1095 DAYS BEFORE THE APOCALYPSE

1095 DAYS BEFORE THE APOCALYPSE
Chp 35: Rosalie



...πΆπ’‰π‘Žπ‘π‘‘π‘’π‘Ÿ 𝐼𝑛𝑖 π‘€π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘›π‘‘π‘’π‘›π‘” π‘ˆπ‘›π‘ π‘’π‘Ÿ πΎπ‘’π‘˜π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘ π‘Žπ‘› π‘Œπ‘Žπ‘›π‘” π΅π‘’π‘Ÿπ‘™π‘’π‘π‘–π’‰π‘Žπ‘›, π‘€π‘œπ’‰π‘œπ‘› π΅π‘–π‘—π‘Žπ‘˜ π·π‘Žπ‘™π‘Žπ‘š π‘€π‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘π‘Ž...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seekor tikus kecil meringkuk ketakutan disebuah kamar mandi, dia terus memalingkan pandangannya kearah pintu kamar mandi dengan jantungnya yang berdegup kencang.


Ruangan yang hening membuat suasana semakin mencekam bagi tikus kecil itu, tidak ada suara lain yang terdengar kecuali suara detakan jantung dan nafasnya sendiri.


CKLEK!


Seseorang tiba-tiba memegang gagang pintu kamar mandi dan memutarnya secara perlahan yang membuat tikus kecil itu semakin ketakutan dan putus asa.


Dia terus meringkuk di tempat sempit dan berharap orang itu tidak menemukannya.


Pintu terbuka dan memperlihatkan tiga wanita pemburu yang membawa alat alat tajam untuk memburu tikus menyedihkan itu, mereka kemudian memeriksa seluruh kamar mandi dengan perlahan untuk menemukan si tikus kecil.


Tikus kecil mendapatkan sedikit kepercayaan dirinya untuk melawan wanita wanita yang dianggapnya lemah itu, dia kemudian tiba-tiba keluar dengan gagahnya dan langsung menerjang kearah salah satu wanita yang membawa bor.


"Hiya!!"


BUGH!


"Akh!"


Tikus kecil yang ternyata adalah seorang pemuda itu mendorong tubuh lemah wanita kedua dengan keras yang membuatnya terlempar ke lantai dan menjatuhkan bornya.


Pemuda itu mengambil bor yang terjatuh dan ingin menghantamkannya kepada wanita yang tergeletak tak berdaya di lantai.


"Rasakan ini dasar ******!" teriaknya penuh kemarahan.


Wanita pertama yang bersenjatakan palu langsung bereaksi sebelum temannya terluka oleh pemuda itu, dia melayangkan palunya dengan cepat dan keras kearah kepala pemuda itu.


BUGH!


"Aaarrgg!"


Pemuda itu terlempar dan tergeletak di lantai akibat pukulan keras di kepalanya itu sambil berteriak kesakitan memegangi kepalanya yang berdarah.


"Kau baik baik saja Laura?" ujar wanita pertama lalu membantu wanita yang tergeletak di lantai yang ternyata bernama Laura.


"Aku baik-baik saja Rosalie, terima kasih." ujar Laura kepada wanita pertama yang ternyata bernama Rosalie.


"Ayo kita selesaikan ini dengan cepat!" ujar wanita ketiga yang bersenjatakan tali dan pisau.


"Iris cepat ikat dia!" ujar Rosalie kepada wanita ketiga yang ternyata bernama Iris.


Iris langsung bergerak dan melilitkan talinya di leher pemuda yang masih meringkuk kesakitan itu sementara Rosalie menyiapkan diri untuk memberikan pukulan kedua di kepala pemuda itu.


"Lepaskan aku sialan!!"


Pemuda itu semakin memberontak dengan kuat dan menghentakan tubuhnya kebelakang, tempat dimana Iris berada.


BUGH!


"Akh!"


Iris terbanting ke lantai karena kekuatan mereka yang jauh berbeda.


Pemuda itu kemudian melesat kearah Rosalie yang tadi memukulnya dengan keras, tampaknya dia punya dendam yang besar kepada Rosalie.


Pemuda itu menabrak tubuh Rosalie hingga terlempar ke lantai.


Laura yang melihat itu tidak diam saja dan berlari untuk memukul pemuda itu dengan bornya, tapi pemuda itu dengan mudah menghindarinya dan memukul perut Laura dengan keras sehingga membuatnya tergeletak di lantai.


Pemuda itu kemudian berjalan mendekati Rosalie dan menduduki tubuhnya.


