seeokor tikus sebesar gemgaman tangan orang dewasa, dan itu juga merupakan barang yang disuruh Zhara untuk membelinya.


"Michael... bukankah kau belum makan? kami membawakanmu makanan spesial disini..." ujar Zhara dengan seringai.


Dengan itu, teriakan putus asa terdengar sangat menyedihkan dari mansion besar itu, ketiga wanita yang terlihat sangat cantik dan menawan itu menyiksa Michael dengan sangat sadis bahkan melebihi ekspetasi Zhara.


Mereka memaksa Michael memakan seekor tikus hidup-hidup, memotong satu persatu jarinya dan bahkan memotong Babymaker miliknya.


Kejadian itu terus berlangsung selama 1 jam penuh, dan disanalah puncak dari kegilaan Michael.


Dia tampaknya terkena mental!!


"Aaah... bunuh aku.. bunuh aku.. bunuh saja aku dasar brengsek.."


Michael telah kena mental, dia membenturkan kepalanya sendiri di dinding di bawah tatapan dingin Zhara dan ketiga sekretarisnya.


"Dia tampaknya sudah rusak.." gumam Laura.


"Hm... dia terlihat sangat bodoh.." gumam Iris.


"Boleh kubunuh?" gumam Rosalie.


"Jangan dibunuh terlebih dahulu... apa kalian ingin melihat kembang api?"


""Kembang api!? kami ingin melihatnya!!"" jawab ketiga wanita itu antusias.


Zhara mengeluarkan telepon milik Michael dan mencari nama seseorang di kontaknya hingga dia menemukan kontak bertuliskan 'Ayah Sialan'


'Sungguh anak yang durhaka...' batin Zhara.


Dia kemudian menghubungi kontak itu dan tak berlangsung lama suara berat dari seorang pria terdengar.


[Ada apa kau menelpon ayah malam-malam begini dasar anak sialan, apa kau ingin uang lagi?]


"Selamat malam kepala keluarga Verdiansyah." kata Zhara menyapa ayah Michael yang merupakan kepala keluarga besar yaitu keluarga Verdiansyah.


[.... siapa kau?]


"Aku tidak mau buang-buang waktu untuk basa-basi, datanglah ke mansion anakmu sendirian dalam waktu 1 jam atau anakmu akan mati.."


[Kau!!]


Zhara kemudian mengarahkan teleponnya kepada Michael yang masih berbicara sendiri seperti orang gila, dan itu sukses membuat kepala keluarga Verdiansyah terdiam beberapa saat.


[..... Baik, aku akan segera datang ke sana]


Setelah itu telepon dimatikan, dan Zhara langsung mendapatkan pertanyaan dari Rosalie.


"Untuk apa anda menghubunginya? Jika begini bukankah kita akan ketahuan?" ujar Rosalie disertai anggukan Laura dan Iris.


Zhara menyeringai.


"Bukankah kalian ingin melihat kembang api? bantu aku membasahi tempat ini menggunakan minyak tanah dan ambil tabung gas yang ada didapur."


Walaupun mereka tidak tahu apa yang akan dilakukan Zhara, namun mereka mempercayai Zhara lebih dari apapun sebagai tuan mereka.


Merekapun menjalankan perintah Zhara, mereka membasahi seluruh ruang tamu dengan minyak tanah dan menyimpan tabung gas disana tepatnya disamping Michael.


Mereka selesai dengan kegiatan itu dalam 40 menit dan langsung pergi dari mansion itu...


20 menit kemudian, Ayah Michael datang mengendarai mobilnya dan langsung parkir dengan tergesa-gesa lalu memasuki mansion dengan terburu-buru.


Ayah Michael telah sampai di depan pintu ruang tamu dan memanggil anaknya dari luar pintu.


"Nak! apa kau didalam sana!?"


Disisi lain Michael masih bergumam dan membenturkan kepalanya sendiri denggan gila di dalam ruang tamu, tapi setelah mendengar suara ayahnya, mata Michael bersinar penuh harapan.


"A-ayah!! T-tolong selamatkan aku!!" teriak Michael yang sudah mendapatkan kesadarannya lalu mengalihkan perhatiannya pada pintu tempat dimana suara ayahnya terdengar.


Tapi ada yang aneh disana.


Ada sebuah lilin menyala tepat di bawah pintu.


Karena Michael telah sadar dari kegilaannya, dia akhirnya menyadari jika disekelilingnya terdapat bau minyak tanah dan tabung gas yang terletak di dekatnya.


Hanya dengan sekali lihat Michael dapat tahu apa yang sebenarnya terjadi...


"Ayah!! jangan buka pintu itu!!!" teriak Michael dengan keras, tapi tampaknya ayahnya tidak mendengar teriakan putus asa Michael dan membukanya.


"Tidak!!"


Michael berteriak histeris ketika pintu dibuka dan menyenggol lilin yang ada dibawahnya hingga terjatuh, api menjalar dengan cepat akibat tempat itu telah dibasahi dengan minyak tanah.


Wajah ayah Michael langsung pucat melihat pemandangan mengerikan yang ada di ruang tamu itu.


"Oh My God.."


DUUUUUAAAAAARRRRR!!!


Ledakan besar terjadi akibat tabung gas dan menghancurkan seluruh mansion dengan dahsyat hingga menggemparkan area sekitar dalam radius 50 km.


Disisi lain Zhara beserta ketiga wanita yang telah menjadi bawahannya itu berada di tempat yang lumayan jauh dari ledakan itu, tapi masih bisa melihatnya karena saat ini mereka berada di tempat yang tinggi.


Pemandangan ledakan beruntun karena banyaknya tabung gas yang ada membuat asap terbang menjulang tinggi sampai bisa dilihat walaupun sedang tengah malam.


Itulah kembang api yang dikatakan Zhara.


"Owaaahh! indahnya..."


Ketiga wanita cantik itu tampak sangat menikmati pemandangan luar biasa itu dengan mata yang berbinar binar.


"Tuan lihatlah ledakan indah itu!" ujar Rosalie dengan semangat.


"Hm.. balas dendam memanglah indah..." gumam Zhara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...π½π‘–π‘˜π‘Ž π‘€π‘’π‘›π‘’π‘šπ‘’π‘˜π‘Žπ‘› π‘‡π‘¦π‘π‘œ π΄π‘‘π‘Žπ‘’ πΎπ‘’π‘ π‘Žπ‘™π‘Žπ’‰π‘Žπ‘› π·π‘Žπ‘™π‘Žπ‘š π‘ƒπ‘’π‘›π‘’π‘™π‘–π‘ π‘Žπ‘›, π‘‡π‘œπ‘™π‘œπ‘›π‘” π΅π‘’π‘Ÿπ‘–π‘‘π‘Žπ’‰π‘’ π΄π‘’π‘‘π’‰π‘œπ‘Ÿ πΏπ‘’π‘€π‘Žπ‘‘ πΎπ‘œπ‘šπ‘’π‘›π‘‘π‘Žπ‘Ÿ π‘ƒπ‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘”π‘Ÿπ‘Žπ‘“ π΄π‘”π‘Žπ‘Ÿ πΆπ‘’π‘π‘Žπ‘‘ π·π‘–π‘Ÿπ‘’π‘£π‘–π‘ π‘–...