
Namaku Evalina dan aku merupakan salah satu anak dari keluarga besar Alastrine yang merupakan keluarga terhormat dan memiliki kekayaan yang melimpah.
Dengan kondisi keluargaku yang seperti itu membuat banyak orang yang iri denganku yang terlahir di keluarga yang kaya raya, tapi aku tidak senang sama sekali.
Mungkin di depan publik aku menunjukkan senyuman bahagia, tapi jauh di hatiku aku merasa sangat tersiksa hidup di keluarga itu.
tu karena aku sama sekali bukan merupakan anak sah dari pasangan tuan dan nonya keluarga Alastrine, melainkan aku terlahir dari seorang pelayan keluarga Alastrine.
Menurut rumor yang aku dengar dari pelayan lainnya, ibuku di perkosa oleh tuan besar atau orang yang seharusnya aku sebut 'ayah' ketika dia mabuk, ibuku yang hanya orang biasa tidak bisa melawannya dan berakhir dengan mengandung anak lelaki brengsek itu.
Ketika ibuku yang sedang mengandung diriku terbongkar, seluruh anggota keluarga Alastrine langsung gempar terutama nyonya besar yang saat itu sedang mengandung juga.
Mereka semua menyuruh ibuku menggugurkan kandungannya tapi ibuku menolak dengan keras karena tidak tega membunuh darah dagingnya sendiri, untungnya ayah dari tuan besar mendukung ibuku dan melindungi kandungannya.
Dari sana aku menjadi sangat menghormati ayah tuan besar atau orang yang aku panggil 'kakek'
Karena berita tuan besar yang memperkosa seorang pelayan akan membuat aib bagi keluarga Alastrine, keluarga Alastrine memutuskan untuk menyamarkan identitasku sebagai anak dari nyonya besar.
Saat itu nona besar sedang mengandung dan melahirkan seorang anak perempuan, jadi mereka membuat seolah olah nyonya besar melahirkan bayi kembar.
Aku tumbuh dalam keluarga Alastrine sebagai bayang bayang hanya untuk mencegah rumor buruk keluarga Alastrine, setiap pesta keluarga aku harus ikut serta dan memasang ekspresi gembira kepada publik.
Anggota keluarga lainnya juga hanya bersikap baik denganku ketika di depan publik, ketika tidak ada kamera yang menyorot mereka, maka sikap mereka akan berubah 360 derajat kepadaku.
Berbeda dengan saudariku, aku sama sekali tidak mendapatkan perhatian dari siapapun, tidak ada mainan, tidak ada makanan enak, tidak ada liburan, bahkan tidak ada orang tua.
Orang yang perhatian kepadaku hanya kakek, ibu, Shira. Shira adalah wanita berambut putih yang terlihat sangat cantik bagaikan dewi tapi memiliki kekurangan yaitu tidak dapat melihat.
Tapi walaupun tidak dapat melihat, Shira masih bisa berjalan dengan normal, bahkan dia sering membuatkanku sarapan dengan baik.
Itu sangat aneh tapi aku senang karena Shira merupakan orang yang sangat perhatian denganku setelah ibuku.
Aku menjalani keseharianku dengan baik walaupun dibenci dan tidak diinginkan, kurasa aku masih bisa bahagia jika masih memiliki beberapa orang saja yang peduli denganku, tapi itu semua hancur seketika saat aku menyadari jika ibuku tidak pernah menemuiku lagi ketika aku berumur 5 tahun....
Aku bertanya kepada Shira mengenai ibuku, tapi dia tidak ingin mengatakannya, aku mencoba berbicara dengan kakek mengenai kepergian ibuku.
Setelah memaksanya dengan lumayan keras kepala aku berhasil membuat kakek menyerah denganku.
Dia kemudian mengajaku untuk pergi ke rumah sakit dengan mengendarai mobilnya, awalnya aku kebingungan tapi aku langsung sadar ketika kakek mengajakku memasuki salah satu kamar rumah sakit.
Di ranjang rumah sakit, aku melihat ibuku yang terbaring dengan wajah yang pucat, aku mendapatkan firasat buruk, aku tidak percaya dengan itu dan mengguncang tubuh ibuku untuk membangunkannya.
Tapi bagaimanapun caraku membangunkannya, itu tidak akan pernah terjadi dan mustahil terjadi karena ibuku sudah meninggal....
Aku sedih...
Aku menangis...
Tapi itu tidak akan mengubah apapun...
Dengan lemas dan penuh keputusasaan, aku mencoba bertanya kepada kakek tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Kakek menjelaskan dengan lemas, dia berkata jika ibu mengalami depresi dan memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara meminum racun.
