1095 DAYS BEFORE THE APOCALYPSE

1095 DAYS BEFORE THE APOCALYPSE
Chp 60: Shira



Wanita itu terengah engah dan menatap kearah sumber suara yaitu Zhara, sebenarnya dia sudah terkena serangannya sendiri berkali kali sebelumnya dan telinganya sekarang sudah rusak parah, namun masih bisa berfungsi walaupun tidak sehebat sebelumnya.


Dari semua anggota Five Fingers hanya wanita itu yang berhasil ditangkap sebagai tawanan untuk menggali informasi, itupun berkat Rosalie yang mempertaruhkan nyawanya untuk membawa wanita itu.


"Mungkin kau sudah mendengar pertanyaan ini berkali kali dari bawahanku tapi aku akan mengulangnya sekali lagi... Berapa jumlah mutant yang dimiliki kakek tua itu?" kata Zhara dengan datar dan tidak peduli sama sekali dengan kondisi wanita itu.


"......."


Wanita itu masih menutup mulutnya seperti biasa, satu satunya alasannya untuk membuka mulut hanyalah untuk mengeluarkan gelombang ultrasonik yang menyiksa dirinya sendiri, selain itu dia akan terus diam.


Tapi tidak dengan sekarang, dia mau membuka mulutnya di depan Zhara ketika Adney sudah pergi meninggalkan Zhara sendirian.


"...... Aku akan menjawab pertanyaan itu jika kau mengatakan bagaimana keadaan nona Evalina..." ujar wanita itu dengan suara indahnya.


Ini pertama kalinya Zhara mendengar suara yang seindah itu, suaranya terdengar sangat lembut di telinga dan sangat menenangkan.


"Baiklah, aku akan memberitahumu setelah kau menjawab pertanyaanku." kata Zhara selepas mengagumi suara indah wanita itu.


"Kau ingin mengetahui jumlah kami, kan? Kalau begitu aku beritahu jawabanku..." kata wanita itu lalu melanjutkan setelah jeda sebentar.


"Aku tidak tahu.."


"...... Apa kau mempermainkanku?" kata Zhara agak kesal.


"Aku berbicara dengan jujur, aku tidak tahu jumlah pastinya karena lingkunganku hanya bersama Five Fingers lainnya, tapi aku pernah mendengar jika Mr. Amril mempunyai rekan yang juga melakukan penelitian genetika, mungkin orang itu juga sudah menciptakan beberapa mutant."


Dari apa yang dikatakan wanita itu memang masuk akal, mustahil Mr. Amril bisa melakukan penelitian manusia tanpa tidak diketahui oleh negara sama sekali.


Jadi Mr. Amril pasti memiliki seorang rekan yang membantunya dari balik layar....


"Baiklah pertanyaan selanjutnya, apa tujuan Mr. Amril menciptakan kalian?" tanya Zhara, tidak mungkin Mr. Amril melakukan hal sejauh itu tanpa tujuan sama sekali.


"Yang kutahu tujuannya hanya satu, yaitu menguasai negara ini... Sepertinya dia punya dendam pribadi dengan negara ini jadi dia ingin menguasainya dengan kekuatan mutant." kata wanita itu.


Bagi Zhara itu adalah tujuan yang sangat bodoh, tidak ada istimewanya menguasai sebuah negara dan hanya membuang buang waktu.


Tapi itu sesuai dengan sifat Mr. Amril yang bodoh dan naif.


"Apa hanya itu yang ingin kau tanyakan?" ujar wanita itu.


"Satu lagi.... Siapa namamu dan apa hubunganmu dengan Evalina?"


"Namaku Shira, dan hubunganku dengan Nona Evalina..... bisa dibilang kalau aku adalah ibu angkatnya...." kata wanita yang ternyata bernama Shira itu.


Zhara bisa melihat kesedihan di mata Shira dan tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi padanya dan Evalina.


"Hanya itu yang bisa kukatakan, sekarang katakan padaku bagaimana keadaan nona Evalina?"


"......"


Zhara terdiam sejenak sebelum mengatakan hal yang sebenarnya terjadi pada Evalina....


"...... Dia telah meninggal."


"!!!"


Shira terkejut bukan main mendengar perkataan Zhara, dia tahu itu tidak bohong tapi dia tidak ingin mempercayainya.


Matanya yang buta mulai basah dan mengeluarkan air mata, dia menangis karena kesedihan yang di rasakannya.


"Ini tidak mungkin, siapa yang membunuhnya!? Itu pasti kau dasar laki laki brengsek!!"


