
"Em, mungkin kau salah orang tuan...." ujar Zhara menanggapi perkataan pria itu yang menganggap Zhara sebagai anaknya.
Tapi pria aneh itu masih bersikeras, "Tidak, kau adalah putraku, aku mengingatnya dengan jelas!"
'Apa apaan dengan orang aneh ini? Aku tidak pernah bertemu dengan ayahku semenjak aku lahir, sekalipun aku bertemu dengannya maka aku pasti akan membunuhnya karena sudah menyakiti ibuku....' batin Zhara.
Pria itu berjalan mendekati Zhara dan menggerakkan tangannya untuk membelai wajah Zhara, tapi Zhara menepisnya terlebih dahulu karena risih.
Mata pria itu bersinar terang penuh kehidupan seakan akan telah menemukan sesuatu yang berharga baginya.
"Putraku, akhirnya kita bisa bertemu setelah sekian lama. Bagaimana dengan kabar Ayunda? apa dia baik-baik saja?"
"Hah?"
Zhara sedikit terkejut, "Bagaimana kau tahu nama ibuku?" tanya Zhara.
Zhara sebenarnya sudah memiliki firasat buruk tentang ini....
"Aku dan ibumu bertemu di sekolah saat aku bersekolah di Indonesia, banyak hal yang terjadi saat itu hingga aku terpaksa harus kembali ke Korea tanpa tahu jika ibumu sedang mengandung saat itu... Ayah benar-benar menyesal-"
BUGH!
BRAK!
Zhara memukul wajah pria itu terlebih dahulu hingga tersungkur di lantai bahkan sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya.
Melalui perkataannya sebelumnya Zhara sudah yakin jika pria di depannya itu adalah ayahnya sendiri.
Seorang pria brengsek yang telah mengkhianati ibunya dan meninggalkannya sendirian saat sedang hamil, dia juga adalah pria brengsek yang telah membuat ibunya menderita selama ini.
Dan sekarang dia datang tiba-tiba di depan Zhara dan mengatakan permintaan maaf dengan begitu mudahnya? Mana mungkin Zhara menerima permintaan maaf dari orang sepertinya.
Zhara menyeringai, "Jadi akhirnya kita bertemu ya.... asal kau tahu betapa inginnya aku membunuhmu atas semua derita yang telah kau berikan kepada ibuku...." kata Zhara dingin.
Pria itu masih tergeletak di lantai sambil mengelap hidungnya yang berdarah, "Nak, tolong hentikan ini...." ujarnya.
"Mana mungkin aku berhenti dasar sialan!" teriak Zhara lalu kembali melayangkan serangan kepada pria itu.
BUGH!
Tendangan dilayangkan, tapi bukan mengenai pria itu melainkan mengenai Zhara.
Pria itu bergerak dengan cukup lincah dan gesit lalu menendang wajah Zhara, tapi itu tidak membuat Zhara tersungkur ke lantai melainkan dia masih berdiri dengan kokoh di tempatnya.
"Nak, aku peringatkan kau... kemampuan bertarung milikmu itu diwariskan melalui darahku dagingku, jadi jangan menaggap aku ini orang yang lemah."
"Kau memperingatiku? seharusnya akulah yang memperingatimu!" kata Zhara lalu kembali menyerangnya.
Pria itu menghindari pukulan pertama Zhara, tapi tidak dengan pukulan keduanya yang tepat mengenai hidung pria itu hingga mengeluarkan darah.
Walaupun sebenarnya pria itu memiliki kemampuan bertarung yang baik, tapi dengan tubuhnya yang memiliki kekurangan itu membuat gerakannya terhambat.
Setelah menumbangkan pria itu di lantai, Zhara kemudian menduduki tubuhnya dan langsung memukuli wajahnya berkali-kali.
Pria itu tidak bisa melakukan perlawanan apapun kecuali menerima pukulan penuh kemarahan dari Zhara sebelum suara teriakan seseorang bergema di tempat itu.
"Hentikan itu Zhara!"
Zhara mengalihkan pandangannya dan menemukan Seo Yun yang baru saja memasuki ruangan.
"Seo Yun....." gumam Zhara.
Ekspresi marah tampak dengan jelas di wajah Seo Yun, dia kemudian berlari menghampiri Zhara dan mendorongnya dari atas tubuh pria itu. Seo Yun kemudian mengecek kondisi kesehatan pria itu dengan penuh kekhawatiran.
"Ayah kau baik-baik saja?" ujar Seo Yun dengan khawatir.
'Ayah?' batin Zhara.
Ini sangat membuat Zhara kebingungan, Seo Yun tiba-tiba datang dan mengecek kondisi pria yang baru saja dihajar oleh Zhara, terlebih lagi dia memanggil pria itu dengan sebutan ayah?
Seo Yun tampak sangat marah dan menatap Zhara dengan tajam.
"Kenapa kau datang ke tempat ini?" kata Seo Yun dengan dingin.
Zhara memberikan tatapan menyelidik kepada Seo Yun dan membuat Seo Yun terdiam karena tidak bisa menjawabnya.
Setelah beberapa saat akhirnya Seo Yun membuka mulutnya, "Kita bicarakan ini di tempat lain." kata Seo Yun.
Dia kemudian memanggil seseorang, dia adalah sekretaris ayahnya dan menyuruhnya untuk membawa ayahnya ke rumah sakit.