Aku masih kecil saat itu, jadi aku bisa percaya dengan begitu polosnya tanpa berpikir lebih panjang lagi....
Setelah pemakaman yang sepi dan tidak dihiraukan oleh anggota keluarga yang lainnya, aku menjalani kehidupanku yang biasa setelah satu bulan berduka, tapi kehidupanku yang sekarang tidak akan sama lagi dengan kehidupanku sebelumnya ketika masih ada ibuku di sisiku.
Bisa dibilang jika sikap dan pergaulanku lebih bebas dan liar daripada sebelumnya yang culun dan pendiam, di umur 8 tahun aku mulai menyukai sepeda motor dan sering ikut balapan liar sesekali, dan di umurku yang ke 10 tahun aku meninggalkan sepeda motor dan berpindah ke mobil balap yang lebih keren.
Karena kakek yang menyayangiku, aku mendapatkan cukup banyak uang untuk membeli dan memodifikasi mobilku.
Shira juga memberiku sejumlah uang yang sangat banyak dengan begitu mudahnya.
Dengan begini aku lebih banyak menghabiskan waktu di luar dibandingkan di dalam rumah dan melihat wajah menjengkelkan keluarga Alastrine.
Tapi walaupun pergaulanku yang besar, tapi aku tidak berani untuk melakukan hal hal di luar nalar seperti s3x bebas. kenapa? itu aku tidak ingin hal yang menimpa ibuku terjadi juga padaku.
Di umurku yang ke-16 tahun, seharusnya aku menjalani pendidikan sekolah menengah atas atau SMA, tapi aku malah asyik balapan liar demi mendapatkan medali yang selama ini aku impikan.
Suatu hari ketika aku bersiap untuk ikut balapan, aku bertemu dengan seorang laki laki yang tanpa kusadari akan mengubah seluruh hidupku.
Laki laki itu bernama Zhara, dia adalah laki laki tampan dengan kepribadiannya yang sangat baik dan perhatian, terlebih lagi kemampuanmya dalam mengemudikan mobil yang benar benar sangat hebat membuatku mengaguminya dan tertarik padanya.
Aku ingin dekat dengannya tapi dia bilang jika dia tidak mungkin bersama dengan satu wanita, bukankah itu berarti aku akan di duakan?
Tentu saja aku menolaknya, aku bukanlah wanita bodoh yang rela di duakan oleh seorang laki-laki sekalipun aku menyukainya.
Beberapa hari setelah pertemuan singkat itu kakek tiba tiba memanggilku untuk pulang, karena sudah lama tidak pulang dan aku juga cukup rindu dengannya, aku langsung pulang ke rumah dan seperti biasa, sikap cuek dan dingin mereka padaku masih sama.
Aku tidak menghiraukannya dan langsung menemui kakek, kakek juga terlihat sangat senang dengan kedatanganku.
Kemudian dia tiba-tiba menunjukkan sebuah foto seorang laki-laki kepadaku, itu adalah Zhara, laki laki yang sama dengan yang kutemui beberapa hari lalu.
Aku bingung dengan itu dan menanyakan apa yang sebenarnya kakek inginkan, ternyata kakek meminta bantuanku untuk mendekatinya dan mendapatkan chip yang dimiliki oleh perusahaannya.
Ternyata laki-laki itu adalah salah satu petinggi perusahaan Futuristik Generation yang sedang naik daun belakangan ini.
Sepertinya kakek sudah tahu jika aku pernah bertemu dengannya, jadi dia menyuruhku untuk mendekatinya...
Ini adalah pertama kalinya kakek meminta bantuanku jadi aku tidak bisa menolak sama sekali, lagipula aku sudah memiliki terlalu banyak hutang budi kepada kakek, jadi aku ingin membalasnya sekali kali.
Aku berpikir jika mendekatinya dan mendapatkan chip itu tidaklah terlalu sulit, tapi ternyata sebaliknya itu sangat sulit bahkan bisa dibilang hampir mustahil.
Dia terlalu pintar dan licik sehingga aku tidak bisa memanfaatkannya dengan baik, aku harus bertindak sangat hati hati untuk membuatnya percaya kepadaku sepenuhnya, tapi apapun yang aku lakukan, dia terlihat berwaspada denganku.
Tidak, itu bukan sekedar waspada tapi lebih dari itu, dia mencoba mendapatkan hatiku dengan segala cara...
Tapi bagaimanapun juga aku masih satu langkah lebih maju darinya karena aku tahu rahasia terbesarnya, aku yakin aku pasti menang darinya...