"Aku sudah muak denganmu... Sebaiknya kau mati saja..." ujar pemuda itu dengan dingin lalu mencekik leher Rosalie.


"Akh!"


Rosalie mengerang kesakitan ketika dicekik dengan kuat oleh pemuda itu, dia memegang tangan pemuda itu dan ingin menyingkirkannya, tapi apa daya seorang wanita lemah sepertinya melawan seorang laki-laki yang kuat.


Rosalie hampir kehabisan nafas karena cekikan itu, dia mulai berpikir apakah hidupnya akan berakhir disini, bahkan dia mulai berpikir apakah hidupnya itu berharga...


Menjadi wanita penghibur semenjak berusia 16 tahun karena dijual oleh orang tuanya, mendapatkan banyak hinaan dan cemohan dari orang orang, dan direndahkan oleh pria ataupun wanita.


Bukan hanya pernah melayani 1 laki-laki tapi, tapi dia juga pernah melayani beberapa laki-laki sekaligus hingga berakhir di tempat ini.


Tidak ada yang namanya cinta ataupun harga diri...


Jika dipikir pikir hidupnya memang sudah menyedihkan sejak awal... Jadi sudah sepantasnya dia mati...


"Apa yang kau lakukan Rosalie!! Bukankah kau ingin menemuinya lagi!? Jadi jangan menyerah secepat ini!!"


Suara teriakan Iris bergema cukup keras di ruangan itu yang membuat Rosalie tersadar kembali dan keinginan untuk hidup kembali terbentuk di benaknya.


'Itu benar... Aku belum menemuinya... Aku akan tetap hidup sampai aku menemui pria itu lagi dan minta maaf padanya...' batin Rosalie.


BUGH!


Pukulan keras dari Iris mendarat dikepala pemuda itu yang membuatnya melepaskan cekikan pada Rosalie.


Rosalie mendapatkan kembali nafasnya dan langsung mengambil pisau yang tergeletak agak jauh disampingnya dan menancapkannya ke perut pemuda itu.


JLEB!


"Aaaarrgh!"


Pemuda itu berteriak histeris dan refleks menampar Rosalie.


'Apa-apaan dengan para ****** itu! Kenapa mereka sangat tangguh!' batin pemuda itu dengan kesal lalu melihat kebelakang yang sudah terdapat Rosalie dengan pisau dilumuri darah ditangannya.


Pemuda itu ketakutan dan berusaha dengan keras untuk berlari, tapi luka yang ada di perutnya tidak memungkinkannya.


Rosalie telah sampai dibelakang pemuda itu dan langsung menikam punggungnya yang membuatnya langsung terjatuh da tergeletak di lantai.


"Aaaarrgh!! Dasar sialan!!!" teriak pemuda itu dengan sangat marah.


Rosalie tidak bergeming melainkan hanya menatapnya dengan dingin.


"Aku sangat benci dipanggil ******..." ujar Rosalie dengan dingin lalu menikam mata pemuda itu menggunakan paku yang membuat pemuda itu langsung berteriak histeris.


Tak lama kemudian Laura dan Iris telah sampai di sisi Rosalie.


"Sebaiknya kita selesaikan secepatnya..." ujar Iris lalu menyalakan bornya dan ingin menghancurkan kepala pemuda itu.


"Biar aku saja yang melakukannya." ujar Rosalie dengan tiba-tiba.


"Apa kau serius Rosalie?"


"Tidak usah memaksakan dirimu seperti."


Mereka berdua tahu betul sifat Rosalie yang tidak baik dan tidak tega menyakiti makhluk hidup apalagi membunuhnya, oleh karena itu merekalah yang akan mengakhiri hidup pemuda itu dan tidak melibatkan Rosalie.


Tapi sekarang Rosalie sendiri yang ingin melakukan tindakan kejam itu...


"Aku serius... Aku sudah melakukan sesuatu yang lebih buruk daripada pembunuhan, jadi kurasa ini tidak terlalu buruk." ujar Rosalie dengan tatapan sayu.


"".......""


Kedua temannya tidak bisa berkata apapun karena tahu betul bagaimana masa lalu Rosalie yang sangat kelam, mereka juga merasa bersedih ketika tahu masa lalu temannya itu.


Karena Rosalie sudah memutuskannya maka mereka tidak punya pilihan lagi.


Iris memberikan bornya yang masih menyala kepada Rosalie, lantas Rosalie mengarahkannya tepat di kepala pemuda itu.