Shira menangis dan berteriak kepada Zhara, dia meronta dan menyeret rantai yang mengikat tangan dan kakinya itu untuk mendekati Zhara dan memukul dinding kaca yang menghalanginya itu dengan penuh kemarahan.


Dia menangis bagaikan seorang ibu yang kehilangan anaknya dan terus menyalahkan Zhara yang masih terdiam.


Namun semua hinaan dan celaan ini langsung menghilang ketika ia melihat ekspresi Zhara....


'Kenapa ekspresimu seperti itu.... Kenapa kau bersedih.... Bukankah kau yang membuat Evalina menderita hingga akhir hayatnya....' batin Shira dengan perasaan aneh.


Ekspresi Zhara memang penuh kesedihan dan penyesalan, itu adalah ekspresi orang yang telah menjalani ribuan kesulitan hidup dan penyesalan.


Matanya tampak sayu dengan sinar kehidupan yang redup, dia terlihat begitu putus asa....


'Sebenarnya apa yang telah kau lalui hingga menjadi seperti ini....' batin Shira.


"Kau bebas menghina dan membenciku seperti yang kau inginkan, hanya saja satu hal yang harus kau ketahui bahwa aku juga merasa kehilangan..." ujar Zhara lalu berbalik dan pergi tanpa menatap mata Shira.


Di luar ruangan terlihat Adney yang langsung menyapanya ketika melihat kedatangan Zhara.


"Wajahmu terlihat pucat, apa kau baik baik saja?" ujar Adney.


"Aku baik baik saja, sebaiknya kita kembali ke pekerjaan kita masing masing." jawab Zhara.


Mereka berduapun pergi meninggalkan Shira yang masih tenggelam dalam kesedihannya.


...----------------...


...Shira POV...


Aku tidak bisa melakukan apapun selain menangisi kepergian Evalina... ini semua salahku karena tidak bisa melindunginya padahal aku sudah berjanji pada Ellisa...


Ellisa dan aku sudah seperti seorang saudari kandung, kami telah bersama dari kecil menjalani hari hari berat dan melelahkan setiap hari.


Kami tidak memiliki keluarga ataupun tempat tinggal saat itu, kami tidur di sela sela bangunan kumuh dan makan makanan sisa di belakang restoran.


Terkadang juga kami berdua mencuri hanya untuk bertahan hidup, bukan hanya kami tapi ada juga anak anak lainnya yang senasib dengan kami, kami adalah anak anak yang ditelantarkan orang tua kami, beberapa juga yatim piatu.


Aku masih ingat dengan jelas saat saat itu menyusahkan itu..... kami membangun rumah dari kardus hanya untuk terhindar dari teriknya matahari dan berteduh di bawah jembatan untuk berlindung dari hujan.


Jika salah satu dari kami sakit maka itu akan susah disembuhkan karena kami tidak punya uang untuk membeli obat, jadi hanya ada kematian yang menunggu ketika kami sakit, jika kami tertangkap ketika mencuri maka kami akan dipukuli hingga sekarat.


Tidak ada yang memperdulikan kami seberapa keras kami menangis dan memohon pertolongan.


Ketika kami tengah berada dalam keadaan yang sangat menyedihkan karena banyak yang mati dari kami, seorang pria paruh baya tiba tiba mendatangi kami dan mengajak kami untuk ikut dengannya.


Dia berbicara dengan sangat manis dan penuh dengan bujukan, kedatangannya bagaikan malaikat yang akan membebaskan kami dari kemalangan, namun nyatanya dia adalah seorang iblis....


Dia mengurung kami di sebuah ruangan bawah tanah dan menyeleksi kami satu persatu, orang yang tidak sesuai dengan ketentuan akan dia jadikan pelayan sementara yang sesuai dengan ketentuan akan menjadi tikus percobaannya.


Aku menjadi salah satu orang yang sesuai dengan ketentuan sementara Ellisa tidak, akhirnya kami berpisah di sana.


Setidaknya aku bahagia karena saudariku akan aman menjadi seorang pelayan...


Sementara aku dan beberapa anak lainnya mengalami siksaan yang lebih kejam dari kekejaman dunia, para ilmuwan menyuntikan berbagai gen hewan ke dalam tubuh kami.


Percobaan itu berlangsung sangat lama hingga bertahun tahun dan sangat menyakitkan.


Beberapa dari kami mati dengan menyedihkan dan dibuang begitu saja, sementara yang berhasil dalam percobaan itu hanya lima orang termasuk aku.


Aku kehilangan indra penglihatanku dan rambutku berubah menjadi putih, tetapi kemampuan pendengaranku dan suaraku sangat hebat dan diluar nalar manusia, itu semua karena gen yang dimasukkan dalam tubuhku adalah gen kelelawar.