Tapi, aku membuat kesalahan fatal dengan mengikutinya ke hotel dan berakhir dengan dia yang ingin bercinta denganku.
Ini bodoh, aku masih perawan jadi aku jelas menolaknya! tapi jika aku menolaknya maka dia akan menaruh kecurigaan padaku yang padahal aku sudah memutuskan akan selalu mengikuti perkataannya dan menjadi miliknya.
Cih! aku mengalami kekalahan besar tepat ketika aku berpikir jika aku bisa menang....
Beberapa hari setelah kejadian yang memuakan itu, aku menyadari jika salah satu teman kelasku yang bernama Amelia menyukai Zhara, aku tidak bisa membiarkannya menjadi penghalang rencanaku jadi aku bersikap sangat dekat dengan Zhara untuk menghancurkan hatinya.
Tapi dia belum menyerah malah berusaha lebih keras lagi, dia bahkan menemuiku untuk sekedar basa basi antar teman sekelas, tapi aku tahu jika dia ingin menyelidiki hubunganku dengan Zhara.
Jadi aku bersikap sepolos mungkin dan mengatakan jika aku dan Zhara tidak memiliki hubungan apapun.
Dia adalah siswa pintar, jadi dia pasti langsung tahu jika aku sedang berbohong.... ini bagus, aku akan membuatnya lebih hancur lagi dengan kenyataan yang ada....
Aku dengan sengaja memperlihatkan bekas cumbuan Zhara yang ada dileherku padanya, dan sontak itu membuatnya menunjukkan ekspresi yang benar benar lucu, dia terlihat seolah olah seorang istri yang telah mengetahui perselingkuhan suaminya.
Begitulah pertemuan singkatku dengan gadis bernama Amelia....menurutku dia adalah gadis yang baik dan baru mengetahui tentang dunia percintaan, tapi aku harus menyakitinya demi rencanaku sendiri...
Aku tidak masalah jika dia mencari identitasku dan menyebarkannya karena kakek telah mengaturnya dengan baik sehingga tidak ada seorangpun yang mengetahui jika aku adalah orang dari keluarga Alastrine.
Kecuali satu orang.... Zhara, dia pasti telah mengetahuinya....
Banyak hari yang kulalui bersama Zhara, kami pergi ke berbagai tempat dan bercinta dimanapun dan kapanpun Zhara menginginkannya, aku sangat membencinya karena memperlakukanku seolah olah mainannya, tapi tidak bisa dipungkiri jika aku mulai terbiasa menikmatinya....
Karena perasaan rumit yang tiba tiba menjalar di hatiku, aku sampai lupa dengan tujuanku yang sebenarnya dan membuat rencana yang telah aku susun menjadi sia sia.
Walaupun begitu, aku masih akan mengangapnya sebagai temanku jika dia tidak mencampuri urusanku...
Kakek tiba tiba memanggilku lagi ketika aku sedang dalam dilema itu.
Kakek menunjukkan kekesalannya karena ketidakbecusanku, dia mengatakan jika percuma saja aku menaruh perasaan kepadanya karena ketika dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, maka aku akan dibuang begitu saja.
Aku tahu itu, tapi... aku tidak ingin mempercayainya...
Kakek kembali meyakinkanku dengan menunjukkan sebuah video yang memperlihatkan Zhara dengan pakaian serba hitam dengan masker gas di wajahnya.
Ciri ciri itu sangat mirip dengan kejadian yang menghebohkan dunia karena pencurian yang dilakukan oleh orang misterius yang dijuluki Z.
Awalnya aku tidak percaya, namun mengingat Zhara yang mempunyai kelicikan dan kekuatan yang hebat, mau tidak mau aku mempercayainya.
Kakek meyakinkanku untuk menyelesaikan tujuanku dengan baik dan cepat, dengan itu kakek tidak akan memberitahu publik jika Z si pencuri kristal adalah Zhara.
Aku tidak punya pilihan lain lagi, aku harus menyelesaikan apa yang telah aku mulai, aku pasti akan mendapatkan chip itu dan pergi darinya selamanya.
Aku mengabaikan perasaanku yang tersakiti ketika mengingat berpisah dengannya, aku tidak tahu bagaimana bisa aku menyukai orang yang telah memperkosaku dan memperlakukanku seenaknya itu.
Tapi satu hal yang pasti, aku benci hati lemah ini...
Zhara telah keluar dari rumah sakit tanpa menghubungiku terlebih dahulu, padahal aku sudah bilang untuk menghubungiku ketika dia keluar rumah sakit.