"A-apa yang kau katakan dasar ******!!!"


Pemuda itu memberontak dan ingin kabur, tapi Laura dan Iris mencegahnya dengan cara menancapkan paku sepanjang 20 cm di kedua telapak tangan pemuda itu.


Sekarang pemuda itu tidak memiliki kesempatan lagi untuk melarikan diri dari kematian yang akan diberikan oleh Rosalie.


CRASSH!


Rosalie menancapkan bornya tepat dikening pemuda itu dan melubanginya dengan sadis.


Teriakan menyedihkan dan putus asa dari pemuda itu bergema di seluruh rumah hingga dapat didengar oleh Michael dan dua temannya yang belum mendapatkan giliran.


SPLASH!


Darah menyembur kemana mana hingga membasahi seluruh wajah serta tubuh cantik Rosalie beserta kedua temannya yang ada didekatnya.


Tak berselang lama kemudian, pemuda itu telah tewas dengan cara paling mengerikan yang pernah ada, seluruh kepalanya hancur hingga tak terbentuk di tangan tiga wanita cantik seperti Rosalie, Laura, Iris.


Rosalie membuang bornya dan mengusap wajahnya yang penuh dengan darah lalu melihat tangannya yang dilumuri darah segar.


'Ini sangat indah...' batin Rosalie sedikit tersenyum menyeramkan.


PROK! PROK! PROK!


Suara seseorang yang bertepuk tangan terdengar di dekat mereka dan mengalihkan perhatian mereka bertiga.


Di ujung lorong, terlihat Zhara yang membawa sekantong plastik hitam dan berjalan kearah mereka bertiga.


"Luar biasa... Kemampuan kalian jauh diluar dugaanku..." ujar Zhara dengan bangga kepada mereka bertiga.


""Terima kasih tuan, kami senang jika tuan juga ikut senang."" ujar Laura dan Iris dengan sopan.


Seperti dugaan mereka, Zhara memang menguji kemampuan mereka.


"Bagaimana dengan perburuan anda tuan?" ujar Laura sedikit penasaran apa yang Zhara lakukan pada mangsanya.


Zhara tidak menjawab melainkan melempar kantung plastik yang ada ditangannya ke lantai dan menggelindinglah sebuah kepala dari pemuda yang menjadi mangsa Zhara.


Dalam kepala itu menunjukkan ekspresi wajah penuh ketakutan dan putus asa dan mata penuh terror yang dapat dilihat dari matanya yang masih melotot.


Mereka tidak bisa membayangkan hal mengerikan apa yang dialami pemuda itu...


"Bagaimana menurut kalian?" ujar Zhara menyadarkan mereka bertiga.


""I-ini luar biasa."" ujar Laura dan Iris dengan gugup.


"Kalau begitu ayo kita pergi ke tikus lainnya." ujar Zhara.


"A-apa kita akan bermain lagi tuan?" ujar Iris dengan gugup, dia tidak tahu permainan sadis selanjutnya yang akan mereka jalani.


"Tidak, kita akan melakukan sesuatu yang lebih seru dari sebuah permainan." kata Zhara penuh arti.


GLUK!


Laura dan Iris meneguk ludahnya, tapi tidak dengan Rosalie.


'Sesuatu yang lebih seru....' batin Rosalie dengan tatapan kosong bagaikan boneka yang telah rusak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...π½π‘–π‘˜π‘Ž π‘€π‘’π‘›π‘’π‘šπ‘’π‘˜π‘Žπ‘› π‘‡π‘¦π‘π‘œ π΄π‘‘π‘Žπ‘’ πΎπ‘’π‘ π‘Žπ‘™π‘Žπ’‰π‘Žπ‘› π·π‘Žπ‘™π‘Žπ‘š π‘ƒπ‘’π‘›π‘’π‘™π‘–π‘ π‘Žπ‘›, π‘‡π‘œπ‘™π‘œπ‘›π‘” π΅π‘’π‘Ÿπ‘–π‘‘π‘Žπ’‰π‘’ π΄π‘’π‘‘π’‰π‘œπ‘Ÿ πΏπ‘’π‘€π‘Žπ‘‘ πΎπ‘œπ‘šπ‘’π‘›π‘‘π‘Žπ‘Ÿ π‘ƒπ‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘”π‘Ÿπ‘Žπ‘“ π΄π‘”π‘Žπ‘Ÿ πΆπ‘’π‘π‘Žπ‘‘ π·π‘–π‘Ÿπ‘’π‘£π‘–π‘ π‘–...