Begitupun dengan yang lainnya, mereka mendapatkan kemampuan dari gen hewan yang dimasukkan dalam tubuh mereka seperti katak, bunglon, banteng dan sotong, kami berlima kemudian dikenal sebagai Five Fingers.


Kami baru bisa melihat matahari lagi ketika kami sudah dewasa dan menjadi mutant sepenuhnya, kami berlima diharuskan untuk mengikuti perintah tuan kami karena kalau tidak maka kami akan mati, percaya atau tidak orang itu bisa membunuh kami hanya dengan menekan satu tombol.


Orang yang kumaksud disini adalah orang yang kami temui saat kecil, pria paruh baya itu sekarang sudah menjadi kaket tua bangka, dia adalah Mr. Amril.


Jadi kami mau tidak mau harus mematuhinya walaupun kami sangat membencinya karena telah membuat kami sangat menderita....


Terlepas dari itu aku sangat senang karena bisa dipertemukan kembali dengan Ellisa yang bekerja sebagai pelayan di mansion keluarga Alastrine yang merupakan keluarga tuan kami.


Namun, aku sangat tidak terima dengan apa yang telah terjadi kepada saudariku ketika aku bertemu dengannya kembali.


Rupanya selama bekerja di masion Ellisa mengalami banyak pelecehan seksual dari atasannya yaitu tuan Alastrine atau anak dari Mr. Amril.


Aku sangat membenci orang itu tapi tidak ada yang bisa aku lakukan karena aku hanyalah seorang budak di keluarga iblis itu, aku hanya bisa memendam kebencianku dalam dalam dan berjanji untuk melindungi Ellisa dan bayinya.


Singkat cerita sang bayipun lahir dan diberi nama Evalina yang berarti kekuatan dan kepintaran, dia tumbuh dengan baik walaupun tidak disukai oleh orang orang.


Akan tetapi aku dan Ellisa akan selalu menyayanginya dengan tulus, hingga kejadian naas itupun terjadi...


Ellisa diracuni oleh Nyonya Alastrine di depan mataku sendiri, aku sangat marah namun tidak dapat melakukan apapun, aku membenci kelemahanku ini, aku selalu takut akan kematian jadi aku tidak bisa berkhianat.


Andai saja aku berani mencegah Nyonya Alastrine saat itu, Ellisa pasti masih memiliki kesempatan untuk hidup.... andai saja aku berani mengambil resiko untuk berkorban saat itu, maka Evalina pasti tidak akan kehilangan ibunya....


Tapi apa yang bisa aku lakukan? aku hanya bisa menatap saudariku yang menghembuskan napas terakhirnya.


Sama seperti saat itu, aku juga tidak bisa melindungi Evalina, aku tidak bisa melindungi orang yang sangat berharga bagiku untuk kesekian kalinya.


Teman temanku, Saudariku, anak angkatku.... aku tidak bisa melindungi mereka semua pada akhirnya.... Apa gunanya aku hidup di dunia ini? pada akhirnya aku juga akan mati hanya tinggal menunggu waktu saja...


Itu benar, lebih baik aku mati sekarang saja..... lebih cepat aku mati maka penyesalanku akan lebih cepat menghilang.... aku juga bisa menemui Ellisa dan Evalina di alam sana, jadi aku bisa meminta maaf disana....


Aku memegang rantai yang mengikat tanganku, mengangkatnya dengan kedua tanganku dan melilitkannya di leherku, aku akan mengakhiri hidupku dalam satu tarikan kuat.


Dengan itu maka semuanya akan selesai...


"Ellisa..... Evalina..... aku akan segera menyusul kalian...."


Itulah perkataan terakhirku, aku memejamkan mataku walau tidak berarti dan dengan satu tarikan penuh penyesalan, aku mencekik leherku sendiri....


Criing....


..


..


..


..


..


..


"Shira....."


Aku mendengar suara Evalina di benakku, suaranya terdengar sangat jauh dan berteriak kepadaku.


Aku tidak bisa melihat apapun, yang ada hanyalah kegelapan seperti biasanya.


Namun, kegelapan itu tiba tiba berubah menjadi sangat terang dan menyilaukan, tiba tiba aku sudah berada di padang rumput yang sangat indah dengan danau besar di tengahnya, langit juga terlihat sangat cerah dan indah.


Ini adalah pemandangan yang tidak pernah kulihat dalam hidupku walaupun di dalam mimpi.


Udara di tempat ini juga sangat menyejukan sehingga membuatku ingin tidur rasanya, tapi ada satu hal yang paling penting daripada tidur, yaitu aku bisa melihat!!


"Indah sekali bukan?"