Setelah kepergian mereka berdua, Seo Yun dan Zhara akhirnya bisa berbicara secara empat mata.
"Jadi bisa kau jelaskan kenapa kau memanggilnya dengan sebutan ayah?" tanya Zhara.
"Dia memang ayahku." balas Seo Yun tidak berani menatap mata Zhara.
"Tapi dia juga menganggapku sebagai anaknya, aku bisa lihat jika dia tidak berbohong dengan itu." kata Zhara kembali memojokkan Seo Yun.
"Kau pasti bisa menjelaskan tentang hal ini dengan detail." lanjut Zhara.
Sekarang situasi telah berubah, dari yang awalnya Seo Yun selalu bersikap sombong dan merasa paling tinggi dibandingkan Zhara, kini dia malah menjadi lemah dihadapan Zhara.
Seo Yun tidak ingin mengatakan hal yang sebenarnya, tapi Zhara membuatnya terus terpojok hingga mau tidak mau Seo Yun harus mengatakan kebenarannya.
"Dia tidak berbohong, kau memang anaknya begitu juga dengan aku. Dulu ayahku pernah bersekolah di Indonesia dan bertemu dengan ibumu secara tidak kebetulan, dan kau tahu apa yang terjadi selanjutnya kan?"
Zhara tentu tahu, pria brengsek itu menghamili ibunya dan pergi begitu saja tanpa pertanggungjawaban.
"Aku tidak keberatan jika kau menganggapnya sebagai pria brengsek, tapi perlu kau ketahui jika dia sangatlah mencintai ibumu hingga tega membunuh ibuku." lanjut Seo Yun.
Zhara menghela nafas panjang setelah mengetahui keberadaan yang mengejutkan ini, "Bisa kau jelaskan lebih detailnya, aku tidak ingin ada sedikitpun informasi yang tertinggal."
Seo Yun menganggukkan kepalanya dan menceritakan semuanya secara detail.
Keluarga Seo Yun adalah seorang mafia Seonice, salah satu kelompok mafia yang paling disegani di Seoul.
Ayah Seo Yun bernama Seo Kang Joon, dia pernah diutus bersekolah di Indonesia dulu karena kelompok mafianya yang saat itu dipimpin oleh ayah Seo Kang Joon sedang mengalami gejolak besar dengan kelompok mafia lain.
Ayahnya tidak ingin Seo Kang Joon dalam bahaya karena masalah kelompok mafia tersebut, jadi dia mengirimnya ke tempat yang jauh yaitu Indonesia.
Disana Seo Kang Joon memulai hidup normal yang baru, tidak ada kekerasan sama sekali yang terjadi di lingkungannya tidak seperti sebelumnya, dia hanya menikmati masa masa sekolahnya sama seperti anak remaja biasa.
Dia memiliki banyak teman dan orang yang ia cintai yaitu Ayunda. Tapi sayangnya ketika hubungan cinta mereka tengah memasuki fase paling romantis, Seo Kang Joon tiba-tiba disuruh kembali ke Korea karena kabar kematian ayahnya.
Mau tidak mau ia harus mengikuti permintaan terakhir sang ayah yaitu menjadi pemimpin kelompok mafia Seonice, Seo Kang Joon kemudian pergi meninggalkan Ayunda tanpa tahu jika gadis itu tengah mengandung anaknya.
Menjadi pemimpin kelompok mafia bukanlah hal yang mudah bagi Seo Kang Joon yang masih remaja, banyak hal yang harus dia lakukan untuk mempertahankan kelompoknya hingga melupakan keberadaan kekasihnya di Indonesia.
Dia juga menikahi seorang wanita dari kelompok mafia lain ketika usianya masih muda hanya untuk memperkuat kelompok mafianya, bisa dibilang dia melakukan pernikahan politik.
Wanita itu adalah ibu kandung Seo Yun.
Hingga akhirnya Seo Kang Joon membunuh wanita itu sendiri tanpa belas kasihan di depan Seo Yun.
Bersamaan dengan itu Seo Kang Joon juga menerima informasi tentang keberadaan anaknya yaitu Zhara yang berasal dari kekasihnya dari masa lalu yaitu Ayunda.
Oleh karena itu Seo Kang Joon meminta Seo Yun untuk pergi ke Indonesia demi mencari keberadaan Zhara dan ibunya.
Di kehidupan sebelumnya Seo Yun menyetujui permintaan ayahnya dan pergi mencari Zhara, itu juga bersamaan dengan terjadinya insiden Apocalypse dan membuat Seo Yun melakukan petualangan bersama dengan Zhara tanpa memberitahunya jika mereka berdua adalah saudara beda ibu.
"Jadi kau tahu kan alasan kenapa aku menolakmu saat itu?" kata Seo Yun setelah menjelaskan panjang lebar.
Sebenarnya Seo Yun juga mencintai Zhara saat itu, tapi mengingat mereka berdua yang memiliki hubungan darah membuat pikiran Seo Yun menjadi kacau.
Jadi Seo Yun memilih untuk menolak perasaan Zhara dan pergi meninggalkannya, tapi hal yang dilakukan Zhara selanjutnya benar-benar menghancurkan hati Seo Yun.
'Aku memang pria brengsek.....' batin Zhara setelah mengetahui jika wanita yang dia perkosa dulu merupakan adiknya sendiri.
...****************...
Rekomendasi Novel Author. (UP 2X SEHARI WALAU KADANG BOLONG)
cek di profil Author