Aku menelponnya untuk menanyakan keberadaannya, bahkan aku bertanya tentang sesuatu yang konyol seperti apakah dia bercinta dengan wanita lain selagi aku tidak ada.
Zhara menjawabnya dengan sangat baik dan percaya diri tapi aku tahu jika dia berbohong, tapi aku tidak mempermasalahkannya karena aku juga membohonginya...
Beberapa hari setelah itu, Zhara mengajaku untuk berkeliling di perusahaannya yang sudah aku kenali dengan baik dari setiap sudutnya, Zhara tiba-tiba mendapatkan panggilan darurat dari rekannya dan itu membuat Zhara harus melakukan pekerjaannya.
Aku sudah memperkirakan itu... virus komputer yang di kirim oleh kakek pasti sudah bekerja sekarang, jadi sekarang giliranku untuk beraksi...
Aku mendapatkan kartu identitas Zhara ketika memeluknya dengan mesra, aku tidak tahu apa yang dipikirkan Zhara sampai sampai tidak menyadari jika aku mengambil kartu identitasnya.
Tapi yang pasti itu membuat rencanaku semakin bagus..
Pencurian berjalan cukup lancar dan aku telah mendapatkan chip yang aku incar sejak awal dari ruang bawah tanah perusahaan Futuristik Generation.
Komputer milik petinggi perusahaan perlu memuat ulang data selama beberapa saat ketika telah menyelesaikan virusnya, jadi itu membuatku memiliki kesempatan untuk pergi dari sana.
Zhara mengajaku untuk pergi ke rumahku untuk melakukan kegiatan yang sudah biasa kita lakukan dan aku menyetujuinya karena itu juga merupakan salah satu dari rencanaku.
Kakek telah mengatur agar rumah dalam keadaan sepi ketika Zhara dan aku datang, dan semuanya berjalan dengan lancar bahkan sampai ketika Zhara langsung kembali ke perusahaannya, aku juga pergi ke perusahaan kakek untuk memberikan chip yang telah kudapatkan.
Aku terus memikirkan apakah hal yang kulakukan itu telah benar atau salah.... karena itu Zhara pasti akan menjadi membenciku.....
Di hari yang sama, Zhara tiba-tiba terjatuh dari lantai atas hingga sampai tepat di kamarku dan aku tahu ini pasti akan terjadi.
Aku tidak tahu harus berkata apa dengannya, melihat kondisinya yang dipenuhi dengan luka membuat hatiku menjadi sakit, aku ingin meminta maaf tapi mustahil bagi Zhara untuk memaafkanku..
Hingga kejadian itu tiba.... aku refleks menahan peluru yang di tembakan oleh kakek kepada Zhara, aku berpikir jika ini adalah akhirku, tapi aku tidak masalah karena setidaknya sudah meminta maaf kepadanya.
Walaupun aku tahu jika semua yang kulakukan tidak akan dapat di maafkan, tapi aku tetap mengatakannya....
Seandainya pertemuan dan status kita tidak seperti ini, maka hal tragis ini pasti tidak akan pernah terjadi...
Jadi selamat tinggal Zhara.... seluruh kenangan indah serta kenangan buruk yang pernah kita lalui bersama akan aku kenang di alam sana...
pandanganku mulai kabur dan tubuhku terasa dingin, ini adalah sensasi kematian yang telah banyak aku bayangkan, banyak hal yang sudah aku lupakan selama sisa hidupku, tapi sekarang aku mengingat satu hal yang telah aku lupakan selama ini....
'Oh.... Ibu, akhirnya aku menyusulmu...'
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...𝐽𝑖𝑘𝑎 𝑀𝑒𝑛𝑒𝑚𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑇𝑦𝑝𝑜 𝐴𝑡𝑎𝑢 𝐾𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎𝒉𝑎𝑛 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑃𝑒𝑛𝑢𝑙𝑖𝑠𝑎𝑛, 𝑇𝑜𝑙𝑜𝑛𝑔 𝐵𝑒𝑟𝑖𝑡𝑎𝒉𝑢 𝐴𝑢𝑡𝒉𝑜𝑟 𝐿𝑒𝑤𝑎𝑡 𝐾𝑜𝑚𝑒𝑛𝑡𝑎𝑟 𝑃𝑎𝑟𝑎𝑔𝑟𝑎𝑓 𝐴𝑔𝑎𝑟 𝐶𝑒𝑝𝑎𝑡 𝐷𝑖𝑟𝑒𝑣𝑖𝑠𝑖...