Aku mendengar suara seorang gadis di sebelahku, aku menoleh kearah sana dan menemukan seorang gadis duduk di bawah pohon hijau yang sangat indah, itu adalah gadis yang sangat kukenal tapi sedikit berbeda.


"Ellisa?" gumamku.


"Pfft.... apa aku sebegitu miripnya dengan ibuku sampai kau salah mengenali seseorang?"


Gadis itu sedikit tertawa, mendengar perkataannya seperti aku mengetahui jika gadis itu bukan Ellisa melainkan Evalina.


"Hm, kau terlalu mirip dengan ibumu sampai aku tidak mengenalimu...." kataku.


Aku terpesona melihat Evalina, kurasa ini adalah pertama kalinya dia sangat bahagia seperti ini jadi melihatnya bahagia membuatku ikut bahagia juga.


"Shira, tidak perlu merasa bersalah karena kepergianku dan ibu, kami berdua sama sekali tidak menyalahkanmu lho..."


Aku tertegun setelah Evalina mengatakan hal itu, bagaimana aku bisa tidak merasa bersalah atas semua hal yang terjadi? aku tidak akan pernah bisa hidup tenang jika tidak menebusnya.


"Aku tidak bisa melakukan itu... semua yang terjadi adalah karena kelemahanku, jadi aku tidak akan bisa tenang tanpa menebusnya..."


Mendengar perkataanku Evalina menghela napas panjang.


"Hah.... seperti yang diceritakan ibu kau itu memang keras kepala, ya...." kata Evalina lalu berdiri dan menatap kearah ujung danau.


"Shira, apa kau tahu? ibu juga merasa bersalah karena telah membiarkanmu mengalami peristiwa kejam itu saat kecil, dia selalu menyesal karena tidak bisa menyelamatkanmu padahal kau itu adalah saudarinya." kata Evalina dengan tenang lalu menatap Shira.


"Jadi daripada kita saling menyalahkan, lebih baik kita berdamai dan hidup dengan rukun, itulah yang ibu katakan."


"Evalina......."


"Shira, kau adalah ibu keduaku, aku tidak ingin membuatmu hidup dalam penyesalan seperti ibu kandungku, jadi kumohon hiduplah sesuai dengan apa yang kau inginkan."


Bersamaan dengan perkataan Evalina, tubuhku tiba tiba bersinar dan mulai memudar, aku sangat panik karena itu dan menggapai Evalina untuk memeluknya, namun aku tidak bisa menyentuhnya sama sekali.


"Tidak, biarkan aku disini! aku ingin bersama dengan kalian!" teriakku.


"Shira, kau masih memiliki sesuatu yang harus kau lakukan di dunia, belum saatnya kau bersama kami."


"Tidak.... aku tidak ingin ini..."


"Tidak perlu memikirkanku, aku sangat bahagia bersama ibu disini..."


Evalina tersenyum lembut, dia tampak sangat cantik bagaikan malaikat sesungguhnya, karena dia sudah bahagia bersama Ellisa, kurasa sudah saatnya aku melepaskannya.


Jadi aku juga tersenyum lembut padanya sebelum aku menghilang sepenuhnya....


..


..


..


..


..


..


"Akh! uhuk uhuk!"


Aku tiba tiba tersadar dari pingsanku lalu batuk berkali kali sembari memegangi leherku yang terlihat berwarna ungu karena ikatan rantai.


Tampaknya aku tidak mati walau sudah tercekik sekuat itu.


Tapi apa itu tadi? aku yakin itu bukan sekedar mimpi, aku benar benar bertemu Evalina di alam bawah sadarku, tapi..... melihat kebahagiaan Evalina saja sudah membuatku sangat puas..


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


[Shira]



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...𝐽𝑖𝑘𝑎 𝑀𝑒𝑛𝑒𝑚𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑇𝑦𝑝𝑜 𝐴𝑡𝑎𝑢 𝐾𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎𝒉𝑎𝑛 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑃𝑒𝑛𝑢𝑙𝑖𝑠𝑎𝑛, 𝑇𝑜𝑙𝑜𝑛𝑔 𝐵𝑒𝑟𝑖𝑡𝑎𝒉𝑢 𝐴𝑢𝑡𝒉𝑜𝑟 𝐿𝑒𝑤𝑎𝑡 𝐾𝑜𝑚𝑒𝑛𝑡𝑎𝑟 𝑃𝑎𝑟𝑎𝑔𝑟𝑎𝑓 𝐴𝑔𝑎𝑟 𝐶𝑒𝑝𝑎𝑡 𝐷𝑖𝑟𝑒𝑣𝑖𝑠𝑖...